All posts filed under: spiritual

bagaimana mengapa..

Belum lama ini liat sebuah postingan gambar di fesbuk.. Gambarnya ada scientist lagi menggunakan mikroskop, lantas dikelilingi oleh pemuka2 agama dari sejumlah agama.. Kondisi mereka lagi di ujung tebing, seakan terpojok dan mau “dimakan” sama virus COVID-19 besar.. Salah satu pemuka agama ada yang berkata pada scientist: “Please, hurry up..”.. Suka sama gambar ini, menyentil secara halus, bahwa yang diandalkan untuk menyelesaikan pandemi ini adalah para scientist, atau paling nggak, mereka yang punya bidang keilmuan kedokteran / kesehatan.. Para Nakes itu, bukankah mereka juga termasuk para pejuang ilmu di bidang tertentu ??.. Sementara sebagian pemuka2 agama sini, bersikap tanpa “science”.. Seperti menyeru untuk jangan takuti virusnya, karena sama2 makhluk Tuhan.. Ada juga yang (haddeeehh, tarik napas dulu..), ada ustad yang bilang kalo virus corona masuk sini karena seorang “Imam Jumbo” nggak pulang2 ke Indonesia.. (@_@!).. Pernah juga ada ustad yang bilang, kalo dunia harus berterima kasih pada Islam, karena Thawaf mengelilingi Ka’bah 24 jam.. Kalo Thawaf berhenti, maka bumi ini pun akan berhenti berputar.. Sungguh tidak masuk di akal.. Faktanya sekarang ini saat Thawaf terhenti, …

versi mana..

Di Qur’an disebutkan, ada orang2 yang mereka pikir berbuat baik, padahal merugi.. Dikiranya berbuat baik sebaik2nya, padahal sebenarnya sia2 belaka (QS.18:103-104).. Dikiranya sudah berbuat amal saleh, padahal amal saleh yang Tuhan maksudkan itu berbeda dengan apa yang mereka pikirkan (QS:35:37).. Mereka berbuat baik tanpa berpedoman pada yang sudah “dipatenkan” oleh Tuhan.. Bisa jadi, mereka mendefinisikan perbuatan baik itu dengan versi pikiran mereka sendiri, ATAU, versi golongan mereka sendiri.. Padahal Qur’an itu mengandung hikmah, dan merupakan petunjuk bagi orang2 yang mau berbuat kebaikan (QS.31:2-3).. Dalam urusan agama, ternyata berbuat baik itu nggak bisa sembarangan, harus versi yang dari Tuhan.. Lah, versi Tuhan itu yang gimana ya ??.. Ini gw share apa yang bisa gw tangkep dari orang yang gw anggap sebagai guru.. Perbuatan baiknya bisa dilakukan di mana saja (QS.2:148).. Jadi, mau di Madura kek, di Arab kek, ataupun di negeri yang “katanya” dibilang toghut atau kafir oleh sebagian orang pun, perbuatan baik kita akan tetep “terdata”.. Perbuatan baik itu implementasinya bisa apa saja, yang penting merupakan bentuk kebajikan (QS.3:115).. Kalo liat KBBI, kebajikan artinya: sesuatu …

penyidik hati..

Ada seseorang terpilih menjadi pejabat, dia berniat bahwa bekerjanya adalah untuk ibadah.. Lantas pas masa kerjanya, ketauan melakukan tipu2 “uang setan”.. Dia terbukti melakukan hal yang merugikan negara.. Kemanakah perginya niat bekerja sebagai ibadah itu ??.. Siapa yang bisa tau niat seseorang ??.. Niat bisa dengan mudah ditutupi dengan sikap & pakaian yang santun, senyum mengembang, ataupun kata2 semanis madu.. Dari perspektif tasawuf, mengkonversi sebuah niat apapun menjadi sebuah ibadah merupakan hal yang sulit.. Pernah seorang sufi ngomong gini pada murid2nya: “Jika kau melakukan ibadah dengan motivasi agar dilihat manusia, itu namanya Syirik.. Sebaliknya, jika kau meninggalkan sebuah ibadah juga karena manusia, maka itulah yang disebut Riya..” Bingung kan dengernya ??.. Para murid sufi tersebut pun kebingunan dengan pernyataan gurunya.. Lantas Sufi itu lanjut menjelaskan: “Kalau Jum’atan pergi ke Mesjidnya di awal waktu, supaya bisa berada di saf depan dengan motivasi agar nampak alim dan mendapat pahala sebesar onta, itu namanya syirik.. Sebaliknya, kalau sengaja mengakhirkan datang ke Masjid untuk salat Jumat agar berada di saf belakang dan supaya tidak tampak alim di mata manusia …

sufi+humor..

Kenapa ya ??.. Kalo buku2 Sufi, seringkali “gandengan”-nya itu humor.. Gw seringkali melihat tulisan ataupun buku bertuliskan “Humor Sufi”.. Tapi jarang yang bertuliskan “humor ustadz” atau “humor habib”.. Apa karena sense of humor mereka nggak sebagus para sufi ??.. Buat gw pribadi, cara dakwah sufi melalui humor termasuk unik.. Ketimbang mempresentasikan dogma atau buah pikir dimana seseorang harus mempercayai sejumlah hal dan kemudian menolak yang lain, para sufi seakan lebih kepada mem-“provokasi” pengalaman dalam diri seseorang.. Pernah denger kisah ini ??.. Suatu malam, si fulan kehilangan kunci kamarnya, dan sedang mencarinya di jalanan.. Teman2nya pun membantu mencarinya.. Namun hasilnya tetap nihil.. Salah seorang temannya bertanya: “Kira2 terakhir ingat adanya kunci itu dimana ya ?? Supaya tempat nyari kita bisa jadi lebih fokus nih..” Betapa kaget teman2nya saat mendengar jawaban si Fulan yang menyatakan bahwa sebenarnya ia kehilangan kunci tersebut di dalam rumahnya.. “Lah, terus kenapa carinya di luar ??”.. Fulan menjawab: “Sebab, di jalanan ini terang sekali, sedangkan di dalam rumahku itu gelap gulita..” Terkesan konyol sekali bukan ??.. Tapi coba kita tela’ah lebih jauh.. …

ulama keren..

Menurut tafsir Prof. Quraish Shihab, Allah melarang Ghibah (menyebut keburukan orang lain di belakangnya, meskipun itu benar) [QS.49:12], tidak hanya untuk saudara seiman.. Larangan ghibah juga berlaku bagi saudara dalam kemanusiaan, termasuk dalam kewarga-negaraan.. Supaya apa ??.. Ya supaya setiap orang sebagai warga negara, atau sebagai penduduk dunia ini bisa merasa aman dan nyaman.. Terhindar dari “kasak-kusuk” nggak jelas yang bisa menimbulkan prasangka buruk serta kebencian antar sesama.. Gw sangat menyayangkan tafsiran ulama top model begini nggak didengarkan.. Yang didengerin malah yang provokatif, yang menjelek2an, dan nggak menumbuhkan nasionalisme dan cinta kepada Ibu Pertiwi.. Hah ?? Apa pulak itu ??.. Mosok negara dianggap Ibu ?!?.. Ajaran dari mana ???.. Itu kan dari bahasa Sansekerta, punya agama lain..!! Memang nggak ada kata Ibu Pertiwi di agama Islam.. Tapi coba lihat bagaimana ulama sekaliber Prof. Quraish Shihab memaknakan kata tersebut.. Beliau memaknakan: bahwa kita manusia ini berasal dari tanah, jadi tanah adalah Ibu kita.. Tanah yang kita pijak sejak lahir ini telah memberi kita banyak hal, mulai dari udara, air, cuaca, tumbuh2an, hingga yang sifatnya non-material: seperti …