Latest Posts

ngelamun @ide..

Untitled-1Pernah ngerasain lagi ngerjain sesuatu yang rutin, terus merasa bosan ??.. Dan akhirnya kita jadi ngelamun, pikiran mengembara kemana2, eh tau2 malah dapet ide bagus.. Hyaa..

Kalo diinget2, gw paling sering dapet ide pas guyuran2 awal air ke kepala pas lagi mandi.. Atau ya pas eek, alias buang aer besar.. Hehe.. Sorryy.. (^_^!).. Tapiii, ya itu kenyataannya.. Mungkin malah puluhan ide postingan di blog gw ini bisa dibilang berasal dari kamar mandi.. Gyahaha.. Beneran loh..

Bisa jadi karena mandi dan B.A.B itu “kerjaan” yang sangat2 rutin, nggak perlu mikir, dan membosankan, jadinya seakan menjadi saat yang tepat untuk “mengembarakan” pikiran kemana2..

Dr. Sandi Mann (2016), psikolog dan penulis buku “The Upside of Downtime: Why Boredom Is Good” menyatakan: ketika seseorang merasa bosan, ia akan mencari sesuatu yang bisa menstimulasi dirinya dari hal2 yang tidak ada di sekitarnya.. Jadi sangat memungkinkan mencarinya itu dari pikirannya sendiri, pergi ke tempat2 yang ada di dalam kepalanya sendiri..

Menurut Dr. Sandi, hal tersebut dapat menstimulasi kreativitas, karena begitu seseorang ngelamun, ia akan mulai berpikir tidak hanya dengan pikiran sadarnya, namun juga menggunakan pikiran bawah sadarnya.. Dan akhirnya terbukalah kemungkinan terjadinya koneksi2 baru di otak..

Neourscientist Marcus Raichle juga mendukung hal ini.. Dari hasil studinya, ia menyatakan: saat kita mengerjakan sesuatu secara sadar, kita menggunakan “attention network” dari otak.. Bagian otak yang mengendalikan dan membatasi perhatian kita.. Network ini membuat kita “nyambung” secara langsung dengan dunia sekitar kita, right here, right now..

Saat pikiran seseorang mengembara, bagian otak yang aktif adalah “default mode network”.. Kondisinya seperti otak saat istirahat, dimana nggak perlu fokus pada hal2 external, atau tujuan2 tertentu.. Menurut Raichel, ngelamun / pengembaraan pikiran merupakan fenomena yang menarik secara sains, karena dapat menunjukkan kapasitas seseorang dalam menciptakan pikirannya sendiri murni dari “dalam”.. Jadi bukan merupakan bentuk pikiran yang sifatnya merespon peristiwa dari dunia luar..

Hal ini senada dengan Manous Zomorodi (2017) dalam bukunya “Bored & Brilliant”.. Menurutnya, bentuk pikiran ngelamun seperti di atas bisa membantu seseorang menemukan solusi2 baru ketika “mentok” dalam masalah2 pekerjaan, personal, atau lainnya..

“Although boredom is usually thought of as the ultimate waste of time, it is, in fact, a gateway to mind wandering and can lead to some of our most productive and creative thoughts..” – Begitu kata Zomorodi..

Tuuh.. Jadi daripada baca hoax dan nyebar fitnah, kayaknya mending ngelamun aje deh.. Kali aja ntar dapet ide bagus, dapet hidayah, dapet duit banyak, dapet mobil, dan dapet rumah.. Gyaaa.. Mana mungkin ?!?!.. Yaah, namanya juga ngelamun.. (*o*)/

Advertisements

cerdas beragama..

Untitled-1Dari dulu gw suka bingung soal spiritual intelligence.. Bener2 bisa diukur kah ??.. Sejauh ini, definisi2 yang gw baca selalu masih “lebar”, kurang spesifik, dan hampir selalu dari sudut pandang agama yang gw anut.. Apa ada korelasinya, kecerdasan yang sifatnya “general” atau umum, dengan agama yang kita anut ??

Apakah iya, mereka yang ikut rohis, ikut partai agama, berjenggot, bersorban, para ustad atau guru2 agama, bisa dipastikan memiliki spiritual intelligence yang tinggi ??.. Sepertinya sih nggak juga ya, karena pemahaman tentang keilmuan keagamaan berbeda dengan spiritual intelligence..

Belakangan ini baca2 hal itu lagi, akhirnya nemu definisi spiritual intelligence yang buat gw cukup “ringan” dan bisa sangat aplikatif.. Menurut Emmons (2000), dalam “Is Spirituality an Intelligence? Motivation, Cognition, and The Psychology of Ultimate Concern”, spiritual intelligence adalah penggunaan informasi2 spiritual untuk memfasilitasi masalah sehari2 dan pencapaian tujuan..

Sungguh pengertian yang nggak berkesan “ngambang” dan berbeda dari apa yang sejauh ini gw baca.. Yang umumnya selalu mengarah kepada keimanan, pencarian, dan pengenalan Tuhan..

Menurut Emmons juga, mereka yang ber-kecerdasaan spiritual, mempunyai kemampuan untuk melampaui hal2 yang bersifat fisik dan material.. Mereka mampu membawa kesadarannya ke tingkatan yang lebih tinggi, hingga dapat benar2 menyadari dan mengalami perasaan bahwa dirinya dengan kesemua yang ada di alam ini saling terkait dan menjadi satu kesatuan..

Kapasitas lain yang dimiliki individu ber-spiritual intelligence adalah kemampuannya untuk “mensucikan” pengalamannya sehari-hari.. Dalam artian, mampu memaknakan aktivitas kesehariannya secara spiritual, atau tindak tanduknya cenderung terilhami oleh makna dari informasi spiritual yang diketahuinya.. Dan ujungnya, target2 hariannya menjadi demikian tinggi, karena mereka menganggap aktivitas sehari2nya adalah sebuah misi suci..

Melihat argumen di atas, nggak salah kalo Emmons juga menyatakan bahwa kecerdasan spiritual dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan..

Teori Emmons membuat gw semakin paham, kenapa dulu itu Islam pernah demikian cemerlang.. Karena saat itu, sepertinya banyak dari mereka adalah individu2 berkecerdasan spiritual yang tinggi.. Bisa dibayangkan, mereka yang berprofesi sebagai pejabat pemerintah, dokter, ilmuwan, arsitek, penulis, dll, kesemuanya tiap hari punya target yang tinggi, dan menganggap kesehariannya adalan “misi suci dari Tuhan”..

Plus lagi dengan pemahaman bahwa semua yang ada di alam ini adalah sebuah kesatuan.. Mereka berbuat bukan hanya untuk kepentingan agamanya, tapi untuk kebaikan alam semesta.. Benar2 rahmatan lil aalamiin..

Ngeliat hal aneh2 kayak tokoh agama nyebar hoax, atau pembenci atas dasar agama, sepertinya memang beragama belum tentu ber-kecerdasan spiritual.. Kecerdasan terkatit erat dengan akal, dan akal berkaitan dengan ilmu.. Maka makin jelaslah kata Einstein, agama tanpa ilmu = lumpuh..

si fiksi..

Untitled-1Dulu sekalii, gw suka banget baca novel.. Seinget gw itu pas SMP.. Doyan banget sama novel, terutama novel remaja.. Yang paling gw inget dan kalo nggak salah dulu gw koleksi juga, ittuu serial novelnya “STOP” karya Stefan Wolf.. Kisah 4 remaja yang nyerempet2 model detektif gitu..

Seinget gw nggak ada satu seri pun yang lewat gw lahap.. Entah kemana koleksi gw dulu itu, sejak kuliah pun gw nggak pernah liat lagi.. Sepertinya sudah hanyut saat rumah kebanjiran dulu.. Maklum, banjirnya waktu itu masuk rumah sampe setinggi perut orang dewasa..

Nggak tau kenapa, pas SMA, kegemaran baca novel malah turun drastis.. Kalo komik, dari SD emang udah doyan, mulai dari serial Donal Bebek, Tintin, Smurf, Asterix, sampe Johan & Pirlouit.. Plus gara2 hadirnya komik “Tiger Wong” & “Tapak Sakti”, hasrat besar baca komik gw justru kembali membara saat SMA, kuliah, dan sampe sekarang..

Bahkan sejak kuliah, seinget gw, nggak ada novel yang gw baca selain novelnya Buya Hamka saja (karena nge-fans sama buku2 beliau).. Eeuh, ada satu denk: “Ayat2 Cinta”, itu pun karena gw kepo aja saking saat itu laris banget, dan adek gw punya, jadinya gw tinggal baca aja tanpa harus ngeluarin duit.. Hehe..

Ada yang suka baca novel ??.. Ternyata membaca novel bisa berpengaruh positif pada otak.. Berdasarkan studi Emory University, para neuroscientist menemukan, “berasyik masyuk” dalam membaca novel dapat meningkatkan konektivitas di dalam otak, serta memperbaiki fungsi otak.. Studi yang berjudul: “Short- and Long-Term Effects of a Novel on Connectivity in the Brain” ini dipublikasikan di jurnal Brain Connectivity pada July 2013..

Akh.. Begimana ini..?? Gw kan bacanya komik.. Dan sayangnya gw belum menemukan hasil studi yang ngomong tentang korelasi antara baca komik dan fungsi otak yang “sevulgar” dan selugas studi novel di atas..

Tapi mungkin aja masih nyambung, karena ada juga teori atau pernyataan tentang komik yang menarik benang merah dari studi novel.. Ah iya, bukannya komik itu bisa dibilang graphic novel juga yaa.. Gyahaha.. Maksa banget yak.. Tapi novel dan komik banyak sekali menceritakan kisah2 fiksi.. Malah sepertinya, novel dan komik didominasi oleh cerita2 fiksi..

Dan buat para penikmat bacaan fiksi, ada kabar gembira.. Masih dari studi yang sama tentang novel di atas, para peneliit juga menemukan hal yang menarik..

Ternyata, membaca cerita2 fiksi dapat meningkatkan kemampuan pembacanya “menempatkan diri” pada orang lain.. Dan juga, membaca fiksi bisa memperkuat imajinasi dengan cara yang sama seperti atlit saat melakukan image training (visualisasi), untuk melatih secara mental gerakan2 tertentu..

Hidup komik !!.. Eh, fiksi !!..

nunda nunda..

Untitled-1Lagi2 kejadian.. Komitmen nulis postingan seminggu sekali lagi2 gw langgar.. Minggu kemaren nggak nulis sama sekali (T_T!).. Bisa jadi karena keluar kantor buat nyidang tugas akhir mahasiswa tiap hari, atau bisa juga karena asisten rumah tangga cuti sekitar 10 harian gitu.. Akibatnya, “PR” dalam artian sebenarnya = “Pekerjaan Rumah” jadi tambah banyak.. Hehe..

“Distraction” gw juga jadi bertambah.. Anak pertama gw suka gemes kelewatan sama adik barunya.. Mulai dari joget2 dan lompat2 di pinggir adeknya yang lagi tidur, sampe nyiumin tuh adek dalem2 kayak orang nyungsep.. Aksi gemesnya bikin gw mesti ngawasin dia secara “ekstra”.. Jadi kadang mesti nemenin (baca: jagain) si kakak sepulang sekolah di rumah biar nggak ganggu si adek.. Ya gini deh konsekwensi kantor “dempetan” sama rumah..

Bisa jadi juga dua paragraf di atas cuman alasan gw aja.. Padahal yang sebenernya, mungkin gw-nya sendiri aja yang bener2 belum bisa menaklukkan procrastination..

Menurut Rozental dkk (2014), dalam “Understanding & Treating Procrastination”: 1 dari 5 orang dewasa, dan setengah dari siswa merupakan seorang penunda.. Dan menurut Tice dkk (1997) dalam “Longitudinal study of procrastination, performance, stress, and health”: gemar menunda dapat menimbulkan dampak negatif, seperti: penurunan performa, kesehatan fisik & mental yang memburuk, serta meningkatnya stress, rasa khawatir dan bersalah..

Tice dkk juga menyatakan: procrastination bisa dilihat sebagai pola “self-defeating behavior”, yang ditandai dengan keuntungan jangka pendek, namun dengan “biaya2” jangka panjang.. Jadi nggak salah ada yang bilang kalo procrastination itu ibarat pake kartu kredit.. Berasa seneng saat gesek sini gesek situ, dan pusing saat tagihannya dateng..

Riset2 tentang penundaan ini masih terus berjalan, namun para peneliti cenderung setuju kalo penyebab procrastination ini bisa sangat bervariasi dan demikian istimewa menurut individunya masing2.. Maka “obatnya” atau respon yang harus dilakukan juga bisa sangat spesifik tergantung pada individunya..

Banyak yang ngomong kalo orang kita nih, agak susah kalo diajak mikir hasil di masa depan, maunya serba instan, dan seakan mesti sekarang langsung jadi.. Jakarta mau beres ??.. Sekarang.. Negeri mau beres ??.. Sekarang.. Bahkan kayaknya ada yang kepengen pilpres selanjutnya juga dilakukan sekarang.. Gyaha..

Menurut Rational Emotive Behavior Therapy (REBT), terlalu fokus pada hasil di masa sekarang dan tidak fokus pada hasil masa depan bisa jadi salah satu penyebab procrastination.. REBT menyebut hal tersebut sebagai “Short-range Hedonism”..

Menurut Sirois dkk (2014), dalam “Out of Sight, Out of Time?”: Fokus pada hasil2 sekarang / masa kini dapat membuat rendahnya toleransi seseorang pada frustasi.. Dan bila saat2 sulit tiba, orang tersebut ketekunannya akan cenderung berkurang..

So, waspadalah waspadalah.. (^o^)/

hobby profesi..

Untitled-1Ada yang beropini: “Hobby jangan dijadiin kerjaan..”.. Alasannya bisa macem2: yah karena nanti jadi cepet mencapai titik jenuh, atau ya karena keseringan ketemu yang “pahit2”, jadi rutinitas, akhirnya hobby jadi beban, dan nggak bisa lagi menikmati hobby, dan malah ujung2nya nanti kita malah jadi benci sama hobby kita sendiri..

Kalo gw pikir sih, hobby dan pekerjaan udah merupakan dua hal yang berbeda.. Hobby selalu bicara tentang pengeluaran, sedangkan pekerjaan “bicaranya” pemasukan.. Kata hobby sebagai pekerjaan itu rasanya seperti over simplified.. 

Kapan sih seseorang mulai bisa menjawab hobby-nya apa ??.. Tarok lah saat SMP.. Jawaban2nya umumnya selalu luas seperti ngegambar, nulis, ngomik, basket, lukis, ngegame, ngoprek alat2 elektronik, dsb.. Jawaban2 yang nggak memikirkan “singgungan” atau “irisan” dengan disiplin ilmu, plus profesi2 yang tersedia di masa depan.. Sementara profesi selalu sudah “tercampuri” oleh satu atau lebih disiplin ilmu atau skill tertentu.. Bahkan demikian spesifik dan ada banyak banget..

Ada gitu pernah denger seorang siswa atau mahasiswa saat ditanya hobbynya apa, terus jawabannya: akunting, programmer, dosen, pengacara, manajer, trainer, media planner, sound engineer, sampe insinyur nuklir.. ??..

Jadi hobby dan profesi memang sudah jelas berbeda.. Namun memang ada sejumlah hobby yang ditambah disiplin ilmu, bisa langsung jadi profesi, seperti atlit cabang olahraga tertentu.. Namun rasanya lebih banyak yang tidak beririsan langsung..

Sebuah referensi ada yang bilang, kalo hobby itu jejak2 dari passion.. Mereka yang terus “ngikutin” hobbynya lebih dalam, lantas bisa bertemu dengan passionnya.. Tapi sepertinya bisa juga nggak deh.. Karena gw pikir, seseorang bisa saja demikian berpassion melakoni profesi tertentu, meskipun itu bukan hobbynya..

Peraih nobel radioaktif Marie Curie misalnya, apa iya hobbynya dari saat remaja itu “ngutak-ngatik” uranium ?? Gyaha.. Nggak sedikit orang “terjerumus” ke profesi tertentu karena rasa ingin tahunya, rasa penasarannya, atas hal2 yang mereka sukai..

Dan karena berpassion, maka kekuatannya akan muncul di bidang itu.. Studi dari organisasi bernama Gallup (2014) menemukan, mereka yang bekerja
berdasarkan kekuatannya akan (1) Lebih sehat, (2) Lebih sedikit mengalami stress, kekhawatiran & sakit fisik, (3) Menaikkan emosi positif, (4) Memiliki lebih banyak energi dalam keseharian, dan (5) Punya rasa “larut” atau keterlibatan yang lebih tinggi dalam pekerjaannya..

Lucunya di negeri ini, udahlah nggak semua orang berani memilih pekerjaan yang sesuai passion dan hobby nya, udahlah susah payah pula mengembangkan sampe bisa bersaing di tingkat internasional, “babak belur” di pertandingan, eh pas dapet pencapaian berarti seperti medali emas, malah dikomentarin aneh2.. Padahal yang ngomentarin, juara RT juga kagak..