All posts filed under: spiritual

sufi+humor..

Kenapa ya ??.. Kalo buku2 Sufi, seringkali “gandengan”-nya itu humor.. Gw seringkali melihat tulisan ataupun buku bertuliskan “Humor Sufi”.. Tapi jarang yang bertuliskan “humor ustadz” atau “humor habib”.. Apa karena sense of humor mereka nggak sebagus para sufi ??.. Buat gw pribadi, cara2 sufi ber-humor termasuk unik.. Ketimbang mempresentasikan dogma atau buah pikir dimana seseorang harus mempercayai sejumlah hal dan kemudian menolak yang lain, para sufi seakan lebih kepada mem-“provokasi” pengalaman dalam diri seseorang.. Pernah denger kisah ini ??.. Suatu malam, si fulan kehilangan kunci kamarnya, dan sedang mencarinya di jalanan.. Teman2nya pun membantu mencarinya.. Namun hasilnya tetap nihil.. Salah seorang temannya bertanya: “Kira2 terakhir ingat adanya kunci itu dimana ya ?? Supaya tempat nyari kita bisa jadi lebih fokus nih..” Betapa kaget teman2nya saat mendengar jawaban si Fulan yang menyatakan bahwa sebenarnya ia kehilangan kunci tersebut di dalam rumahnya.. “Lah, terus kenapa carinya di luar ??”.. Fulan menjawab: “Sebab, di jalanan ini terang sekali, sedangkan di dalam rumahku itu gelap gulita..” Terkesan konyol sekali bukan ??.. Tapi coba kita tela’ah lebih jauh.. Bukankah banyak …

ulama keren..

Menurut tafsir Prof. Quraish Shihab, Allah melarang Ghibah (menyebut keburukan orang lain di belakangnya, meskipun itu benar) [QS.49:12], tidak hanya untuk saudara seiman.. Larangan ghibah juga berlaku bagi saudara dalam kemanusiaan, termasuk dalam kewarga-negaraan.. Supaya apa ??.. Ya supaya setiap orang sebagai warga negara, atau sebagai penduduk dunia ini bisa merasa aman dan nyaman.. Terhindar dari “kasak-kusuk” nggak jelas yang bisa menimbulkan prasangka buruk serta kebencian antar sesama.. Gw sangat menyayangkan tafsiran ulama top model begini nggak didengarkan.. Yang didengerin malah yang provokatif, yang menjelek2an, dan nggak menumbuhkan nasionalisme dan cinta kepada Ibu Pertiwi.. Hah ?? Apa pulak itu ??.. Mosok negara dianggap Ibu ?!?.. Ajaran dari mana ???.. Itu kan dari bahasa Sansekerta, punya agama lain..!! Memang nggak ada kata Ibu Pertiwi di agama Islam.. Tapi coba lihat bagaimana ulama sekaliber Prof. Quraish Shihab memaknakan kata tersebut.. Beliau memaknakan: bahwa kita manusia ini berasal dari tanah, jadi tanah adalah Ibu kita.. Tanah yang kita pijak sejak lahir ini telah memberi kita banyak hal, mulai dari udara, air, cuaca, tumbuh2an, hingga yang sifatnya non-material: seperti …

budaya ya ya..

Di Madura, sekitar semingguan setelah Idul Fitri, ada namanya “Tellasan Topa”.. Tellasan artinya lebaran, dan Topa’ artinya ketupat. Tellasan Topa’ biasanya dilakukan di hari kedelapan di bulan Syawal.. Kalo dari sejarahnya, ini dikarenakan adanya sunnah berpuasa 6 hari di bulan Syawal.. Padahal kan puasa Syawal harinya nggak harus berurutan langsung gitu ya.. Tapi karena banyak juga yang melakukannya langsung 6 hari berturut2 setelah Idul Fitri, maka ini seperti “perayaan” bagi mereka yang berpuasa Syawal.. Tradisi tahunan ini sudah lama dilakukan di sana.. Hidangan utamanya ya sesuai namanya: ketupat.. Bentuk ketupatnya pun bisa dibikin beragam desain, nggak cuman kotak.. Bisa bentuk mesjid, ikan, atau burung.. Menu “gandengan”nya bisa bermacam2, bisa soto atau lainnya.. Pada hari itu juga, umumnya warga akan saling mengantarkan ketupat masakannya ke rumah2 tetangga terdekat.. Mau sodara atau bukan, pokoke setiap orang yang hidup bareng di sekitar situ bisa dapet masakan.. Bagi penafsiran masyarakat sana, Tellasan Topa’ mencerminkan nilai kebersamaan yang tinggi, kekerabatan, gotong royong, dan kekeluargaan.. Ini hanya salah satu contoh gimana Islam “bertemu” dan tumbuh bersama dengan budaya lokal.. Ada juga …

[baiklah..]

Lagi ngoreksi tugas2 mahasiswa, eh dapet “note” dari seorang mahasiswi yang diselipkan di dalam tugasnya.. Dia cuma mo bilang kalo dunia ini masih butuh lebih banyak lagi orang2 baik.. Sebagai penutupnya dia tulis: terima aja kenyataan, kalo gw itu orang baik.. Hyaaaa… Belom tau aja dia..!! Gwakakak.. Yah, harapan “kenyataan” gw jadi orang baik itu gw aminkan saja.. Karena bisa saja gw nggak sebaik yang dia kira.. Buktinya, bini’ gw masih sering ngomelin gw, dikarenakan sejumlah hal.. Anak gw juga gitu, suka ngomel: “Aah, papap kerja melulu..”.. Dan mungkin masih banyak lagi.. Tentang “baik” ini, gw pernah menyampaikan kepada mereka di kelas.. “Baik” itu bagusnya bergandengan dengan “benar”.. Kalo nggak, kadang bisa berabe.. Contoh: kalo semua mahasiswa satu kelas gw kasi nilai A, pasti gw dibilang baik sama mereka.. Tapi kan itu nggak bener.. Sebar2 fitnah, provokasi, atau berita2 yang tidak sesuai fakta, ada kan yang menganggapnya baik..? Karena itu bentuk “support” atau bahkan “perjuangan (?)” bagi kelompok mereka sendiri.. Tapi apakah itu bisa dibilang benar ??.. Padahal di kitab sucinya sendiri dilarang.. Kemarin aja, …

fanatik kelompok..

Dulu pernah ada temen gw yang ngomong gini: “Gie, lu kagak kepengen ikutan masuk partai apa gitu ??” Euh, dari dulu gw memang nggak pernah ngefans sama satu partai pun, meski itu partai yang bawa2 nama Islam.. Dulu banget pernah sih ikut2an kampanye partai, tapi itu iseng doang.. Cuma pengen tau aja rasanya rame2 kampanye tuh kayak gimana.. Pendek kata, sampe saat ini gw belum ada minat ber-partai, entah lah ke depannya nanti.. Rasanya lebih enak sendirian begini, nggak ter-afiliasi dengan kelompok apapun.. Beropini pun jadi lebih bebas, nggak ter-framing oleh visi misi kelompok / partai tertentu.. Karena sepertinya ada juga yang “tunduk” banget sama nilai2 partai / kelompoknya.. Sampe2 yang diluar kelompoknya nggak dilihat, dan nggak dicerna “baik2″nya.. Bahkan beranggapan yang diluar kelompok mereka itu pasti ngaco.. Buat gw nggak seru aja, kalo apa2 diatur kelompok, opini mesti sesuai value dari kelompok, nurut manut buta sama pimpinan2 kelompok tanpa membanding2kan dengan yang lain.. Yang muncul dari kelompok selalu dianggap benar, meski menurut “orang normal” adalah salah.. Bikin hoax karena perintah kelompok, baca & percaya …