me|write, my life stories
Comments 4

bawang orang..

Kemarin, setelah perkuliahan selesai, ada seorang mahasiswa deketin gw yang lagi beres2 di depan kelas.. Gw ngeliat gelagatnya nih anak kayak lagi pusing mikirin sesuatu.. Bolak balik di depan gw yang lagi masukin barang2 ke dalam tas..

Bener aja, nggak lama, dia mendadak curcol soal permasalahan dengan orang tuanya.. Dia bilang, udah beberapa hari ini dia nggak pulang ke rumah, karena “ngambek” sama ortunya.. Wadaw, kasus apa pulak ini..?!?

Minggu kemarinnya lagi, ada seorang mahasiswi melakukan hal yang sama.. Tau2 curcol ke gw di depan kelas setelah kelas bubar.. Tentu saja dengan topik curhatan berbeda.. Padahal mereka anak semester 2 yang belum lama gw ajar alias baru kenal.. Semester 2 ini pun baru jalan sebulanan..

Gw ngerasa jadi “santapan” mahasiswa2 yang bertipe CDLC (Colek Dikit Langsung Curhat).. Gwakakak.. Tapi gw seneng2 aja sih, toh sekalian belajar ngeliat hidup orang lain, belajar “mendengarkan”, dan kali aja problem2 mereka nanti bisa terjadi juga pada anak2 gw..

Koq mereka bisa “enak aja” curhat ke gw ??.. Entahlah.. Tapi ada satu teori yang gw pikir nyambung.. Sebuah teori yang gw dapet pas kuliah S2 (dan tentu saja bukan di Vatican..) hehehe..

Ada yang menyebutnya dengan nama Teori Kulit Bawang.. Teori ini dikemukakan oleh Altman & Taylor (1973) untuk menjelaskan penetrasi sosial.. Menurut mereka kepribadian manusia itu memiliki beberapa lapisan.. Persis kayak kulit bawang merah, kalo dikupas satu kulit terluar, maka kita akan menemukan lapisan kulit kedua, ketiga, dan seterusnya..

Lapisan kulit terluar kepribadian manusia adalah apa2 yang terbuka bagi publik, apa yang diperlihatkan pada orang lain secara umum, tanpa harus ditutup-tutupi.. Semakin ke dalam, lapisannya semakin “private” dan sulit dibuka untuk sembarang orang.. Seperti konflik2 yang belum terselesaikan, emosi terpendam, sampai nilai2 dan konsep diri..

Kalo pake teori ini, sebetulnya nggak ada istilah “langsung akrab”.. Karena dalam menjalin keakraban, perlu adanya proses dalam membuka lapisan demi lapisan kepribadian seseorang.. Pendek kata, bila ada 2 orang yang bisa demikian stabil menjalin hubungan, seperti akrab sohiban atau pacaran, mereka sebenarnya telah melewati tahap “saling menguliti” kulit bawangnya satu sama lain..

Dalam teori ini juga ada konsep keterbukaan diri (Self-Disclosure), yang sifatnya timbal balik.. Sederhananya, seseorang yang bisa demikian membuka dirinya ke orang lain, berpotensi menarik orang lain untuk menjalin hubungan lebih dalam..

Mungkin karena gw keseringan “membuka diri” tanpa malu2 di depan kelas sebagai selingan materi desain, tuh anak2 jadi begitu.. Sampe pernah ada yang tauk2 mengadu: “Mas, saya dulu pas SD sempat dibully bertahun2..”

Hadeehh.. Konsekwensi punya atmosfir “tempat sampah” ya begini ni.. Gyahaha..

4 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s