me|write, spiritual
Leave a Comment

sufi+humor..

Kenapa ya ??.. Kalo buku2 Sufi, seringkali “gandengan”-nya itu humor.. Gw seringkali melihat tulisan ataupun buku bertuliskan “Humor Sufi”.. Tapi jarang yang bertuliskan “humor ustadz” atau “humor habib”.. Apa karena sense of humor mereka nggak sebagus para sufi ??..

Buat gw pribadi, cara2 sufi ber-humor termasuk unik.. Ketimbang mempresentasikan dogma atau buah pikir dimana seseorang harus mempercayai sejumlah hal dan kemudian menolak yang lain, para sufi seakan lebih kepada mem-“provokasi” pengalaman dalam diri seseorang..

Pernah denger kisah ini ??.. Suatu malam, si fulan kehilangan kunci kamarnya, dan sedang mencarinya di jalanan.. Teman2nya pun membantu mencarinya.. Namun hasilnya tetap nihil.. Salah seorang temannya bertanya: “Kira2 terakhir ingat adanya kunci itu dimana ya ?? Supaya tempat nyari kita bisa jadi lebih fokus nih..”

Betapa kaget teman2nya saat mendengar jawaban si Fulan yang menyatakan bahwa sebenarnya ia kehilangan kunci tersebut di dalam rumahnya.. “Lah, terus kenapa carinya di luar ??”.. Fulan menjawab: “Sebab, di jalanan ini terang sekali, sedangkan di dalam rumahku itu gelap gulita..”

Terkesan konyol sekali bukan ??.. Tapi coba kita tela’ah lebih jauh.. Bukankah banyak manusia melakukan hal yang sama ??.. Kunci adalah hal2 dinilai penting dalam hidup.. Saat kita kehilangan kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan, dan kestabilan pikiran dalam menghadapi pekerjaan, relasi, ataupun penghasilan, kita seringkali mencarinya di luar diri kita..

Karena kurang intensif-nya kita menyalakan lilin, obor, atau lampu (baca: ilmu / hikmah) di dalam diri kita sendiri, maka “rumah” hati dan pikiran kita menjadi gelap.. Lantas mencarinya di luar diri yang terlihat “terang benderang” meskipun semu..

Perubahan sejati dari kebahagiaan, ketenangan, kenyamanan, ataupun nasib, sebenarnya merupakan “otoritas” dari apa2 yang ada di dalam diri, dan bukan dari luar.. Kisah sufi di atas nyambung dengan firman Tuhan: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..” (QS.13:11)..

Para sufi beranggapan: perjalanan pengembangan spiritual diri seseorang, tidak hanya bisa dicapai melalui do’a2 dan ritual2.. Namun perjalanan tersebut juga bisa “ditemani” oleh candaan dan humor.. Menurut mereka; “knowledge comes before rituals”.. Bagi orang2 yang sudah tahu dan paham apa2 di belakang ritualnya, maka pelaksanaannya akan lebih “meresap” dan “fungsional” atau berdampak keluar..

Martin (2007) dalam “The Psychology of Humor”, menuliskan: sense of humor seseorang berfungsi untuk memperoleh perspektif yang lebih baik tentang diri sendiri.. Mereka yang punya sense humor bagus, dapat mengembangkan pemahaman diri serta memandang dirinya secara lebih realistis..

Bercerita, bercanda, dan perenungan.. Dalam pengembangan spiritual, jelas gw lebih suka cara2 sufi ketimbang ustad atau habib yang nyinyir2, mencela sana-sini dan marah2..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s