All posts filed under: think sotoy

tele(skop)ologi..

UTS selesai, maka koreksian pun menumpuk.. Apalagi di semester sekarang, gw “dipaksa” untuk ngajar 8 kelas.. Mabok nggak tuh..?!? (@_@!).. Rekor baru dalam sejarah gw mengajar.. Sebelum2nya, biasanya paling mentok satu semester ngajar 4 kelas saja.. Wakakak.. Tapi, menilai tugas karya2 mahasiswa itu buat gw bisa terasa menyenangkan.. Seringkali gw terhibur dengan tugas2 yang secara visual mantap jiwah.. Berasa gitu ada yang bener2 niat & penuh semangat untuk punya skill desain tinggi.. Terlihat kalo briefnya dibaca & dipahami bener2, dan apapun yg gw bekali di tiap pertemuan kelas benar2 “digunakan”.. Ada juga yang males2.. Bikin tugas ala kadarnya, sekedar selesai aja.. Mens sana in corpore sano.. Brief-nya ke sana, ngerjainnya ke sono.. Diminta semangka, ngasinya melon.. Sama2 buah sih, tapi kan bukan itu yang diminta.. Ada kecenderungan, mereka yang tujuannya emang beneran pengen bisa desain tuh, beda dengan yang kuliah dengan tujuan sekedar “menggugurkan kewajiban”.. Memang beda hasilnya antara yang “bertujuan” dan yang nggak.. Teori Adler bener juga: perilaku seseorang di masa sekarangnya ditentukan oleh tujuan2nya, dan bukan masa lalunya.. Mereka yang nggak punya tujuan …

kehendak langit..

Baca2 buku “The Book of Zen”, eh jadi nemu kisah yang oke.. Pada zaman dulu di Cina, ada seorang jenderal bersama pasukannya.. Apesnya, si Jendral harus menghadapi tentara musuh yang jumlahnya hampir sepuluh kali lipat dari pasukan yang dimilikinya.. Saat menuju medan perang, dia dan pasukannya mampir dulu di sebuah kuil.. Di hadapan pasukan, sang Jendral berdo’a dengan khusyu’ di kuil tersebut.. Ia memohon bimbingan “langit” atas situasi yang akan dihadapinya.. Lantas, selesai berdo’a, ia berkata pada seluruh pasukannya; “Sekarang perhatikan !! Saya akan melempar sebuah uang koin ke langit.. Saat uang ini jatuh ke tanah, kalau yang menghadap ke atas adalah gambar kepala, maka kita akan menang.. Dan kalau yang menghadap ke atas ekor, kita akan kalah..” Sang Jenderal melemparkan uang tersebut ke langit sambil berteriak: “Wahai pasukanku.. Hidup kita ada di tangan nasib !!”.. Koin pun kemudian jatuh kembali.. Hasilnya ??.. Ternyata yang “keluar” adalah gambar kepala..!! Seluruh pasukan, baik yang dekat dengan tempat jatuhnya koin itu, ataupun yang jauh, kemudian bersorak.. “Kepala !!.. Kita akan menang !! Ayo habisi musuh tanpa ampun …

tipusulap..

Ada seorang pesulap, namanya Alex Stone.. Show pertamanya dilakukan di acara perayaan ulang tahun ke-enamnya sendiri.. Dan hasilnya “berantakan”.. Namun karena terus belajar, ia pun berhasil jadi pesulap saat dewasa.. Nggak hanya jadi pesulap, kuliahnya juga oke banget.. Berhasil jebol Harvard, dan gelar master Fisikanya didapat dari Colombia University.. Tulisan2nya juga sempat dimuat di media sekelas: New York Times, Harper’s, dan Wall Street Journal.. Stone menulis sebuah buku, dan terbit di tahun 2012: “Fooling Houdini: Magicians, Mentalists, Math Geeks, and the Hidden Powers of the Mind..“.. Berkat bekgron kuliahnya, di buku ini dia bisa mengulas sulap dari perspektif psikologi, neuroscience, fisika, sejarah, dan bahkan “crime”.. Seumur hidup, profesi utama dia adalah pesulap.. Kita tau lah seorang pesulap, kerjaannya menciptakan ilusi, atau kalo kasarnya ya “membohongi” penonton.. Menariknya, berdasarkan pengalaman dia tampil selama ini, ternyata penonton anak2 lebih sulit dibohongi ketimbang penonton orang dewasa.. Saat sebuah sulap nggak berjalan lancar, tentu saja si pesulap jadi malu.. Dalam rentang 10 tahun, Stone mengaku pernah “dibuat malu” mungkin hanya 2 kali oleh orang dewasa yang bukan pesulap.. Namun …

tarian kontribusi..

Pertama kali gw “berkenalan” dengan psikologi-nya Adler itu saat nggak sengaja sekilas liat dorama jepang di tipi.. Pas makan siang, bini’ gw kebetulan lagi nonton itu.. Dan pas betul, saat itu adegannya tokoh utama lagi ngikutin perkuliahan di kelas.. Si dosen dari depan kelas menyatakan salah satu dari konsep teori Adler: “Sikap / attitude seseorang di masa sekarang, ditentukan oleh masa depannya..” Teori2 Adler banyak bertentangan dengan teori Sigmund Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Bertolak belakang dengan Adler, Freud-ian menganggap: sikap2 atau attitude seseorang di saat sekarangnya / masa kininya, ditentukan oleh masa lalunya.. Akhirnya Adler “keluar” dari paham Freud dan mengembangkan teori2nya sendiri yang kemudian dikenal sebagai psikologi individual.. Karena penasaran, gw mencoba menggali lebih dalam tentang psikologinya Adler melalui sebuah buku.. Ternyata pemikiran yang ditawarkan Adler benar2 gokil.. Banyak konsep2 yang layak direnungkan, bahkan “menyentil-nyentil” apa2 yang udah gw pegang selama ini.. Saat baca buku itu, beberapa kali bertanya sendiri: “Ini serius nih beneran begini ?? Tapi kok cocok ya ??..” Hehe.. Salah satu konsep …

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …