favourite, me|write, spiritual, think sotoy
Comments 7

agama, akal, ilmu & fitnah..

Untitled-1Dulu ustad di mesjid komplek guwe pernah ngasi pernyataan begini: “Logika itu mengikuti iman, bukan iman mengikuti logika..”.. Mungkin karena gw nanya mulu’ kaya’ tamu…  Hehehe.. Waktu itu mah gw cuman manggut2 aje.. Tapi dalem hati, jelas banget gw kurang puas.. Padahal kalo bisa membuat “masuk akal” sesuatu yang misteri, gw bisa lebih yakin sama hal tersebut.. Contoh, banyak sekarang kan kita seakan disuruh milih: pilih dunia atau akhirat ??.. Dan kesannya kalo salah satunya dipilih, maka kita akan meninggalkan yang lain.. Tapi setelah cari2 tau sekian lama, gw meyakini dunia dan akhirat bukanlah pilihan, tapi satu kesatuan..

Coba cermati riwayat analogi berikut: Rasul mencelupkan ujung jarinya ke lautan, terus diangkatnya jari itu, lantas menunjukkan kalo sisa tetesan air kecil yang menempel di ujung jari adalah dunia seisinya, dan laut itu adalah akhirat.. Pake saja akal atau pertanyaan kritis sederhana: air yang menempel di ujung jari Rasul itu air laut toh ?? Terus air yang  ada di laut jelas2 juga air laut toh ??.. Bukankah mereka sama2 air laut ?? Bukankah mereka itu sebenarnya satu ??.. Dunia dan akhirat sebenarnya adalah satu, namun dengan tingkatan & luas dimensi yang berbeda jauh sekali.. Buktinya, apa yang sekarang kita lakukan di dunia ini, langsung berpengaruh pada akhirat kita kan.. Hal ini lebih bisa dipahami dengan menggunakan teori fisika quantum, teori string, atau mungkin spatial dimensions.. (Euh, jelas gak mungkin gw jelasin di sini) hehe… Tapi berkat fisika kuantum, gw jadi tambah yakin akan kebenaran periistiwa Isra’ Mi’raj, dan konsep langit pertama sampai langit ketujuh.. Berkat akal yang menghasilkan ilmu, semuanya menjadi logis.. It’s all make sense..!!

Itulah beragama dengan akal sehat.. Makin bisa dilogikakan, maka akan semakin yakin, dan bukan sebaliknya: makin gak masuk akal, malah makin dibiarkan begitu saja menjadi misteri dan malah mutlak akal harus tunduk begitu saja… Jadi gw nggak setuju konsep logika harus tunduk begitu saja pada iman.. Kalo kata Buya Hamka: “Akal untuk memperkuat iman beragama, dan agama untuk memberi arah mulia dari akal..”

Nah, kalo boleh gw mengkritisi fitnah2 yang bertaburan di era pemilu ini, gw setuju dengan pernyataan Anies Baswedan: “Butuh motif yang luar biasa besar untuk bisa memfitnah seseorang..”.. Karena apa ?? Karena fitnah jelas perbuatan yang sangat rendah dan jelas2 dilarang oleh Alloh.. Sering kita dengar fitnah lebih kejam dari pembunuhan.. Gw heran, apa mereka gak takut dosa ya ?? Apa mereka gak takut Tuhannya sendiri ??.. Jawabannya kalo dari gw, ya bisa gara2 KURANG ILMU.. Loh, kok kurang ilmu sih ??.. Ya karena Tuhan sudah ngasi tau: QS. Faathir (35): 28 “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang yang berilmu”.. Para penyebar fitnah itu seakan nggak takut sama Alloh.. Sejumlah orang yang gw anggap hebat, juga banyak yang berpandangan bahwa ke-ILMUWAN-an di dalam Islam memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan KEIMANAN..

Sekarang ini aja gw banyak banget liat, orang masih sulit membedakan mana fakta dan mana opini.. Jadinya mudah mempercayai sebuah info tanpa dipikir secara kritis atau diklarifikasi terlebih dulu.. Akibatnya mudah termakan fitnah mentah2.. Situs “bodong”, penulisnya gak jelas, redaksinya gak jelas, bahkan SMS yang penulisnya ngaku2 mantan wartawan surat kabar terkemuka, dipercaya begitu saja, tanpa dipikir jernih dan tanpa cross check lagi… Padahal perintahNya jelas: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6].“

Kalo dari “kacamata” gw pribadi, orang yang beragama Islam namun menciptakan dan turut menyebarkan fitnah itu terlihat sangat janggal..  Kenapa koq bisa janggal gini ya ?? Nah, luar biasanya, Buya Hamka sudah bisa “ngeliat” dan menjawab pertanyaan gw ini di tahun 1961.. Dalam sebuah bukunya beliau menulis: “Maka jika kelihatan sesuatu yang janggal, bukanlah karena salah agama.. Melainkan karena kehalusan perasaan agama tidak dipupuk oleh kecerdasan pikiran.. Hanya membaca kitab2 yang beku, tidak dituntun oleh ilmu pengetahuan yang sejati..”

Gw suka banget slogannya Cak Lontong: “MIKIR !!”.. hehe..

Advertisements

7 Comments

  1. berat, hehe. masalahnya ga semua bisa dilogikakan dengan logika manusia mas. di situlah ketaatan sebagai seorang hamba diuji

    Like

    • Tergantung koq, logikanya siapa dulu ??.. hehe.. Ratusan ayat Qur’an menyuruh kita berpikir.. Berpikir ada keterkaitan langsung dengan belajar.. Bagi mereka yang belajar ilmu pengetahuan, pelan2 niscaya misteri itu akan dibukakan.. Kan Alloh dah bilang: “tidak akan kamu dapatkan melainkan apa2 yang kamu usahakan..”.. Kalo “siapa”nya nggak mau berusaha ke situ, ya gak mungkin bisa… Sekarang pun, proses terkabul atau tidaknya do’a sudah bisa disinggung dengan sains.. Mangkanya ada yang bilang juga, science dan agama itu adalah saudara kembar.. Kita menuju era dimana science dan agama akan saling ketemu, dan bisa saling “tune in” dengan logika..

      Like

      • aku khawatir aja kl orang selalu maunya terima yang sesuai logika, nanti jadi kaya orang jil itu. dulu abu bakr juga ga belajar fisika kuantum, tapi langsung percaya ketika rasul saw mengaku telah melakukan isra miraj. makanya diberi gelar ash sidik. 1400 tahun lalu, hal kaya gini sulit diterima logika. tapi iman lah yang membuat percaya.

        misal, ayat tentang syuhada itu ga mati, mereka tetap hidup, diberi makan pula oleh Allah. logika aku sih ga sampai, tapi iman pada Allah lah yang menerima nya

        Like

      • Allah juga berfirman mas, manusia tidak diberi pengetahuan kecuali sedikit

        bukan mengecilkan ilmunya manusia. tapi kecil besar itu relatif. kecil jika dibandingkan ilmunya Allah. akan ada hal2 yang mentok ilmu kita belum sampai

        Like

        • Betul.. Is’ra Mi’raj itu perisitiwa pembuktian keimanan umat saat itu.. Saat itu kan langsung terpecah.. Setuju koq kita dikasi ilmu “sedikit” dan itu bisa relatif berapa besarnya.. Tapi di ayat yang lain juga disebutkan, kalo bisa tembus langit yang kita diami, cobalah tembusi, dan itu hanya dengan kekuatan (di sini ada yang menafsirkan dengan iptek).. Sejalan dengan “knowledge is power..”.. Kekuasaan Alloh gak bisa dibandingkan dengan apapun.. Kata “belum sampai” kan itu bisa diartikan “masih diupayakan atau masih perlu waktu” dan bukan berarti tidak.. Kalo JIL mah udah aneh.. itu beneran aneh.. Justru buat gw malah nggak logis… Jadi solusinya, bisa lewat jalan pintarkan diri dengan sebanyak mungkin ilmu.. Keinget deh nih tulisan dari Buya Hamka: “Hadapilah dirimu.. Tidaklah akan membahayakan bagimu orang yang telah sesat, jika kamu sendiri telah dapat petunjuk..”

          Gw orang yang memilih pandangan kalo petunjuk / hidayah bukan sesuatu yang “turun” begitu saja.. Tapi mesti diusahakan atau dicari.. Hidayah akan lebih mudah turun untuk orang2 yang MAU “membaca” ayat2 di kitab suci / buku, dan ayat2 di alam semesta, kemudian baru Allah bisa mudah menurunkan hidayah.. Bagus dijadikan contoh itu kisah masa lalunya muallaf Ustd. Felix Siauw.. Tapi pada akhirnya, hidup adalah pilihan kok.. Dan masing2 orang akan dihadapkan pada pilihan2nya masing2.. Hehehe..

          Like

  2. Pingback: Lagi Lagi Halaman Guna Guna

  3. Pingback: kritis berubah… | Lagi Lagi Halaman Guna Guna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s