All posts tagged: anak

anak baru..

Alhamdulilah telah lahir anak kedua kami, cowok, tanggal 13 Juni 2017.. Beratnya 3.7 kg, panjang 51 cm.. Alhamdulillah juga lahirnya normal, sesuai harapan kami berdua.. Karena pas anak pertama (cewek) lahirnya caesar, bini’ berharap banget yang kedua ini bisa normal.. Dan syukur Alhamdulillah Alloh mengabulkan harapan kami berdua.. Lahiran kedua ini buat gw sangat berkesan.. Karena gw menyaksikan sendiri kelahiran bayi secara “live”..!! Beragam perasaan campur aduk saat itu.. Termasuk perasaan takut kalo2 persalinannya nggak berjalan lancar.. Tapi Alhamdulillah para bidan dan dokter cukup rajin dan pintar menyamangati bini’ gw.. Ada 1 dokter dan 4 orang bidan di ruang bersalin, dan hampir semuanya berteriak2 “Ayo Bu !!.. Terus Bu !!.. Ayo Cantik !!..”.. Sejenak gw berpikir ini bukan di ruang bersalin, tapi di ruangan tempat latihan para Cheerleader..!! Hyahaha.. Rame bwangedh.. Setelah “stay” di bidan sejak jam 3 dini hari, jam 8 pagi masuk ruang bersalin, akhirnya jam 8:35 tuh bayi berhasil keluar.. Belakangan ini gw liat postingan2 gw selalu berkaitan dengan wahyu pertama yang turun, yakni Iqra’.. Eh dilalah nih baby lahirnya deket sama …

di tengah karena menengah..

Nggak sedikit anak2 dari keluarga kekurangan justru kehidupan ekonominya melejit secara menakjubkan di saat dewasa.. Anak2 orang berada, rasa2nya lebih mudah kalo pengen jadi berhasil di masa dewasanya, karena beragam “fitur” yang tersedia sebagai anak orang kaya.. Terus, anak2 orang yang ekonominya biasa2 saja / menengah, sepertinya malah punya kecenderungan untuk jadi biasa juga di masa dewasa.. Bener nggak sih pernyataan kayak gini ?? Mihaly, seorang pakar kreativitas pernah melakukan sebuah riset tentang “situasional” sosial ekonomi ini.. Ia mengaitkan fenomena pada paragraf di atas dengan faktor keterdesakan.. Keterdesakan di sini lebih kepada situasi / “keadaan” seseorang dalam kehidupannya, atau bisa dibilang sebagai rasa nggak aman yang dialami oleh seseorang.. Sayang di buku yg gw baca ini, nggak disebutkan secara detail riset dari si Mihaly.. Namun secara garis besar, ia meneliti sejumlah orang dari sejumlah keluarga tertentu, dan diamati siapa2 saja yang mampu mencapai tingkat kesuksesan tertentu /  prestasi kelas dunia.. Mihaly menemukan dari keseluruhan subjek penelitiannya, mereka yang mencapai sukses / berprestasi kelas dunia, 34% merupakan anak orang kaya.. Bapaknya banyak yang bekerja sebagai guru …

wis udah..

Ngeliat status foto2 wisuda mahasiswa2 yg pernah gw ajar, rasanya gimanaa gitu.. Hehe.. Seneng ngeliat mereka pada diwisuda.. Mengingat gw ini salah satu orang yang bisa dibilang rajin ngasi mereka “masalah”.. Hyahaa.. Kembali teringat wajah2 mereka saat asistensi dan ngumpulin tugas.. Sungguh wajah2 yang penuh dengan “penderitaan”.. Hihihi.. Nggak berasa, udah 5 angkatan mahasiswa yg gw ajar udah pada lulus .. Terkadang masih muncul pertanyaan di kepala gw: “Emangnya gw pantes ya jadi dosen ?”.. Mengingat kalo di kelas saat nyampein materi, gw sering banget becanda sama mahasiswa.. Kelas jadi seakan nggak serius.. Nggak jarang gw pun bingung kenapa mahasiswa pada ketawa, padahal gw hanya menyampaikan kegelisahan gw atau ngomentarin teori yang gw sampein.. Entahlah, ada dua kemungkinan.. Kemungkinan pertama: mereka tertawa karena komentar gw yang emang suka ngaco dan lebay.. Dan kemungkinan kedua: mereka mentertawakan kegaringan guwa.. (T_T).. Gw pikir, masih banyak orang2 hebat yang lebih layak jadi dosen mereka ketimbang gw yang “setengahan” pengusaha, dan nggak terpikir akan jadi dosen pada awalnya.. Yah, paling nggak gw udah berusaha, semoga aja yang gw sampein …

Ajarin susah

ini tulisannya adhitya mulya (seorang penulis).. Tulisannya bikin gw mikir lagi tentang teori kreativitas yang bilang: “kemapanan adalah musuh dari kreativitas..”.. Plus, bikin gw mikir juga cara mendidik anak gw nantinya.. Gw dapetnya dari grup whatsapp sih.. Semoga bisa bermanfaat.. SYARAT HIDUP October 12th, 2015 Generasi Sebelumnya: Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang, “Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.” “Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask. “Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.” This may be simple. But this, blew my mind. ————————————————————————————————————— Dan setelah gue menjadi orang tua, di sini lah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langkaH yang tidak disadari, berdampak. “Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.” “Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.” “Waktu kecil, saya …

masa muda..

Satu paragraf dalam sebuah buku Buya Hamka tertulis begini: “Saat muda adalah saat perjuangan yang maha hebat.. Alangkah beruntungnya kalau saat perjuangan itu bisa ditempuh dengan selamat, dan setelah dia menjadi orang dewasa, dia berasa bangga dengan kemenangan itu..” Bener lah itu.. Masa muda memang masa yang sulit.. Masa2 dimana seseorang dituntut untuk bisa membangun kebiasaan2 yang baik.. Masa2 dimana akal belum “matang”, perasaan labil nggak terkendali, serta emosi mudah bergejolak… Belum lagi pengaruh2 dari luar kayak temen2 & media yang sekarang ini malah lebih gampang “dateng”nya.. Semua itu bikin pemuda jadi banyak salah dalam mengambil keputusan2 di hadapannya.. Kalo di barat sono ada istilah growing pains.. Ada yang memaknakan isitilah ini nggak secara fisik, tapi secara mental / perasaan.. Pemuda pada umumnya tumbuh dengan beragam rasa sakit di hatinya akibat keputusan2 salah yang pernah diambilnya.. Kata tumbuh itu bisa diartikan membesar / berkembang.. Kalo ditarik lebih jauh bisa terasosiasikan dengan menguat.. Perhatikan saja, pemuda yang banyak masalah, menderita, kemudian mampu menghadapi itu semua dengan ketabahan hati yang besar, serta kemauan belajar yang keras, seringkali …