Latest Posts

[media bal-abal]

Sempet ada berita yang menyatakan kalo 44% masyarakat kita belum bisa mendeteksi berita hoax.. Yah, sebuah akibat “wajar” dari masyarakat yang kurang doyan baca.. Lucu juga sih.. Masyarakatnya mayoritas beragama Islam, perintah pertama dari Tuhan-nya itu “Iqro'”, eh malah nggak dilakonin..

Itu perintah Tuhan yg duluan daripada perintah sholat dan lain2, kenapa malah sering dianggurin doang yak ??.. Nggak perlu mendefinisikan Iqro’ yang jauh2 atau dalem2 deh.. Artinya “Baca”, yang paling deket nyambungnya itu ya “buku” atau tulisan.. Ini sekalinya baca, eh bukannya baca buku, malah baca2 berita nggak jelas..

Nggak salah juga sih baca2 berita.. Cuman berita dari siapa dulu.. Ada yang menyarankan, sekarang itu paling aman kalo yang “dipegang” itu media2 mainstream aja.. Yang jelas, yang berbadan hukum, dan lain2 yang sampe2 bisa dikatakan nih media kredibel..

Gw pernah ketemu orang2 yang bilang gini: “Media mainstream itu udah dibayar sama pemerintah !! Ogah gw bacanya..”.. Ahahay, berita darimana pulak ini ??.. Pas gw tanya buktinya mana, eh mingkem seribu bahasa.. Keluar kata kuncian: “Pokoknya bla bla bla bla..”..

Pas hasil penghitungan suara pilpres kemaren belum kelar, juga ada yang ngomong ke gw: “Margin error perhitungan suara KPU itu udah 15% !!..” Ahahay lagi, berita dari mana pulak itu ?!?.. Pas gw tanya buktinya mana, lagi2 diem mingkem adem ayem ala kapal karem.. Capek deh..

Logikanya, margin error 15% itu super duper mega ultimate heboh.. Nggak mungkin media mainstream nggak memberitakan.. Karena bagi media mainstream, kabar heboh itu pasti jadi rebutan.. Yang masih sering gw liat itu dari media mainstream, hampir selalu ada cross cek ke pihak yang dituduhkan oleh pihak lain..

Kalo ada yang nuduh margin error 15% ke KPU, si KPU bakal ditanya/dikonfirmasi dulu juga, baru kemudian diberitakan..

Kenapa sebaiknya “pegang” media mainstream (meski tetep harus skeptis juga dikit) ??.. Karena ada bejibun media online di sini.. Pernah kompas memberitakan: di Indonesia, ada sekitar 43.000 media online, tapi hanya 234 media saja yang sesuai syarat UU Pers..!! Ini kan Gokil !!.. Artinya, dari total media online yang ada, media yang bekerja sesuai dengan kode etik jurnalistik itu nggak sampe 1 persennya !!..

Menurut Tamburaka (2013) dalam “Literasi Media”, Media massa elektronik itu bisa dianggap andal / dipercaya / C (Credible) jika = a+b+c..
a= Accuracy (Tepat atau cermat dalam penyajian fakta). b= Balance (Berita harus menjaga keseimbangan pendapat berbagai pihak). c= Clarity (Berita jelas, tidak ambigu / multitafsir)..

Media yang memberitakan kalo UFO adalah kendaraan pengikut Dajjal, bisakah masuk ke dalam “Credible” pada rumus di atas ??.. Ada yang jadiin rujukan loh.. (^_^!)..

Advertisements

fanatik kelompok..

Dulu pernah ada temen gw yang ngomong gini: “Gie, lu kagak kepengen ikutan masuk partai apa gitu ??”

Euh, dari dulu gw memang nggak pernah ngefans sama satu partai pun, meski itu partai yang bawa2 nama Islam.. Dulu banget pernah sih ikut2an kampanye partai, tapi itu iseng doang.. Cuma pengen tau aja rasanya rame2 kampanye tuh kayak gimana.. Pendek kata, sampe saat ini gw belum ada minat ber-partai, entah lah ke depannya nanti..

Rasanya lebih enak sendirian begini, nggak ter-afiliasi dengan kelompok apapun.. Beropini pun jadi lebih bebas, nggak ter-framing oleh visi misi kelompok / partai tertentu.. Karena sepertinya ada juga yang “tunduk” banget sama nilai2 partai / kelompoknya.. Sampe2 yang diluar kelompoknya nggak dilihat, dan nggak dicerna “baik2″nya.. Bahkan beranggapan yang diluar kelompok mereka itu pasti ngaco..

Buat gw nggak seru aja, kalo apa2 diatur kelompok, opini mesti sesuai value dari kelompok, nurut manut buta sama pimpinan2 kelompok tanpa membanding2kan dengan yang lain.. Yang muncul dari kelompok selalu dianggap benar, meski menurut “orang normal” adalah salah..

Bikin hoax karena perintah kelompok, baca & percaya hanya pada media partai / kelompok.. Padahal fitnah itu buruk, dan kita disuruh Iqro’ banyak2.. Kalimat kelompok diturutin, kalimat Tuhan nggak diturutin.. Mangkanya pernah nongol istilah “menuhankan partai atau kelompok”, dan bukan men-Tuhankan Alloh..

Menjadikan partai atau kelompok sebagai Tuhan, gw pikir itu komentar manusia saja.. Eh, ternyata ada juga loh di Qur’an.. Dan kalo gw baca penjelasannya lebih jauh, ternyata cukup “mengerikan”..

Kenapa mengerikan ?? Karena berbangga2 dengan golongannya, kemudian memecah belah agama, merupakan salah satu bentuk kemusyrikan (QS.30:31-32).. Musyrik itu kan menyekutukan Tuhan..

Jadi istilah menuhankan partai atau kelompok bukan sekedar pepesan kosong, tapi dinyatakan di dalam Qur’an sendiri.. Dan mereka yang musyrik, nggak akan mendapatkan petunjuk, karena di hatinya memang sudah diletakkan tutupan, dan juga sumbatan di telinga mereka (QS.18:57).. Akibatnya akan menjadi lebih sulit untuk bisa memahami Qur’an..

Bukankah kalo kita turun ke jalan, bikin rusuh/bentrok, menjarah, bikin hoax demi kepentingan kelompok bisa dibilang sebuah “tanda” bahwa kita bangga buta akan kelompok tersebut ??.. Bahkan sampe ada yang melakukan “hal gila” seperti bom bunuh diri demi kelompoknya..

BJ Habibie baru2 ini berkata: “Ngapain kita hilang waktu dan duit dan ada resiko tinggi. Hanya memperjuangkan kepentingan mungkin satu orang, satu grup, no way.”

Pernyataan beliau itu cocok..!! Memperjuangkan secara “buta” kepentingan kelompok atau partai adalah sesuatu yang beresiko tinggi.. Yah salah satunya adalah kemusyrikan, berakibat nggak akan bisa dapat petunjuk, bukankah itu sebuah resiko yang tinggi ??..

merasa[lebih]..

Ada sebuah kisah sufi.. Suatu ketika, seorang pendosa memasuki mesjid.. Di dalamnya dia menemukan orang saleh yang sedang khusyuk berdo’a.. Tanpa diketahui oleh kedua orang itu, ada dua malaikat yang memperhatikan mereka, sebut saja malaikat A dan B.. Malaikat A memegang buku yang isinya catatan2 derajat manusia..

Malaikat B berkata: “Hei, dari dua orang itu, mana yang lebih tinggi derajatnya di sisi Tuhan menurut buku catatan yang kamu pegang ??”.. Kemudian malaikat A melihat buku catatannya, lantas berkata: “Tentu saja orang saleh yang lebih tinggi derajatnya..”

Kemudian, si orang saleh melihat si pendosa.. Lantas ia berpikir: “Huh, buat apa sih orang pendosa seperti dia ini datang ke tempat suci ini, sungguh nggak pantas..”

Si pendosa juga mikir.. Dalam pikirannya ia berkata: “Sungguh aku benar2 malu, orang soleh ini sudah banyak sekali melakukan amalan kebaikan, sedangkan aku, orang yang hina & banyak dosa.. Aku ingin bertobat, wahai Tuhanku..”

Lantas, malaikat A yang buku catatan derajatnya masih terbuka menyadari satu hal pada bukunya.. Ia berkata pada malaikat B: “Eh, tunggu, ada yang berubah..!! Sekarang di buku catatan ini, derajat si pendosa jadi lebih tinggi daripada si orang saleh..!!”

Ukuran manusia itu jabatan, peringkat, kekayaan, karir, dan sejenisnya.. Namun ukuran yg digunakan Tuhan itu derajat.. Yang bikin kita susah ltu, yang namanya “derajat” nggak ada satuannya, nggak ada ukuran pastinya.. Gimana bisa kita “mengukur” orang lain tanpa adanya alat ukur atau takaran pembanding ??..

Ditambah lagi, sedekah bisa sembunyi2, membaca / iqra’ bisa diam2, tahajjud bisa nggak menimbulkan “bekas” pada fisik, dan banyak lagi ibadah yang nggak bisa dilihat “bekas”nya hanya dari ranah “tampak” saja.. Lantas, gimana bisa tau kalo derajat kita lebih baik dari orang lain..

Iblis tuh taat & ahli ibadah, tapi dia dikirim ke neraka gara2 merasa lebih baik dari manusia.. Jebakan “merasa lebih baik” sudah sepatutnya diwaspadai..

Bayangin kalo kita diberi gelar “Ulama” oleh sekitar, gw yakin godaan memiliki rasa “lebih baik” daripada orang lain akan lebih menderu2.. Yg gw sayangkan, gelar ulama di sini bisa diberi dari para “fans”, dan bukan dari karya2 yg dihasilkan seseorang.. Hehe..

Yang sebenernya definisi ulama itu sangat berkaitan dengan keluasan serta kecintaan pada ilmu pengetahuan.. Eh, disini malah digunakan untuk “memaksakan” kehendak kepentingan politik & mencampuri urusan kenegaraan..

Kalo kata Buya Hamka di dalam: “Falsafah Hidup”, cetakan XII (1994),
“Dan tidak perlu negara itu dikutak-katikkan oleh segolongan ulama, karena ‘La Ruhbaniyata fil Islam’.. Islam tidak mengenal sistem kependetaan, sehingga kalaupun ada golongan ulama dalam Islam, itu hanyalah keahlian, bukan golongan yang berkuasa mengutak-atikkan agama..”

optimi[S]ed..

Tanggal 3 April kemaren, Alhamdulillah warga komplek gw meresmikan selesainya renovasi mesjid komplek.. Mesjid yang usianya sekitar 34 tahun itu akhirnyaa “dirobohkan” dan dibangun kembali dengan desain baru..

Mesjid yang buat gw cukup bersejarah, karena gw dan teman2 sepantaran sekomplek sempat menjadi pengurus remaja mesjid tersebut.. Ada satu peristiwa yang nggak bisa gw lupa di dalam mesjid itu, saat gw berusia di awal 20an..

Dulu, biasanya kelar sholat Isya berjamaah, kadang kami anak2 remaja mesjidnya nih, suka ngobrol2 santai2 gitu.. Nah, ntah gimana pada waktu itu, anak2 pernah jadi saling kepo, mengenai harapan mereka masing2 sebelum mencapai umur 30 tahun..

Satu persatu kami bergiliran ngomong harapannya apa.. Dan saat giliran gw tiba, gw ngomong gini: “Sebelum umur 30 tahun, gw kepengen punya perusahaan sendiri..”

Berkat izin Alloh dan kerja keras, nangis2 jatuh bangun berdarah2, serta terus belajar tentunya, saat usia gw 27 tahun, sebuah perusahaan desain grafis berbadan hukum pun terbentuk.. Dengan “bergabungnya” salah satu teman dari remaja mesjid yang sama, klien sekelas Toyota pun Alloh datangkan..

So, pelajarannya, perbanyaklah mengucapkan kata2 yang sifatnya optimisme atau harapan2 yang baik.. Karena kita nggak benar2 bisa tau, kata2 kita yang mana yang akan diaminkan oleh malaikat, dan kemudian “di-approve” beneran oleh Tuhan..

Bersikap optimis memang tidak otomatis menyelesaikan masalah.. Tapi paling tidak, itu adalah bentuk prasangka baik kepada Tuhan.. Mana tau dengan itu, Tuhan nantinya “men-trigger” ide2 kecil di kepala kita yang kemudian menjadi cikal bakal dari solusi..

Kalo dari sotoy2nya gw sih ya, Tuhan memberikan kita imajinasi, salah satu fungsinya itu untuk menghibur diri kita sendiri dalam kondisi2 tertentu..

Membayangkan situasi2 positif menyenangkan di dalam kepala sendiri, atau menembus waktu ke masa depan saat harapan/impian sudah tercapai, sangat bisa membantu diri ini yg sedang terpuruk / gagal untuk berkesimpulan: “Ini belum garis finish, ini belum akhir dari cerita..”

Bersikap pesimis malah bisa mengundang “ke-negatifan”, lantas menyalahkan banyak hal di luar diri.. Padahal ada banyak sekali hal di luar diri yang pada dasarnya memang nggak bisa kita kontrol..

Saat seseorang bersikap optimis, sebetulnya dirinya sedang berupaya untuk meyakini bahwa Tuhannya benar2 Maha Pengasih.. Dan kemudian sisanya adalah tentang dirinya sendiri.. Bukankah hidup ini sejatinya adalah tentang urusan diri ini dengan Tuhan, dan bukan yang lain ??

Jadi inget lagi tulisan Buya Hamka (tapi buku yg mana gw lupa.. Haha..), yang kurang lebih bilang begini: “Saat berada di dalam badai, teruslah maju, berharaplah pertolongan hanya pada Allah saja.. Dan saat pertolonganNya datang, itu sudah lebih dari cukup..”

dikiranya gitu, padahal..

Negeri ini banyak bencana karena pemimpinnya dzalim, dan blablablabla, maka dari itu Alloh marah.. Cukup familiar dengan kalimat begini ??.. Atau mengklaim orang lain masuk surga atau neraka atas dasar hal2 yang sifatnya atributif.. Seakan ada orang2 yang “kenal” banget sama Tuhan, sampai2 mereka tahu gimana Tuhan mesti bersikap..

Menurut Prof. Quraish Shihab, QS.112:4, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya”, maknanya adalah: apapun yang terlintas di dalam benak menyangkut zat Alloh, baik yang bersumber dari kenyataan yang telah dilihat atau diketahui, maupun hasil imajinasi, maka Alloh tidaklah demikian..”

Beliau juga menyatakan di dalam buku “Islam yang saya Pahami”, bahwa memang ada larangan berpikir tentang zat Alloh, karena berada di luar kemampuan daya pikir manusia.. Untuk mengenal Tuhan, manusia dapat merasa puas dengan informasi jiwa & intuisinya.. Banyak “pemikir” jatuh tersungkur, ketika menuntut kehadiran-Nya melebihi kehadiran bukti2 wujud-Nya.. Bukti2 seperti kehadiran alam raya dan keteraturannya..

So, nggak salah kalo kita merasa aneh ngeliat orang2 yang merasa “kenal dekat” sama Tuhan.. Sampe2 bisa menilai keimanan orang lain, atau mengajak-Nya “bermain” politik.. Kalo jagoannya kalah, nanti nggak ada lagi yang menyembah-Nya.. Hehe..

Padahal, apakah iya Tuhan seperti yang ia pikirkan atau imajinasikan ??.. Ini bukan hanya mempersepsikan Tuhan sebagai “wujud”, tapi juga seakan2 bisa menebak (atau tahu ?!?) “pikiran” Tuhan.. Hey, bagaimana seseorang bisa mengimajinasikan zat yang tidak pernah bisa terlintas di dalam pikiran, dan tidak menyerupai apapun ??..

Ada juga yang bilang, kalo mau belajar dari Qur’an mesti kenal Alloh dulu.. Padahal “mempelajari” dan “belajar dari” Qur’an adalah dua hal yang berbeda.. Kalo mempelajarinya memang berat, cocok untuk para ulama top, para ahli tafsir, dan mereka yang berlevel tinggi..

Tapi kalo “belajar dari” Qur’an, menurut Cak Nun, setiap orang bisa.. Melalui Tadabbur = merenungkan & mengambil manfaat dari Qur’an.. Bahkan menurutnya juga, tidak harus “kenal” Tuhan dulu.. Cukup temukan manfaat dari situ sebanyak2nya, dan coba diamalkan sebisanya..

Analoginya gini: Apakah seseorang harus kenal dekat dengan Bill Gates untuk bisa mengambil manfaat dari Microsoft Windows ??.. Apakah kita harus kenal akrab banget sama Steve Jobs untuk bisa dapet manfaat dari MacOS ??..

Cukup manfaatkan saja itu PC atau Mac kita untuk hal2 yang baik.. Baca “manual book”nya, lihat fitur2 apa saja yang tersedia, do’s and dont’s-nya, atau apa2 saja yang bisa diupgrade untuk kemudian bisa menimbulkan manfaat yang lebih banyak lagi..

Bukankah para ekstrimis, “army” pembuat / penyebar hoax itu merasa kenal banget sama Tuhannya, sampai2 berpikir bahwa “tindakan2 gila” mereka sudah direstui-Nya ??..

Mereka lupa: sejatinya tidak ada yang menyerupai-Nya..