All posts tagged: akal

baik buruk di akal..

Suatu ketika, seorang guru Zen bersama muridnya sedang dalam perjalanan pulang ke kuil mereka.. Rutenya bakalan melewati sebuah sungai deras, tanpa jembatan.. Kalo pingin menyeberang, cuman ada seutas tali yang diikatkan ke pohon, dari sisi sungai yang satu, ke pohon di sisi seberangnya.. Jadi harus nyemplung, nahan arus sambil pegangan tali, terus pelan2 deh nyeberangnya.. Saat sampai di sungai tersebut, ternyata ada gadis berbadan mungil.. Wajahnya bingung, kelihatan pengen menyeberang, namun ragu melihat derasnya air sungai dan hanya ada seutas tali.. Guru Zen bertanya pada si gadis, dan benar saja, dia memang ingin menyeberang, namun takut terbawa arus karena mungil.. Lantas guru Zen menawarkan pertolongan dengan menggendong si gadis sambil menyeberang sungai.. Sementara si murid (yang sudah cukup banyak bawa banyak barang di punggungnya) kaget.. “Begimana mungkin guru mau menggendong gadis itu ?!?.. Kan menyentuh wanita itu dilarang.. Begitu pikirnya..” Lantas mereka pun menyeberang.. Selama penyeberangan, pikiran si murid pun tetap “bergelut” soal kontradiksi perbuatan gurunya.. Sampai di seberang, gadis itu pun turun dari gendongan, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi ke arah yang lain.. Perjalanan …

Kemerdekaan Berfikir dalam Islam – Buya Hamka.

Beberapa paragraf dari Buku Buya Hamka “Lembaga Hidup” (1962 – cetakan keenam) rasa2nya harus gw abadikan di blog gw deh.. hehe.. Soalnya kelihatan cocok untuk kondisi sekarang.. Agak panjang memang, tapi akan ketahuan, seseorang dengan LEVEL “BUYA” itu memang beda.. Buah pikirnya bisa melesat jauh ke masa depan.. Kutipan langsung ini ada di bab “Qur’an Untuk Zaman Modern”, sub bab Kemerdekaan Berfikir: “Bila cahaya Islam memancar, yang lebih dahulu kena sorotnya ialah AKAL.. Sorot dari alam ghaib yaitu wahyu Tuhan, agama yang dibawa oleh Nabi, dan sorot yang tersedia pada diri manusia, ialah akal.. Maka BERGABUNGLAH kedua cahaya itu jadi satu, datang dan hinggap cahaya petunjuk Ilahi itu ke atas akal, sehingga berdempetlah cahaya ke atas cahaya, yang oleh Al Qur’an dikatakan “Cahaya di atas cahaya” (QS. 24:35)..” “Adapula yang menyuruh orang putus asa memikirkan hikmat agama.. Disuruhnya orang MEMBERHENTIKAN perjalanan akal.. Lebih daripada itu, mereka hendak MENGUASAI pula perjalanan pembagian dosa dan pahala.. Mereka DAKWAKAN bahwa MEREKALAH wakil Allah di dunia.. I’tikad kepercayaan terhadap Tuhan dan segala yang didapat panca indera ini, tidak boleh …

mikir jadi ada..

Suka aneh sama mereka yang share tanpa berpikir.. Yang mereka lakukan itu hanya menambah “keberadaan” si penulis hoax.. Yah, kalo secara tersirat, si tukang “share” fitnah atau hoax ini bisa dibilang “nggak ada”.. Toh kalo pun ada, nggak jarang kan langsung kita “unfriend”, terus jadi nggak ada deh.. Hehe.. Teringat kalimat “Corgito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada, begitu kata Descartes, filsuf ternama dari Perancis.. Descartes, sebagaimana filsuf lainnya, ingin mencari kebenaran.. Menurutnya, meragukan semua hal (termasuk meragukan diri sendiri) bisa menjadi cara untuk menemukan kebenaran, dan bisa membersihkan dirinya dari prasangka2 yang menuntunnya ke jalan yang salah.. Descartes juga beranggapan, bisa saja berpikir tidak membawanya menuju kebenaran, tapi malah ke kesalahan.. Mungkin saja ada kekuatan besar lain di luar dirinya yang mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.. Tapi meskipun begitu, ia TETAPLAH BERPIKIR, inilah satu2nya yang sudah jelas.. Maka kalau dilepas dari aspek kesalahan atau kebenaran, BERPIKIR sendiri adalah sebuah bentuk keberadaan diri, lantas singkatnya, sampailah ia pada kesimpulan “Corgito ergo sum”.. Jadi nyambung sama paragraf awal postingan.. Kalo para tukang share nggak …

Buya Hamka T.O.P.B.G.T..

Di postingan2 gw, sering gw ngutip dari pernyataan Buya Hamka.. Gw seneng banget sama gimana cara beliau mengurai suatu hal, dan didasarkan pada cara beliau beragama..  Yang cukup luar biasanya lagi, buat gw Buya Hamka itu “manusia masa depan”, alias manusia yang lahir mendahului zamannya.. Pandangannya nggak cuman ngeliat masa lalu dan masa kini, namun juga masa depan.. Banyak hal yang beliau tulis, jauh di saat gw belum lahir, eh beneran masih bisa dilihat & cocok pada perkara2 sekarang… Postingan gw ini cuman mau nge-share kutipan dari bukunya Buya Hamka, yang ditulis di awal tahun 60an.. Judul bukunya “Akhlaqul Karimah”, penerbitnya Pustaka Panjimas, Jakarta.. Yang sangat gw syukuri, beruntung bokap nyokap gw dulu juga penggemar Buya Hamka, jadi pas gw kuliah dulu, gw “kenalan” sama buku2 jadoel ini.. Meskipun gw pikir proses “perkenalan” gw dengan bukunya Hamka agak2 aneh, hehe.. Berkaitan dengan cinta di masa kuliah.. Halah.. Itu lain cerita lah.. Mungkin ini bisa jadi bahan renungan buat gw pribadi, dan orang2 yang ngerasa aneh dengan “terbawa arusnya” orang2 awam dengan lautan politik yang memang …

kritis berubah…

Dulu pernah pas gw sholat taraweh di mesjid komplek gw, ustad yang diundang utk ngisi ceramah berhalangan hadir.. Kemudian bapak2 di komplek gw yg ada di barisan paling depan saling mempersilahkan untuk jadi pengganti mengisi ceramah.. Kemudian salah satu bapak nyeletuk: “Hayo siapa aja lah, wong ceramahnya normatif koq..” Di beberapa kamus normatif itu bisa diartikan baku, standar.. Malah kalo di google terkait dengan kata “basic” atau dasar.. Kalo boleh jujur dan terus terang, gw lebih sering merasa “bosan” dengerin ceramah sholat taraweh atau sholat jum’at yang kesannya koq topiknya hampir2 sama / standar terus dan terkesan kurang berkembang secara signifikan.. Mungkin ini di mesjid komplek gw doang kali yaa.. Atau mungkin gwnya juga yang salah, karena punya rasa kepo yang kelewatan, hehehe.. Atau gwnya juga udah kadung menginginkan yang “lebih”.. Lagian kan nggak salah juga normatif untuk mengingatkan ??.. Mana tau ada juga yang belum tau… Tapi gw pikir, ini bisa ada benang merahnya dengan lambatnya perkembangan atau perubahan umat sekarang.. Dari postingan blog gw yang kemaren, ada yang ngeshare di FB, kemudian ada …