Latest Posts

koar kasar..

Untitled-1Belum lama ini, gw ngobrol2 pagi sama seseorang.. Ntah gimana, tau2 dia cerita soal khutbah Jum’at yang sekarang kok banyak yang isinya politik.. Malah di daerah pemukiman dia, katanya sempet ada yang sampe diteriakin sama jama’ahnya dari luar: “Woi politik woi !!”.. Dan si khotib kata dia sih cuek2 ajah..

Obrolan pun berlanjut ke soal penceramah2 atau apapun lah namanya, yang doyan caci maki, mencela, berkata2 kasar, dan pesimisme tidak berdasarkan fakta..

Yah, dua minggu yang lalu pun pas gw Jum’atan, gw masih inget juga itu khotbahnya “maen” politik.. Omongannya juga “ngelantur”.. Adzan dilarang lah, lama2 nanti nggak ada adzan di Indonesia, terus jelek2in ini itu, dan sejenisnya.. (@_@!)

Gw bukan ustad, hanya orang awam.. Tapi paling nggak dari baca2, gw ngarti dah kalo “congor” kite nih sebaiknya dihindari untuk ngomong2 negatif.. Terlebih dari atas mimbar..

Sebagai orang awam pun gw heran, kenapa ada orang yang dijuluki ustad atau habib atau ulama atau apapun lah sebutannya, tapi mulutnya koq ngeluarin yang jelek2.. Bahkan mendo’akan yang buruk2 pula ke orang lain, meskipun sesama muslim..

Yang dukung atau yang denger pun seringkali “meng-amin-kan” tanpa berpikir.. Ini juga gw heran.. Karena gw belum pernah baca sih, referensi yang menunjukkan kalo hal2 seperti itu dianjurkan, apalagi dari atas mimbar.. Baik itu dari perspektif etika, ataupun agama…

Di Qur’an juga dikatakan, hendaknya menyeru kebaikan (QS5:104).. Apakah berkata kasar, mencela, mendoakan yang jelek2 pada orang lain itu suatu kebaikan ??.. Pertanyaan yang gampang banget dijawab bagi mereka yang akal dan hatinya masih sehat..

Hadist pun begitu.. Ada yang tertulis begini: “Tidaklah benar iman seseorang, hingga hatinya menjadi benar. Dan tidaklah benar hati seseorang, hingga benar lisannya.” (HR. Imam Ahmad dari Anas ra.).

Imam Al – Ghazali dalam kitab Bidayatul Hidayah juga menjelaskan hal yang sama.. Beliau bernasehat supaya kita menjaga mulut kita dari 8 perkara.. Dan beberapa perkaranya yang menurut gw nyambung sama kasus postingan ini: (1). Berbohong.. Yaah, tau sendiri lah, ngomong di atas mimbar lantas nggak berdasarkan data dan fakta, tentu saja bisa termasuk ke poin ini..

(2). Membahas kejelekan orang lain / ghibah.. (3). Menganggap baik diri sendiri.. Hmm.. Cukup jelas lah.. (4). Melaknat, baik terhadap makhluk hidup ataupun benda mati, memvonis syirik, kafir, kepada sesama orang Islam.. dan (5). Mendo’akan jelek terhadap makhluk.. Makhluk loh ya, umat agama lain kan makhluk juga.. Berarti ya tetep jangan dido’akan yang jelek2..

Jadi mereka yang ngomong2 kasar & buruk dari atas panggung / mimbar itu sebetulnya rujukannya dari mana ya ??.. Ahh, sudahlah….. (^_^)/

Advertisements

pelajaran utama..

Untitled-1Terakhir reunian sama temen2 kuliah S1, ada temen deket yang ngomong gini: “Kalo lu jadi pengusaha, gw agak2 kepikir sih Gie, tapi kalo lu bisa jadi dosen, itu gw nggak kebayang sama sekali..!!” Gwakakak.. Lah guwe-nya sendiri juga bingung koq..

Mungkin karena dari dulu sukanya komik, maen game, dan hal2 konyol lain.. Sampe sekarang pun rasa2nya masih begitu.. Liat aja Quote2 Su’oD, jauh dari kesan serius.. Atau di tiap postingan, tulisan gaya bahasa verbal, suka2 tanpa mikirin tata bahasa, bahkan pake’ “elu guwe”.. Berasa nggak dosen banget..

Setelah mengalami sendiri jadi siswa, mahasiswa, kemudian menjadi pengajar, gw semakin menyadari satu hal: Sejatinya BUKAN GURU YANG MEMILIH MURID, tapi murid yang memilih guru.. Persis seperti kisah2 kungfu klasik, para murid lah yang mencari & memilih sendiri gurunya, yang dinilai pantas bagi dirinya..

Si guru sendiri seringkali diceritakan “datar” atau acuh.. Yaah, memang begitulah orang bijak hebat yang sebenarnya.. Seringkali merasa biasa saja, tidak merasa bijak, bahkan seringkali merasa tidak pantas untuk punya murid “formal”..

Gw memang dosen bagi semua mahasiswa yang pernah gw ajar, tapi apakah gw adalah guru bagi mereka semua??.. Belum tentuuu.. Hubungan guru dan murid sejati tidak sesederhana itu..

Mahasiswa/i2 yang selalu datang telat, kata2 / nasihat dosen tidak didengarkan (apalagi mencoba diamalkan), tugas selalu terlambat seadanya, dan sering nggak masuk kelas.. Apakah kesemuanya itu bisa disebut sebagai hubungan guru dan murid ??.. I don’t think so..

Tapi gw juga tau, ada dari mereka yang benar2 niat belajar.. Datang lebih dulu dari dosen, fotokopian tiap pertemuan bener2 disimpen, bahkan mereka “koleksi” sampe jadi alumni untuk kemudian suatu saat dibaca2 kembali..

Gw sendiri pun seperti itu.. Nggak semua dosen dulu itu sepertinya bisa gw anggap sebagai guru.. Ada yang tidak berkesan sama sekali, “hampa”, bahkan sampe lupa namanya.. Tapi ada juga yang bener2 gw inget.. Sampe sekarang fotokopiannya masih gw simpen, serta sejumlah kata2 beliau pun masih lengket di kepala gw dan masih gw coba untuk amalkan..

Seseorang yang lain yang juga gw anggap sebagai guru pernah berujar: “Dalam mengajar itu, sebenernya THE REAL LESSON IS YOU !!.. Anda adalah pelajaran utamanya..”.. Jadi tugas guru pertama kali sebelum menyampaikan pelajaran adalah berusaha membuat hati si murid tertarik dengannya.. Entah gimana caranya, kalo itu bisa tercapai, materi akan lebih mudah untuk bisa “masuk” ke mereka, dan kelas akan selalu ramai..

Sebuah nasihat yang buat gw cukup logis.. Karena memang seringkali sebuah mata pelajaran / mata kuliah menjadi favorit, bukan karena materinya, tapi karena pengajarnya..

Selamat Hari Guru.. (^_^)/

sinergis-iqra’..

Untitled-1Otak bekerja secara sinergis.. Jadi apa2 yang masuk ke otak, akan “bersinggungan” dengan apa yang sudah kita ketahui selama ini.. Kaitannya sama mendapatkan ide gimana ??.. Untuk pencetusan ide, gw paling suka dengan analogi kelereng..

Ibaratnya, isi otak kita adalah kelereng2 listrik, dan masing2 butir kelereng merupakan satu informasi/pengetahuan yang sudah kita ketahui.. Saat ada informasi baru masuk, maka satu butir kelereng baru pun masuk..

Apa yang terjadi saat otak seseorang PENUH dengan kelereng, lantas dimasukkan satu atau lebih kelereng lagi ??.. Kelereng baru tersebut akan menggeser kelereng2 lain, dan menyebabkan kelereng2 yang sudah ada saling beradu / bersinggungan satu sama lain..

Nah, saat kelereng2 saling bersinggungan, keluarlah percikan2 listrik akibat “beradu” itu.. Dan percikan itulah yang disebut IDE..

Itulah kenapa referensi, dan “koleksi” menjadi perlu.. Seorang komikus legendaris umumnya referensi / koleksi komiknya juga banyak, atau seorang pembuat film mumpuni, koleksi filmnya juga banyak, dan seorang ulama sejati koleksi buku2nya pun banyak..

Hal tersebut seakan “mempermudah” mereka untuk mencetuskan ide2 baru atau pemikiran2 yang berbeda saat menyerap informasi2 baru..

Sebaliknya, kalo kelereng di dalam kepala kita sedikit, ya jadi susah dapet ide.. Bayangin sebuah ruang kosong, sedikit kelereng, terus masuk kelereng baru.. Tuh kelereng mau bersinggungan dengan apa ??.. Nggak ada percikan listrik yang keluar akibat “beradu”nya kelereng.. Ataupun kalo dapet ide biasanya ya nggak jauh dari itu2 juga..

Makanya ada kan, yang kalo dapet informasi baru, ujung2nya selalu output-nya: konspirasi, yahudi, di-dzolimi, khilafah, dsb.. Karena apa ??.. Ya karena “kelereng” di  kepalanya mungkin cuma itu.. Hehe..

Menjadi masuk akal kalo perintah pertama adalah Iqra’.. Karena sepertinya Iqra’ memang berjodoh dengan cara kerja otak manusia yang sinergis.. Dalam sistem sinergis, 1 + 1 bisa lebih dari 2.. Dan ‘lebih’nya bisa berarti berapa aja..

Abbas Mahmud al-Aqqad (1889-1964 M), ulama terkemuka Mesir, pernah berujar:

“Ide Anda hanya satu, demikian juga perasaan dan imajinasi. Tetapi bila hal itu bertemu dengan ide, rasa dan imajinasi yang lain, maka ketika itu yang lahir bukan hanya dua ide, rasa dan imajinasi, tetapi banyak sekali sehingga tidak terhitung jumlahnya. Seperti seorang yang duduk di antara dua cermin. Ia bisa melihat banyak sekali pandangannya ke seluruh penjuru cermin itu.”

“Demikian juga dengan membaca. Betapapun manusia makan, maka dia tidak dapat memenuhi kecuali memenuhi satu pencernaannya saja. Betapapun dia berpakaian, maka dia tidak dapat menutupi kecuali satu jasadnya. Tetapi bila dia membaca, maka dia dapat mengumpulkan sekian banyak ide, rasa dan imajinasi dalam benaknya dan dengan demikian dia tidak hanya memiliki satu hidup saja”.

sinergi-di-otak

Untitled-1Udah beberapa kali gw “left” dari grup WA yang kontennya berseliweran nyinyiran, hoax, dan berita2 negatif lain.. Yah, gw males aja baca2 begitu, bikin otak jadi mikir nggak bener.. Mau ngingetin juga males.. Pernah coba, eh malah dibilang bodoh.. Hyaha..

Menurut Toni Buzan, pencetus konsep mind mapping, salah satu prinsip kerja otak adalah repetisi.. Apa2 yang berulang diinput ke otak, akan “nempel” di situ.. Termasuk respon kita atas informasi yang masuk, bisa nempel menjadi kebiasaan.. Misal, seseorang dapet info “nyinyir” terbaru, lantas emosi menanjak, langsung deh jari cepet banget mencet tombol share..

Rentetan aktivitas tersebut seakan membuat “sirkuit” baru di otak, dan akan makin lancar jaya kalo terus berulang.. Emosi atas nyinyir makin cepat, jari2 makin luwes, dan akhirnya hoax pun menyebar melebihi kecepatan cahaya..(Hyahaha..)

Awalnya ilmuwan beranggapan bahwa proses berpikir kita seperti prinsip matematis sederhana.. Jadi jika kita nambah satu data baru ke dalam otak, seperti hanya menambah satu bahan ke gudang penyimpanan.. Di pertengahan abad 20, ditemukan bahwa cara kerja otak tidaklah seperti itu.. Otak bekerja secara sinergis.

Dalam sistem sinergis, 1 + 1 bisa lebih dari 2.. Dan ‘lebih’nya bisa berarti berapa aja.. Itulah kenapa saat si “A” memikirkan dirinya + mantannya, dia nggak hanya memikirkan fisik dirinya dan fisik mantannya saja, tapi juga “men-sinergi-kan” apa2 yang sudah diketahuinya sejauh ini..

Si “A” tahu nonton bioskop, tahu candle light dinner, tahu konsep menikah, dan sebagainya.. Maka, bila si A “memasukkan” mantannya ke dalam otaknya, dia bisa mensinergikan dengan itu semua.. Ia bisa membayangkan nonton bareng mantan, dinner bareng, bahkan menikahi si mantan (meski ini hanya ngarep.com.. hehe..)..

Itulah kenapa, seseorang pada umumnya sulit melupakan mantan atau hal2 lain yang sudah seringkali berulang.. Karena prinsip kerja otak yang sinergis memungkinkan kita untuk terus “bermain” dengan itu semua, bahkan menambahnya dengan hal2 yang kekinian, dan jadi tambah lengket ke memori.. Misal, setahun abis si “A” putus, ada restoran baru buka yang romantis deket rumahnya.. Nah, “maen” lagi dah tuh imajinasi si”A” dengan mantannya makan di situ..

Menurut Toni Buzan dkk (1999) dalam “The BrainSmart Leader”, prinsip kerja otak yang repetisi dan sinergi ini akan “menumbuhkan” apa2 yang masuk ke otak kita.. Jadi untuk otak, ada istilah GIGG (Garbage In Garbage Grows).. Hal2 buruk seperti pemikiran negatif, pesimisme, dan sinis berlebihan, bila sering masuk ke otak kita, ya itulah yang akan tumbuh..

Bisa dibayangkan kalo otak kita sering atau bahkan rutin diisi hoax, rasa takut / pesimis, dan berita negatif tiap hari ??.. (-_-!)

[ke-po-dong]

Untitled-1Di sebuah buku diceritakan: sejumlah peneliti Jepang meneliti buah2an untuk mendapatkan zat bernama methalonids.. Zat ini bermanfaat bagi jantung dan sistem pernapasan, namun sangat sedikit diproduksi didalam tubuh manusia.. Jadi mereka mencoba mendapatkannya dari luar tubuh, melalui buah2an..

Ternyata di buah tin dan zaitun-lah zat itu berada.. Dilalah, hasil yang diharapkan hanya akan tercapai bila mencampurkan kedua buah tersebut dalam komposisi 1 tin dan 6 zaitun.. Dan angka perbandingan tersebut ternyata ada di dalam Qur’an .. Buah tin hanya satu kali disebutkan, sedangkan zaitun disebutkan 6 kali secara tegas (1 kali tersirat)..

Gokil ye.. Gw meyakini ada banyak hal di dalam Qur’an, tapi seringkali nggak tau harus berbuat apa.. Yang jelas gw berupaya untuk nggak berpikir kalo kalimat di Qur’an hanya sekedar kalimat atau “teks”.. Yang bisa dikutip sana sini untuk beragam kepentingan.. Tapi ada “konteks”nya, atau bahkan mungkin hal2 lain yang lebih jauh dari itu.. Untuk menuju ke situ, kayaknya “kepo” adalah kuncinya..

Ternyata ber-kepo pun berdampak pada kehidupan seseorang.. Studi Todd Kashdan dari George Mason University, menyimpulkan: mereka yang rasa ingin tahunya besar, memliki level kepuasan hidup yang lebih tinggi.. Mereka bisa mendapatkan makna yang lebih hebat dalam hidup, dan akibatnya, terprediksi akan memiliki kebahagiaan jangka panjang yang lebih stabil..

Nah, dampaknya untuk kemajuan: Dr. Pervez Hoodboy (2013), nuclear physicist, dalam ceramahnya “Science in Islam: Past, Present and Future” di Aga Khan University menyatakan: “With the death of curiosity, the Muslim civilisation fell from the peaks of greatness..”

Kisah curiosity pun ada di Qur’an.. Nabi Ibrahim yang kesana kemari kepingin tahu akan Tuhannya, dan ada kisahnya Nabi Musa yang rasa ingin tahunya nggak tertahankan menghadapi perilaku Nabi Khidir.. Nampaknya, kepo memang sesuatu yang sangat penting, sampai2 perlu dikisahkan di dalam Qur’an..

Menurut Peterson, C. & Seligman (2004) dalam “Character strengths and virtues. Curiosity”, rasa ingin tahu merupakan salah satu dari 24 kekuatan dan karakter kebajikan dari umat manusia (kalo kepo sisanya yang 23 apa googling sendiri yaa.. hehe..).. Mereka menyatakan curiosity secara positif berkorelasi dengan kreativitas, kecerdasan, kemampuan problem-solving, personal-control, dan keinginan untuk menantang status quo..

Hoo.. Pantaslah Dr. Pervez pun menyatakan: “What matters are attitudes – the attitude of asking how and why and the scientific method of thinking critically. This is what we don’t teach our children and they fail to reach the first level of truth all their lives..”

Naaah, kalo kita2 nih, kadang kepingin tau berita di layar HaPe kita ini hoax atau bukan aja kagak.. (^o^!)