All posts tagged: mikir

ricari dulu..

Sekarang, penggunaan mesin pencari di internet (seperti google), udah jadi hal yang sangat lumrah.. Dipakenya juga bisa buat macem2: untuk nyari pengetahuan baru, buat nyari jawaban tugas anak kelas 4 SD, bahkan buat nyari link untuk debat di grup WA.. Ada kan ya, yang kalo debat/diskusi di grup WA gitu, sukanya kirim link hasil googling, dan bukannya ngasi hasil pikirannya sendiri.. Akhirnya jadi ‘berbalas link’.. Terus dengan cuma ngasi link begitu, terkadang seseorang sudah ngerasa dirinya pintar.. Berbeda dengan baca buku atau debat langsung tatap muka, mengandalkan link kayaknya lebih ‘effortless’.. Berbekal kemudahan pencarian informasi ini, seseorang berkesan menjadi lebih mudah untuk ‘tau segalanya’.. Yang umumnya sifat ‘tau banyak’ ini hanya melekat pada mereka yang kutu buku atau beneran pintar.. Di barat sono, ada sebuah studi yang menyimpulkan: fitur pencari di internet bisa membuat seseorang berpikir dirinya lebih pintar daripada yang sebenarnya.. Matthew Fisher dari Yale University telah mensurvey ratusan orang untuk kemudian bisa sampai pada kesimpulan tersebut.. Hasil studinya ini dipublish pada Journal of Experimental Psychology.. Fisher membuat dua kelompok, yang satu boleh buka2 …

beyond fixedness..

Di Olimpiade Tokyo kemaren, muncul beberapa nama saintis yang berhasil meraih medali.. Yang cukup mencolok itu Anne Kiesenhofer dari Austria.. Seorang Ph.D matematika terapan, peneliti sekaligus dosen.. Tapi siapa sangka, wanita 30 tahun ini “galak” saat ngegenjot sepeda.. Saking galaknya, medali emas di nomor Road Race disabetnya.. Ini WOW banget !!.. Karena ya beda jauh kan ‘medan perang’nya.. Kalo saintis kebanyakan ngabisin waktu di laboratorium, dan kalo olahraga ya di lapangan.. Yang satu lebih ke otak, satunya lebih ke otot.. Muncul juga beberapa nama sainstis lain, namun mereka gagal meraih medali.. Tetep aje sih, ilmuwan bisa berlaga di Olimpiade, itu luar biasa.. Jadi kepikiran gimana mereka itu “memandang” dirinya sendiri.. Umumnya kan, seseorang memandang atau “melabelkan” dirinya berdasarkan latar belakang pendidikan (gelar), yang kemudian bisa “berfungsi” di dalam pekerjaan (jabatan / profesi).. Atau banyak juga yang melabelkan dirinya berdasarkan apa yang paling banyak dilakukan dalam hidupnya, atau pekerjaannya selama ini, walaupun tanpa pendidikan formal.. Kan ada pengusaha, atau trader tanpa ‘sekolah’.. Tapi karena ‘kesehariannya’ di situ, ya jadi cocok deh.. Ada istilah ‘Functional Fixedness’ dalam …

WAG wkwk..

Di sebuah WA grup yang gw ikuti, ada seseorang yang menulis sebuah permohonan: Mohon untuk tidak memposting hal2 yang berkaitan dengan “menyepelekan” covid di grup ini, apalagi yang informasinya abu2 atau hoax.. Gw yakin, semua anggota grup membaca.. Karena cerita dia di grup sebelum menuliskan permohonan itu pun cukup memilukan.. Beberapa orang terdekatnya meninggal karena covid.. Dan dia meyakini awal tertularnya itu karena salah satu orang dalam lingkaran kerjanya ada yang covid tanpa gejala.. Tapi ada aja orang yang nggak peduli atau nggak punya empati.. Entah apa alasannya, postingan hoax tentang covid dan vaksinasi masih aja nongol di grup dari seorang member.. Sudah ditegor sama admin pun, nih orang masih ngenyel.. Walaupun endingnya ni orang ngerasa risih sendiri, dan akhirnya left grup jalur mandiri.. Hehe.. Ada beberapa grup juga yang gw ikuti, udah dikasi tau oleh admin: di grup ini posting yang santuy2 aja, nggak boleh politik.. Tapi ya tetep, masih ada ajee yang posting politik.. Sampe males mau ngingetinnya.. Ada satu grup yang gw left ya gara2 itu, nggak “nurut” sama peraturan grup.. Padahal …

kata “ilmu”..

Dalam bahasa Arab, kata “ilmu” itu terdiri dari huruf ‘Ain, Lam, dan Mim.. Dan gw baru tau, ternyata dalam bahasa Arab, semua kata yang mengandung ketiga huruf tersebut, selalu merujuk kepada sesuatu yang sudah jelas atau sebuah kejelasan.. Begitu menurut Prof. Quraish Shihab.. Contoh kata yang mengandung ketiga huruf tersebut dalam bahasa Arab; kata bendera, gunung, dan bibir sumbing.. “Objek”nya bisa dilihat dengan jelas.. Kalo bahasa serapan sini, contohnya kata “Alamat”.. Alamat sejatinya harus jelas, biar semua orang selayaknya bisa tau.. Jadi menurut beliau, ilmu adalah tersingkapnya sesuatu dengan jelas sesuai hakikatnya.. Di KBBI, arti hakikat sendiri adalah (1.) Intisari, dan (2.) Kenyataan yang sebenarnya.. Dalam ilmu agama, contohnya gini: mengambil hak orang lain itu dilarang, dasar2nya jelas ada di Qur’an.. Kalo di science, ya ada risetnya, pembuktiannya jelas, dan bisa “terkait” dengan teori2 yang sudah ada sebelumnya.. Tapi gimana dengan opini ??.. Bisakah jadi ilmu ??.. Bisa aja.. Pengertian “ilmu” di atas kan hanya dari segi bahasa.. Namun biasanya, opini yang bagus adalah opini yang ada dasarnya.. Ada rujukan bukunya, ada dasar data atau …

tipusulap..

Ada seorang pesulap, namanya Alex Stone.. Show pertamanya dilakukan di acara perayaan ulang tahun ke-enamnya sendiri.. Dan hasilnya “berantakan”.. Namun karena terus belajar, ia pun berhasil jadi pesulap saat dewasa.. Nggak hanya jadi pesulap, kuliahnya juga oke banget.. Berhasil jebol Harvard, dan gelar master Fisikanya didapat dari Colombia University.. Tulisan2nya juga sempat dimuat di media sekelas: New York Times, Harper’s, dan Wall Street Journal.. Stone menulis sebuah buku, dan terbit di tahun 2012: “Fooling Houdini: Magicians, Mentalists, Math Geeks, and the Hidden Powers of the Mind..“.. Berkat bekgron kuliahnya, di buku ini dia bisa mengulas sulap dari perspektif psikologi, neuroscience, fisika, sejarah, dan bahkan “crime”.. Seumur hidup, profesi utama dia adalah pesulap.. Kita tau lah seorang pesulap, kerjaannya menciptakan ilusi, atau kalo kasarnya ya “membohongi” penonton.. Menariknya, berdasarkan pengalaman dia tampil selama ini, ternyata penonton anak2 lebih sulit dibohongi ketimbang penonton orang dewasa.. Saat sebuah sulap nggak berjalan lancar, tentu saja si pesulap jadi malu.. Dalam rentang 10 tahun, Stone mengaku pernah “dibuat malu” mungkin hanya 2 kali oleh orang dewasa yang bukan pesulap.. Namun …