All posts tagged: belajar

beyond fixedness..

Di Olimpiade Tokyo kemaren, muncul beberapa nama saintis yang berhasil meraih medali.. Yang cukup mencolok itu Anne Kiesenhofer dari Austria.. Seorang Ph.D matematika terapan, peneliti sekaligus dosen.. Tapi siapa sangka, wanita 30 tahun ini “galak” saat ngegenjot sepeda.. Saking galaknya, medali emas di nomor Road Race disabetnya.. Ini WOW banget !!.. Karena ya beda jauh kan ‘medan perang’nya.. Kalo saintis kebanyakan ngabisin waktu di laboratorium, dan kalo olahraga ya di lapangan.. Yang satu lebih ke otak, satunya lebih ke otot.. Muncul juga beberapa nama sainstis lain, namun mereka gagal meraih medali.. Tetep aje sih, ilmuwan bisa berlaga di Olimpiade, itu luar biasa.. Jadi kepikiran gimana mereka itu “memandang” dirinya sendiri.. Umumnya kan, seseorang memandang atau “melabelkan” dirinya berdasarkan latar belakang pendidikan (gelar), yang kemudian bisa “berfungsi” di dalam pekerjaan (jabatan / profesi).. Atau banyak juga yang melabelkan dirinya berdasarkan apa yang paling banyak dilakukan dalam hidupnya, atau pekerjaannya selama ini, walaupun tanpa pendidikan formal.. Kan ada pengusaha, atau trader tanpa ‘sekolah’.. Tapi karena ‘kesehariannya’ di situ, ya jadi cocok deh.. Ada istilah ‘Functional Fixedness’ dalam …

pasti ketidak-pastian..

Saat sharing bersama calon2 sarjana via zoom kemaren, ada yang bertanya kurang lebih kayak gini: “Kak, salah nggak sih kalo saya punya mindset: maunya yang pasti2 aja, soalnya saya nggak suka sama yang nggak pasti..?” Euuh, gimana yaa.. Gw membuka jawaban dengan kalimat setengah becanda: “Hmm, bentar bentaaaar, gw coba inget2 dulu yaa, kira2 apa di dalam hidup ini hal2 yang pasti ??..” Hehe.. Wajar sih, pertanyaan seperti itu keluar dari mereka.. Terlebih bentar lagi mereka akan ‘bedol kampus’.. Berpindah dari dunia kampus ke dunia kerja, dimana kebanyakan permasalahan2 yang muncul nantinya nggak ada di buku teori.. Semakin banyak pula pilihan2 setelah keluar dari kampus: mau lanjut kuliah, mo kerja, atau mo coba bisnis sendiri / bareng temen2 ?? Dan manapun yang akan dipilih, jelas akan membuka ketidak-pastian yang baru.. Bagaimana mungkin seseorang bisa menjalani hidup tanpa berkompromi dengan ketidakpastian ??.. Seorang mahsiswa sekalipun akan berhadapan dengan ketidakpastian akan jurusan yang dipilihnya, bahkan akan teman2nya, baik dalam soal mood ataupun pilihan mereka masing2.. Seorang karyawan tidak bisa memastikan dirinya nggak akan di-PHK.. Seorang pengusaha atau …

KKS02: Kreativitas itu KEWAJIBAN atau KEBUTUHAN

Video ini adalah sebuah pertanyaan dari seorang mahasiswa gw.. Dia mempertanyakan, emang segitu pentingnya ya kreativitas itu ??.. Kayaknya koq berkesan urgent banget gitu ??.. Sampe2 malah ada mata kuliahnya sendiri juga ??.. Kepengen tahu jawabannya ??.. Segera simak video ini.. Dan ingat, masing2 orang bisa punya opini sendiri.. Perbedaan pendapat adalah hal yang sangat wajar..

maju berharap..

Gyaarrghh, akhirnya sempet nulis lagi.. Stop nulis sebentar sebetulnya bukan nggak sengaja sih, tapi memang disengaja.. Hehehe.. Berminggu2 secara sadar hanya jadi silent reader.. Ya gitu deh.. Mungkin karena hawa introvert gw lagi bener2 keluar juga.. So, meskipun nggak ngepost apapun di medsos berminggu2, ya nggak berasa apa2.. Sudahlah introvert, terus kalo kata sohib dari zaman kuliah sarjana dulu, gw ini tipikal orang yang kalo udah punya mau, bakalan akan dikejar mati2an.. Ya mungkin gitu kali ya kalo dari pandangan “orang luar”.. Memang kemarin2 itu banyak nyoba hal2 baru.. Abis gimana ya, udah jelas berbulan2 ke depan akan tetap lebih banyak di rumah.. Mengajar pun belum boleh di kampus, masih harus dari rumah.. Musnahlah itu kepenatan bermacet2 ria saat pulang dan pergi mengajar.. Tenaga fisik yang biasanya udah disiapkan untuk beberapa jam berdiri “nyerocos” presentasi materi di depan kelas pun jadi nggak kepake.. So, gw akan punya lebih banyak simpanan tenaga dan waktu.. Tinggal gimana menggunakan hal tersebut seefisien mungkin.. Jadi gw pikir, kalo pengen nyoba hal2 baru yang khususnya masih bisa dilakukan di rumah …

tadabbur kontekstual..

Bolehkah seorang manusia biasa, dengan latar belakang rata2, dengan profesi2 biasa pada umumnya, mencoba memaknai Qur’an dengan pengetahuan & akalnya sendiri ??.. Tanpa “background” pesantren, ustad, atau apapun yang terkait ke-religiusan ??.. Yang dicari bukanlah tafsir yang ukurannya benar atau tidak, namun untuk bisa mengambil manfaat dari Qur’an (tadabbur), supaya “tune-in” dengan problem2 hidup kekinian bagi dirinya sendiri.. Hasil pikirannya pun tidak dijadikan kebenaran final, tidak juga dia paksakan kepada siapa pun.. Mutlak hanya untuk kebenaran subjektif dia sendiri atas firman Tuhan untuk menjalani hidup.. Bolehkah seseorang “mencabut” konteks dasar dari firman Tuhan yang turun di masa lalu, lalu memaknainya dalam konteks kekinian ??.. Jadi nggak terlalu memperhatikan pembenaran tafsir historisnya, bukan soal kebenaran fakta sejarah, melainkan melahirkan manfaat dari Kitab suci setelah dikaitkan dengan keilmuan seseorang.. Pertanyaan2 ini cukup mengusik pikiran gw saat membaca sebuah buku yang menantang untuk itu.. Buku yang membangun seseorang menjadi pembelajar: “Manusia yang terus mencari kebenaran, tanpa pernah sekalipun merasa paling benar terhadap penafsirannya sendiri..” Contoh, dalam surat yang menceritakan beberapa pemuda yang terkurung di dalam gua selama ratusan …