me|write, spiritual
Comments 3

bagaimana mengapa..

Belum lama ini liat sebuah postingan gambar di fesbuk.. Gambarnya ada scientist lagi menggunakan mikroskop, lantas dikelilingi oleh pemuka2 agama dari sejumlah agama.. Kondisi mereka lagi di ujung tebing, seakan terpojok dan mau “dimakan” sama virus COVID-19 besar.. Salah satu pemuka agama ada yang berkata pada scientist: “Please, hurry up..”..

Suka sama gambar ini, menyentil secara halus, bahwa yang diandalkan untuk menyelesaikan pandemi ini adalah para scientist, atau paling nggak, mereka yang punya bidang keilmuan kedokteran / kesehatan.. Para Nakes itu, bukankah mereka juga termasuk para pejuang ilmu di bidang tertentu ??..

Sementara sebagian pemuka2 agama sini, bersikap tanpa “science”.. Seperti menyeru untuk jangan takuti virusnya, karena sama2 makhluk Tuhan.. Ada juga yang (haddeeehh, tarik napas dulu..), ada ustad yang bilang kalo virus corona masuk sini karena seorang “Imam Jumbo” nggak pulang2 ke Indonesia.. (@_@!)..

Pernah juga ada ustad yang bilang, kalo dunia harus berterima kasih pada Islam, karena Thawaf mengelilingi Ka’bah 24 jam.. Kalo Thawaf berhenti, maka bumi ini pun akan berhenti berputar.. Sungguh tidak masuk di akal.. Faktanya sekarang ini saat Thawaf terhenti, bumi tetap berputar toh ??.. Tapi lucunya, ada aja yang percaya.. Sebuah contoh sikap beragama tanpa “filter” pengetahuan..

Pernyataan Einstein: “Agama tanpa ilmu lumpuh..”, jelas sekali terlihat..

Bruno Guiderdoni, Director of the Islamic Institute for Advanced Studies di Paris cukup banyak membahas hubungan antara sains dan agama.. Yang sepertinya relate sama kondisi sekarang, adalah salah satu argumennya: “Sains menjawab pertanyaan ‘BAGAIMANA’, sedangkan agama menjawab pertanyaan ‘MENGAPA’..”

Kemaren2, apakah sering dapet (di grup2 WA terutama), sebuah tulisan tentang virus corona dari sudut pandang agama ??.. Pokoke isinya bijaksana dan religius sekali deh.. Coba perhatikan lagi tulisan2 itu, umumnya selalu membahas “mengapa”-nya.. Corona datang karena ini itu, virus corona didatangkan supaya kita begini begitu, dan sejenisnya.. Ujung2nya “mencoba” menjawab pertanyaan “mengapa”..

Kasus dua ustad di paragraf atas juga sama, bumi berputar karena ada Thawaf, dan COVID-19 masuk sini gara2 Imam Jumbo.. Kata “karena” dan “gara2” adalah awal jawaban dari “mengapa”.. Dan mereka hanya sampe situ saja.. Mungkin kalo ada satu jama’ah yang kritis yang hadir disana bertanya “Bagaimana” caranya tad, koq bisa begitu ??.. Bisa2 diam seribu bahasa tuh Ustad..

Karena kalo sudah sampai “bagaimana-nya”, proses-lah yang harus dijelaskan.. Tanpa science, ya ambyar..

Buat gw sih, agama & science adalah hal yang penting.. Karena keduanya merupakan bentuk penjelajahan realitas hidup di dunia.. Kalo di-inget2 lagi, biasanya kalo gw berhasil menemukan nilai2 atau makna2 dibalik suatu peristiwa, memang rasa2nya lebih banyak yang melalui pendekatan spiritual..

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s