All posts filed under: think sotoy

mantiq asyik..

Pernah dengar istilah ilmu mantiq..?? Setelah baca2 lagi, ternyata ilmu ini prinsip dasarnya diletakkan Aristoteles.. Beberapa abad kemudian dikembangkan lagi oleh filsuf muslim seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Ghazali, Ibnu Rushd, dan ulama2 lain.. Sederhananya, ilmu mantiq merupakan “alat pengatur” nalar yang kalau dipatuhi akan mampu menjaga kita dari kesalahan berpikir.. Ilmu ini juga mendorong kita untuk berpikir secara sistematis dan mendalam.. Salah satu fungsi dari ilmu mantiq adalah “membawa” kita dari apa2 yang sudah kita ketahui menuju pengetahuan yang belum kita ketahui.. Konsep menjadikan apa2 yang sudah kita ketahui sebagai “modal” awal untuk meng-analisa informasi ini mantep juga loh.. Karena kebanyakan dari kita sepertinya memang malas berpikir.. Malas membandingkan berita2, dan bahkan juga malas meng-crosscek kembali informasi baru dengan apa2 yang sudah kita ketahui.. Contoh: dulu sempet rame status Dilan dibandingkan dengan Al-Fatih.. Coba cek yang kita ketahui tentang keduanya.. Jelas2 si Dilan adalah tokoh fiktif, sedangkan Al-Fatih “orang beneran” yang sudah tercatat sejarah sebagai penakluk Konstatinopel.. Ini Ibarat membandingkan imajinasi dengan kenyataan, seperti membandingkan tempe dengan makanan alien.. Hehe.. Perbandingan yang kocak lah, …

tsundoku..

Sabtu kemaren ke Indonesia International Book Fair di JCC.. Ada tempat namanya Zona Kalap.. Gimana nggak bikin kalap, disitu buku2nya di-diskon bisa sampe 90%..!! Ngeliat ramenya tuh zona, plus antrean kasir yang dipenuhi manusia2 yang menenteng keranjang2 penuh buku, darah gue pun mendidih.. Pengen ikutan berjibaku dan “berdarah2” di sana.. Gyahaha.. Udah lama gw beranggapan, kalo beli buku itu merupakan sebuah investasi.. Jadi, entah itu dompet lagi lapang, ataupun lagi sempit, selalu ada “ruang” di dompet untuk beli buku.. Budget cicilan, belanja bulanan, bayar SPP dan listrik, selalu minggir dan memberi jalan bagi duit yang akan lewat untuk beli2 buku.. Hehe.. Namun, membeli buku dan bersedia menyempatkan waktu untuk membacanya adalah dua persoalan yang berbeda.. Gw termasuk orang yang punya masalah, atau “gap” antara jumlah buku yang dibeli, dengan jumlah waktu membacanya.. Pendek kata, gw ngerasa, “antrian” buku yang mesti gw baca jadi terus bertambah panjang.. Untuk hal ini, di dalam bahasa jepang ada isitlah “Tsundoku”.. Menurut Prof. Andrew Gerstle dari University of London, kata “doku” bisa digunakan sebagai kata kerja yang artinya “membaca”.. Dan …

lampu musik..

Kemaren sempat rame seorang walikota mengusulkan mengatasi kemacetan dengan memasang musik di lampu merah.. Diharapkan pengendara bermotor akan terhibur dan stressnya berkurang.. Hmm.. Ini gimanaaa ya ??.. Tapi sebelum berkomen ria lebih jauh, coba kita liat dulu faktanya.. Apakah benar musik bisa menurunkan stress ??.. Kalo terhibur kan sudah cukup jelas.. Nggak ada konser dangdut hingga K-pop yang sepi pengunjung meski tiketnya bisa setara dengan harga martabak untuk makan pagi siang malem, sampe sebulan.. Oke, cukup martabaknya.. Ternyata musik memang bisa loh menurunkan stress.. Levitin dan Mona Lisa, PhD, telah melakukan sejumlah studi tentang ini, dan dimuat dalam “Trends in Cognitive Sciences”, di bulan April, 2013.. Mereka menemukan, selain mengurangi stress, mendengarkan musik juga bisa lebih efektif daripada obat2an yg diberikan dokter untuk mengurangi kecemasan pasien sebelum di-operasi.. Levitin (2007) dalam bukunya: “This is Your Brain on Music” menuliskan: Musik dapat menurunkan tingkat pengeluaran hormon kortisol yang menjadi penyebab stress, bahkan bisa meningkatkan efektivitas sistem kekebalan tubuh.. Masih menurut Levitin, musik dengan tempo lambat cenderung menenangkan.. Dan musik dengan tempo cepat, atau yang “kacau” dan …

[pakansi..]

Pernah liat kan di medsos ?? Ada orang nyinyir2, uring2an sendiri, atau marah2 agresif nggak jelas, lantas diberi “hantaman” kalimat: “Kurang piknik lu..”.. Kalo kita meng-kategorikan piknik adalah liburan, kalimat ini ada benernya.. Mereka yang jarang liburan ternyata memang lebih rentan menjadi stress.. Brigid Schulte, penulis “Overwhelmed: Work, Love & Play When No One has the Time”, juga Director of the Better Life Lab pernah melakukan riset tentang hal ini.. Hasilnya; mereka yang nggak mengambil waktu untuk “OFF”, alias liburan, akan lebih gampang sakit, kurang produktif, stress, dan lebih merasa cemas serta tertekan (depressed), yang pada akhirnya akan berpengaruh pada pekerjaan mereka.. Dulu saat suhu politik lagi panas2nya, sering banget kalimat “kurang piknik” ini gw liat di medsos.. Mungkin memang banyak yang stress sendiri nggak jelas.. Agak aneh aja sih, kok bisa ya segitu stressnya dan tertekannya karena “acara” pemililhan presiden.. Padahal, siapapun presidennya, keseharian kita pada dasarnya tetap sama.. Yah, mungkin jawabannya ya itu: kurang piknik.. Schulte juga menyatakan: Produktivitas, kreativitas, pemunculan ide2 baru, bukanlah milik mereka yang bekerja dengan jam2 yang gila.. Namun …

[baiklah..]

Lagi ngoreksi tugas2 mahasiswa, eh dapet “note” dari seorang mahasiswi yang diselipkan di dalam tugasnya.. Dia cuma mo bilang kalo dunia ini masih butuh lebih banyak lagi orang2 baik.. Sebagai penutupnya dia tulis: terima aja kenyataan, kalo gw itu orang baik.. Hyaaaa… Belom tau aja dia..!! Gwakakak.. Yah, harapan “kenyataan” gw jadi orang baik itu gw aminkan saja.. Karena bisa saja gw nggak sebaik yang dia kira.. Buktinya, bini’ gw masih sering ngomelin gw, dikarenakan sejumlah hal.. Anak gw juga gitu, suka ngomel: “Aah, papap kerja melulu..”.. Dan mungkin masih banyak lagi.. Tentang “baik” ini, gw pernah menyampaikan kepada mereka di kelas.. “Baik” itu bagusnya bergandengan dengan “benar”.. Kalo nggak, kadang bisa berabe.. Contoh: kalo semua mahasiswa satu kelas gw kasi nilai A, pasti gw dibilang baik sama mereka.. Tapi kan itu nggak bener.. Sebar2 fitnah, provokasi, atau berita2 yang tidak sesuai fakta, ada kan yang menganggapnya baik..? Karena itu bentuk “support” atau bahkan “perjuangan (?)” bagi kelompok mereka sendiri.. Tapi apakah itu bisa dibilang benar ??.. Padahal di kitab sucinya sendiri dilarang.. Kemarin aja, …