Month: December 2019

hafal & paham..

Mendikbud sempat bilang; kalo dunia tidak butuh penghafal.. Lantas mereka yang berpaham bahwa menghafal itu penting ‘naik darah’, menghujati Nadiem.. Karena menurut mereka, bangsa atau dunia ini perlu penghafal Qur’an.. Padahal, Mendikbud berbicara dalam konteks kurikulum pendidikan nasional.. Ia sama sekali nggak bilang ataupun menyinggung apapun tentang penghafal ayat Qur’an ataupun hadist.. Dia sama sekali nggak melarang kalo ada yang mau menghafal itu semua.. Bisa saja beliau sebenarnya senang kalo ada banyak hafiz atau hafizah di negeri ini.. Namun, saat itu kan beliau lagi di atas ‘panggung’ pendidikan nasional, dan bukan di atas ‘mimbar’.. Prasangka duluan, tanpa ingin tau lebih dulu makna intinya, ya ambyarr.. Poin pentingnya: gagal melihat konteks dalam mencerna informasi.. Konteks merupakan acuan bagi seseorang untuk memahami makna sebenarnya dari sebuah pesan/informasi.. Contoh lain, ‘menyetarakan’ ucapan selamat natal dengan kalimat syahadat.. Menyetarakannya hanya karena sama2 kalimat.. Tapi konteksnya nggak dilihat.. Jadinya aneh.. Ucapan selamat hari natal ya setaranya sama ucapan selamat hari ibu, hari ultah, hari Idul Fitri, dan sejenisnya.. Kalimat Syahadat adalah kalimat ‘kesaksian’.. Begimana logikanya bisa disamakan dengan ucapan selamat …

versi mana..

Di Qur’an disebutkan, ada orang2 yang mereka pikir berbuat baik, padahal merugi.. Dikiranya berbuat baik sebaik2nya, padahal sebenarnya sia2 belaka (QS.18:103-104).. Dikiranya sudah berbuat amal saleh, padahal amal saleh yang Tuhan maksudkan itu berbeda dengan apa yang mereka pikirkan (QS:35:37).. Mereka berbuat baik tanpa berpedoman pada yang sudah “dipatenkan” oleh Tuhan.. Bisa jadi, mereka mendefinisikan perbuatan baik itu dengan versi pikiran mereka sendiri, ATAU, versi golongan mereka sendiri.. Padahal Qur’an itu mengandung hikmah, dan merupakan petunjuk bagi orang2 yang mau berbuat kebaikan (QS.31:2-3).. Dalam urusan agama, ternyata berbuat baik itu nggak bisa sembarangan, harus versi yang dari Tuhan.. Lah, versi Tuhan itu yang gimana ya ??.. Ini gw share apa yang bisa gw tangkep dari orang yang gw anggap sebagai guru.. Perbuatan baiknya bisa dilakukan di mana saja (QS.2:148).. Jadi, mau di Madura kek, di Arab kek, ataupun di negeri yang “katanya” dibilang toghut atau kafir oleh sebagian orang pun, perbuatan baik kita akan tetep “terdata”.. Perbuatan baik itu implementasinya bisa apa saja, yang penting merupakan bentuk kebajikan (QS.3:115).. Kalo liat KBBI, kebajikan artinya: sesuatu …

batasan..

Inget Takeru Kobayashi ?? Jawara 6 kali lomba makan hotdog internasional di postingan sebelumnya ??.. Rekor-dunia sebelum dia ikutan lomba adalah 25 hotdog dalam waktu 12 menit.. Saat Kobayashi pertama kali ikutan lomba, dia berhasil melipat-gandakan-nya menjadi 50 hotdog.. Levitt & Dubner, penulis buku “Think Like a Freak” (2016), pernah melakukan “wawancara” langsung dengan Kobayashi.. Menurut mereka, pelajaran lain yang bisa diambil dari keberhasilan Kobayashi berkaitan dengan batas kemampuan seseorang.. Siapa yang bisa mengetahui batas2 seseorang ??.. Tentu saja harusnya dirinya sendiri.. Namun seringkali penetapan batas kemampuan seseorang dipengaruhi oleh faktor2 dari luar.. Nah, Kobayashi berhasil meng-counter faktor luar.. Dia menolak untuk mengakui kalo manusia “hanya” bisa makan 25 hotdog dalam waktu 12 menit.. Alasannya sederhana; karena sejak pertama kali lomba internasional ini diadakan, para pesertanya belum tau aja cara makan hotdog yang lebih mudah.. Kalo udah pada tau, pasti sejak lama rekor 25 hotdog itu terpatahkan.. Kobayashi memandang rekor dunia tersebut adalah penghalang buatan.. Jadi dia berlatih dan kemudian ikutan lomba tanpa berpikir bahwa batas atasnya adalah 25 hotdog.. Saat lomba berlangsung, dia nggak …