All posts filed under: think sotoy

[media bal-abal]

Sempet ada berita yang menyatakan kalo 44% masyarakat kita belum bisa mendeteksi berita hoax.. Yah, sebuah akibat “wajar” dari masyarakat yang kurang doyan baca.. Lucu juga sih.. Masyarakatnya mayoritas beragama Islam, perintah pertama dari Tuhan-nya itu “Iqro’”, eh malah nggak dilakonin.. Itu perintah Tuhan yg duluan daripada perintah sholat dan lain2, kenapa malah sering dianggurin doang yak ??.. Nggak perlu mendefinisikan Iqro’ yang jauh2 atau dalem2 deh.. Artinya “Baca”, yang paling deket nyambungnya itu ya “buku” atau tulisan.. Ini sekalinya baca, eh bukannya baca buku, malah baca2 berita nggak jelas.. Nggak salah juga sih baca2 berita.. Cuman berita dari siapa dulu.. Ada yang menyarankan, sekarang itu paling aman kalo yang “dipegang” itu media2 mainstream aja.. Yang jelas, yang berbadan hukum, dan lain2 yang sampe2 bisa dikatakan nih media kredibel.. Gw pernah ketemu orang2 yang bilang gini: “Media mainstream itu udah dibayar sama pemerintah !! Ogah gw bacanya..”.. Ahahay, berita darimana pulak ini ??.. Pas gw tanya buktinya mana, eh mingkem seribu bahasa.. Keluar kata kuncian: “Pokoknya bla bla bla bla..”.. Pas hasil penghitungan suara pilpres …

merasa[lebih]..

Ada sebuah kisah sufi.. Suatu ketika, seorang pendosa memasuki mesjid.. Di dalamnya dia menemukan orang saleh yang sedang khusyuk berdo’a.. Tanpa diketahui oleh kedua orang itu, ada dua malaikat yang memperhatikan mereka, sebut saja malaikat A dan B.. Malaikat A memegang buku yang isinya catatan2 derajat manusia.. Malaikat B berkata: “Hei, dari dua orang itu, mana yang lebih tinggi derajatnya di sisi Tuhan menurut buku catatan yang kamu pegang ??”.. Kemudian malaikat A melihat buku catatannya, lantas berkata: “Tentu saja orang saleh yang lebih tinggi derajatnya..” Kemudian, si orang saleh melihat si pendosa.. Lantas ia berpikir: “Huh, buat apa sih orang pendosa seperti dia ini datang ke tempat suci ini, sungguh nggak pantas..” Si pendosa juga mikir.. Dalam pikirannya ia berkata: “Sungguh aku benar2 malu, orang soleh ini sudah banyak sekali melakukan amalan kebaikan, sedangkan aku, orang yang hina & banyak dosa.. Aku ingin bertobat, wahai Tuhanku..” Lantas, malaikat A yang buku catatan derajatnya masih terbuka menyadari satu hal pada bukunya.. Ia berkata pada malaikat B: “Eh, tunggu, ada yang berubah..!! Sekarang di buku catatan …

optimi[S]ed..

Tanggal 3 April kemaren, Alhamdulillah warga komplek gw meresmikan selesainya renovasi mesjid komplek.. Mesjid yang usianya sekitar 34 tahun itu akhirnyaa “dirobohkan” dan dibangun kembali dengan desain baru.. Mesjid yang buat gw cukup bersejarah, karena gw dan teman2 sepantaran sekomplek sempat menjadi pengurus remaja mesjid tersebut.. Ada satu peristiwa yang nggak bisa gw lupa di dalam mesjid itu, saat gw berusia di awal 20an.. Dulu, biasanya kelar sholat Isya berjamaah, kadang kami anak2 remaja mesjidnya nih, suka ngobrol2 santai2 gitu.. Nah, ntah gimana pada waktu itu, anak2 pernah jadi saling kepo, mengenai harapan mereka masing2 sebelum mencapai umur 30 tahun.. Satu persatu kami bergiliran ngomong harapannya apa.. Dan saat giliran gw tiba, gw ngomong gini: “Sebelum umur 30 tahun, gw kepengen punya perusahaan sendiri..” Berkat izin Alloh dan kerja keras, nangis2 jatuh bangun berdarah2, serta terus belajar tentunya, saat usia gw 27 tahun, sebuah perusahaan desain grafis berbadan hukum pun terbentuk.. Dengan “bergabungnya” salah satu teman dari remaja mesjid yang sama, klien sekelas Toyota pun Alloh datangkan.. So, pelajarannya, perbanyaklah mengucapkan kata2 yang sifatnya optimisme …

dikiranya gitu, padahal..

Negeri ini banyak bencana karena pemimpinnya dzalim, dan blablablabla, maka dari itu Alloh marah.. Cukup familiar dengan kalimat begini ??.. Atau mengklaim orang lain masuk surga atau neraka atas dasar hal2 yang sifatnya atributif.. Seakan ada orang2 yang “kenal” banget sama Tuhan, sampai2 mereka tahu gimana Tuhan mesti bersikap.. Menurut Prof. Quraish Shihab, QS.112:4, “Tidak ada yang serupa dengan-Nya”, maknanya adalah: apapun yang terlintas di dalam benak menyangkut zat Alloh, baik yang bersumber dari kenyataan yang telah dilihat atau diketahui, maupun hasil imajinasi, maka Alloh tidaklah demikian..” Beliau juga menyatakan di dalam buku “Islam yang saya Pahami”, bahwa memang ada larangan berpikir tentang zat Alloh, karena berada di luar kemampuan daya pikir manusia.. Untuk mengenal Tuhan, manusia dapat merasa puas dengan informasi jiwa & intuisinya.. Banyak “pemikir” jatuh tersungkur, ketika menuntut kehadiran-Nya melebihi kehadiran bukti2 wujud-Nya.. Bukti2 seperti kehadiran alam raya dan keteraturannya.. So, nggak salah kalo kita merasa aneh ngeliat orang2 yang merasa “kenal dekat” sama Tuhan.. Sampe2 bisa menilai keimanan orang lain, atau mengajak-Nya “bermain” politik.. Kalo jagoannya kalah, nanti nggak ada lagi …

arang benci..

Pengen cepet pilpres berlalu, supaya fitnah / hoax nggak bertebaran lagi ??.. Kayaknya, setelah pilpres sih hal tersebut bisa masih ada deh.. Karena, sulit untuk bisa menyenangkan semua orang.. Jadi sangat mungkin mereka yang kurang senang dengan hasil pilpres bakal tetap melakukan “penjelek2an” atau hal2 sejenis.. Ditambah lagi adanya “Dunning Kruger Effect”, dimana orang2 yang kurang paham dalam suatu bidang, malah bisa merasa jago ampun2an di situ.. Padahal prestasinya sendiri, bisa jadi ancur2an.. Hehe.. Pendek kata, menurut teori ini, mereka yang kurang kompeten, bisa mengalami ilusi superioritas.. Sudah banyak kan contohnya, dimana orang pengen terlihat “Waw” di medsos, eh yang terjadi malah memamerkan kebodohannya sendiri, dan jadi viral juga.. Sejumlah filsuf menyarankan supaya seseorang hendaknya tau batas2 dari pikiran dan pengetahuannya sendiri.. Mereka yang nggak pandai membatasi diri akan seringkali membuat kesalahan2 yang mencolok.. Kalo kata Buya Hamka, memahami diri ini nggak tau atau belum tau dalam hal yang tidak atau belum kita ketahui, adalah kebenaran pertama yang kita jumpai.. Pengakuan kita akan kebenaran pertama itu adalah pintu gerbang untuk mendapatkan kebenaran2 selanjutnya.. Sayangnya, banyak …