All posts tagged: mikir

WAG wkwk..

Di sebuah WA grup yang gw ikuti, ada seseorang yang menulis sebuah permohonan: Mohon untuk tidak memposting hal2 yang berkaitan dengan “menyepelekan” covid di grup ini, apalagi yang informasinya abu2 atau hoax.. Gw yakin, semua anggota grup membaca.. Karena cerita dia di grup sebelum menuliskan permohonan itu pun cukup memilukan.. Beberapa orang terdekatnya meninggal karena covid.. Dan dia meyakini awal tertularnya itu karena salah satu orang dalam lingkaran kerjanya ada yang covid tanpa gejala.. Tapi ada aja orang yang nggak peduli atau nggak punya empati.. Entah apa alasannya, postingan hoax tentang covid dan vaksinasi masih aja nongol di grup dari seorang member.. Sudah ditegor sama admin pun, nih orang masih ngenyel.. Walaupun endingnya ni orang ngerasa risih sendiri, dan akhirnya left grup jalur mandiri.. Hehe.. Ada beberapa grup juga yang gw ikuti, udah dikasi tau oleh admin: di grup ini posting yang santuy2 aja, nggak boleh politik.. Tapi ya tetep, masih ada ajee yang posting politik.. Sampe males mau ngingetinnya.. Ada satu grup yang gw left ya gara2 itu, nggak “nurut” sama peraturan grup.. Padahal …

kata “ilmu”..

Dalam bahasa Arab, kata “ilmu” itu terdiri dari huruf ‘Ain, Lam, dan Mim.. Dan gw baru tau, ternyata dalam bahasa Arab, semua kata yang mengandung ketiga huruf tersebut, selalu merujuk kepada sesuatu yang sudah jelas atau sebuah kejelasan.. Begitu menurut Prof. Quraish Shihab.. Contoh kata yang mengandung ketiga huruf tersebut dalam bahasa Arab; kata bendera, gunung, dan bibir sumbing.. “Objek”nya bisa dilihat dengan jelas.. Kalo bahasa serapan sini, contohnya kata “Alamat”.. Alamat sejatinya harus jelas, biar semua orang selayaknya bisa tau.. Jadi menurut beliau, ilmu adalah tersingkapnya sesuatu dengan jelas sesuai hakikatnya.. Di KBBI, arti hakikat sendiri adalah (1.) Intisari, dan (2.) Kenyataan yang sebenarnya.. Dalam ilmu agama, contohnya gini: mengambil hak orang lain itu dilarang, dasar2nya jelas ada di Qur’an.. Kalo di science, ya ada risetnya, pembuktiannya jelas, dan bisa “terkait” dengan teori2 yang sudah ada sebelumnya.. Tapi gimana dengan opini ??.. Bisakah jadi ilmu ??.. Bisa aja.. Pengertian “ilmu” di atas kan hanya dari segi bahasa.. Namun biasanya, opini yang bagus adalah opini yang ada dasarnya.. Ada rujukan bukunya, ada dasar data atau …

tipusulap..

Ada seorang pesulap, namanya Alex Stone.. Show pertamanya dilakukan di acara perayaan ulang tahun ke-enamnya sendiri.. Dan hasilnya “berantakan”.. Namun karena terus belajar, ia pun berhasil jadi pesulap saat dewasa.. Nggak hanya jadi pesulap, kuliahnya juga oke banget.. Berhasil jebol Harvard, dan gelar master Fisikanya didapat dari Colombia University.. Tulisan2nya juga sempat dimuat di media sekelas: New York Times, Harper’s, dan Wall Street Journal.. Stone menulis sebuah buku, dan terbit di tahun 2012: “Fooling Houdini: Magicians, Mentalists, Math Geeks, and the Hidden Powers of the Mind..“.. Berkat bekgron kuliahnya, di buku ini dia bisa mengulas sulap dari perspektif psikologi, neuroscience, fisika, sejarah, dan bahkan “crime”.. Seumur hidup, profesi utama dia adalah pesulap.. Kita tau lah seorang pesulap, kerjaannya menciptakan ilusi, atau kalo kasarnya ya “membohongi” penonton.. Menariknya, berdasarkan pengalaman dia tampil selama ini, ternyata penonton anak2 lebih sulit dibohongi ketimbang penonton orang dewasa.. Saat sebuah sulap nggak berjalan lancar, tentu saja si pesulap jadi malu.. Dalam rentang 10 tahun, Stone mengaku pernah “dibuat malu” mungkin hanya 2 kali oleh orang dewasa yang bukan pesulap.. Namun …

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …

gara2 pertanyaan..

Tau Takeru Kobayashi ??.. Kalo nggak concern sama lomba2 makan, nama ini bakalan asing di telinga.. Kobayashi sempat “booming” di event tahunan lomba makan HotDog Internasional yang diadakan di Coney Island, New York.. Aturan lombanya sederhana; adu cepet banyak2an makan hotdog dalam waktu 12 menit.. Saat bel akhir berbunyi, hotdog yang masih dikunyah akan tetap dihitung asalkan bisa ditelan.. Kalau muntah, baru deh di-diskualifikasi.. Boleh tambah saus (tapi ini pasti buang2 waktu), minum boleh apa saja dalam jumlah yang nggak terbatas.. Di tahun 2001, saat pertama kali Kobayashi (23 tahun) ikutan tuh lomba, rekor dunia yang tercatat adalah 25 setengah hotdog dalam waktu 12 menit.. Badan Kobayashi saat itu cenderung kurus.. Namun di akhir lomba berlangsung, coba tebak berapa hotdog yang berhasil dia telan ??.. Si Kobayashi berhasil makan 50 hotdog dalam waktu 12 menit !!.. Dia berhasil melipat-gandakan rekor dunia.. Sejak saat itu, hingga 6 tahun berturut2, dia jadi jawara di ajang internasional tersebut, dan menaikkan rekornya menjadi 53 hotdog.. Pencapaian Kobayashi bukan tanpa perjuangan.. Jauh sebelum ikut lomba ia banyak melakukan analisa dan …