All posts tagged: akal

teroris radikal..

Sempat ada pejabat yang bilang, kalo radikal itu penyebabnya adalah kesenjangan sosial.. Gw sih nggak setuju.. Tuhan ngasi rejeki dengan Adil, siapa berupaya banyak, dia yang dapat banyak.. Seseorang nggak akan mendapatkan selain apa2 yang telah dia usahakan [QS.53:39].. “Menuduh” kesenjangan sosial sebagai penyebab radikal, ibarat orang yang gagal memanajemeni rasa iri di dalam dirinya, lantas seenaknya menyalahkan sesuatu di luar dirinya.. Wong dirinya sendiri yang memang kurang, kenapa jadi berang ke banyak orang ??.. Banyak kok di sekitar gw orang2 yang hidupnya kurang beruntung, namun jauh dari ke-radikal-an, yang notabene bisa menjadi bibit dari terorisme.. Apa para teroris itu punya kelainan mental ?? Paul Gill, PhD, dan Emily Corner, dalam “There and Back Again: The Study of Mental Disorder and Terrorist Involvement,” selama 10 tahun lebih meneliti hubungan antara kelainan mental dan keterlibatan teroris.. Kesimpulannnya, secara mental mereka “baik2 saja”, nggak ada yang aneh, dan cenderung sama dengan orang2 normal.. Jadi, nggak ada satu kelainan mental tertentu yang dianggap bisa menjadi cikal bakal seseorang menjadi teroris.. Untuk radikalisme, gw lebih suka “menyalahkan” gagalnya akal …

akalnya penipu..

Ada buku judulnya: “The Honest Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone–Especially Ourselves..”.. Ditulis oleh Dr. Dan Ariely (2013), dan jadi New York Times Bestseller.. Dr. Ariely melalui studinya menyatakan bahwa menipu adalah hal yang tidak rasional, dan tidak ada hubungannya dengan berpikir untung rugi, berpikir kemungkinan ketangkep, serta berpikir tentang besarnya hukuman.. Menurutnya; berbohong bukanlah pertarungan internal antara pro dan kontra.. Namun itu adalah perjuangan internal tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri.. Gw suka dengan pernyataan Dr. Ariely ini.. Menipu orang lain itu bisa bersifat nggak logis, mungkin gara2 hawa nafsunya naek ke otak, kemudian menelan kewarasan atau logika orang itu bulat2.. Contohnya yang lagi rame: Gembong umroh travel penipu yang nominalnya sampe triliunan itu.. Mosok mikir gini aja susah sih: “Nyolong atau nipu itu nggak baik dan bikin dosa..”.. Padahal kan dari SD udah diajarin.. Naek dikit deh mikirnya: “Ini duit konsumen yang mau gw berangkatin umroh, ada ribuan orang, kalo mereka pada nggak berangkat, cepet atau lambat gw pasti ketahuan pake duit mereka untuk kepentingan2 lain..”.. MOSOK MIKIR SESEDERHANA gitu …

cerdas beragama..

Dari dulu gw suka bingung soal spiritual intelligence.. Bener2 bisa diukur kah ??.. Sejauh ini, definisi2 yang gw baca selalu masih “lebar”, kurang spesifik, dan hampir selalu dari sudut pandang agama yang gw anut.. Apa ada korelasinya, kecerdasan yang sifatnya “general” atau umum, dengan agama yang kita anut ?? Apakah iya, mereka yang ikut rohis, ikut partai agama, berjenggot, bersorban, para ustad atau guru2 agama, bisa dipastikan memiliki spiritual intelligence yang tinggi ??.. Sepertinya sih nggak juga ya, karena pemahaman tentang keilmuan keagamaan berbeda dengan spiritual intelligence.. Belakangan ini baca2 hal itu lagi, akhirnya nemu definisi spiritual intelligence yang buat gw cukup “ringan” dan bisa sangat aplikatif.. Menurut Emmons (2000), dalam “Is Spirituality an Intelligence? Motivation, Cognition, and The Psychology of Ultimate Concern”, spiritual intelligence adalah penggunaan informasi2 spiritual untuk memfasilitasi masalah sehari2 dan pencapaian tujuan.. Sungguh pengertian yang nggak berkesan “ngambang” dan berbeda dari apa yang sejauh ini gw baca.. Yang umumnya selalu mengarah kepada keimanan, pencarian, dan pengenalan Tuhan.. Menurut Emmons juga, mereka yang ber-kecerdasaan spiritual, mempunyai kemampuan untuk melampaui hal2 yang bersifat fisik …

baik buruk di akal..

Suatu ketika, seorang guru Zen bersama muridnya sedang dalam perjalanan pulang ke kuil mereka.. Rutenya bakalan melewati sebuah sungai deras, tanpa jembatan.. Kalo pingin menyeberang, cuman ada seutas tali yang diikatkan ke pohon, dari sisi sungai yang satu, ke pohon di sisi seberangnya.. Jadi harus nyemplung, nahan arus sambil pegangan tali, terus pelan2 deh nyeberangnya.. Saat sampai di sungai tersebut, ternyata ada gadis berbadan mungil.. Wajahnya bingung, kelihatan pengen menyeberang, namun ragu melihat derasnya air sungai dan hanya ada seutas tali.. Guru Zen bertanya pada si gadis, dan benar saja, dia memang ingin menyeberang, namun takut terbawa arus karena mungil.. Lantas guru Zen menawarkan pertolongan dengan menggendong si gadis sambil menyeberang sungai.. Sementara si murid (yang sudah cukup banyak bawa banyak barang di punggungnya) kaget.. “Begimana mungkin guru mau menggendong gadis itu ?!?.. Kan menyentuh wanita itu dilarang.. Begitu pikirnya..” Lantas mereka pun menyeberang.. Selama penyeberangan, pikiran si murid pun tetap “bergelut” soal kontradiksi perbuatan gurunya.. Sampai di seberang, gadis itu pun turun dari gendongan, mengucapkan terima kasih, kemudian pergi ke arah yang lain.. Perjalanan …

Kemerdekaan Berfikir dalam Islam – Buya Hamka.

Beberapa paragraf dari Buku Buya Hamka “Lembaga Hidup” (1962 – cetakan keenam) rasa2nya harus gw abadikan di blog gw deh.. hehe.. Soalnya kelihatan cocok untuk kondisi sekarang.. Agak panjang memang, tapi akan ketahuan, seseorang dengan LEVEL “BUYA” itu memang beda.. Buah pikirnya bisa melesat jauh ke masa depan.. Kutipan langsung ini ada di bab “Qur’an Untuk Zaman Modern”, sub bab Kemerdekaan Berfikir: “Bila cahaya Islam memancar, yang lebih dahulu kena sorotnya ialah AKAL.. Sorot dari alam ghaib yaitu wahyu Tuhan, agama yang dibawa oleh Nabi, dan sorot yang tersedia pada diri manusia, ialah akal.. Maka BERGABUNGLAH kedua cahaya itu jadi satu, datang dan hinggap cahaya petunjuk Ilahi itu ke atas akal, sehingga berdempetlah cahaya ke atas cahaya, yang oleh Al Qur’an dikatakan “Cahaya di atas cahaya” (QS. 24:35)..” “Adapula yang menyuruh orang putus asa memikirkan hikmat agama.. Disuruhnya orang MEMBERHENTIKAN perjalanan akal.. Lebih daripada itu, mereka hendak MENGUASAI pula perjalanan pembagian dosa dan pahala.. Mereka DAKWAKAN bahwa MEREKALAH wakil Allah di dunia.. I’tikad kepercayaan terhadap Tuhan dan segala yang didapat panca indera ini, tidak boleh …