Latest Posts

tipusulap..

Ada seorang pesulap, namanya Alex Stone.. Show pertamanya dilakukan di acara perayaan ulang tahun ke-enamnya sendiri.. Dan hasilnya “berantakan”.. Namun karena terus belajar, ia pun berhasil jadi pesulap saat dewasa..

Nggak hanya jadi pesulap, kuliahnya juga oke banget.. Berhasil jebol Harvard, dan gelar master Fisikanya didapat dari Colombia University.. Tulisan2nya juga sempat dimuat di media sekelas: New York Times, Harper’s, dan Wall Street Journal..

Stone menulis sebuah buku, dan terbit di tahun 2012: “Fooling Houdini: Magicians, Mentalists, Math Geeks, and the Hidden Powers of the Mind..“.. Berkat bekgron kuliahnya, di buku ini dia bisa mengulas sulap dari perspektif psikologi, neuroscience, fisika, sejarah, dan bahkan “crime”..

Seumur hidup, profesi utama dia adalah pesulap.. Kita tau lah seorang pesulap, kerjaannya menciptakan ilusi, atau kalo kasarnya ya “membohongi” penonton.. Menariknya, berdasarkan pengalaman dia tampil selama ini, ternyata penonton anak2 lebih sulit dibohongi ketimbang penonton orang dewasa..

Saat sebuah sulap nggak berjalan lancar, tentu saja si pesulap jadi malu.. Dalam rentang 10 tahun, Stone mengaku pernah “dibuat malu” mungkin hanya 2 kali oleh orang dewasa yang bukan pesulap.. Namun ia bisa “dibuat malu” berkali2 oleh anak2 kisaran usia 8 tahun..

Koq bisa ya??.. Menurut Stone, orang dewasa memang punya kemampuan memusatkan perhatian yang lebih bagus dari anak2.. Namun hal tersebut membuat mereka malah rentan terhadap penyesatan..

Seorang pesulap selalu mengarahkan dan menunjukkan para penontonnya pada apa yang sudah “direncanakan” oleh pesulap.. Ini membuat orang dewasa (yang terlatih sepanjang hidupnya untuk ngikutin petunjuk semacam itu), menjadi rentan untuk diarahkan..

Anak2 nggak percaya dogma.. Mereka relatif bebas dari asumsi, sedangkan orang dewasa banyak berasumsi.. Padahal sulap sendiri adalah tentang mempermainkan asumsi.. Bener juga ya.. Seandainya ada ustad atau public figure nawarin dagangan, tentu asumsi kita mudah ter-arahkan kalo tuh dagangan “baik2 saja”..

Plus, bocah2 itu penuh rasa kepo yang “murni”.. Kalo nonton sulap pun keponya untuk tahu “cara kerja” si pesulap, dan bukan niat untuk membongkar trik atau “menjatuhkan” si pesulap yang banyak dilakukan orang dewasa..

Cara berpikir anak2 pun nggak berlebihan.. Nggak “lari kemana2”, atau membuat teori2 sendiri yang nggak jelas, atau bahkan aneh2 seperti orang dewasa.. Hmm, jadi inget turut hadirnya teori virus Corona di buku Iqro’.. Hehehe..

Stone bilang: “Kecerdasan, tidak berhubungan erat dengan sifat mudah tertipu..”.. Kenyataannya, banyak orang dewasa bergelar masih bisa percaya hoax, ketipu dagangan bodong berembel2 syari’ah, dan bisa digiring ke pilihan yang jelas2 bukan yang terbaik.. Udahlah punya bawaan “trigger” sifat mudah ketipu, males membaca, ditambah mabok agama pula, ya ambyar dah.. (^_^!)

tarian kontribusi..

Pertama kali gw “berkenalan” dengan psikologi-nya Adler itu saat nggak sengaja sekilas liat dorama jepang di tipi.. Pas makan siang, bini’ gw kebetulan lagi nonton itu.. Dan pas betul, saat itu adegannya tokoh utama lagi ngikutin perkuliahan di kelas.. Si dosen dari depan kelas menyatakan salah satu dari konsep teori Adler: “Sikap / attitude seseorang di masa sekarang, ditentukan oleh masa depannya..”

Teori2 Adler banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Bertolak belakang dengan Adler, Freud-ian menganggap: sikap2 atau attitude seseorang di saat sekarangnya / masa kininya, ditentukan oleh masa lalunya..

Akhirnya Adler “keluar” dari paham Freud dan mengembangkan teori2nya sendiri yang kemudian dikenal sebagai psikologi individual..

Karena penasaran, gw mencoba menggali lebih dalam tentang psikologinya Adler melalui sebuah buku.. Ternyata pemikiran yang ditawarkan Adler benar2 gokil.. Banyak konsep2 yang layak direnungkan, bahkan “menyentil-nyentil” apa2 yang udah gw pegang selama ini.. Saat baca buku itu, beberapa kali bertanya sendiri: “Ini serius nih beneran begini ?? Tapi kok cocok ya ??..” Hehe..

Salah satu konsep yang gw suka itu, soal “hiduplah sehidup2nya” pada saat sekarang melalui kontribusi manfaat.. Membawa masa lalu (yang tidak bisa diubah) ke masa kini, atau mencoba memikirkan / melihat masa depan (yang jelas2 masih “kabur”), membuat seseorang menjadi tidak sepenuhnya “hidup” di dalam masa sekarangnya..

Saat konsep hidup yang kita pegang pada umumnya adalah perjalanan, seperti garis dari titik A ke titik B, Adler justru menolak konsep tersebut.. Kalau kita membuat garis dari kapur di papan tulis, kemudian kita zoom-in garisnya, jelas terlihat garis tersebut tersusun atas titik2 yang banyak jumlahnya..

Nah, menurut Adler, hidup adalah titik2, momen demi momen yang terbentuk atas tindakan seseorang di masa sekarangnya.. Entah nanti dari titik2 itu jadi garis atau gambar apapun, yang jelas, masa lalu seseorang menjadi tidak penting..

Adler menentang konsep hidup seperti sebuah garis yang menyambung, yang menghubungkan sebab akibat ke sebab akibat berikutnya.. Karena, dengan menganut konsep itu, seseorang akan mudah menyalahkan terlahir dari keluarga mana, sekolah2nya dulu, kuliahnya, dan hal2 lain yang terjadi di masa lalu..

Padahal yang lebih penting adalah “sekarangnya”.. Daripada melihat perjalanan hidup seperti orang berjalan atau berlari ke suatu tempat, Adler mengajukan konsep hidup adalah sebuah tarian..

Menarilah tanpa menghiraukan apapun.. Hidupkan setiap titik momen hari2 sekarang yang diberikan Tuhan sebaik2nya, melalui kontribusi (kebermanfaatan diri) bagi orang lain.. Karena nggak ada tarian yang diam di tempat.. Nanti saking asyiknya menari, seseorang akan kaget sendiri melihat dimana dia akan sampai..

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??..

Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup..

Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang..

Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..”

Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan tahun.. Namun di pagi dan sore hari, sedikit cahaya matahari masih bisa masuk dan terlihat oleh mereka.. Di-tadabburi secara kekinian: dalam kondisi segelap2nya dan sesempit2nya kondisi kehidupan seseorang, pasti masih ada harapan, masih ada celah untuk bisa mengubah kondisi tersebut..

Karena cahaya adalah ilmu.. So, kalau mau mengubah kondisi, maka belajar lah.. Berupaya mendapatkan ilmu meski sedikit2.. Sudah banyak buktinya kehidupan seseorang berubah karena ilmunya juga “berubah” (baca: bertambah)..

Gw suka istilah yang disematkan untuk melakukan tadabbur2 model kayak gitu: “Tadabbur Kontekstual..”

Sepertinya tanpa sadar gw juga suka melakukannya.. Dulu sempat kepo, ayat2 mana yang bisa dimaknai dan bermanfaat bagi mereka yang bergerak di industri kreatif..

Dalam sebuah postingan lama, ayat yang berbunyi “Hidup adalah permainan…” gw kaitkan dengan teori kreativitas dari sebuah buku.. Jadi tadabbur kontekstualnya: kalau mau jadi orang kreatif, anggaplah hidup ini sebagai game (gamification) / permainan..

Kenapa ?? Karena saat seseorang main game, dia harus belajar sistemnya, mematuhi aturannya, dan mesti meningkatkan kemampuannya untuk menaklukkan boss besar atau level yang lebih tinggi.. Terlebih kalo kepengen jadi “Top Scorer”.. Bisa maen sendiri atau kolaborasi, nggak perlu takut gagal/kalah, karena selalu ada kesempatan untuk mencoba lagi..

Sotoy2nya gw sih, dengan Tadabbur Kontekstual, seseorang jadi bisa mengambil manfaat dari Qur’an yang sejalan dengan profesi atau kelimuan yang dimiliki, juga selaras dengan problema hidup yang dihadapi masing2 diri.. Manfaat yang didapat pun bukan hanya dari “katanya2” dan ikut2an aja, namun dari akalnya yang “mau membaca” sendiri Kitab Sucinya..

jago salah juga..

Darryl F. Zanuck, Vice President dari 20th Century Fox (1946) pernah bekata: “Televisi nggak mungkin bisa bertahan di pasar lebih dari enam bulan.. Karena orang bakal bosan dan capek memandangi ‘kotak’ setiap malam..”.. Begitu katanya saat awal2 televisi akan dilempar ke pasaran..

Ternyata, TV cukup laku, dan di tahun 1950an menjadi medium primer untuk mempengaruhi opini publik.. Apalagi ditahun 90an ke atas.. Bisa dibilang, di Indo sini pun masyarakatnya pada punya TV.. Sama sekali nggak terbayang dulunya pernah diprediksi oleh seorang “pakar hiburan”, TV akan gagal di pasaran dalam waktu 6 bulan saja..

Ken Olsen, President & founder of Digital Equipment Corp, tahun 1977 juga pernah bilang: “Nggak ada alasan bagi seseorang untuk memiliki komputer di rumahnya..”.. Dalam waktu yang nggak begitu jauh, mungkin di era 80an, bisa dibilang komputer “mewabah”, dan sebagian besar rumah punya komputer.. Termasuk di Indonesia sepertinya.. Padahal Olsen adalah salah satu “pakar” teknologi di zamannya..

Tau Decca Records ??.. Sebuah perusahaan rekaman lumayan ternama yang me-reject The Beatles.. Nggak tanggung2, para petinggi Decca menyatakan “Grup gitar kayak mereka gitu mah udah basi.... Dalam The Beatles Anthology (2000), dituliskan petinggi Decca bilang: “The Beatles have no future in show business..!!”

Kenyataannya ??.. Sekarang, siapa yang nggak tau The Beatles ??.. Mungkin mereka2 yang maennya kurang jauh aja.. Sampai saat ini album2nya sudah terjual 183juta copy..

Dari kasus di atas, bisa diliat, para pakar, atau para ahli pun bisa salah meski sudah terbekali dengan banyak pengetahuan dan pengalaman.. Pelajaran yang bisa diambil: jangan nurut “membeo” bulat2..

Nggak ada yang bisa memprediksi masa depan.. Apalagi “beyond that”, soal Tuhan & akhirat.. Hwaah.. Ini malah banyak yang sepertinya merasa “se-level” dengan Tuhan.. Memilah milih guru sekarang ini rasanya semakin penting..

Mangkanya ulama2 yang gw suka itu ulama yang mengajak berpikir merdeka.. Menyeru-nya untuk Tuhan, bukan untuk dirinya, bukan kekuasaan, bukan politik, atau kepentingan siapapun..

Dan salah satu cirinya biasanya memang nggak ingin diikuti atau dituruti bulat2.. Sangat biasa untuk ngomong “saya bukan yang paling benar..” Seorang ulama ada yang berujar: “Kami dengar dan kami taat itu hanya untuk Tuhan dan RasulNya saja”..

Sisanya, selama dia manusia, pasti bisa salah.. So, ngefans boleh, tapi pas “idola”nya jelas salah malah jadi belagak buta, itu masalah.. Nggak ada orang yang segitu pintarnya sampe nggak akan bisa salah.. Kalo orang2 yang segitu pintarnya “ngeles” sih udah ada contohnya.. Hehehe..

Nurut “membeo” tidak membawa seseorang ke hal2 yang baru.. Ya kaya’ burung Beo, hanya bisa ngomong persis kayak yang didiktekan kepadanya.. Bawa2 Toa pun dia tak mampu.. (^_^)/

hafal & paham..

Mendikbud sempat bilang; kalo dunia tidak butuh penghafal.. Lantas mereka yang berpaham bahwa menghafal itu penting ‘naik darah’, menghujati Nadiem.. Karena menurut mereka, bangsa atau dunia ini perlu penghafal Qur’an..

Padahal, Mendikbud berbicara dalam konteks kurikulum pendidikan nasional.. Ia sama sekali nggak bilang ataupun menyinggung apapun tentang penghafal ayat Qur’an ataupun hadist.. Dia sama sekali nggak melarang kalo ada yang mau menghafal itu semua..

Bisa saja beliau sebenarnya senang kalo ada banyak hafiz atau hafizah di negeri ini.. Namun, saat itu kan beliau lagi di atas ‘panggung’ pendidikan nasional, dan bukan di atas ‘mimbar’.. Prasangka duluan, tanpa ingin tau lebih dulu makna intinya, ya ambyarr..

Poin pentingnya: gagal melihat konteks dalam mencerna informasi.. Konteks merupakan acuan bagi seseorang untuk memahami makna sebenarnya dari sebuah pesan/informasi..

Contoh lain, ‘menyetarakan’ ucapan selamat natal dengan kalimat syahadat.. Menyetarakannya hanya karena sama2 kalimat.. Tapi konteksnya nggak dilihat.. Jadinya aneh.. Ucapan selamat hari natal ya setaranya sama ucapan selamat hari ibu, hari ultah, hari Idul Fitri, dan sejenisnya..

Kalimat Syahadat adalah kalimat ‘kesaksian’.. Begimana logikanya bisa disamakan dengan ucapan selamat ?!?.. “Lah, berarti lu mengakui dong kalo blablabla…”.. Ya memang, gw mengakui kalo agama “langit” itu ada 3, lengkap dengan segala macam ‘misterinya’.. Silahkan dipilih..

“Bagiku agamaku bagimu agamamu”, bisa bermakna: apapun yang kalian pilih, kalian punya hak yang sama dengan saya untuk menjalankan agamanya masing2 secara damai..

“Kalo ngucapin selamat ‘itu’ nanti lu akan jadi seperti mereka..”, ini malah lebih aneh lagi.. Ngucapin selamat natal jadi nasrani, selamat hari ibu jadi ibu, dsb.. Kalo ini benar, maka yang paling berbahagia adalah kaum jomblo.. Tinggal cari temennya yang merayakan hari jadian, ucapkan selamat hari jadi, maka ‘automatically’ jadian jugalah dia sama pacar temennya.. ‘No More’ jomblo jatuh tempo di permukaan bumi.. (^o^!)

Bisa jadi kasus2 gini, karena hasil dari pendidikan yang menekankan pada hafalan.. Tidak dibanyakin latihan berpikir kritis, murid jadi tidak terbangun potensi berpikir kreatif dan analitisnya..

Misal saat ujian, gw ngasi soal ke mahasiswa: “Sebutkan dan jelaskan pengertian serta fungsi dari brosur..”.. Mereka bisa saja menuliskan berlembar2 tentang brosur.. Tapi apakah pas bikin desain brosur beneran hasilnya bisa bagus banget ??.. Bisa aja sebaliknya..

Kita perlu lebih banyak ‘Self-Actualizers’, manusia2 yang total mencoba memaksimalkan seluruh potensi dalam dirinya (termasuk potensi berfikir), dan bukan “memorizers”.. Faktanya, kita akan lebih gampang menyebutkan nama2 pencipta/penemu, pendiri/pembuat, ketimbang nama2 penghafal..

“Seseorang bisa saja tau, atau bahkan hafal nama2 burung dalam banyak bahasa, tapi sebenarnya dia nggak tahu apapun tentang burung..” – Gw lupa ini quotenya siapa.. (^.^!)..