Latest Posts

hobby profesi..

Untitled-1Ada yang beropini: “Hobby jangan dijadiin kerjaan..”.. Alasannya bisa macem2: yah karena nanti jadi cepet mencapai titik jenuh, atau ya karena keseringan ketemu yang “pahit2”, jadi rutinitas, akhirnya hobby jadi beban, dan nggak bisa lagi menikmati hobby, dan malah ujung2nya nanti kita malah jadi benci sama hobby kita sendiri..

Kalo gw pikir sih, hobby dan pekerjaan udah merupakan dua hal yang berbeda.. Hobby selalu bicara tentang pengeluaran, sedangkan pekerjaan “bicaranya” pemasukan.. Kata hobby sebagai pekerjaan itu rasanya seperti over simplified.. 

Kapan sih seseorang mulai bisa menjawab hobby-nya apa ??.. Tarok lah saat SMP.. Jawaban2nya umumnya selalu luas seperti ngegambar, nulis, ngomik, basket, lukis, ngegame, ngoprek alat2 elektronik, dsb.. Jawaban2 yang nggak memikirkan “singgungan” atau “irisan” dengan disiplin ilmu, plus profesi2 yang tersedia di masa depan.. Sementara profesi selalu sudah “tercampuri” oleh satu atau lebih disiplin ilmu atau skill tertentu.. Bahkan demikian spesifik dan ada banyak banget..

Ada gitu pernah denger seorang siswa atau mahasiswa saat ditanya hobbynya apa, terus jawabannya: akunting, programmer, dosen, pengacara, manajer, trainer, media planner, sound engineer, sampe insinyur nuklir.. ??..

Jadi hobby dan profesi memang sudah jelas berbeda.. Namun memang ada sejumlah hobby yang ditambah disiplin ilmu, bisa langsung jadi profesi, seperti atlit cabang olahraga tertentu.. Namun rasanya lebih banyak yang tidak beririsan langsung..

Sebuah referensi ada yang bilang, kalo hobby itu jejak2 dari passion.. Mereka yang terus “ngikutin” hobbynya lebih dalam, lantas bisa bertemu dengan passionnya.. Tapi sepertinya bisa juga nggak deh.. Karena gw pikir, seseorang bisa saja demikian berpassion melakoni profesi tertentu, meskipun itu bukan hobbynya..

Peraih nobel radioaktif Marie Curie misalnya, apa iya hobbynya dari saat remaja itu “ngutak-ngatik” uranium ?? Gyaha.. Nggak sedikit orang “terjerumus” ke profesi tertentu karena rasa ingin tahunya, rasa penasarannya, atas hal2 yang mereka sukai..

Dan karena berpassion, maka kekuatannya akan muncul di bidang itu.. Studi dari organisasi bernama Gallup (2014) menemukan, mereka yang bekerja
berdasarkan kekuatannya akan (1) Lebih sehat, (2) Lebih sedikit mengalami stress, kekhawatiran & sakit fisik, (3) Menaikkan emosi positif, (4) Memiliki lebih banyak energi dalam keseharian, dan (5) Punya rasa “larut” atau keterlibatan yang lebih tinggi dalam pekerjaannya..

Lucunya di negeri ini, udahlah nggak semua orang berani memilih pekerjaan yang sesuai passion dan hobby nya, udahlah susah payah pula mengembangkan sampe bisa bersaing di tingkat internasional, “babak belur” di pertandingan, eh pas dapet pencapaian berarti seperti medali emas, malah dikomentarin aneh2.. Padahal yang ngomentarin, juara RT juga kagak..

baik buruk di akal..

Untitled-1Suatu ketika, seorang guru Zen bersama muridnya sedang dalam perjalanan pulang ke kuil mereka.. Rutenya bakalan melewati sebuah sungai deras, tanpa jembatan.. Kalo pingin menyeberang, cuman ada seutas tali yang diikatkan ke pohon, dari sisi sungai yang satu, ke pohon di sisi seberangnya.. Jadi harus nyemplung, nahan arus sambil pegangan tali, terus pelan2 deh nyeberangnya..

Saat sampai di sungai tersebut, ternyata ada gadis berbadan mungil.. Wajahnya bingung, kelihatan pengen menyeberang, namun ragu melihat derasnya air sungai dan hanya ada seutas tali..

Guru Zen bertanya pada si gadis, dan benar saja, dia memang ingin menyeberang, namun takut terbawa arus karena mungil.. Lantas guru Zen menawarkan pertolongan dengan menggendong si gadis sambil menyeberang sungai.. Sementara si murid (yang sudah cukup banyak bawa banyak barang di punggungnya) kaget.. “Begimana mungkin guru mau menggendong gadis itu ?!?.. Kan menyentuh wanita itu dilarang.. Begitu pikirnya..”

Lantas mereka pun menyeberang.. Selama penyeberangan, pikiran si murid pun tetap “bergelut” soal kontradiksi perbuatan gurunya.. Sampai di seberang, gadis itu pun turun dari gendongan, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi ke arah yang lain..

Perjalanan ke kuil masih memakan waktu beberapa jam lagi, dan selama itu, si murid terus saja memikirkan perisitiwa guru & gadis.. Sampai di gerbang kuil, si murid memberanikan diri bertanya.. “Guru, anuu, gadis yang tadi ituu…”.. Belum kelar pertanyaan, gurunya langsung bertanya: “Gadis yang mana ??..”

Guru pun lanjut berkata: “Aku hanya menolongnya menyeberang.. Dan gadis itu sudah kutinggalkan sekian jam yang lalu ditepi sungai, mengapa engkau masih membawanya di dalam hati dan pikiranmu ?”

Seringkali kita terperangkap oleh atensi atau persepsi yang salah.. Salah merespon, atau merespon berlebihan apa yang ada diluar diri ini.. Padahal semuanya tergantung pada “manajemen akal” kita.. Saat pikiran & hati seorang “penampil” cukup kuat, penonton nggak akan bisa membuatnya grogi, (apalagi patung..).. Bagi mereka yang benar2 beriman, uang suap / hasil tipu2 bertumpuk2 di hadapannya pun bisa dianggap tumpukan kertas nggak penting..

Seperti kata Paul G. Stoltz (2000) dalam “Adversity Quotient”: Peristiwa itu nggak penting, yang paling penting adalah respon seseorang akan peristiwa tersebut.. Dan menurut gw, yang paling mendasar dalam menentukan respon adalah AKAL..

Buya Hamka dalam bukunya “Tasawuf Modern” menuliskan:
“Segala sesuatu di dalam alam ini, baik buruknya bukanlah pada zat sesuatu itu, tetapi pada penghargaan kehendak kita atasnya, menurut tinggi rendahnya akal kita.. Apalah gunanya pena emas bagi orang yang tak pandai menulis ??.. Apalah harga intan bagi orang gila ??.. Sebab itulah kita manusia disuruh membersihkan akal budi, supaya dengan dia kita mencapai bahagia yang sejati..”

surga buat siapa..

Untitled-1Agama dipolitisasi, surga jadi “barang jualan”, kok ya makin jadi ngelantur ke sono ke mari ya.. Tiap orang bisa saja “ngecap” soal surga dan neraka.. Malah bisa seluas imajinasi dari orang itu sendiri.. Namun, tanpa dasar pemahaman yang benar, outputnya bisa jadi aneh.. Bahkan surga diperuntukkan bagi siapa, pun bisa juga dipolitisasi..

Kalo menurut hukum TERTINGGI dalam Islam (Qur’an), jelas banget disebutkan bahwa surga itu diperuntukkan bagi orang yang bertaqwa (QS 3:133).. Ciri2nya jelas disebutkan: menafkahkan harta, menahan amarah, memaafkan kesalahan, berbuat baik, dan memohon ampun.. CATEETT: nggak ada nyinyir, nyebar berita hoax, dan “makan” hoax”..

Gw pikir, perilaku2 taqwa diatas merupakan sebuah “kebaikan universal”.. Siapapun yang memiliki perilaku tersebut, dia akan bisa diterima dimanapun, dan di zaman apapun.. Bandingkan dengan perilaku radikal yang.., yaah udah kita liat sendiri, ada yang baru dateng langsung diusir, atau malah ada yang di lain benua, “dagangannya” tutup akibat status SARAnya..

Soal kaum nabi2 dan agama2 sejak dulu, semua pemeluknya akan menganggap ajarannya yang paling benar.. Nah, setelah cari2 tau, ternyata taqwa nggak cuma milik kaum Nabi Muhammad aja loh.. Sikap taqwa ada juga pada ajaran2: Nabi Adam (QS.5:27), Nabi Nuh (QS.23:23), Nabi Ibrahim (QS.29:16), Nabi Hud (QS.26:142), Nabi Saleh (QS.26:142 ), Nabi Luth (QS.26:161), Nabi Ilyas (QS.37:123,124), dan juga Nabi Isa (QS.5:112)..

Laah, pie too??.. Kok ajarannya sama yaa ??.. Yaahh, mungkin karena Tuhannya sama.. Mereka yang meledek umat2 dari Nabi yang lain ya sebaiknya Iqra’ sama mikirnya ditambah.. Manusia sama sekali nggak bisa mendekati pola pikir Tuhan.. Karena nggak ada sesuatu pun yang menyerupai Dia, alias diluar logika dan imajinasi kita.. Bisa jadi yang mereka ledek justru ternyata punya Tuhan yang sama..

Percuma koar2 surga, tapi mengenyampingkan taqwa.. Karena kalo melihat sejarahnya, taqwa menjadi hal yang sangat penting sampe dijadikan “syarat” untuk masuk surga.. Bahkan puasa pun tujuannya agar kita bertaqwa (QS.2:183).. Lebih jauh lagi di QS.2:21 jelas banget dinyatakan, kita ini diciptakan untuk menyembah Tuhan supaya jadi bertaqwa..

Ada lagi loh tambahan sikap kalo mau lebih dekat ke taqwa.. Yakni BERLAKU ADIL (QS:05:08).. Termasuk kepada mereka kaum yang berbeda.. Meski benci pun, ya bersikap adil lah.. Kalau benar2 ingin menjadi pembela kebenaran & keadilan sejati serta masuk surga, ya jangan “Standar Ganda”, ke sini menguntungkan, ke sono merugikan..

Tirulah Ultraman, siapapun akan dia tolong kalo ada yang diserang monster.. Gyahaha..

musik fokus (#2): BGMgame!!

Untitled-2Belakangan ada sejumlah periset yang beranggapan kalo Background Music (BGM) dari video game ternyata bisa sangat membantu konsentrasi kerja / meningkatkan produktivitas..

Ada yang maen game2 populer sejak Nintendo, PS1, atau PS2 berjaya ??.. Lagu2nya itu loh, seringkali masih “lengket” sama pemainnya.. Dengerin lagu2 game jadul (yang dominan tanpa vokal) sambil kerja, tanpa gw sadari, udah jadi rutinitas gw sejak lama.. Playlist lagu game selalu ada di beberapa hari gw dalam seminggu.. Terlebih sekarang banyak BGM game lama diaransemen ulang.. Walhasil, koleksi lagu game di harddisk gw sekarang udah jadi bergiga-giga..

Lagi2 gw penasaran, kenapa lagu game bisa jadi peningkat produktivitas.. Dalam artikel: “Move over Mozart: video game music helps productivity (2016)..”, ternyata BGM game memang dibuat untuk “melarutkan” & meningkatkan konsentrasi para pemainnya.. Membuat pemain tetap bersemangat mencapai level berikutnya, dan menyajikan “alunan” positif tanpa harus mengganggu..

Seberapa ngaruh sih BGM game buat pemainnya ??.. Cassidy & MacDonald (2009) menguji sejumlah gamer dengan game racing, ada yang pake sound effect (SFX) doang, dan ada yang pakai keduanya SFX & BGM dengan musik2 yang berbeda.. Hasilnya, gamer yang bermain dengan SFX & BGM mampu menyetir lebih cepat.. Nggak hanya paling cepat, tapi juga paling banyak bikin kesalahan (nabrak pagar pembatas dan cone jalan..!!) *Ini sambil denger lagu dangdut kali yak, serasa jadi supir truk jalur pantura*, gyahaha..

Apakah hanya musik game yang bikin begitu ??.. Entahlah.. Namun ada yang ber-argumen kalo musik game itu punya banyak kemiripan dengan Ambient Music.. Menurut penggagasnya, Brian Eno (2013) dalam “Music for Airports”, Ambient Music adalah musik yang lebih ditujukan untuk membangkitkan “atmosfir”, visual, atau kualitas2 lain yang nggak mencolok..

Musik ambient merupakan musik yang mampu mengakomodir beragam level tingkat perhatian seseorang, tanpa harus memaksa orang tersebut fokus pada musik tersebut.. “It must be as ignorable as it interesting..”.. Hwaaaww..

Sungguh “musik latar” secara harfiah !! Dan “nggak baperan” lageh, karena dia selalu hadir serta berupaya memotivasi kita, bahkan tanpa harus kita pedulikan.. Note: jangan sekali2 menganggap pasangan kita musik ambient, gw jamin dia nggak akan jadi “latar”, tapi jadi subjek.. Dan kitanya akan jadi objek penderita..!!

Memang nggak semua orang bisa bekerja diiringi musik.. Dan bagi yang menganggap musik merupakan “tool” dari produktivitas, sebetulnya nggak masalah mau pilih musik jenis apa.. Saran dari pakarnya bilang: “Dengerin yang bisa memotivasi, yang bisa bikin semangat, apapun jenis musiknya..

Yang suka instrumental, nggak perlu mengklaim paling oke, lantas jadi radikal, dan menyebar hoax pada pop, rock, dangdut, metal dan berujar pada mereka “KALIAN KAFIR & MASUK NERAKA !!”..

musik fokus..

Untitled-1Nggak tau kenapa, kalo kerja sambil denger musik itu rasanya gw bisa lebih semangat, dan lebih bisa fokus.. Haa ??.. Fokus ??.. Nggak salah tuh ??.. Bukannya ngerjain sesuatu sambil melakukan yang lain itu malah jadi mengganggu ??.. Akhirnya gw pun penasaran dan cari2 rujukan, emang bener ya kerja sambil denger musik itu bisa bikin begitu ??

Dr. Lesiuk (2005) pernah meriset bagaimana musik bisa berdampak pada performa tempat kerja.. Dia menemukan mereka yang bekerja sambil dengerin musik ternyata tugas2nya lebih cepat selesai ketimbang yang nggak.. Kenapa bisa begitu ??..

Karena ternyata musik memang bisa meningkatkan mood seseorang.. Suara2 berirama atau enak (menurut kita) bisa memicu pengeluaran dopamin dari otak.. Dopamin ini bertanggung jawab pada perasaan “pleasure” / kesenangan.. Karenanya, maka mood pun bisa jadi bagus, lantas kerjaan akan lebih nyaman dilakukan, dan akhirnya menjadi lebih cepat selesai..

Menurut Dr. Leisuk juga, pada dasarnya, saat bekerja, otak kita bisa “tercampur” dengan alam bawah sadar yang mewujud dalam emosi2 kita sendiri.. Dan ini jugalah yang bisa menyebabkan “distraksi” dari dalam..

Contoh, kalo lagi kesel sama kejadian atau seseorang, emosi tersebut bisa kebawa ke otak, terus kita mikirin kejadian itu lagi deh, bahkan bisa menerawang ke arah2 yang nggak perlu.. Dan akhirnya otak dan emosi menarik kesimpulan seenaknya: “Akh, hidup begini banget sih..”.. Terus ngayal nggak jelas deh kemana2, dan waktupun jadi hilang..

Hal “sejurus” juga dibahas dalam studinya Maria Witek dkk.. Menurutnya, musik juga bikin alam bawah sadar kita jadi lebih “jinak”, dan menetralisirnya supaya kita nggak keganggu.. Ibarat ngasi anak kecil maenan baru, supaya nggak gangguin kita kerja..

Eksperimen dari Maria Witek menggali lebih jauh, sampai mencoba menjawab pertanyaan: musik jenis apa yang bagus didengarkan saat ingin lebih fokus ??… Dalam makalahnya: Syncopation, Body-Movement and Pleasure in Groove Music (2014), ia mengemukakan bahwa yang bagus itu musik yang mengandung sinkopasi..

Sinkopasi merupakan suatu teknik permainan yang menunda jatuhnya ketukan nada dari suatu melodi.. Seringkali disebut ciri utama dari musik jazz yang jatohnya nada nggak pas sama ketukan.. Pantesan kalo denger musik jazz itu jatohnya nada berasa “aneh”, nadanya nggak ketebak, tapi tetep enak didenger..

Maria menyarankan untuk meningkatkan konsentrasi, dengarkanlah musik yang funky, tapi nggak terlalu funky sampe bikin kita joget2.. Jenis musik yang bikin kita jadi lebih mood ternyata memang berbeda2 untuk masing2 orang, variasinya sangat ekstrim.. Tapi ada kecenderungan kuat, musik yang kita sukai jelas bisa meningkatkan fokus, dan sebaliknya nggak..

Dan untuk yang menganggap musik itu haram, yaah, baca postingan ini bisa jadi hanya buang2 waktu.. Gyehehe..