All posts tagged: mikir

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …

gara2 pertanyaan..

Tau Takeru Kobayashi ??.. Kalo nggak concern sama lomba2 makan, nama ini bakalan asing di telinga.. Kobayashi sempat “booming” di event tahunan lomba makan HotDog Internasional yang diadakan di Coney Island, New York.. Aturan lombanya sederhana; adu cepet banyak2an makan hotdog dalam waktu 12 menit.. Saat bel akhir berbunyi, hotdog yang masih dikunyah akan tetap dihitung asalkan bisa ditelan.. Kalau muntah, baru deh di-diskualifikasi.. Boleh tambah saus (tapi ini pasti buang2 waktu), minum boleh apa saja dalam jumlah yang nggak terbatas.. Di tahun 2001, saat pertama kali Kobayashi (23 tahun) ikutan tuh lomba, rekor dunia yang tercatat adalah 25 setengah hotdog dalam waktu 12 menit.. Badan Kobayashi saat itu cenderung kurus.. Namun di akhir lomba berlangsung, coba tebak berapa hotdog yang berhasil dia telan ??.. Si Kobayashi berhasil makan 50 hotdog dalam waktu 12 menit !!.. Dia berhasil melipat-gandakan rekor dunia.. Sejak saat itu, hingga 6 tahun berturut2, dia jadi jawara di ajang internasional tersebut, dan menaikkan rekornya menjadi 53 hotdog.. Pencapaian Kobayashi bukan tanpa perjuangan.. Jauh sebelum ikut lomba ia banyak melakukan analisa dan …

virus ide..

Pernah nonton film karya Christopher Nolan: “Inception” ?? Film science fiction tentang konsep penanaman ide ke alam bawah sadar seseorang melalui mimpi yang “dalam”.. Dan si “korban” nantinya diharapkan bisa memiliki pikiran atau bersikap sesuai dengan maunya si “penanam” ide.. Di deket2 akhir film, tokoh utamanya: Cobb (Leonardo DiCaprio) menyatakan: sebuah ide itu seperti virus.. Ia bisa berkembang pesat di dalam pikiran seseorang.. Masalah ide tersebut destruktif atau konstruktif, itu adalah perkara yang berbeda.. Cobb juga menyatakan; sebagaimana virus pada umumnya, tentu butuh syarat2 tertentu supaya bisa berkembang dengan cepat.. Menurut Cobb, syarat paling utamanya: si ide harus sesederhana mungkin, supaya gampang untuk dipahami.. Dan syarat kedua yang nggak kalah penting; pikiran si orangnya harus menerimanya sebagai sesuatu yang logis.. Kalau kedua syarat itu terpenuhi, si ide bisa berkembang menjadi apa saja, bahkan mungkin menjadi realitas subjektif bagi orang tersebut.. Okay, itu dari film loh ya.. Tapi kok rasa2nya beneran bisa kejadian di dunia nyata ya.. Para “guru2” radikal sangat menyederhanakan ajaran agama, melihat hanya dari satu sudut pandang, ataupun menggunakan pemikiran2 yang sudah “usang”.. …

[baiklah..]

Lagi ngoreksi tugas2 mahasiswa, eh dapet “note” dari seorang mahasiswi yang diselipkan di dalam tugasnya.. Dia cuma mo bilang kalo dunia ini masih butuh lebih banyak lagi orang2 baik.. Sebagai penutupnya dia tulis: terima aja kenyataan, kalo gw itu orang baik.. Hyaaaa… Belom tau aja dia..!! Gwakakak.. Yah, harapan “kenyataan” gw jadi orang baik itu gw aminkan saja.. Karena bisa saja gw nggak sebaik yang dia kira.. Buktinya, bini’ gw masih sering ngomelin gw, dikarenakan sejumlah hal.. Anak gw juga gitu, suka ngomel: “Aah, papap kerja melulu..”.. Dan mungkin masih banyak lagi.. Tentang “baik” ini, gw pernah menyampaikan kepada mereka di kelas.. “Baik” itu bagusnya bergandengan dengan “benar”.. Kalo nggak, kadang bisa berabe.. Contoh: kalo semua mahasiswa satu kelas gw kasi nilai A, pasti gw dibilang baik sama mereka.. Tapi kan itu nggak bener.. Sebar2 fitnah, provokasi, atau berita2 yang tidak sesuai fakta, ada kan yang menganggapnya baik..? Karena itu bentuk “support” atau bahkan “perjuangan (?)” bagi kelompok mereka sendiri.. Tapi apakah itu bisa dibilang benar ??.. Padahal di kitab sucinya sendiri dilarang.. Kemarin aja, …

[Sulap Hoax]

Menurut Lynda Walsh (2007), dalam “Sins Against Science”, istilah Hoax atau kabar bohong itu, sudah ada dari dulu banget.. Disebutkan asal katanya itu “Hocus”, dari mantra yang sering dilontarkan pesulap: “Hocus Pocus”.. Yah, kalo tukang sulapnya orang sini mah ngomongnya “Sim Salabim”.. Nggak tau juga detailnya, kok dari “Hocus” lantas bisa berubah jadi “Hoax”.. Akh, tapi itu nggak terlalu penting.. Yang gw perhatikan sih, koq ya “penggiat hoax” itu rada2 mirip sama korban tukang sulap.. Yaah, kayak2 kena “ilusi” dari pesulap gitu deh.. Hehehe.. Yang bikin & nyebar hoax juga terkesan seperti terkena sihirnya sendiri.. Dikiranya membikin & menyebar kebaikan, padahal yang disebar kemungkaran.. “Sim Salabim..”, Hoax pun tersebar, dan “dimakan”.. Bagi pemakan hoax: dikiranya kenyataan, padahal dagelan.. Akhirnya kita jadi kasian.. Dikiranya dirinya pintar, padahal hanya jadi “mainan” yang lebih pintar.. Bahkan jadi bahan tertawaan mereka, yang serius belajar karena ingin benar2 jadi pintar.. Dikiranya asupan vitamin, padahal micin.. Harapannya nutrisi, eh ternyata tanpa gizi.. Dampaknya nggak instan, tapi lama kelamaan.. Lama2 pola pikirnya jadi kurang optimal, karena mengolah data yang abal2.. Apalagi pemakan …