All posts filed under: entrepreneurship

untung sial..

Belum lama, ada mahasiswa yang tanya ke gw.. Ngaruh nggak sih, dulu mas itu pernah kuliah akuntansi dulu untuk jadi seorang entrepreneur desain grafis..?? Yah jujur aja, setelah lulus, ilmu akunting gw nggak kepake, bahkan melegalisir ijazahnya pun gw lakukan kurang lebih 8 tahun kemudian, dan hanya untuk melengkapi persyaratan masuk kuliah S2.. Sekarang ini, gw sepenuhnya lupa cara bikin laporan rugi laba, neraca, dan sejenisnya.. Kalo pertanyaannya ada pengaruh atau nggak, jawabannya adalah ada.. Namun bukan secara keilmuan, tapi secara pembentukan cara gw berpikir.. Itung2an adalah “makanan” otak kiri.. Mungkin gara2 itulah otak gw jadi nggak terlalu “kekanan-kananan”.. Ujungnya, gw jadi bisa mikir secara runut, sistematis, dan logis nyusun sebab akibat.. Gw pikir, hal2 begini cukup diperlukan untuk membangun sebuah perusahaan desain, dan bukan semata kemampuan artistik.. “Salah jurusan nih, apes dah 4 taon kebuang..”.. Dulu sempat juga berpikir begitu, tapi akhirnya gw revisi..  Seringkali Tuhan bekerja dengan cara yang nggak kita mengerti.. Terkadang yang kita anggap apes, eh pada akhirnya ternyata adalah keberuntungan.. Atau bisa sebaliknya.. Ada cerita, seorang pedagang sedang melakukan perjalanan …

great GRIT..

Dulu pernah liat kata “Grit” di sebuah iklan turnamen tennis luar negeri di TV berbayar.. Gw pikir, akhirnya ada juga yang berani pakai kata itu untuk sebuah iklan meski kata itu nggak terlalu populer.. Adalah alumni Harvard: Angela Duckworth yang berjasa mengangkat istilah Grit ini.. Awalnya Angela kepo akan pencapaian teman2 kuliahnya setelah pada lulus.. Beberapa sukses besar, sementara banyak juga yang nggak berubah.. Padahal menurutnya mereka rata2 punya motivasi, kecerdasan, & pendidikan yang sama.. Pengamatan Angela membuahkan hasil.. Ternyata teman2nya yang sukses besar adalah mereka yang nggak suka gonta ganti scope pekerjaan, alias punya satu tujuan hidup dan tetap setia pada tujuan tersebut.. Mereka yang kalah sukses, bukannya kalah cerdas, tapi suka gonta-ganti kerjaan, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, atau istilah gaulnya bajing loncat.. Sehingga mereka nggak pernah benar2 menekuni sebuah “set” keahlian dalam satu bidang.. Lantas Angela dan rekan2nya mengembangkan konsep Grit.. Menurutnya, Grit bukanlah sekedar bekerja keras dan ketekunan, tapi penetapan tujuan hidup jangka panjang, dan kesanggupan melakukan apapun sampai tujuan itu tercapai.. Termasuk “keikhlasan” untuk menerima ketidaknyamanan, letih …

terjajah oleh “atau”..

Jangan pernah berpikir kalo sudah menemukan jati diri atau passion diri, terus boleh senang dan santai begitu aja, terlebih sering menggunakan jurus andalah Son Goku, jurus “Berleha-leha”.. Hyaha.. Passion yang ada di dalam diri itu seperti bibit yang siap untuk ditanam, dirawat dan ditumbuhkan.. Dan sebagaimana tanaman, sangat perlu waktu untuk menumbuhkannya.. Pernah gw baca di sebuah buku, passion memang nggak akan bisa berubah ataupun hilang dari dalam diri seseorang.. Tapi sangat mungkin bisa memudar, apalagi kalo nggak pernah dikenali, nggak pernah digali, dan nggak pernah dicoba untuk dipahami.. Bibit passion itu dari Tuhan, dan Dia sudah berjanji, kalo disyukuri pasti akan dilipat gandakan.. Passion adalah hadiah unik tersembunyi yang sudah pasti berbeda2 pada setiap orang.. Belum lama ini pernah liat ada meme2 yang membandingkan prestasi anak bangsa ini yang mendunia.. Mengklaim kalo prestasi yang satu lebih baik dari yang lain, buat gw itu sangat lucu.. Kenapa juga mesti dibandingkan ?? Buat gw itu ibarat membandingkan dua bibit passion yang berbeda.. Lah mereka kan berprestasi di bidang yang berbeda.. Jadi seperti membandingkan melon dengan semangka.. …

cambuk ketidak nyamanan..

Lanjutan dari postingan sebelumnya yang ini: “di tengah karena menengah”… Dimana hasil studi dari Mihaly yang menyatakan bahwa, orang2 dari “kelas menengah” secara statistik lebih sedikit yang mencapai kesuksesan besar / prestasi kelas dunia.. Disebabkan karena motivasi yang “menengah” juga.. Jadi perlu trik2 tertentu untuk membuat motivasi kelas menengah menjadi tetap tinggi.. Ini cuman sotoy2nya gw aja sih yang gw himpun dari beberapa buku bacaan gw.. Pertama, Gunakan teori OMA (One Minute Awareness).. OMA ini semacam menit dimana kita demikian tersentuh, dan menjadi berani membuat komitmen2 diri yang nggak tanggung2 tingginya.. Siapapun bisa menemukan, atau “menjadikan” peristiwa biasa disekitarnya menjadi OMA.. Contoh: Melihat orang meminta2, keluarga / orang kurang mampu, buat sebagian orang mungkin biasa.. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi sebuah motivasi yang memicu diri untuk berperan dalam mengubah kehidupan mereka.. Dan kalo mau mengubah mereka, diri ini mesti sukses dulu toh ??.. Dengan membawa “hati” yang bersih dalam melihat keseharian sekitar, OMA bisa diciptakan, dan motivasi seseorang bisa terjaga untuk tetap tinggi.. Masih banyak sebetulnya contoh dari OMA, poin dari caranya sih: …

memahat diri..

Pernah suatu ketika, seseorang bertanya pada Michaelangelo, kok bisa sih bikin patung kayu mahakarya yang bagus sekali, gimana caranya ??.. Sang maestro pun menjawab: “Patung itu sudah ada di dalamnya koq, saya hanya membantu membuang bagian2 yang tidak perlu dari bongkahan kayu yang digunakan..” *Doeng..!!*.. Mantep banget nih jawaban dari si maestro.. Maknanya bisa dalem pulak.. Bisa dikaitkan dengan ilmu untuk mencapai keberhasilan.. Manusia pada awalnya ibarat sebuah bongkahan kayu yang belum jadi.. Yang entah kapan nantinya, bisa akan tetap menjadi sebuah bongkahan kayu, atau akan menjadi sebuah karya ukiran / patung / bentuk lain yang lebih bernilai harganya.. Loh, koq enak aja main ngomong manusia itu semua sama kayak bongkahan kayu ??.. Ada beberapa pernyataan orang2 besar yang gw tau memang menganggap pada hakikatnya, semua manusia itu sama.. Seperti Confucius misalnya, ia pernah menyatakan, semua manusia itu sama, yang membedakan antar mereka adalah kebiasaannya.. Paul G. Stolt sebagai salah satu penggagas ide Adversity Quotient (AQ) juga beranggapan pada dasarnya semua manusia sama, karena kita semua kurang lebihnya menghadapi masalah2 yang sama, dan yang membedakan …