All posts filed under: think sotoy

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …

jago salah juga..

Darryl F. Zanuck, Vice President dari 20th Century Fox (1946) pernah bekata: “Televisi nggak mungkin bisa bertahan di pasar lebih dari enam bulan.. Karena orang bakal bosan dan capek memandangi ‘kotak’ setiap malam..”.. Begitu katanya saat awal2 televisi akan dilempar ke pasaran.. Ternyata, TV cukup laku, dan di tahun 1950an menjadi medium primer untuk mempengaruhi opini publik.. Apalagi ditahun 90an ke atas.. Bisa dibilang, di Indo sini pun masyarakatnya pada punya TV.. Sama sekali nggak terbayang dulunya pernah diprediksi oleh seorang “pakar hiburan”, TV akan gagal di pasaran dalam waktu 6 bulan saja.. Ken Olsen, President & founder of Digital Equipment Corp, tahun 1977 juga pernah bilang: “Nggak ada alasan bagi seseorang untuk memiliki komputer di rumahnya..”.. Dalam waktu yang nggak begitu jauh, mungkin di era 80an, bisa dibilang komputer “mewabah”, dan sebagian besar rumah punya komputer.. Termasuk di Indonesia sepertinya.. Padahal Olsen adalah salah satu “pakar” teknologi di zamannya.. Tau Decca Records ??.. Sebuah perusahaan rekaman lumayan ternama yang me-reject The Beatles.. Nggak tanggung2, para petinggi Decca menyatakan “Grup gitar kayak mereka gitu mah …

hafal & paham..

Mendikbud sempat bilang; kalo dunia tidak butuh penghafal.. Lantas mereka yang berpaham bahwa menghafal itu penting ‘naik darah’, menghujati Nadiem.. Karena menurut mereka, bangsa atau dunia ini perlu penghafal Qur’an.. Padahal, Mendikbud berbicara dalam konteks kurikulum pendidikan nasional.. Ia sama sekali nggak bilang ataupun menyinggung apapun tentang penghafal ayat Qur’an ataupun hadist.. Dia sama sekali nggak melarang kalo ada yang mau menghafal itu semua.. Bisa saja beliau sebenarnya senang kalo ada banyak hafiz atau hafizah di negeri ini.. Namun, saat itu kan beliau lagi di atas ‘panggung’ pendidikan nasional, dan bukan di atas ‘mimbar’.. Prasangka duluan, tanpa ingin tau lebih dulu makna intinya, ya ambyarr.. Poin pentingnya: gagal melihat konteks dalam mencerna informasi.. Konteks merupakan acuan bagi seseorang untuk memahami makna sebenarnya dari sebuah pesan/informasi.. Contoh lain, ‘menyetarakan’ ucapan selamat natal dengan kalimat syahadat.. Menyetarakannya hanya karena sama2 kalimat.. Tapi konteksnya nggak dilihat.. Jadinya aneh.. Ucapan selamat hari natal ya setaranya sama ucapan selamat hari ibu, hari ultah, hari Idul Fitri, dan sejenisnya.. Kalimat Syahadat adalah kalimat ‘kesaksian’.. Begimana logikanya bisa disamakan dengan ucapan selamat …

batasan..

Inget Takeru Kobayashi ?? Jawara 6 kali lomba makan hotdog internasional di postingan sebelumnya ??.. Rekor-dunia sebelum dia ikutan lomba adalah 25 hotdog dalam waktu 12 menit.. Saat Kobayashi pertama kali ikutan lomba, dia berhasil melipat-gandakan-nya menjadi 50 hotdog.. Levitt & Dubner, penulis buku “Think Like a Freak” (2016), pernah melakukan “wawancara” langsung dengan Kobayashi.. Menurut mereka, pelajaran lain yang bisa diambil dari keberhasilan Kobayashi berkaitan dengan batas kemampuan seseorang.. Siapa yang bisa mengetahui batas2 seseorang ??.. Tentu saja harusnya dirinya sendiri.. Namun seringkali penetapan batas kemampuan seseorang dipengaruhi oleh faktor2 dari luar.. Nah, Kobayashi berhasil meng-counter faktor luar.. Dia menolak untuk mengakui kalo manusia “hanya” bisa makan 25 hotdog dalam waktu 12 menit.. Alasannya sederhana; karena sejak pertama kali lomba internasional ini diadakan, para pesertanya belum tau aja cara makan hotdog yang lebih mudah.. Kalo udah pada tau, pasti sejak lama rekor 25 hotdog itu terpatahkan.. Kobayashi memandang rekor dunia tersebut adalah penghalang buatan.. Jadi dia berlatih dan kemudian ikutan lomba tanpa berpikir bahwa batas atasnya adalah 25 hotdog.. Saat lomba berlangsung, dia nggak …

gara2 pertanyaan..

Tau Takeru Kobayashi ??.. Kalo nggak concern sama lomba2 makan, nama ini bakalan asing di telinga.. Kobayashi sempat “booming” di event tahunan lomba makan HotDog Internasional yang diadakan di Coney Island, New York.. Aturan lombanya sederhana; adu cepet banyak2an makan hotdog dalam waktu 12 menit.. Saat bel akhir berbunyi, hotdog yang masih dikunyah akan tetap dihitung asalkan bisa ditelan.. Kalau muntah, baru deh di-diskualifikasi.. Boleh tambah saus (tapi ini pasti buang2 waktu), minum boleh apa saja dalam jumlah yang nggak terbatas.. Di tahun 2001, saat pertama kali Kobayashi (23 tahun) ikutan tuh lomba, rekor dunia yang tercatat adalah 25 setengah hotdog dalam waktu 12 menit.. Badan Kobayashi saat itu cenderung kurus.. Namun di akhir lomba berlangsung, coba tebak berapa hotdog yang berhasil dia telan ??.. Si Kobayashi berhasil makan 50 hotdog dalam waktu 12 menit !!.. Dia berhasil melipat-gandakan rekor dunia.. Sejak saat itu, hingga 6 tahun berturut2, dia jadi jawara di ajang internasional tersebut, dan menaikkan rekornya menjadi 53 hotdog.. Pencapaian Kobayashi bukan tanpa perjuangan.. Jauh sebelum ikut lomba ia banyak melakukan analisa dan …