All posts tagged: akal

ter-ikat akal..

Sebenarnya apa sih maksud dari kata “orang yang berakal” di dalam Qur’an ??.. Apakah mereka yang berpendidikan tinggi ?? Tapi ada yang berpendidikan tinggi, doyannya “makan” hoax dan nyebar hoax, bahkan melakukan korupsi, berjama’ah pulak.. Padahal berpikir korupsi = mencuri = dosa, adalah hal yang sangat sederhana.. Mosok udah sekolah tinggi mikir gitu aja nggak nyampe’ ??.. Apakah mereka berakal ??.. Jelaasss, wong udah S1, S2, bahkan udah sampe S9+ (Hyahaha, ini hape apa orang ?!?.).. Tapi kenapa perilakunya seperti itu ??.. Sejauh ini, jawaban paling memuaskan gw dapet dari Prof. Quraish Shihab di buku “Logika Agama”.. Beliau membahas dari kata “akal” itu sendiri, yang berasal dari bahasa Arab: aqala, ya’qilu, aqlan.. Pakar berpendapat, makna dari ketiganya berkisar pada “menghalangi”, dan dari sana lahir kata “iqal” yang artinya “tali”.. Kenapa “menghalangi” dan “tali” ??.. Orang2 arab biasanya menggunakan kain yang menutup kepala mereka, dan supaya nggak mudah jatuh atau terbang tertiup angin, dipakaikanlah atau dililitkan tali hitam (iqal) untuk mengikat kain tersebut.. Jadi maksudnya, tali itu untuk “menghalangi” si kain kepala supaya nggak “kabur”, sebagaimana …

rid murid..

Kadang gw suka iseng buka2 WA grup istri.. Kepo aja, apa sih yang biasa diobrolin sama “Mahmud Abas” (Mamah Muda Anak Baru Satu).. Euh, tapi bini gw anaknya udah dua yak.. Yah, Mahmud Udda dah.. haha.. Tumben2an, kemaren itu, gw liat obrolannya agak beda.. Ada emak2 yang bahas pengajian.. Dia bilang, kalo ikutan pengajian tuh bagusnya gurunya jangan cuma satu, kalo bisa malah beda2 tempat juga.. Biar ilmu & wawasannya tambah luas.. Dia juga bilang, salah satu guru ngajinya malah nganjurin untuk ngaji2 juga di tempat lain, cari guru yang banyak selain dia.. Waaw.. keren juga nih.. Arahnya udah asyik, supaya nggak taqlid buta, dan nggak “mengkultuskan” satu guru aja.. Hanya punya satu guru, satu “lingkungan”, bisa membuat seseorang menjadi taqlid.. Apalagi kalo si guru malah melarang baca ini baca itu, ikut pengajian sono pengajian sini, ujung2nya subjektif / satu perspektif, dan jadi merasa paling benar.. Bicara tentang guru, berkesan selalu berkaitan dengan murid.. Padahal kalo ditelusuri dari asal usul katanya, bisa nggak begitu loh.. Ada referensi yang menyatakan kata “murid” asal usulnya itu dari …

awasiotak..

“Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan ?” (QS.51:21).. Buat gw, salah satu yang menarik perhatian pada diri ini adalah otak.. Karena cara bekerjanya, masih sangat penuh misteri.. Ada sebuah kisah nyata.. Pernah ada pria yang bekerja di perusahaan pengemasan daging.. Jadi orang ini pekerjaannya memasukkan daging yang sudah dikemas ke dalam gerbong2 kereta api.. Setelah penuh, maka pintu gerbong akan ditutup rapat supaya dagingnya awet, dan kemudian langsung berjalan dikirim ke kota lain.. Suatu hari, ia menjalankan pekerjaannya seperti biasa.. Namun apes, entah gimana, saat mengisi gerbong terakhir, pintu gerbongnya tiba2 tertutup.. Ia menggedor2 pintu minta tolong, tapi nggak ada yang mendengar.. Lantas kereta pun berjalan.. Ia sudah berpengalaman 20tahun di situ.. Jadi dia tahu persis jumlah oksigen yang tersedia di dalam gerbong itu, dan berapa lama waktu yang tersisa untuknya sebelum kemudian akan mati kehabisan oksigen.. Dia juga tahu persis gejala2 yang akan terjadi pada tubuhnya saat kekurangan oksigen.. Dengan bermodal senter gantungan kunci yang kecil, dan buku jurnal di saku celananya, ia menulis pesan untuk keluarganya.. Keesokan harinya, kereta sampai di …

sumur mata air..

Kemaren di fesbuk, ada yang mengibaratkan Qur’an itu seperti open source.. Setelah dikritik via komen, eh ternyata dia salah pengertian, sebenarnya maksud dia itu bukan open source, tapi open access, bisa diakses oleh siapa saja.. Gyaha.. Terlepas maksud si orang sebenernya apa, namun mengibaratkan Qur’an sebagai open source, gw nggak setuju.. Gw bukan orang IT sih, tapi berhubung pernah terlibat project game aplikasi, ya dikit2 doang tau lah.. Setau gw istilah open source itu, seseorang bisa memodifikasi, mengutak-atik, mengubah bagian tertentu, dan bahkan bisa merevisi kode dari sumber.. Kan berabe kalo si “source” atau Qur’an bisa dimodifikasi atau diutak-atik.. Gw lebih suka sama ulama yang mengibaratkan Qur’an itu bagai sebuah sumur berisi sumber mata air yang terus mengalir tanpa henti.. Siapapun bisa mengambil airnya.. Namun, untuk mengambilnya diperlukan upaya, nggak tinggal ngambil gitu aja.. Seseorang perlu menimba dengan hati2 untuk menaikkan airnya dari dalam sumur sampai ke atas.. Maknanya, untuk mendapatkan “sesuatu” dari firman Tuhan memang perlu usaha.. Hidayah yang didapat dari Qur’an bukan datang begitu saja, tetapi mesti diupayakan.. Bukankah disebutkan kalo yang bisa …

teroris radikal..

Sempat ada pejabat yang bilang, kalo radikal itu penyebabnya adalah kesenjangan sosial.. Gw sih nggak setuju.. Tuhan ngasi rejeki dengan Adil, siapa berupaya banyak, dia yang dapat banyak.. Seseorang nggak akan mendapatkan selain apa2 yang telah dia usahakan [QS.53:39].. “Menuduh” kesenjangan sosial sebagai penyebab radikal, ibarat orang yang gagal memanajemeni rasa iri di dalam dirinya, lantas seenaknya menyalahkan sesuatu di luar dirinya.. Wong dirinya sendiri yang memang kurang, kenapa jadi berang ke banyak orang ??.. Banyak kok di sekitar gw orang2 yang hidupnya kurang beruntung, namun jauh dari ke-radikal-an, yang notabene bisa menjadi bibit dari terorisme.. Apa para teroris itu punya kelainan mental ?? Paul Gill, PhD, dan Emily Corner, dalam “There and Back Again: The Study of Mental Disorder and Terrorist Involvement,” selama 10 tahun lebih meneliti hubungan antara kelainan mental dan keterlibatan teroris.. Kesimpulannnya, secara mental mereka “baik2 saja”, nggak ada yang aneh, dan cenderung sama dengan orang2 normal.. Jadi, nggak ada satu kelainan mental tertentu yang dianggap bisa menjadi cikal bakal seseorang menjadi teroris.. Untuk radikalisme, gw lebih suka “menyalahkan” gagalnya akal …