Latest Posts

yaah.. hidayah..

Untitled-3“Semoga dapet hidayah..”.. Udah berapa kali ya gw dapet do’a model begini..?? Hehe.. Lucunya, dapetnya bukan dalam kondisi “normal” atau lagi ikut pengajian, tapi dalam kondisi beda pendapat, nggak setuju sama tulisan gw, atau malah bisa jadi gara2 beda pilihan capres.. Hyahaha..

Biasanya kalo dapet do’a begitu, gw aminkan dalam hati.. Terus ya gw melanjutkan UPAYA untuk dapet hidayah sebagaimana biasanya.. Lewat baca2 buku, mengamati sekitar, ataupun bentuk2 lain seperti membanding2kan, atau merenungi apa2 yang udah dibaca.. Kali aja do’a orang2 itu beneran bisa mempercepat gw untuk dapet hidayah..

Udah lumayan lama gw meyakini kalo hidayah adalah sesuatu yang diupayakan, dan bukan ditunggu.. Jadi mesti ada “effort” yang keluar supaya bisa beneran dapet.. Nggak “plok” dapet gitu aja..

Lagian, setau gw sih, wujud hidayah bisa bermacam2, dan yang do’ain itu nggak menyebutkan wujudnya yang seperti apa.. Apakah wujud pemahaman, petunjuk (ide) kebaikan, atau bahkah kepo (curiosity) dalam “melahap” pengetahuan..

Atau mungkin maksud mereka itu, gw dapet hidayah kalo besok bangun tidur lantas maanjangin jenggot, taqlid buta sama ustad ulama versi mereka, ngemil hoax melulu’, atau milih capres yang sama dengan mereka ??.. (^_^!)

Jujur aja, seumur2, gw nggak pernah tau itu gimana rasanya dapat hidayah.. Adakah yang tau rasanya ??.. Monggo atuh dishare..

Dalam teori kreativitias, ada yang namanya berpikir paradox.. Sebuah tips untuk menjadi lebih kreatif.. Sederhananya, berpikir satu kutub ekstrim sekaligus kutub seberangnya untuk mendapatkan ide/pemikiran baru.. Contoh dalam bisnis: membuat makanan bintang lima dengan harga kaki lima.. Atau, window shopping, tapi nggak usah keluar rumah..

Teori ini bisa diterapkan dalam beragama.. Tau hadis: ada 73 golongan umat Islam, dan yang selamat nanti hanya satu golongan ??.. Seseorang bisa berpikir untuk “menempatkan” dirinya SEOLAH2 ia berada di dalam golongan yang salah, kalo perlu malah di ujung kutub yang paling salah..

Dalam posisi ini, seseorang akan terus lebih memeriksa keimanannya sendiri.. Berupaya supaya nanti bisa jadi lebih baik, dan bisa “masuk” ke kutub seberangnya, dengan terus belajar, iqra’, dll..

Merasa berada di kutub yang paling salah, akan berat sekali rasanya menilai keimanan orang lain, berpikir seribu kali menyebut orang lain bid’ah atau sesat (bahkan kafir), atau menilai diri ini sudah dapet hidayah, dan merasa paling benar..

Dengan berpikir paradox, upaya untuk bisa masuk ke golongan yang selamat akan terus berlangsung.. Sampai kapan ??.. Yah, bisa jadi sampai “baterai” diri ini habis.. Hanya Tuhan yang mampu menilai kadar ke-akurat-an dan kebenaran keimanan seseorang, baik itu dulu, kini, dan nanti..

“Wahai hidayaaahh, datanglah kepadakuuuuu..!! Hwwaaaaa..”

Advertisements

ter-ikat akal..

Untitled-1Sebenarnya apa sih maksud dari kata “orang yang berakal” di dalam Qur’an ??.. Apakah mereka yang berpendidikan tinggi ??

Tapi ada yang berpendidikan tinggi, doyannya “makan” hoax dan nyebar hoax, bahkan melakukan korupsi, berjama’ah pulak.. Padahal berpikir korupsi = mencuri = dosa, adalah hal yang sangat sederhana.. Mosok udah sekolah tinggi mikir gitu aja nggak nyampe’ ??..

Apakah mereka berakal ??.. Jelaasss, wong udah S1, S2, bahkan udah sampe S9+ (Hyahaha, ini hape apa orang ?!?.).. Tapi kenapa perilakunya seperti itu ??..

Sejauh ini, jawaban paling memuaskan gw dapet dari Prof. Quraish Shihab di buku “Logika Agama”.. Beliau membahas dari kata “akal” itu sendiri, yang berasal dari bahasa Arab: aqala, ya’qilu, aqlan.. Pakar berpendapat, makna dari ketiganya berkisar pada “menghalangi”, dan dari sana lahir kata “iqal” yang artinya “tali”..

Kenapa “menghalangi” dan “tali” ??.. Orang2 arab biasanya menggunakan kain yang menutup kepala mereka, dan supaya nggak mudah jatuh atau terbang tertiup angin, dipakaikanlah atau dililitkan tali hitam (iqal) untuk mengikat kain tersebut.. Jadi maksudnya, tali itu untuk “menghalangi” si kain kepala supaya nggak “kabur”, sebagaimana tali pengikat binatang..

Masih menurut beliau, ada beberapa makna dalam bahasa arab yang bisa muncul dari kata iqal.. Dan yang paling nyambung sama paragraf awal, ada dua yang menurut gw cocok.. Yang pertama itu: pemahaman atau ilmu.. Pemahaman dan ilmu yang dimiliki seseorang ibarat tali yang menghalanginya dari melakukan kesalahan dan keburukan..

Dan yang kedua adalah kehati-hatian.. Sikap ini juga bisa membuat seseorang menjadi terhalangi atau terhindari dari hal2 yang buruk, atau apapun yang pada akhirnya berujung pada penyesalan..

So, pada dasarnya akal di dalam Qur’an menurut Quraish Shihab lebih kepada potensi yang dianugerahkan Alloh untuk mendorong lahirnya BUDI PEKERTI LUHUR, atau MENGHALANGI SESEORANG DARI MELAKUKAN KEBURUKAN.. Dengan pemahaman ini, siapa pun bisa menjadi orang yang berakal, terlepas dari tingkat pendidikannya..

Fungsi lainnya: MEMPERHATIKAN dan MENGANALISIS rahasia2 alam yang terpendam, lantas memunculkan pengetahuan / pemahaman baru untuk kemudian diamalkan..

Jadi, pengetahuan atau pendidikan seseorang boleh saja tinggi, tapi kalau tidak mengarah pada budipekerti luhur dan “penghalang keburukan”, sangat bisa jadi akalnya sudah “tunduk” pada hawa nafsunya.. Terlihat “nggak berfungsi”, dan di Qur’an sendiri diibaratkan seperti binatang ternak..

Uniknya lagi, di dalam Qur’an nggak ditemukan kata benda dari akal (‘aqala), tapi yang ada malah KATA KERJA-nya (ya’qilun dan ta’qilun).. Masing2 muncul sebanyak 22 dan 24 kali.. Mungkin saja ini makna tersirat bahwa akal bukanlah sesuatu yang diciptakan hanya sebagai “benda”, atau jadi “pengangguran”, namun sesuatu yang baru bisa menjadi sangat bernilai bila “DIPEKERJAKAN”.. Atau bahasa kasarnya: “DIPAKE”.. (^_^)/

emosi negatif & kreativitas..

Untitled-7Seringkali, saat lagi kesel, marah, atau bete’, gw lampiaskan pada kerjaan, atau bikin gambar, atau tulisan.. Contoh terakhir, postingan tulisan tentang penceramah yang “rese” itu (yang judul postingannya “ukhuwah wah”).. Tulisan itu bener2 tercipta gara2 gw kesel sama khotib Jum’atnya..

Padahal kan, kesel atau marah itu emosi negatif ya..?? Saat pilpres 2014 dulu juga gitu, karena gw kesel sama mereka yang suka fitnah2 salah satu capres (dan ini keji banget !!), padahal Islam sejatinya nggak ngajarin yang begitu, dan akhirnya “serial” kampanye ala2 tokoh komik manga versi gw pun tercipta..

Aneh.. Jangan2 emosi negatif dan kreativitas memang ada hubungannya.. Lantas, kepo gw pun kumat.. Terus cari & baca2 artikel riset kreativitas lagi deh, dan akhirnya: Bingo !!.. Ternyata beneran ada yang melakukan studi mengenai hal ini..

Studi dari De Dreu, Baas, & Nijstad (2008) dalam “Hedonic tone and activation level in the mood-creativity.”, meyimpulkan bahwa emosi2 negatif yang intens dapat membuat seseorang menjadi memiliki pemikiran refleksi-diri yang kuat, dan juga ketekunan yang berujung pada peningkatan kreativitas..

Studi dari Kaufmann & Vosburg (1997) dalam “Paradoxical mood effects on creative problem-solving”, seakan lebih menajamkan lagi mengenai hal ini.. Mereka menemukan bahwa mood negatif dapat meningkatkan jumlah solusi pada pekerjaan2 kreatif.. Terutama pada pekerjaan2 yang membutuhkan konsentrasi, eksekusi presisi, pemikiran yang berbeda (divergent thinking), dan problem soving yang analogis..

Emosi negatif selain marah, sedih & benci, lingkupnya bisa sampai penolakan pribadi ataupun sosial.. Teori ini bisa menjelaskan kenapa sering kita denger saat seseorang patah hati atau cintanya ditolak, maka banyak puisi, lagu, ataupun gambar bisa tercipta.. Padahal dalam kondisi “normal” biasanya sulit loh..

Perlu dicatat, pengaruh emosi pada kreativitas bisa berbeda pada masing2 individu.. Jadi tergantung orangnya.. Kan ada juga orang yang cintanya ditolak lantas larinya ke baygon atau racun tikus.. Padahal mah, kalo tuh orang mau kreatif dikit, mestinya lariin ke solusi: “Cinta ditolak, Dukun bertindak”.. Gyahaha..

Jadi, mungkin sebaiknya jangan meremehkan emosi negatif, karena dampaknya, atau mungkin lebih tepatnya: “pelariannya”, nggak selalu dalam wujud yang negatif pula.. Bahkan, kalo liat teori di atas, bisa meningkatkan ketekunan dan kreativitas..

Perhatikan saja, dari beberapa tahun ke belakang, “gorengan berita” dan hoax fitnah najong tetep bertebaran toh ??.. Bukankah itu juga merupakan bentuk kreativitas ??.. Tekun pulak bikinnya berkelanjutan bertahun2.. Kira2 apa akarnya ??. Ya emosi negatif berjenis KEBENCIAN..

Dasar dari teori kreativitas adalah mempertemukan 2 hal berbeda yang tadinya nggak pernah ketemu.. Dan buat gw yang lucu belakangan ini adalah ketemunya 2 hal yang “jauuuh bangeeedh”, yakni: …..Ulama…. dan…… Kardus.. …(^o^)/..

Rasa Benci – versi Buya Hamka

hamkaSatu lagi tulisan beliau yang perlu diabadikan di blog gw:

Segala sesuatu ada buruk dan baiknya.. Maka sekiranya kita melihat alam atau manusia dengan mata kebencian, tidak akan terdapat dalam alam barang yang tidak tercela..

Matahari begitu berfaedah membawa terang.. Si pembenci tak dapat menghargai matahari lantaran panasnya.. Bulan begitu indah dan nyaman, si pembenci hanya ingat bahwa bulan itu tidak tetap memberi cahaya, kadang2 kurang..

BAGI PEMBENCI TIDAK ADA KEBAHAGIAAN, nonsen !!.. Tidak ada pengarang yang pintar, tidak ada pemimpin yang cakap, tidak ada manusia yang baik, semuanya bercacat..

Orang yang masuk kepada rumah yang indah, keadaan rumah itu akan didapatnya menurut ukuran hatinya seketika dia masuk.. Jika masuk dengan rasa kecintaan, elok dipandang matanya apa yang tersusun teratur dalam rumah itu.. Kalau terdapat cela satu dua, dilipurnya atau dimanfaatkannya..

Tetapi kalau masuk dengan kebencian, tidak kelihatan keindahan susunan dan aturan, yang kelihatan oleh orang yang cinta tadi.. Matanya menjalar ke dinding, melihat kalau di sana ada jaring laba2, menjalar ke dapur, kalau2 piringnya ada yang tak dibasuh.. Bila dia keluar, aib itulah yang tinggal dalam hati dan matanya..

Berapa orang mendengar pidato.. Pidato yang didengarnya itu akan berkesan ke dalam dirinya menurut ukuran penghargaannya.. Orang yang datang hendak mengutip dan mencari kebaikan dari pidato itu, akan pulang membawa hasil yang menyenangkan..

Tetapi yang datang mencari2 kalau ada pidato itu yang salah atau silap, ITULAH YANG DIJADIKAN MODAL UNTUK MENGHINAKAN dan membenci yang berpidato itu di luaran.. Membaca tulisan walaupun bagaimana keras dan panas isinya, tidaklah menyakitkan hati kalau cinta telah ada kepada penulisnya..

Tetapi meskipun tidak keras, biasa saja, kalau lebih dahulu telah ada perasaan hasad-dengki, bukan main besar kesannya kepada hati si pembenci dan pendengki itu.. Dia merasa saja bahwa dia disindir..

Di sini dapatlah kita melihat, bahwa BAHAGIA DAN CELAKA ITU HANYA BERPUSAT KEPADA SANUBARI ORANG, bukan pada zat barang yang dilihat..

GOBLOKLAH ORANG yang terbentang di hadapannya barang yang baik dan yang buruk, lalu dipilihnya yang buruk, kemudian dia meratap sebab telah memilih yang buruk.. Dan TIDAK ADA YANG LEBIH GOBLOK daripada PERASAAN BENCI itu..

Padahal sifat alam kalau hendak dikaji2, tidak ada yang sempurna menurut khayalan kita.. Lantaran kekecewaannya, kebencian tumbuh, hati patah, lupa bahwa yang cukup dan sempurna hanya Allah..

BUKAN ORANG LAIN YANG SAKIT LANTARAN ITU, MELAINKAN DIRINYA SENDIRI.. Sebab itu hapuskanlah sifat benci, gantilah dengan sifat cinta.. Sehari pergantian itu, warna alam berubah dengan sendirinya, pada pandangan kita..

– Buya Hamka – Tasawuf Modern (1939).

ukhuwah wah..

Untitled-5“Ada orang non-muslim dateng ke pesantren, ramai2 disambut pake rebana, dikalungin sorban, dijamu, dan dido’ain.. Ini Islamnya dimana ?!?!?”.. Begitu kata khotib pas gw jum’atan di sebuah mesjid.. Kuping mulai panas, mata membara, gw tatap tajam2 tuh mata khotib dari jauh (sayang dia nggak natap gw, euh lagian ngapain juga yak.. gyaha..)..

Niatnya, kalo masih lanjut ngomong politik dari atas mimbar, gw mending cabut ajah, sholat dhuhur di rumah.. Untung lanjutan ceramahnya nggak parah2 amat.. Tapi ya tetep, banyak buruk2nya negeri ini versi dia sendiri aja yang diomongin..

Lagian, apa yang salah sih dari peristiwa: ada orang non-muslim, dateng ke pesantren, terus disambut pake rebana dan dikalungin sorban ??.. Dia tanya Islamnya dimana, ya Islamnya ya di situ !! Menyambut baik tamu / orang lain dengan ramah dan santun..

Memangnya sorban, rebana, dan musik punya agama ??.. Kesemua itu kan produk akal (budaya), hanya medium, netral, nggak ada sangkut pautnya sama Islam secara substansi.. Seumur2, gw nggak pernah liat tuh ada sorban dan rebana baca Syahadat, terus rajin ke mesjid saat Adzan berkumandang.. Gyahaha..

Tahu istilah “Ukhuwah Islamiyah” ??.. Maknanya ada banyak versi.. Yang banyak sih artinya persaudaraan (keguyuban, kebersamaan, kesatuan) diantara orang2 Islam.. Abis baca2 lagi, gw merasa bodoh kalo mengartikan istilah itu “hanya” untuk orang Islam saja..

Menurut Cak Nun, kata yang digunakan adalah “Ukhuwah Islamiyah”, bukan Ukhuwah-Muslimin, atau Ukhuwah Bainal-muslim wal muslim, atau macam2 pertalian di kalangan muslim.. Jadi menurut beliau, Islamiah tersebut merupakan kata Sifat..

Sederhananya, Ukhuwah Islamiyah adalah suatu persaudaraan yang dijalankan dengan sifat prinsip2 keislaman, dan nafas keislaman.. Persaudaraannya antar siapa ??.. Antara sesama manusia..

Gw lebih suka kalo ditambahin lagi, “persaudaraan” dengan seluruh makhluk hidup / ciptaan di alam semesta.. Bukankah ada, orang yang menganggap kucing, kelinci, atau burung peliharaannya seperti keluarga sendiri ??.

Buat gw pengertian ini lebih keren, dan sangat lebih mengarah kepada islam yang Rahmatan Lil Aalamin, yang memberikan damai dan keselamatan bagi seluruh alam semesta..

Pada kenyataannya, seseorang nggak akan mampu menilai orang lain hanya dari agamanya saja.. Terlebih dengan pelabelan kafir dan sejenisnya.. Karena kalo dilihat dari sudut pandang pemeluk agama lain, ya gw ini juga bisa disebut kafir..

So, istilah2 kafir dkk tersebut sepertinya nggak bisa dirangkum dalam satu perspektif ataupun satu arti tunggal.. Dalam pendewasaan kehidupan, akui saja sambil terus belajar bahwa label2 tersebut adalah hal yang kompleks.. Bahkan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya..

Toge, krupuk, wortel, bumbu kacang, dan tahu, nggak mungkin mau “ber-ukhuwah” dalam satu piring gado2 kalo saling melabeli dengan kata kafir..