Latest Posts

tele(skop)ologi..

UTS selesai, maka koreksian pun menumpuk.. Apalagi di semester sekarang, gw “dipaksa” untuk ngajar 8 kelas.. Mabok nggak tuh..?!? (@_@!).. Rekor baru dalam sejarah gw mengajar.. Sebelum2nya, biasanya paling mentok satu semester ngajar 4 kelas saja.. Wakakak..

Tapi, menilai tugas karya2 mahasiswa itu buat gw bisa terasa menyenangkan.. Seringkali gw terhibur dengan tugas2 yang secara visual mantap jiwah.. Berasa gitu ada yang bener2 niat & penuh semangat untuk punya skill desain tinggi.. Terlihat kalo briefnya dibaca & dipahami bener2, dan apapun yg gw bekali di tiap pertemuan kelas benar2 “digunakan”..

Ada juga yang males2.. Bikin tugas ala kadarnya, sekedar selesai aja.. Mens sana in corpore sano.. Brief-nya ke sana, ngerjainnya ke sono.. Diminta semangka, ngasinya melon.. Sama2 buah sih, tapi kan bukan itu yang diminta..

Ada kecenderungan, mereka yang tujuannya emang beneran pengen bisa desain tuh, beda dengan yang kuliah dengan tujuan sekedar “menggugurkan kewajiban”..

Memang beda hasilnya antara yang “bertujuan” dan yang nggak.. Teori Adler bener juga: perilaku seseorang di masa sekarangnya ditentukan oleh tujuan2nya, dan bukan masa lalunya.. Mereka yang nggak punya tujuan seringkali bingung mau ngapain, akhirnya aksi2nya hanya seadanya..

Terus parahnya, nanti kalo masa depan nggak sesuai dengan harapan mereka, lantas yang disalahkan adalah faktor luar.. Pemerintah lah, presiden lah, Naruto lah, sampe2 kondisi2 masa lalunya sendiri, yang padahal memang “dulunya” dijalani seadanya..

Salah satu hal mendasar dari aliran psikologi Adler adalah Teleologi.. Berasal dari bahasa Yunani “Telos” yang artinya akhir, tujuan, maksud.. Serta “Logos” yang artinya buah pikiran yang diungkapkan dalam nalar & perkataan..

Istilah Teleologi pertama kali dikemukakan oleh filsuf Jerman; Christian Wolff di abad ke 18,.. Sederhananya, Teleologi adalah ajaran yang menerangkan bahwa segala sesuatu, dan segala kejadian akan menuju pada tujuan tertentu.. Maka dari itu, psikologi Adler nggak menganjurkan memikirkan “sebab” yang sudah lewat, namun lebih kepada “tujuan” di saat ini..

Terus, dimana letak pengalaman masa lalu ??.. Bukankah itu menentukan kita sekarang ??.. Menurut Adler, diri kita bukan ditentukan oleh pengalaman kita, tapi oleh MAKNA yang kita berikan pada pengalaman kita.. Apapun pengaruh dari luar di masa lalu, tetap saja, seseorang hidup berdasarkan pilihan2 makna yang dia sematkan sendiri ke dalam pengaruh2 yang sudah lewat tersebut..

Dalam anggapan Adlerian, kalo masa lalu yang jelas2 nggak bisa diubah menentukan segalanya, maka seseorang akan sulit mengambil langkah2 maju dalam hidup.. Akhirnya akan jadi pesimisme yang hilang harapan dan menyerah dengan hidup.. Tujuan di saat sekarang-lah yang benar2 bisa membuat orang “tertarik” untuk maju..

“Yang penting bukanlah bagaimana seseorang dilahirkan, namun bagaimana dia memanfaatkannya..” – Adler.

kehendak langit..

Baca2 buku “The Book of Zen”, eh jadi nemu kisah yang oke.. Pada zaman dulu di Cina, ada seorang jenderal bersama pasukannya.. Apesnya, si Jendral harus menghadapi tentara musuh yang jumlahnya hampir sepuluh kali lipat dari pasukan yang dimilikinya..

Saat menuju medan perang, dia dan pasukannya mampir dulu di sebuah kuil.. Di hadapan pasukan, sang Jendral berdo’a dengan khusyu’ di kuil tersebut.. Ia memohon bimbingan “langit” atas situasi yang akan dihadapinya..

Lantas, selesai berdo’a, ia berkata pada seluruh pasukannya; “Sekarang perhatikan !! Saya akan melempar sebuah uang koin ke langit.. Saat uang ini jatuh ke tanah, kalau yang menghadap ke atas adalah gambar kepala, maka kita akan menang.. Dan kalau yang menghadap ke atas ekor, kita akan kalah..”

Sang Jenderal melemparkan uang tersebut ke langit sambil berteriak: “Wahai pasukanku.. Hidup kita ada di tangan nasib !!”.. Koin pun kemudian jatuh kembali.. Hasilnya ??.. Ternyata yang “keluar” adalah gambar kepala..!!

Seluruh pasukan, baik yang dekat dengan tempat jatuhnya koin itu, ataupun yang jauh, kemudian bersorak.. “Kepala !!.. Kita akan menang !! Ayo habisi musuh tanpa ampun !!.. Karena kita pasti menang !!..”

Semangat seluruh pasukan menjadi membara dan “memberingas”, seperti singa2 lapar yang sudah 5 hari nggak makan ketoprak.. Eh, nggak dong yaa.. Hehehe..

Bener saja, pasukan sang Jendral tampil semangat banget & menunjukkan “performa” tinggi di medan perang.. Seperti seakan2 ada grup JKT48 menyanyikan lagu “Heavy Rotation” di belakang mereka untuk menyemangati.. Pada “On Fire” gitu deh berkat keyakinannya akan kemenangan..

Akhir cerita, Jenderal & pasukannya berhasil meraih kemenangan.. Sang jendral puas atas semangat tempur pasukannya.. Tidak berapa lama, ia pun menatap medan perang yang sudah sunyi sendirian.. Lantas, seorang kapten mendekatinya.. Kapten berkata: “Ini sudah keinginan langit.. Tak ada seorang pun yang bisa mengubah nasib..”..

Jendral hanya tersenyum.. “Oh ya ?? Masak sih ??”.. Begitu jawabnya.. Sambil memperlihatkan koin yang digunakan untuk meramal nasib sebelum perang pada si kapten.. Ternyata kedua sisi koin tersebut adalah kepala..!!

Moral dari Zen: “Langit tidak memihak siapapun, tidak ada seorang pun yang lebih disukai langit.. Satu2nya bantuan yang bisa kamu terima adalah dari dirimu sendiri..”

Komen dari sotoy2nya gw: (1). Si Jendral itu pinter maen drama.. Sehabis berdo’a serius, terus lempar koin.. Para “pengikut” jadi mudah percaya bahwa kemenangan adalah kehendak “langit”.. Harusnya dia coba ikutan casting Drakor..!! (2). Seseorang harus benar2 belajar merenungi, sejauh mana peran dari berdo’a.. Tuhan memang menyuruh kita berdo’a, tapi sangat jelas juga menyuruh kita berusaha maksimal.. Terutama “mengubah keadaan di dalam diri” (QS.13:11)..

Pesan dari mas Bruce Lee: “Ultimately, the greatest help is self-help..”

bawang orang..

Kemarin, setelah perkuliahan selesai, ada seorang mahasiswa deketin gw yang lagi beres2 di depan kelas.. Gw ngeliat gelagatnya nih anak kayak lagi pusing mikirin sesuatu.. Bolak balik di depan gw yang lagi masukin barang2 ke dalam tas..

Bener aja, nggak lama, dia mendadak curcol soal permasalahan dengan orang tuanya.. Dia bilang, udah beberapa hari ini dia nggak pulang ke rumah, karena “ngambek” sama ortunya.. Wadaw, kasus apa pulak ini..?!?

Minggu kemarinnya lagi, ada seorang mahasiswi melakukan hal yang sama.. Tau2 curcol ke gw di depan kelas setelah kelas bubar.. Tentu saja dengan topik curhatan berbeda.. Padahal mereka anak semester 2 yang belum lama gw ajar alias baru kenal.. Semester 2 ini pun baru jalan sebulanan..

Gw ngerasa jadi “santapan” mahasiswa2 yang bertipe CDLC (Colek Dikit Langsung Curhat).. Gwakakak.. Tapi gw seneng2 aja sih, toh sekalian belajar ngeliat hidup orang lain, belajar “mendengarkan”, dan kali aja problem2 mereka nanti bisa terjadi juga pada anak2 gw..

Koq mereka bisa “enak aja” curhat ke gw ??.. Entahlah.. Tapi ada satu teori yang gw pikir nyambung.. Sebuah teori yang gw dapet pas kuliah S2 (dan tentu saja bukan di Vatican..) hehehe..

Ada yang menyebutnya dengan nama Teori Kulit Bawang.. Teori ini dikemukakan oleh Altman & Taylor (1973) untuk menjelaskan penetrasi sosial.. Menurut mereka kepribadian manusia itu memiliki beberapa lapisan.. Persis kayak kulit bawang merah, kalo dikupas satu kulit terluar, maka kita akan menemukan lapisan kulit kedua, ketiga, dan seterusnya..

Lapisan kulit terluar kepribadian manusia adalah apa2 yang terbuka bagi publik, apa yang diperlihatkan pada orang lain secara umum, tanpa harus ditutup-tutupi.. Semakin ke dalam, lapisannya semakin “private” dan sulit dibuka untuk sembarang orang.. Seperti konflik2 yang belum terselesaikan, emosi terpendam, sampai nilai2 dan konsep diri..

Kalo pake teori ini, sebetulnya nggak ada istilah “langsung akrab”.. Karena dalam menjalin keakraban, perlu adanya proses dalam membuka lapisan demi lapisan kepribadian seseorang.. Pendek kata, bila ada 2 orang yang bisa demikian stabil menjalin hubungan, seperti akrab sohiban atau pacaran, mereka sebenarnya telah melewati tahap “saling menguliti” kulit bawangnya satu sama lain..

Dalam teori ini juga ada konsep keterbukaan diri (Self-Disclosure), yang sifatnya timbal balik.. Sederhananya, seseorang yang bisa demikian membuka dirinya ke orang lain, berpotensi menarik orang lain untuk menjalin hubungan lebih dalam..

Mungkin karena gw keseringan “membuka diri” tanpa malu2 di depan kelas sebagai selingan materi desain, tuh anak2 jadi begitu.. Sampe pernah ada yang tauk2 mengadu: “Mas, saya dulu pas SD sempat dibully bertahun2..”

Hadeehh.. Konsekwensi punya atmosfir “tempat sampah” ya begini ni.. Gyahaha..

tipusulap..

Ada seorang pesulap, namanya Alex Stone.. Show pertamanya dilakukan di acara perayaan ulang tahun ke-enamnya sendiri.. Dan hasilnya “berantakan”.. Namun karena terus belajar, ia pun berhasil jadi pesulap saat dewasa..

Nggak hanya jadi pesulap, kuliahnya juga oke banget.. Berhasil jebol Harvard, dan gelar master Fisikanya didapat dari Colombia University.. Tulisan2nya juga sempat dimuat di media sekelas: New York Times, Harper’s, dan Wall Street Journal..

Stone menulis sebuah buku, dan terbit di tahun 2012: “Fooling Houdini: Magicians, Mentalists, Math Geeks, and the Hidden Powers of the Mind..“.. Berkat bekgron kuliahnya, di buku ini dia bisa mengulas sulap dari perspektif psikologi, neuroscience, fisika, sejarah, dan bahkan “crime”..

Seumur hidup, profesi utama dia adalah pesulap.. Kita tau lah seorang pesulap, kerjaannya menciptakan ilusi, atau kalo kasarnya ya “membohongi” penonton.. Menariknya, berdasarkan pengalaman dia tampil selama ini, ternyata penonton anak2 lebih sulit dibohongi ketimbang penonton orang dewasa..

Saat sebuah sulap nggak berjalan lancar, tentu saja si pesulap jadi malu.. Dalam rentang 10 tahun, Stone mengaku pernah “dibuat malu” mungkin hanya 2 kali oleh orang dewasa yang bukan pesulap.. Namun ia bisa “dibuat malu” berkali2 oleh anak2 kisaran usia 8 tahun..

Koq bisa ya??.. Menurut Stone, orang dewasa memang punya kemampuan memusatkan perhatian yang lebih bagus dari anak2.. Namun hal tersebut membuat mereka malah rentan terhadap penyesatan..

Seorang pesulap selalu mengarahkan dan menunjukkan para penontonnya pada apa yang sudah “direncanakan” oleh pesulap.. Ini membuat orang dewasa (yang terlatih sepanjang hidupnya untuk ngikutin petunjuk semacam itu), menjadi rentan untuk diarahkan..

Anak2 nggak percaya dogma.. Mereka relatif bebas dari asumsi, sedangkan orang dewasa banyak berasumsi.. Padahal sulap sendiri adalah tentang mempermainkan asumsi.. Bener juga ya.. Seandainya ada ustad atau public figure nawarin dagangan, tentu asumsi kita mudah ter-arahkan kalo tuh dagangan “baik2 saja”..

Plus, bocah2 itu penuh rasa kepo yang “murni”.. Kalo nonton sulap pun keponya untuk tahu “cara kerja” si pesulap, dan bukan niat untuk membongkar trik atau “menjatuhkan” si pesulap yang banyak dilakukan orang dewasa..

Cara berpikir anak2 pun nggak berlebihan.. Nggak “lari kemana2”, atau membuat teori2 sendiri yang nggak jelas, atau bahkan aneh2 seperti orang dewasa.. Hmm, jadi inget turut hadirnya teori virus Corona di buku Iqro’.. Hehehe..

Stone bilang: “Kecerdasan, tidak berhubungan erat dengan sifat mudah tertipu..”.. Kenyataannya, banyak orang dewasa bergelar masih bisa percaya hoax, ketipu dagangan bodong berembel2 syari’ah, dan bisa digiring ke pilihan yang jelas2 bukan yang terbaik.. Udahlah punya bawaan “trigger” sifat mudah ketipu, males membaca, ditambah mabok agama pula, ya ambyar dah.. (^_^!)

tarian kontribusi..

Pertama kali gw “berkenalan” dengan psikologi-nya Adler itu saat nggak sengaja sekilas liat dorama jepang di tipi.. Pas makan siang, bini’ gw kebetulan lagi nonton itu.. Dan pas betul, saat itu adegannya tokoh utama lagi ngikutin perkuliahan di kelas.. Si dosen dari depan kelas menyatakan salah satu dari konsep teori Adler: “Sikap / attitude seseorang di masa sekarang, ditentukan oleh masa depannya..”

Teori2 Adler banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Bertolak belakang dengan Adler, Freud-ian menganggap: sikap2 atau attitude seseorang di saat sekarangnya / masa kininya, ditentukan oleh masa lalunya..

Akhirnya Adler “keluar” dari paham Freud dan mengembangkan teori2nya sendiri yang kemudian dikenal sebagai psikologi individual..

Karena penasaran, gw mencoba menggali lebih dalam tentang psikologinya Adler melalui sebuah buku.. Ternyata pemikiran yang ditawarkan Adler benar2 gokil.. Banyak konsep2 yang layak direnungkan, bahkan “menyentil-nyentil” apa2 yang udah gw pegang selama ini.. Saat baca buku itu, beberapa kali bertanya sendiri: “Ini serius nih beneran begini ?? Tapi kok cocok ya ??..” Hehe..

Salah satu konsep yang gw suka itu, soal “hiduplah sehidup2nya” pada saat sekarang melalui kontribusi manfaat.. Membawa masa lalu (yang tidak bisa diubah) ke masa kini, atau mencoba memikirkan / melihat masa depan (yang jelas2 masih “kabur”), membuat seseorang menjadi tidak sepenuhnya “hidup” di dalam masa sekarangnya..

Saat konsep hidup yang kita pegang pada umumnya adalah perjalanan, seperti garis dari titik A ke titik B, Adler justru menolak konsep tersebut.. Kalau kita membuat garis dari kapur di papan tulis, kemudian kita zoom-in garisnya, jelas terlihat garis tersebut tersusun atas titik2 yang banyak jumlahnya..

Nah, menurut Adler, hidup adalah titik2, momen demi momen yang terbentuk atas tindakan seseorang di masa sekarangnya.. Entah nanti dari titik2 itu jadi garis atau gambar apapun, yang jelas, masa lalu seseorang menjadi tidak penting..

Adler menentang konsep hidup seperti sebuah garis yang menyambung, yang menghubungkan sebab akibat ke sebab akibat berikutnya.. Karena, dengan menganut konsep itu, seseorang akan mudah menyalahkan terlahir dari keluarga mana, sekolah2nya dulu, kuliahnya, dan hal2 lain yang terjadi di masa lalu..

Padahal yang lebih penting adalah “sekarangnya”.. Daripada melihat perjalanan hidup seperti orang berjalan atau berlari ke suatu tempat, Adler mengajukan konsep hidup adalah sebuah tarian..

Menarilah tanpa menghiraukan apapun.. Hidupkan setiap titik momen hari2 sekarang yang diberikan Tuhan sebaik2nya, melalui kontribusi (kebermanfaatan diri) bagi orang lain.. Karena nggak ada tarian yang diam di tempat.. Nanti saking asyiknya menari, seseorang akan kaget sendiri melihat dimana dia akan sampai..