me|write, think sotoy
Comments 3

akui agar maksimal..

Untitled-5“Pap, aku suka banget gambar, nanti aku di-les-in gambar yaa..” Gitu kata anak pertama gw yang bentar lagi masuk SD.. Nih bocah cewek emang keliatan suka gambar dari dulu sih.. Apalagi kalo lagi liburan gini, tuh anak hampir setiap hari ngegambar di sebelah meja kerja gw..

Untuk permintaan itu, tentu saja gw jawab “yes”.. Cuman gw juga mikir, nih bocah serius, apa emang gara2 dia masih anak2 aja ya ngomong suka banget ngegambar.?? Kalo kita liat dan ingat2 lagi, saat kecil dulu, siapa sih yang nggak doyan corat-coret ??.. Di dalam kelas TK, saat guru bertanya “Siapa yang suka menggambaaarrr ??..”.. Sangat bisa jadi 90 persen lebih dari anak2 akan angkat tangan.. Atau malah 100% !!.. Hehe..

Suka banget ngegambar ??.. Apakah anak gw bakal berbakat di situ ??.. Belum tentu.. Cuma waktu yang bisa menjawab.. Apalagi akan ada lebih banyak hal / bidang lain yang bisa dia coba sampai remaja atau dewasa nanti.. Mana tau ada bidang lain yang lebih menarik buat dia, dan akhirnya ber-passion di situ..

Tekun, bertahan dan tetap konsisten dalam jangka panjang pada suatu bidang bukanlah hal yang mudah.. Kenapa sih ada anak yang bisa demikian berkomitmen pada suatu bakat tertentu, dan ada juga yang tidak ??..

Mihaly, Rathunde, & Whalen (1997) dalamTalented Teenagers: The Roots of Success & Failure” ternyata telah melakukan studi jangka panjang pada anak2 berusia 5 tahun untuk menjawab hal ini…

Kesimpulan mereka: seorang anak pertama2 HARUS DIAKUI DULU BAHWA MEREKA BERBAKAT, sebelum kemudian mereka bisa memaksimalkan potensinya.. Para remaja yang bisa benar2 berkomitmen pada bakatnya, umumnya “kebisaan-nya” atau kemampuannya cenderung diakui oleh lingkungan sosial mereka..

Lantas, kecerdasan umum yang baik juga diperlukan; seperti mampu berkonsentrasi, memiliki daya tahan, terbuka pada pengalaman baru, kesadaran diri, dan pengertian..

Untuk jangka panjangnya, yang bisa berpengaruh pada bakat adalah kecocokan antara kecenderungan / kemampuan dari si anak pada satu bidang, dengan efek dari katalisator (hal yang mempercepat).. Katalisator bisa berupa: pendidikan, latihan, kerja keras, orangtua / keluarga, motivasi, dan tahu akan tujuan..

Mihaly dkk juga menemukan, bahwa remaja yang berbakat punya kebiasaan kondusif membangun bakat.. Mereka seringkali melibatkan diri pada impian2 yang menantang bersama teman2nya, juga menghabiskan waktu sendirian untuk “membina” bakatnya..

Yang menarik buat gw, pernyataan Mihaly dkk yang ini: “Remaja berbakat juga lebih konservatif dalam sikap seksual mereka, dan sadar akan kemungkinan konflik antara hal2 yang produktif dengan hubungan asmara..”

Hooo.. Pantes aja yaa, Son Goku nggak pacaran, Chinmi nggak pacaran, Luffy nggak pacaran, dan Saitama juga nggak punya pacar.. Gwakakak..

Advertisements

3 Comments

    • Gwakakak.. Sejauh ini ngajar, kalo saya inget2 lagi mahasiswa/i yang saya anggap “berbakat”, nih teori ada benernya loh.. Mayoritas dari mereka adalah jomblo.. Haha..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s