Latest Posts

optimis antagonis..

Untitled-1Dalam perjalanan gw ngebangun bisnis, gw melalui proses “peremehan impian” dari sejumlah orang yang gw temui… Dari dulu, gw selalu berusaha menjadikan cemoohan, sikap merendahkan, penghinaan, pesimisme yang ditujukan kepada gw sebagai bahan bakar yang bisa bikin gw “panas”..

Dimarahin ibu2 di sebuah TK “elite” saat jualan kaos, terus tuh ibu2 langsung keluar ruangan dengan muka asem.. Diketawain orang digital printing saat gw ngeprint file dengan kualitas lowres (karena saat itu gw cuman punya floppy disc yang kecil, flash disk waktu itu belum ada..).. Sampe ditatap dengan tatapan yang “aneh” karena kantong mata item, badan kurus, yang mungkin yang model begitu gak ada potongan jadi orang kaya.. hihihi.. Untungnya gw tetep optimis aje.. Kalo gw masukin ati tuh omongan, bisa ngedrop dah guwa…

Gw suka dengan istilah “Beginner’s Luck”.. Dimana para pemula biasanya memulai dengan “polos”, tanpa banyak pertimbangan mengenai resiko dan embel2 lainnya.. Karena dulu itu ilmunya cuman sedikit, jadi yang lebih banyak dilakukan itu yah mencoba dengan ilmu yang sedikit itu.. Ada benernya juga itu kalo keberuntungan lebih berpihak kepada yang kurang pandai tapi banyak mencoba, daripada kepada mereka yang pandai tapi tidak mencoba..

Untuk para pemula, memang sebaiknya punya mimpi yang jelas, yang sampe2 kalo lagi terpuruk pun, mimpi itu tetep ada di depan mata kita.. Lalu tertawalah keras2 seperti seakan2 rencana2 pencapaian mimpi itu akan berjalan sesuai harapan… Gyahahaha.. Persis seperti para boss besar antagonis di film2 gaban, sariban, atau film2 sejenis satria baja hitam.. Baru menyatakan rencana aja, udah ketawa.. Padahal tercapai juga belom..

Hikmah yang bisa diambil: ternyata para boss2 besar musuh jagoan2 kita itu optimis banget.. Meskipun antagonis.. Padaha kan, yang ngeluarin energi negatif itu pasti bakalan ancur, liat aja di setiap endingnya, mereka pasti pada kalah semua.. gyehehe.. Tapi mereka sangat luar biasa optimisnya..

Jadi, kalo udah tau yang dicapai apa, tetapin aja rencana, dan sebelum mulai, tertawalah keras2 ala para boss musuh2 jagoan kita di waktu SD.. Optimis antagonis is yours..!! GYAHAHAHAHAHAHAAAA…

Karena buat memulai apapun memang perlu energi dan optimisme yang besar.. Shunryu Suzuki seorang tokoh Zen pun berkata: “Pada pikiran para pemula terdapat banyak kemungkinan, tetapi pada pikiran para ahli hanya ada sedikit kemungkinan..”

Locus of Control LAGI !!

Untitled-2Masih nyambung sama postingan gw kemaren.. Karena gw masih penasaran ama ini teori, jadi gw baca2 lagi dah.. Ternyata nih teori luas juga, dan terus berkembang sampe taon 2000an. Selain itu, kemaren kan dah gw tulis juga kalo teori ini merujuk pada kausalitas / sebab akibat. Nah, terkait sama hal ini, kalo ditelusuri lebih dalam lagi Locus of Control itu ternyata ada dua tipe:

  1. Internal locus of control.. Euh, sederhananya sih, orang tipe ini berpandangan “I control my destiny”.. Jadi dia yakin kalo peristiwa atau kejadian2 (baik ataupun buruk) yang terjadi di dalam hidup dia itu disebabkan oleh faktor2 yang bisa dikendalikan seperti sikap, kebiasaan, pilihan2 tindakannya, persiapan dan upaya.
  2. External locus of control.. Berpandangan “others control my destiny”.. Yang tipe ini percaya kalo perisitiwa2 dalam hidupnya itu berasal dari faktor2 yang nggak bisa dia kendalikan. Jadi sukses ataupun gagal itu merupakan keberuntungan, hoki, kebetulan, takdir, dan sejenisnya.

Kalo gampangnya, Internal LOC lebih mikir “You make things happen..”, dan yang external LOC mikirnya “Things happen to you..”.. Yang internal lebih berorientasi pada pencapaian. Ada yang bilang ada minusnya juga, tipe internal bisa jadi nggak “menyehatkan” secara psikologis, KALO: secara kompetensi / kemampuannya gak sebanding sama yang ingin dia capai.. Dan ini bisa bikin seseorang cemas, stress dan depresi.. Jadi si internal juga sebaiknya realistis atas pengaruh2 yang bisa dia kendalikan di dalam kehidupannya. Sedangkan yang external bisa lebih “easy-going”, relaks dan mudah seneng karena merasa nggak punya beban pada diri..

Namun, ada riset dari Lefcourt dkk di tahun 1982 dan dikembangkan lagi di tahun 2006 yang berkesimpulan bahwa, mereka2 yang internal locus of control ternyata lebih berbahagia, lebih bebas bersikap (karena kontrol ada di dia), lebih menikmati kesuksesan kehidupan pekerjaan, dan lebih sehat secara psikologis. Risetnya si Miller di tahuh 1986 juga menyatakan kalo para internal LOC mampu menunda kesenangan lebih lama dan bisa lebih kooperatif dalam menjalani kehidupan pernikahan.

Ada yang mengkritisi teori ini, koq kayaknya dengan mudah melabelkan begitu saja trait atau ciri2 seseorang. Seakan2 seseorang itu menjadi internal atau external LOC itu sudah tertanam sejak lahir atau terbentuk begitu saja, atau “tercetak” dari kehidupan di masa lalu. Kabar baiknya, hasil riset di tahun 2000an, menemukan bahwa untuk menjadi Internal Locus of Control bisa dipelajari dan dilatih. Hasil risetnya membuktikan bahwa LOC adalah respon atau sikap terhadap “keadaan” / circumstances. Para psikolog telah menemukan cara untuk merubah seseorang untuk cenderung menjadi LOC internal..

Hidup ini pilihan.. Pilihan2 tindakan positif yang terus diulang akan jadi kebiasaan.. Kebiasaan yang udah “mengendap” di diri seseorang akan menjadi karakter.. Dan karakter seseorang bisa menentukan nasib orang tersebut.. Orang yang memilih untuk bertindak rajin sejak muda, akan  terbiasa menjadi rajin.. Dan kalo terus menjadi rajin, maka rajin akan menjadi karakternya.. Dan umumnya sih nasibnya jadi nasib orang rajin.. hehehe..

Abaraham Lincoln juga pernah bilang: “The best way to predict your future is to create it”

locus of control..

Untitled-1Ada kalanya rasa males nulis itu dateng ke guwe.. Sudah beberapa kali komitmen gw sendiri untuk nulis dan posting blog seminggu sekali udah gw langgar.. Rasa kepo gw pun membesar, akhirnya gw penasaran kepengen tau, sebetulnya rasa males itu kalo dari sisi ilmiah begimana sih ?? Sebenernya makhluk apa pulak rasa males itu ??

Philip G. Zimbardo, Scott, Foresman (1979) dalam bukunya “Psychology of Life” menyebutkan, kemalasan itu sebetulnya ada yang temporer dan ada yang akut.. Yang temporer bisa berbentuk sebuah keadaan (state) yang bikin kita jadi males.. Misal, karena gaji kecil lantas malas bekerja, karena dosen nggak oke maka si mahasiswa jadi males masuk kelas, karena nggak ada duit, maka males ngapa2in.. Gyehehehe..

Nah, yang kedua, kemalasan yang bentuknya akut dan bahkan bisa permanen.. Ini bentuk kemalasan yang memang si orangnya sendiri yang menciptakan, dan bisa menjadi karakter / ciri (trait).. Selama si orangnya sendiri nggak mau berusaha merubahnya, maka selama itu pula kemalasan tipe ini akan bersemayam di dalam dirinya..

Memang kalo dipikir2, nggak ada yang bisa mengobati orang yang terjangkiti penyakit kemalasan akut, meskipun itu motivator selevel dewa sekalipun, kalo orangnya sendiri emang nggak mau berubah.. Pihak luar hanya bisa menyentuh “kesadaran”nya saja, namun pilihan tindakan selanjutnya tergantung pada orangnya masing2.. Semua orang dewasa pasti tau / sadar kalo malas itu nggak menguntungkan, tapi toh pada kenyataannya masih banyak yang “mengadopsinya”.. Gyehehe..

Secara imliah sih, ada sebuah teori untuk melawan rasa malas, yaitu teori locus of control yang dikemukakan sama Julian B. Rotter (1954).. Teori ini berbicara tentang kesadaran penuh manusia dan menjadikan diri sendiri sebagai pusat kendali.. Jadi, kalo kita sadar penuh bahwa diri kita sebagai pusat kendali, meski ada pemicu2 kemalasan yang datang dari segala penjuru, kita tetap bisa menolak untuk menjadi pemalas.. Kalopun masih terjangkiti rasa malas, sifatnya pasti akan sementara / tidak permanen..

Teori locus of control ini juga merujuk pada konsep kausalitas / sebab akibat.. Orang dengan tingkat kesadaran yang tinggi benar2 paham bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas hasil tindakan2 dan pilihan2 mereka sendiri.. Jadi kalo mereka milih untuk males (sebab), mereka sadar bahwa ntar hidupnya bisa jadi susah (akibat)…

Gw pikir, untuk sampe ke level “kesadaran” yang tinggi, perlu direnungi dalam2 alasan sebenernya untuk apa kita hidup.. Ada filsuf yang bilang: seseorang itu belum sepenuhnya hidup, sampai dia mengetahui untuk apakah kehidupannya..

Ada tulisan dari Pak Super yang sering nongol di TV yang gw suka:
“Pribadi yang malas dan lemah, sebetulnya sedang menyerahkan penggunaan waktunya untuk menjadi semakin terbiasa dengan kemalasan dan kelemahan..  Dan setelah dia sepenuhnya terlatih dalam kemalasan, dia akan menggunakan kemalasan untuk menolak apapun yang bisa memperbaiki kehidupannya yang lemah..”

umurnya waktu..

Alhamdulillah masih diberikan karunia usia sampe saat ini.. Terima kasih buat semua yang udah ngucapin selamat.. thanx buat teman2, kerabat, dan para mahasiswa gw (hehe.. ini sebenernya temen juga sih masuknya, sepantaran pulak.. gwakakak..).. Yah, gw udah bilang di tiap awal pertemuan kelas manapun yang gw ajar, “treat me like your friend..”.. Karena gw dulu merasakan sendiri, adanya “gap” yang jauh antara mahasiswa dan dosen itu sama sekali nggak menyenangkan..

Untitled-5Membaca satu persatu ucapan selamat, mengaminkan satu per satu do’a yang temen2 berikan, itu semua membuat gw sangat bersyukur, bahwa gw masih dikelilingi orang2 baik.. Dan sejak jaman dulu, do’a juga bisa dibilang “teknologi” yang cukup ampuh untuk perwujudan keinginan.. Di lain pihak, hal tersebut juga membuat gw termotivasi, untuk terus “meng-upgrade” diri, entah sampai batasan mana, yang jelas pada akhirnya, hasil upgrade-tan itu gw niatkan untuk gw bagi2..

Ngomongin soal umur, berarti ngomongin soal waktu.. Ngomongin waktu berarti ngomongin hal yang nggak mungkin kembali lagi kalo udah lewat, meski dikejar pake pesawat star trek sekalipun, entahlah kalo pake mangekyo sharinggan.. hehe..

Yang jelas, pertambahan umur membuat gw makin mikir, atas waktu yang sudah lewat, dan akan dikemanakan waktu yang ada di depan.. Kembali mengatur prioritas atas apa2 yang dianggap penting, lebih penting, atau paling penting.. Karena kata2 “nggak ada waktu” itu sebenernya ilusi.. Nggak mungkin nggak ada waktu untuk hal2 yang kita anggap penting.. Karena sejatinya itulah bukti dari kesungguhan seseorang untuk mencapai target2 atau impiannya.. Kalau impiannya menjadi penullis, maka HARUS ada waktu untuk menulis. Kalau tidak, berarti orang itu nggak sungguh2 untuk menjadi penulis..

Yang perlu dimanajemeni itu sebenernya bukan waktu.. Waktu dari dulu ya gitu2 aja, satu hari 24 jam, satu jam itu 60 menit, dan 1 menit itu 60 detik.. Dan kita suka nggak sadar itu semua berlalu begitu saja.. Dan Tuhan juga sudah bilang, kalo dari segi waktu, manusia ini pun sebenernya dalam keadaan merugi.. Jadi apa yang musti dimanajemeni dari waktu kalo sejatinya kita udah rugi ?? Jadi, bukan waktu yang mesti dimanajemeni, tapi DIRI SENDIRI..

main-main untuk hidup..

Ada yang bilang hidup ini sulit, ada juga yang bilang hidup sebaiknya jangan dibilang sulit, lebih baik dibilang tidak mudah daripada menjadikannya sulit.. Karena tidak mudah, menjalani hidup ini sebaiknya dengan serius.. Tapi seberapa serius kita harus menjalani hidup ?? Bukankan di kitab suci disebutkan juga bahwa hidup adalah permainan belaka ??

Untitled-1Lantas sebagian orang yang menganggap karena hidup ini adalah permainan, maka buat apa dijalani dengan serius ?? Lebih baik bermain-main saja.. Nggak perlu ngoyo, nggak perlu pusing mikirin hal2 rumit, dan nggak perlu ngejar prestasi yang besar2.. Buat apa capek2 ?? toh ujung2nya yang namanya permainan pasti suatu saat ketemu endingnya atau game over juga.. Si Joker aja bilang “Why so serious ??”.. Sampe mukanya sendiri dijadikan tempat maen2.. Gyehehe..

Gw cuma pengen ngeliat hal ini dari sudut pandang gw sebagai gamer.. Banyak orang yang lupa bahwa ada sejumlah game / permainan yang dibuat untuk dimainkan secara serius, dan kalo maeninnya nggak serius, mustahil bisa menamatkan permainan tersebut dengan happy ending.. atau malah bisa game over di tengah jalan…

Ada satu pernyataan dari Salen & Zimmerman (2004), penulis buku teori game, yang menurut gw bisa cocok untuk analogi “permainan” di dalam hidup.. Mereka bilang, dalam bermain, apapun bentuknya, dibutuhkan pemahaman akan peraturan2 tentang bagaimana permainan tersebut dimainkan.. Seorang pemain bisa dikatakan telah memainkan permainan bila telah menjalankan peraturan2 dari permainan tersebut..

Jadi kalo kita menganggap kehidupan adalah sebuah permainan, sebetulnya tetap ada rules atau aturan2 yang mesti dipahami dan dijalankan supaya kita bisa bermain dengan cantik.. Para pejabat yang suka main2 dengan amanat hidup mungkin lupa (atau sengaja dilupa2in) bahwa ada aturan2 tersebut.. Namun ya hidup nggak seperti permainan sepak bola, yang kalo si pemain melakukan pelanggaran terus langsung dapet kartu kuning atau kartu merah..

Yang jelas, akibat dari pelanggaran peraturan permanian kehidupan, cepat atau lambat pasti akan turun pada si pelanggar.. Dan bukan dalam bentuk kartu, tapi dalam bentuk2 lain yang kadang justru malah membuat si pelanggar sendiri yang ngeluarin kartu, seperti kartu credit atau kartu asuransi kesehatan.. gyehehe..

Hidup adalah permainan.. Tapi bukan untuk dimainkan dengan tidak serius.. Jadi ada baiknya seserius mungkin dalam permainan2 yang kita mainkan.. Karena seandainya pun hidup ini benar2 sebuah permainan, kan nggak ada salahnya kalo kita berusaha untuk menjadi pemain terbaik ??..