All posts tagged: akal

batasan..

Inget Takeru Kobayashi ?? Jawara 6 kali lomba makan hotdog internasional di postingan sebelumnya ??.. Rekor-dunia sebelum dia ikutan lomba adalah 25 hotdog dalam waktu 12 menit.. Saat Kobayashi pertama kali ikutan lomba, dia berhasil melipat-gandakan-nya menjadi 50 hotdog.. Levitt & Dubner, penulis buku “Think Like a Freak” (2016), pernah melakukan “wawancara” langsung dengan Kobayashi.. Menurut mereka, pelajaran lain yang bisa diambil dari keberhasilan Kobayashi berkaitan dengan batas kemampuan seseorang.. Siapa yang bisa mengetahui batas2 seseorang ??.. Tentu saja harusnya dirinya sendiri.. Namun seringkali penetapan batas kemampuan seseorang dipengaruhi oleh faktor2 dari luar.. Nah, Kobayashi berhasil meng-counter faktor luar.. Dia menolak untuk mengakui kalo manusia “hanya” bisa makan 25 hotdog dalam waktu 12 menit.. Alasannya sederhana; karena sejak pertama kali lomba internasional ini diadakan, para pesertanya belum tau aja cara makan hotdog yang lebih mudah.. Kalo udah pada tau, pasti sejak lama rekor 25 hotdog itu terpatahkan.. Kobayashi memandang rekor dunia tersebut adalah penghalang buatan.. Jadi dia berlatih dan kemudian ikutan lomba tanpa berpikir bahwa batas atasnya adalah 25 hotdog.. Saat lomba berlangsung, dia nggak …

virus ide..

Pernah nonton film karya Christopher Nolan: “Inception” ?? Film science fiction tentang konsep penanaman ide ke alam bawah sadar seseorang melalui mimpi yang “dalam”.. Dan si “korban” nantinya diharapkan bisa memiliki pikiran atau bersikap sesuai dengan maunya si “penanam” ide.. Di deket2 akhir film, tokoh utamanya: Cobb (Leonardo DiCaprio) menyatakan: sebuah ide itu seperti virus.. Ia bisa berkembang pesat di dalam pikiran seseorang.. Masalah ide tersebut destruktif atau konstruktif, itu adalah perkara yang berbeda.. Cobb juga menyatakan; sebagaimana virus pada umumnya, tentu butuh syarat2 tertentu supaya bisa berkembang dengan cepat.. Menurut Cobb, syarat paling utamanya: si ide harus sesederhana mungkin, supaya gampang untuk dipahami.. Dan syarat kedua yang nggak kalah penting; pikiran si orangnya harus menerimanya sebagai sesuatu yang logis.. Kalau kedua syarat itu terpenuhi, si ide bisa berkembang menjadi apa saja, bahkan mungkin menjadi realitas subjektif bagi orang tersebut.. Okay, itu dari film loh ya.. Tapi kok rasa2nya beneran bisa kejadian di dunia nyata ya.. Para “guru2” radikal sangat menyederhanakan ajaran agama, melihat hanya dari satu sudut pandang, ataupun menggunakan pemikiran2 yang sudah “usang”.. …

disiplinin-diri

Kemaren2 sempet ngomong gini di depan kelas semester 5: “Karya tugas2 lu gw akui banyak yang bagus, tapi kalo soal disipllin diri, angkatan lu termasuk yang payah..” Gimana nggak payah, masuk jam 8, jam 8.30 kelas belum juga penuh.. Apalagi pas ada deadline tugas, makin ngaret dah.. Bahkan ada sejumlah mahasiswa yang “lari dari kenyataan”, alias nggak masuk kelas gara2 tugasnya belum-kelar.. Gwakakak.. Mungkin karena sebagian dari mereka “sadar” kalo mereka emang beneran parah, ada mahasiswa di kelas bilang gini: “Mas, kasi materi tentang disiplin dong mas..”.. Gw memang suka nyelipin materi2 attitude selain materi tentang mata kuliah desain yang diajar.. Karena gw pikir, kalo beneran kepengen jadi desainer grafis yang oke, mereka harus punya attitude yang baik sebagai “perangkat” pendukungnya.. Karena seringkali desainer grafis di dalam pekerjaannya itu menjual karya desain “satu set” dengan attitude desainernya.. Kalo untuk disiplin diri, Menurut G.R Terry (1993), dalam “Prinsip2 Manajemen”, disiplin merupakan suatu kemampuan yang muncul karena adanya kesadaran individu itu sendiri, ataupun karena adanya perintah atau tuntutan dari luar.. Wilhelm Hoffman di tahun 2013 pernah melakukan …

diri asing..

Dari doyan baca komik, terus saat kuliah, kesukaan baca gw “meluas” ke buku2 yang kesannya lebih berat.. Mungkin karena dipicu umur, pertanyaan2 tentang “diri” dan hidup ini jadi semakin banyak.. Jadi rasanya butuh role model orang2 besar, atau orang2 yang udah “jadi”, untuk lebih tau gimana itu “hidup” dari perspektif mereka.. Sejumlah orang yang pernah “tenar” di sini, buku2nya ya turut sempet gw lahap.. Kayak Arie Ginanjar, Amien Rais, Mario Teguh, Felix Siaw, Aa’ Gym, Yusuf Mansur, Buya Hamka, Quraish Shihab, dll.. Terus kalo yang orang “non-sini”nya, dulu gw suka banget sama Confucius, buku2 Kebijakan Cina yang dikomikin, Budha, Zen, dll.. Ada yang sampai saat ini tetep gw kagumi, karena konsistensi tulisan dan perbuatan mereka.. Dan ada juga yang tidak.. Berkat medsos, tindak-tanduk mereka jadi mudah sekali dipantau.. Yang lari ke politik apalagi, seringkali tau2 jadi “auto-aneh”.. Hehe.. Tetep sih, buat gw nggak ada orang yang bisa bener 100%, dan salah 100%.. Ada tulisan2 mereka yang gw anggap “ini cocok buat gw”, dan ada juga yang “nggak cocok”.. Pakai ilmunya Bruce Lee: “Absorb what is …

kulit simbol..

Ada cerita sufi jadul: terdapatlah dua orang dalam perjalanan sehari penuh.. Saat waktu sholat tiba, mereka pun sholat.. Keduanya bergantian membaca do’a usai sholat.. Jadi, pas waktu Dhuhur, si A membaca do’a usai sholat, kemudian saat Ashar, si B yang membaca do’a usai sholat.. Kelar si B baca do’a, si A berkomentar: “Masbro, tata bahasa do’amu salah, terus pe-lafalanmu juga terdengar kurang fasih..”.. Si B cemberut dikit, dan diem aja.. Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui hutan yang sepi.. Di dalam hutan, tiba2 seekor singa muncul dari semak2 di hadapan mereka.. Singa mengaum keras hingga mereka berdua pun ketakutan.. Kemudian si A segera berdo’a, memohon dengan kefasihan bahasa dan pelafalan yang mumpuni supaya singa itu segera pergi.. Tapiii, tuh singa nggak juga pergi.. Melihat si A gagal, si B pun mencoba berdo’a juga.. Dan ternyataa, usai si B berdo’a, si singa langsung pergi.. Si A yang memiliki kefasihan dan pelafalan oke melihat itu dengan penuh tanda tanya.. “Koq bisa sih do’aku gagal, dan do’amu berhasil ??..” Si B menjawab: “Karena engkau lebih mementingkan bagusnya pengucapan daripada makna …