Latest Posts

mantiq asyik..

Pernah dengar istilah ilmu mantiq..?? Setelah baca2 lagi, ternyata ilmu ini prinsip dasarnya diletakkan Aristoteles.. Beberapa abad kemudian dikembangkan lagi oleh filsuf muslim seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Ghazali, Ibnu Rushd, dan ulama2 lain..

Sederhananya, ilmu mantiq merupakan “alat pengatur” nalar yang kalau dipatuhi akan mampu menjaga kita dari kesalahan berpikir.. Ilmu ini juga mendorong kita untuk berpikir secara sistematis dan mendalam.. Salah satu fungsi dari ilmu mantiq adalah “membawa” kita dari apa2 yang sudah kita ketahui menuju pengetahuan yang belum kita ketahui..

Konsep menjadikan apa2 yang sudah kita ketahui sebagai “modal” awal untuk meng-analisa informasi ini mantep juga loh.. Karena kebanyakan dari kita sepertinya memang malas berpikir.. Malas membandingkan berita2, dan bahkan juga malas meng-crosscek kembali informasi baru dengan apa2 yang sudah kita ketahui..

Contoh: dulu sempet rame status Dilan dibandingkan dengan Al-Fatih.. Coba cek yang kita ketahui tentang keduanya.. Jelas2 si Dilan adalah tokoh fiktif, sedangkan Al-Fatih “orang beneran” yang sudah tercatat sejarah sebagai penakluk Konstatinopel..

Ini Ibarat membandingkan imajinasi dengan kenyataan, seperti membandingkan tempe dengan makanan alien.. Hehe.. Perbandingan yang kocak lah, kalo nggak mau dibilang konyol.. Tapi tetep banyak di-likes and di-share.. (^_^!)

Belakangan ada juga gw liat status yang membandingkan tidurnya anggota dewan rakyat di saat rapat, dengan tidurnya jama’ah saat khutbah Jum’at.. Bunyi statusnya kurang lebih begini: jangan ngeledek anggota dewan yang tidur di sidang paripurna kalo pas khutbah jum’at juga tidur.. Coba kita cek pake apa2 yang udah kita ketahui tentang keduanya.. Jum’atan itu “pekerjaan” bukan ??.. Kita2 neh, kalo Jum’atan dibayar nggak ??..

Para anggota dewan itu dalam status sedang “bekerja”.. Dibayar pula pake duit rakyat.. Kalo lu bayar pajak (apalagi juta2an), pasti ngerasain betapa mangkelnya ngeliat orang yang digaji dari duit kita, eh pas kerja malah tidur..!! Jangankan ngeledek, gw aja kalo di sono rasanya pengen “toyor” tuh jidad dewan yang tidur2.. Ealaah, yang model begini malah dibela2in.. Kocak..

Sayangnya, kalo pengetahuan yang dimiliki seseorang kurang banyak, atau malas cari pengetahuan baru, maka analisanya juga bisa jadi kurang mantep.. Atau, kalo sumber informasinya tidak valid atau hoax, ya jelas aja output nalarnya juga jadi kacau.. Karena “pondasi” yang digunakan untuk berpikirnya sendiri udah ngaco..

Mungkin ini juga alasan kenapa Iqro’ menjadi wahyu pertama yang turun.. Supaya pengetahuan seseorang bertambah, supaya bisa memiliki “pondasi” berpikir & analisa yang kuat dan “lebar”..

Memilah-milih atau memeriksa kembali apa2 yang masuk ke otak menjadi penting.. Karena salah satu cara kerja otak itu GIGG (Garbage In Garbage Grows..)..

Advertisements

sufi+humor..

Kenapa ya ??.. Kalo buku2 Sufi, seringkali “gandengan”-nya itu humor.. Gw seringkali melihat tulisan ataupun buku bertuliskan “Humor Sufi”.. Tapi jarang yang bertuliskan “humor ustadz” atau “humor habib”.. Apa karena sense of humor mereka nggak sebagus para sufi ??..

Buat gw pribadi, cara2 sufi ber-humor termasuk unik.. Ketimbang mempresentasikan dogma atau buah pikir dimana seseorang harus mempercayai sejumlah hal dan kemudian menolak yang lain, para sufi seakan lebih kepada mem-“provokasi” pengalaman dalam diri seseorang..

Pernah denger kisah ini ??.. Suatu malam, si fulan kehilangan kunci kamarnya, dan sedang mencarinya di jalanan.. Teman2nya pun membantu mencarinya.. Namun hasilnya tetap nihil.. Salah seorang temannya bertanya: “Kira2 terakhir ingat adanya kunci itu dimana ya ?? Supaya tempat nyari kita bisa jadi lebih fokus nih..”

Betapa kaget teman2nya saat mendengar jawaban si Fulan yang menyatakan bahwa sebenarnya ia kehilangan kunci tersebut di dalam rumahnya.. “Lah, terus kenapa carinya di luar ??”.. Fulan menjawab: “Sebab, di jalanan ini terang sekali, sedangkan di dalam rumahku itu gelap gulita..”

Terkesan konyol sekali bukan ??.. Tapi coba kita tela’ah lebih jauh.. Bukankah banyak manusia melakukan hal yang sama ??.. Kunci adalah hal2 dinilai penting dalam hidup.. Saat kita kehilangan kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan, dan kestabilan pikiran dalam menghadapi pekerjaan, relasi, ataupun penghasilan, kita seringkali mencarinya di luar diri kita..

Karena kurang intensif-nya kita menyalakan lilin, obor, atau lampu (baca: ilmu / hikmah) di dalam diri kita sendiri, maka “rumah” hati dan pikiran kita menjadi gelap.. Lantas mencarinya di luar diri yang terlihat “terang benderang” meskipun semu..

Perubahan sejati dari kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan, ataupun nasib, sebenarnya merupakan “otoritas” dari apa2 yang ada di dalam diri, dan bukan dari luar.. Kisah sufi di atas nyambung dengan firman Tuhan: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (QS.13:11)..

Para sufi beranggapan: perjalanan pengembangan spiritual diri seseorang, tidak hanya bisa dicapai melalui do’a2 dan ritual2.. Namun perjalanan tersebut juga bisa “ditemani” oleh candaan dan humor.. Menurut mereka; “knowledge comes before rituals”.. Bagi orang2 yang sudah tahu dan paham apa2 di belakang ritualnya, maka pelaksanaannya akan lebih “meresap” dan “fungsional” atau berdampak keluar..

Martin (2007) dalam “The Psychology of Humor”, menuliskan: sense of humor seseorang berfungsi untuk memperoleh perspektif yang lebih baik tentang diri sendiri.. Mereka yang punya sense humor bagus, dapat mengembangkan pemahaman diri serta memandang dirinya secara lebih realistis..

Bercerita, bercanda, dan perenungan.. Dalam pengembangan spiritual, jelas gw lebih suka cara2 sufi ketimbang ustad atau habib yang nyinyir2, mencela sana-sini dan marah2..

tsundoku..

Sabtu kemaren ke Indonesia International Book Fair di JCC.. Ada tempat namanya Zona Kalap.. Gimana nggak bikin kalap, disitu buku2nya di-diskon bisa sampe 90%..!! Ngeliat ramenya tuh zona, plus antrean kasir yang dipenuhi manusia2 yang menenteng keranjang2 penuh buku, darah gue pun mendidih.. Pengen ikutan berjibaku dan “berdarah2” di sana.. Gyahaha..

Udah lama gw beranggapan, kalo beli buku itu merupakan sebuah investasi.. Jadi, entah itu dompet lagi lapang, ataupun lagi sempit, selalu ada “ruang” di dompet untuk beli buku.. Budget cicilan, belanja bulanan, bayar SPP dan listrik, selalu minggir dan memberi jalan bagi duit yang akan lewat untuk beli2 buku.. Hehe..

Namun, membeli buku dan bersedia menyempatkan waktu untuk membacanya adalah dua persoalan yang berbeda.. Gw termasuk orang yang punya masalah, atau “gap” antara jumlah buku yang dibeli, dengan jumlah waktu membacanya.. Pendek kata, gw ngerasa, “antrian” buku yang mesti gw baca jadi terus bertambah panjang..

Untuk hal ini, di dalam bahasa jepang ada isitlah “Tsundoku”.. Menurut Prof. Andrew Gerstle dari University of London, kata “doku” bisa digunakan sebagai kata kerja yang artinya “membaca”.. Dan kata “tsun” di dalam “tsundoku” asalnya dari kata “tsumu”, yang artinya menumpuk.. Bila digabungkan, “tsundoku” bermakna membeli materi2 bacaan, dan menumpuknya..

Ternyata istilah ini sudah ada sejak sekitar tahun 1879.. Dan sepertinya merupakan istilah satir, untuk guru2 yang punya banyak buku, tapi nggak membaca buku2 tersebut.. Menurut Prof. Gerstle juga, meski kata tersebut rasa2nya ada unsur “hinaan”, namun tidak ada “stigma” apapun atas istilah itu di Jepangnya sendiri..

Ngeliat rak buku gw yang makin penuh, belum lagi “koleksi” e-book yang sampe giga2an, tapi yang gw baca baru mega2-an, gw jadi merasa masuk ke kategori “tsundoku” itu.. Dan setelah baca2 lagi, ternyata menumpuk buku2 melebihi kemampuan waktu kita untuk membacanya bukanlah hal yang sepenuhnya buruk..

Satu rak penuh buku yang belum kita baca menunjukkan “seberapa banyak yang kita nggak tau..”.. Makin banyak rak model begitu, semakin sadar bahwa semua yang sudah kita ketahui masih belum ada apa2nya.. Atau mungkin belum tentu semuanya itu benar, karena ilmu bisa ter-update toh ??.. Rak yang penuh dengan ide2 yang belum ter-eksplorasi bisa mendorong seseorang untuk terus membaca, belajar, dan ngerasa nggak nyaman atas apa2 yang sudah diketahui..

Ada yang menyebut ini sebagai bentuk kerendah-hatian intelektual / Intellectual humility.. Mengelilingi diri dengan banyak buku (meski belum dibaca) menjauhi seseorang dari rasa sok tau, over confident, dan sok paling benar & pinter sendiri.. Nggak heran ada juga yang menyebutkan bahwa “Tsundoku” bisa menjadi counter dari “Dunning Kruger Effect”..

ulama keren..

Menurut tafsir Prof. Quraish Shihab, Allah melarang Ghibah (menyebut keburukan orang lain di belakangnya, meskipun itu benar) [QS.49:12], tidak hanya untuk saudara seiman.. Larangan ghibah juga berlaku bagi saudara dalam kemanusiaan, termasuk dalam kewarga-negaraan..

Supaya apa ??.. Ya supaya setiap orang sebagai warga negara, atau sebagai penduduk dunia ini bisa merasa aman dan nyaman.. Terhindar dari “kasak-kusuk” nggak jelas yang bisa menimbulkan prasangka buruk serta kebencian antar sesama..

Gw sangat menyayangkan tafsiran ulama top model begini nggak didengarkan.. Yang didengerin malah yang provokatif, yang menjelek2an, dan nggak menumbuhkan nasionalisme dan cinta kepada Ibu Pertiwi.. Hah ?? Apa pulak itu ??.. Mosok negara dianggap Ibu ?!?.. Ajaran dari mana ???.. Itu kan dari bahasa Sansekerta, punya agama lain..!!

Memang nggak ada kata Ibu Pertiwi di agama Islam.. Tapi coba lihat bagaimana ulama sekaliber Prof. Quraish Shihab memaknakan kata tersebut.. Beliau memaknakan: bahwa kita manusia ini berasal dari tanah, jadi tanah adalah Ibu kita..

Tanah yang kita pijak sejak lahir ini telah memberi kita banyak hal, mulai dari udara, air, cuaca, tumbuh2an, hingga yang sifatnya non-material: seperti nilai2 moral atau local wisdom yang diturunkan dari orang2 terdahulu..

“Anak yang pandai bersyukur pasti mencintai Ibunya..”, begitu tulis beliau.. So, sebagai “anak” yang baik, sudah sepatutnya berusaha menampilkan keindahannya, dan bukan malah menampakkan keburukannya.. Atau malah “durhaka”, dan mengusung ideologi yang bertentangan dengan yang telah ditetapkan para “founding fathers” di awal didirikannya negeri ini..

Dulu pemikiran radikal sempet masuk ke kepala gw.. Gara2 hanya melihat buruk2nya ini negeri.. Alhamdulillah berkat wejangan “jangan taqlid buta” dan “kemerdekaan berpikir” dari Buya Hamka, otak gw kembali terbuka dan bekerja..

“Cinta tanah air adalah perasaan yang sangat halus dan dalam di hati manusia.. Bahkan cinta tanah air itu timbul dari iman yang sejati.”, begitu tulis Buya Hamka dalam sebuah bukunya..

Untuk nasionalisme dan kecintaannya pada persatuan, Buya Hamka bahkan menyebut umat agama lainnya sebagai saudara.. Beliau sangat menghargai nilai2 luhur dari agama lain.. Entah gw yang emang “miss” atau gimana, tapi gw belum pernah menemukan tulisan beliau yang menjelek2an agama lain.. Yang gw temukan justru satu paragraf indah ini:

“Kata orang, aku ini dari golongan Islam yang taat ! Lebih dari itu ! – Aku tunduk pada ajaran meniadakan diri, pusaka Budha Gautama, aku tunduk kepada sari ajaran mengorbankan diri sendiri untuk kesentosaan Bani Insan, ajaran Isa Almasih; dan aku adalah pengikut akan faham: “Tiada beriman seorang kamu sebelum ia cinta kepada saudaranya sebagaimana cinta kepada dirinya”, ajaran junjungan Nabi Muhammad S.A.W..” – Buya Hamka, ‘Lembaga Hidup’ (1949)..