entrepreneurship, me|write, think sotoy
Comments 6

memahat diri..

Untitled-1Pernah suatu ketika, seseorang bertanya pada Michaelangelo, kok bisa sih bikin patung kayu mahakarya yang bagus sekali, gimana caranya ??.. Sang maestro pun menjawab: “Patung itu sudah ada di dalamnya koq, saya hanya membantu membuang bagian2 yang tidak perlu dari bongkahan kayu yang digunakan..”

*Doeng..!!*.. Mantep banget nih jawaban dari si maestro.. Maknanya bisa dalem pulak.. Bisa dikaitkan dengan ilmu untuk mencapai keberhasilan.. Manusia pada awalnya ibarat sebuah bongkahan kayu yang belum jadi.. Yang entah kapan nantinya, bisa akan tetap menjadi sebuah bongkahan kayu, atau akan menjadi sebuah karya ukiran / patung / bentuk lain yang lebih bernilai harganya.. Loh, koq enak aja main ngomong manusia itu semua sama kayak bongkahan kayu ??..

Ada beberapa pernyataan orang2 besar yang gw tau memang menganggap pada hakikatnya, semua manusia itu sama.. Seperti Confucius misalnya, ia pernah menyatakan, semua manusia itu sama, yang membedakan antar mereka adalah kebiasaannya.. Paul G. Stolt sebagai salah satu penggagas ide Adversity Quotient (AQ) juga beranggapan pada dasarnya semua manusia sama, karena kita semua kurang lebihnya menghadapi masalah2 yang sama, dan yang membedakan adalah cara2 kita dalam merespon masalah tersebut..

Dalam Islam juga mungkin bisa dibilang seperti itu, karena kalo kita melakukan ibadah haji / umroh, semuanya pake kain ihram yang sama, ibadah yang dilakukan pun sama.. Nggak peduli setinggi apapun jabatan atau dari mana si orang itu.. Atas dasar “kesamaan” ini,  kita kan dianjurkan untuk nggak merasa lebih tinggi dari manusia lain, malah mesti saling tolong, saling tidak menghujat, saling akur, bahkan saling mengenal perbedaan..

Dari paragraf di atas, bisa dimaknakan, semua manusia pada dasarnya sama.. Nah terkait dengan pernyataan si Michaelangelo, semua manusia bisa dikatakan pada mulanya adalah sebuah bongkahan kayu yang sama.. Mereka yang bisa naik kelas menjadi bernilai tinggi atau berhasil, adalah manusia yang bisa “memahat” dirinya sendiri dengan membuang bagian2 yang nggak perlu (atau bisa merugikan).. Kalo hidup ini adalah perjalanan untuk terus “naik”, sangatlah wajar bila mengurangi beban menjadi salah satu keharusan yang mesti dipenuhi..

Pernyataan Michaelangelo tersebut juga bisa ditafsirkan: sebetulnya sebuah mahakarya sudah, dan selalu ada di dalam setiap diri kita masing2.. Karena Tuhan kan Maha Adil, mosok sih Tuhan hanya memberikan “speciality” pada sejumlah orang saja ??.. Keberhasilan adalah hak semua orang.. Dan untuk menjadi berhasil, sebagaimana sudah banyak contohnya, seseorang perlu untuk “memahat” bagian2 yang nggak perlu itu, seperti: membuang keyakinan2 yang absurd, ketakutan2 yang tak beralasan, rasa takut salah, mindset yang ambigu, rasa malas, ketidak disiplinan, dan hal2 negatif lain yang ada di dalam diri..

Memahat diri sendiri memang tidak mudah dan seringkali menyakitkan.. John Lennon dari Grup legendaris The Beatles sendiri pernah ngomong: “Genius is Pain..”  

Advertisements

6 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s