me|write, spiritual, think sotoy
Comments 8

sholat anak SD..

Untitled-1Pas gw SMA, bokap gw pernah ngomong gini: “Kalo udah dewasa, sholatnya jangan kayak anak SD..”.. Intinya sih yg gw tangkep, “level” sholat seseorang itu mesti nambah seiring perjalanan umur..

Dulunya gw pikir, level lingkup sholat itu cuman sekitar tau arti bacaannya, gerakannya benar, durasinya makin lama (hehe..), dan makin awal waktu.. Yah, sekitar itu deh kalo dipandang dari hal2 yang secara fisik terlihat..

Sampe akhirnya, pas kuliah, gw mulai doyan buku2 tasawuf.. Gw terkesan sama pola pikir ala sufi yang menafsirkan segala sesuatu tidak hanya dari yang terlihat, namun juga yang nggak terlihat.. Dan seringkali pengamatan macam itu “luput” dari mata orang2 awam, terlebih bagi mereka yangg nggak mau maksimal menggunakan akalnya..

Misalnya cara pandang kayak gini: ada sebuah tembok pagar yang bagus dengan cat indah.. Yang kita lihat dan puji biasanya hanya apa2 yang tampak, seperti cat dan bentuk.. Padahal biasanya malah bukan itu yang terpenting.. Yang terpenting justru dari apa2 yang nggak keliatan.. Dibalik cat, ada semen, pasir, atau bahkan besi atau beton yang menentukan kekuatan.. Cat hanya “nempel” di permukaan..

Kalau seseorang “terjebak” pada apa yang dilihat, maka dia hanya bisa mencerna yang terlihat.. Celakanya, justru seringkali faktor yang nggak terlihat yang lebih penting.. Dan Untuk bisa sampe ke sini tentu perlu banget penggunakan akal yang maksimal..

Berapa banyak dari kita yang pernah (atau masih) tertipu dengan sorban, jenggot, atau busana yang berkesan religi ?? Padahal dalemnya adalah maling atau provokator.. Cara pandang sufi ini bisa “menyelamatkan” seseorang dari tipuan2 kotor yang sifatnya fisik atau tampak..

Setelah kenal dengan cara pandang ini, gw jadi sering mikir lebih jauh dari kata2 bokap gw itu.. Sholat yang bukan level anak SD itu gw “tarik” ke hal2 yang non fisik.. Misalnya, makna dari sholat, siapa yang disholatin, atau bahkan “dibalik” gerakan2 sholat..

Gerakan salam di akhir sholat, kenapa tengok kanan kiri itu ada yang menafsirkan: usai sholat, perhatikan kiri kanan kita.. Entah tetangga sebelah, kelurahan sebelah, kota sebelah, propinsi sebelah, atau bisa juga negara sebelah.. Pikirin kenapa beda, campur dengan sifat pengasih dan penyayang, maka seseorang nggak mungkin tega berlaku dzalim pada alam sekitarnya..

Kalo cuman dari apa yang terlihat, para koruptor itu pun sholat, para penyebar hoax dan persekusi pun sholat.. Padahal kan sholat mencegah perbuatan keji dan munkar..??.. Kenapa bisa ??..Ya karena sholatnya masih level anak SD..

Akalnya nggak dimaksimalkan untuk merenungkan sholat lebih dalam.. Akhirnya terjebak pada sholat secara ritual, nggak berbekas ke dalam (akhlak), dan keluar (sosial)..

Advertisements

8 Comments

    • Hmm.. “Baik” dalam artian gimana ya ??.. Karena saya perhatikan banyak juga orang hidupnya “baik”, bahkan akhlaknya pun baik, meskipun mereka tidak beragama Islam.. Yang jelas, bagi muslim, sholat adalah kewajiban.. Tinggal akal kita, sejauh apa mau mengambil esensi dari sholat dan mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari2.. Gitu sih kalo menurut saya.. Hehe..

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s