Latest Posts

SignDesign@Tokyo Game Show 2013..

Sejujurnya, ini bener2 sama sekali nggak pernah gw duga dan gak pernah gw bayangkan sebelumnya.. Hehe.. Perusahaan gw bisa ikut tampil ngewakilin negeri ini di Jepang sana.. Di event game pulak, secara sejatinya perusahaan gw kan perusahaan desain grafis.. Hihihi.. tapi ya itulah industri kreatif.. Kalo emang “akar”nya kreatif, kita bisa merambah ke sektor manapun..

Berawal dari permintaan kementrian / Ministry of Trade Indonesia untuk siapa2 aja yang mau menawarkan diri berpartisipasi dalam TGS 2013, dipersilahkan masukin data2 perusahaan ke mereka untuk kemudian diseleksi..

Alhamdulillah signdesign termasuk di daftar yang lolos seleksi.. YEEEYYY !!!.. So, dua orang director signdesign diberangkatkan ke Jepang deh dari hari selasa (17 sept) kemaren, sampe hari minggu..

Yaah, semoga saja, secara ini event internasional, bisa membuka banyak peluang baru yang tarafnya internasional juga buat signdesign.. Jadi signdesign sendiri bisa tambah guede, bisa rekrut banyak personil lagi, bisa banyak bikin karya yang keren2, lebih bisa ngasi manfaat ke ummat, dan secara langsung turut memajukan industri kreatif dalam negeri yang sampe sekarang berasa kurang diurus sama yang berwenang ngurusin.. hehehe..  Amiiinn…

A_093

Bhuhuhuu.. padahal gw pengen jugak ke sonooo.. tp apa daya, musti ngajar, banyak project kalender pulak.. gyaaarrghh.. Ya gak papa dah.. One day gw musti ke TGS, tapi kagak jagain stan, jadi pengunjung !!!..

Dul..

Author:

RHENALD KASALI Pendiri Rumah Perubahan @Rhenald_Kasali

Kita tentu tak menyangka bagaimana mungkin seorang bocah berusia 13 tahun sudah dilepas membawa mobil sendiri pada tengah malam.

Memang ia ditemani seseorang, tetapi ia juga masih terbilang bocah. Bukan mengemudi di dekat rumah dengan pengawasan orang tua, melainkan di jalan tol, menempuh jarak yang terbilang jauh. Dan apesnya, enam orang tewas, dan beberapa anak langsung menjadi yatim piatu. Ini tentu sangat memprihatinkan. Namun setiap kali melihat bagaimana masyarakat mendidik anak-anak, saya sebenarnya sangat khawatir. Tak dapat dipungkiri, tumbuhnya kelas menengah telah menimbulkan gejolak perubahan yang sangat besar.

Namun reaksinya sangat ekstrem: Yang satu mengekang habis anak-anak dengan dogma, agama dan sekolah sehingga melahirkan anak-anak alim yang amat konservatif, yang satunya memberi materi dan servis tiada batas, sehingga menjadi amat liberal. Di segmen atas anak-anak diberikan mobil, di bawah menuntut dibelikan sepeda motor meski usianya belum 17 tahun. Kebut-kebutan menjadi biasa, korban pun sudah sangat sering berjatuhan. Karena mereka bukan siapasiapa maka kecelakaan dan kematian yang ditimbulkan tidak masuk dalam orbit media massa. Kematian yang ditimbulkan Dul mengirim sinyal penting bagi kita semua.

Business Class

Di pesawat terbang, mungkin hanya di Indonesia, Anda bisa menyaksikan keluarga-keluarga muda membawa anak-anaknya duduk di kelas bisnis. Dua orang baby sitter, duduk sedikit di belakang, takjauhdari bataskelas eksekutif mengawal anak-anak yang sudah bukan bayi lagi itu. Di masa liburan, bukan hal aneh menemukan keluarga menunggu di business lounge, dan naik pesawat dengan tiket termahal.

Sayang sekali, cara makan anak-anak belum dididik layaknya kelas menengah. Berteriak-teriak di antara kalangan bisnis, makan tercecer di jalan, dan di atas pesawat memperlakukan pramugari seperti pembantunya di rumah. Sebentar-sebentar bel dipijit, dan pramugari bolak-balik sibuk hanya melayani dua orang kakak-beradik yang minta segala layanan. Menjelang tiba di tujuan, orang tua baru mulai menyentuh anak-anaknya, dibantu baby sitter yang terlihat gelisah. Orang tua mereka umumnya adalah pemilik areal pertambangan, pedagang, atau ada juga seleb-seleb muda yang belakangan banyak bermunculan. Ayah dan ibu memilih tidur.

Jarang ditemui percakapan yang memotivasi, atau mengajarkan sikap hidup. Paling banter, mereka bermain video game, dari iPad yang dibawa anaknya. Padahal di luar negeri, iPad adalah alat kerja eksekutif yang dianggap barang mewah. Kesulitan orang tua tentu bukan hanya berlaku bagi kelas menengah saja. Di taman kanak-kanak yang diasuh istri saya di Rumah Perubahan, di tengah-tengah kampung di dekat Pondok Gede hal serupa juga kami temui. Belum lama ini sepasang suami-istri menitipkan anaknya untuk sekolah di tempat kami, dan setelah mengecek status sosial-ekonominya, anak itu pun diputuskan untuk diterima.

Namun ada yang menarik, setelah diobservasi, anak berusia lima tahun itu seperti belum tersentuh orang tuanya. Ia seperti rindu bermain, motorik halus dan kasarnya belum terbentuk, jauh tertinggal dari temanteman sebayanya. Setelah dipelajari dan orang tua diajak dialog, kami menjadi benarbenar paham pergolakan apa yang tengah terjadi dalam masyarakat kita. Orangtuaselalu mengatakan, “Saya bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anak-anak. Saya juga sering mengajak mereka berlibur”. Namun, anak-anaknya menyangkal semua pemberian itu.

Faktanya, anak-anak tak terbentuk. Sikap sosialnya, termasuk modal dasar yang disebut para ahli pengembangan anak sebagai executive function dan self regulation tidak terbentuk. Orang tua hanya fokus pada kemampuan anak berhitung dan membaca. Padahal, mereka juga harus pandai mengelola “air traffic control” yang ada dalam pikiran anak-anaknya agar kelak mampu menjadi insan mandiri yang bertanggung jawab.

Executive Function

Anak-anak kita menghadapi dunia baru yang benar-benar berbeda dengan kita, sehingga mudah sekali “berpaling” dari hal-hal rutin seperti sekolah dan belajar. Mereka hidup dalam dunia yang penuh dengan “gangguan” (distraction) seperti sosial media dan telekomunikasi yang saling bersahutan. Kita semua akan sangat kesulitan menjaga dan membimbing anak-anak kita bila modal dasar executive function tidak ditanam sejak dini. Apalagi bila sekolah hanya fokus pada angka dan huruf, seakanakan pengetahuan dan rumus adalah segala-galanya.

Menurut berita yang saya baca, Dul ternyata sudah sejak Juni lalu tak sekolah. Saya tak tahu tentang kebenaran berita ini. Tetapi Minggu dini hari dia masih mengendarai mobil, mengantar pacar lewat jalan tol, tentu mengindikasikan anak itu (ini juga bisa terjadi pada anak-anak kita, bukan?) telah hidup dalam abad distraction, sulit untuk fokus sekolah dan belajar. Studi-studi tentang executive functiondalam child development antara lain banyak bisa kita temui dalam buku dan video yang diberikan psikologpsikolog terkemuka, seperti Ellen Galinsky dan Debora Philip.

Mereka menemukan, di abad ini, anak-anak perlu mendapat fondasi hidup yang jauh lebih penting dari sekadar tahu angka dan huruf. Anak-anak itu perlu dilatih tiga hal: Working memory, Inhibitory Control,dan Mental flexibility. Ketiga hal itulah yang akan membentuk generasi emas yang bertanggung jawab dan produktif. Mereka sedari dini perlu dibentuk cara bekerja yang efektif, fokus, tahu dan bekerja dengan aturan, sikap positif terhadap orang lain, mengatasi ketidaknyamanan, dan permintaan yang beragam, serta cara mengelola informasi yang datang bertubitubi.

Pikiran mereka dapat diibaratkan menara Air Traffic Control di Bandara Cengkareng dengan ratusan pesawat yang datang dan pergi, semua berebut perhatian dengan sejuta masalah yang harus direspons cepat. Maka itu, masalah Dul bukanlah sekadar masalah Ahmad Dhani yang menjadi seleb, atau masalah keluarga broken home. Ini adalah masalah kita bersama, masalah yang dihadapi anakanak kita. Dari kita yang tidak fokus dan sibuk mencari uang atau mengurus orang lain. Kita yang dibentuk oleh sistem pendidikan model revolusi industri yang masih berpikir cara lama.

Ditambah guru-guru yang juga banyak tidak fokus, tidak paham problem yang dihadapi generasi baru, yang punya ukuran kecerdasan menurut versi mereka sendiri, dalam model persekolahan yang materialistis dan old fashion. Sekolah yang menjenuhkan dan tidak membuka fondasi yang diperlukan anak-anak sehingga mereka lari dari rutinitas.

Ini pun sama masalahnya dengan orang tua yang lari dari dunia nyata dan berlindung dalam benteng-benteng dogma dengan menyembunyikan anak dari dunia riil ke tangan kaum konservatif yang menjadikan anak hidup dalam dunia yang gelap dan steril. Anak-anak kita perlu pendekatan baru untuk menjelajahi dunia baru. Mereka perlu dilatih keterampilanketerampilan hidup, fokus dan selfregulations, menjelajahi hidup dalam aturan, yang ditanam sedari usia dini. ●

Source: http://www.koran-sindo.com/node/329673

mengkritisi rumus saya + Tuhan = cukup..

Untitled-1Nih rumus pertama kali gw denger dari Mario Teguh, dan memang mungkin ini rumus asli hasil pemikiran beliau berkat perenungannya yang dalem.. Pertama kali gw denger rumus baru yang “aneh” begitu, gw agak2 bertanya-tanya.. Ape iye nih rumus bener..?? Koq kesannya jadi mengenyampingkan hal2 yang ada di sekitar kita..?? Kesannya jadi nggak butuh orang lain, nggak butuh bantuan sekitar, dan nggak perlu hal2 yang sifatnya “eksternal” dari keduniawian kita..

Tapi seandainya ini rumus ngaco’, nggak mungkin si pak Mario bisa jadi naek ke level seperti sekarang ini.. Dan nggak mungkin beliau berani juga mempopulerkan ini rumus dalam tayangannya yang lingkupnya nasional, atau internasional kali yee (kan bisa lewat youtube.. hehe..).. Jadi gw tertarik buat mikirin lebih dalem mengenai rumus ini.. Dan pada akhirnya gw memahami bahwa ini rumus tokcer !!.. Ini formula atau rumus yang hebat buat orang2 yang ingin selalu maju dan “naik” ke tingkat yang lebih tinggi.. Kenapa ?? Karena:

  1. “Saya” itu sebenernya kompleks.. Ada banyak hal dibelakang kata “saya”.. Ada orangtua yang melahirkan & mendidik, ada lingkungan yang membesarkan, dan ada pilihan2 tindakan yang membentuk “saya” di saat sekarang ini.. Jadi, pengenalan terhadap “saya” atau diri sendiri sebetulnya menjadi hal yang penting..
  2. Dengan pake rumus ini, kalau ada apa2 yang salah sama hidup saya, itu berarti “saya” sendiri yang salah, karena yang bisa salah itu cuman manusia, Tuhan kan tidak mungkin salah.
  3. Akibatnya dengan menjalankan rumus ini, semakin sedikit faktor yang bisa disalahkan kalo kita berhadapan dengan kegagalan atau kesalahan. Nggak nyalahin temen, lingkungan, ataupun situasi apapun, tapi nyalahin si “saya” itu sendiri.. (Kesian ya si “saya”, jadi selalu disalahin, gwakakak.).
  4. Nah, jadinya ujung2nya rumus ini seakan selalu membuat kita berusaha untuk mengevaluasi apa yang salah di dalam diri sendiri, menemukan apa yang kurang di diri, dan memahami apa yang baik ataupun buruk buat diri.
  5. Rumus ini bisa juga nggak membuat kita sombong kalo berhasil.. Karena selalu meyakini ada faktor Tuhan di situ. Sekeras apapun si “saya” berusaha, nggak mungkin bisa berhasil kalau nggak diizinkan Tuhan.. Tuhan lah penguasa dan pengatur segalanya, dengan cara2 yang seringkali si “saya” sendiri tidak mengerti.
  6. Rumus ini juga bikin kita nggak gampang stress.. Karena yakin kalo Tuhan selalu mendampingi.. Jadinya nggak berharap ke yang lain kecuali hanya kepada Tuhan, dan kepada upaya dari si “saya” sendiri.
  7. Tugas si “saya” sebenernya cuman berupaya.. Upaya itu usaha dan do’a.. Usaha itu penggunaan maksimal dari akal, dan kerja keras dari badan.. Do’a yang mudah ijabah adalah do’a yang “dirasakan” atau menggunakan hati.. Dan yang berhak mengabulkan do’a itu hanya Tuhan.. Saya + Tuhan = Cukup, rumus yang menggenapkan semua potensi di dalam diri, dan kemudian menyerahkan semua hasilnya pada Tuhan.. Rumus ini memperkuat konsep “Ikhtiar itu wilayah manusia, soal hasil itu wilayah Tuhan..”

Wow.. bener2 rumus sederhana yang dahsyat.. Gw jadi inget tulisan dalam sebuah bukunya Buya Hamka, yang kurang lebih intinya begini: “Kalau kau sedang berada di dalam badai, yang bisa kau lakukan itu adalah maju, dan berharap penuh pada Tuhan. Dan kalau Tuhan berkenan menolong, itu sudah lebih dari cukup..

keep running !!..

Untitled-1Pencapaian impian itu kalo gw pikir ibarat sebuah perjalanan yang sifatnya “marathon”.. Harus kudu tetep konsisten, tetap pada jalur, dan pastinya tetap harus selalu bergerak untuk meraih goal atau garis finish yang dituju..

Meski tanpa sebuah ide yang brilian2 banget, seseorang bisa tetap mencapai impiannya selama ia masih mau bergerak, masih mau maju.. Ide saja memang nggak cukup.. Soalnya pencapaian impian hanya ada di alam tindakan.. Nah, yang harus disadari di sini adalah konsekwensi dari “bertindak”… Apa itu ?? rasa capek..!! gyehehe..

Sebuah tindakan, apapun itu, terlebih bila dilakukan secara “marathon” pasti akan nimbulin rasa capek.. Meskipun yang dilakukan itu enak.. Misalnya, makan enak, lama2 pasti capek juga tuh dagu nguyah makanan… Bahkan rebahan atau berbaring di tempat tidur sekalipun.. Coba aja, pasti lama2 juga capek.. Hehehe..

Jadi, apa esensinya ?? Kalo gw pikir sih, sebenernya capek itu nggak bisa jadi alasan untuk menghambat kita meraih tujuan atau impian.. Karena, toh apapun tindakan kita, baik yang “sejalur” dengan pencapaian impian kita atau nggak, pasti bakal menimbulkan rasa capek..

Yang juga gak kalah banyak sekarang ini, orang muda yang gampang sekali ngerasa capek… Baru kerja sedikit sudah capek.. Padahal impiannya selangit.. Tapi melawan rasa capeknya sendiri belum bisa.. Terkadang capek yang cepat datang juga dipengaruhi oleh rasa malas di dalam diri..

Orang2 muda kayak kita gini memang sudah selayaknya banyak membaca.. Baca proses pencapaian orang besar, supaya bisa “benchmarking” proses.. Betapa orang2 besar dan sukses itu kerjanya lebih dari orang biasa, tidurnya pun lebih sedikit dari orang biasa.. Mangkanya jadi orang luar biasa.. Hehehe..

Singkat kata, menjadi orang biasa itu mudah.. Bekerja seperti biasa, jam tidur seperti biasa, membaca hal2 yang biasa, dan melakukan hal2 biasa yang dilakukan orang biasa.. Menjadi orang besar & sukses itu memang sulit, karena itulah jumlah mereka lebih sedikit dari orang biasa… Karena nggak semua orang mau menjalani “proses” yang nggak biasai..

Udin ah, sotoy banget dah gw ni… (T_T).. Ini gw tulis buwat memotivasi diri gw sendiri yang lagi capek maksimal dan masih harus terus melanjutkan perjuangan mewujudkan impian.. (*o*!)…