Latest Posts

innocent vs naive..

MInnocent YES, naive NO.. Begitu tulisan pembuka review sebuah komoditi minuman bermerk innocent asal Inggris yang cukup sukses, sampe2 Coca Cola Company pun turut berinvestasi di merk itu.. Tapi kali ini, yang lebih menarik buat gw itu ya kalimat pembuka dari reviewnya: Innocent yes, naive no..

Innocent dan naive bisa berkesan punya makna yang agak dekat.. Namun kalo dicermati lebih dalam, ternyata innocent cenderung lebih ke hal2 yang bersifat positif.. Innocent sering kita ketahui artinya adalah nggak bersalah atau tanpa dosa.. Dalam kamus, ada yang mengartikan innocent dengan uninformed, not causing physical or moral injury, free from moral wrong, without sin, dan sejenisnya.. Pendek kata polos gitu deh..

Nah kalo naive ternyata cenderung lebih ke hal yang sifatnya negatif.. Ada kamus yang mengartikan naif itu nggak cukup berpikir, lack of experience, percaya begitu saja tanpa mempertanyakan benar atau salah.. Bahkan di KBBI, naif bisa berarti bodoh dan nggak masuk akal.. Singkat kata lugu kali yee..

Innocent YES.. Setuju banget.. Orang2 innocent, akan bertindak tanpa rasa bersalah (takut salah), meski kurang informasi tetap saja bertindak, namun tetap dalam koridor tidak menyebabkan “luka” fisik ataupun moral.. Makna kamus dari kata innocent bisa jadi masuk dalam salah satu ciri dari orang kreatif, yang selalu polos untuk mencoba suatu hal yang baru tanpa merasa bersalah..

Mengapa naive NO ??.. Banyak gw perhatikan orang muda cenderung punya sifat naif ini.. Ya sesuai makna kamusnya: “lack of experience”, kebanyakan yang kurang pengalamannya adalah orang muda.. Ingin jadi sukses luar biasa tapi disiplin diri saja nggak punya, kerja standar biasa alias teng-go (jam 5 teng langsung go), mudah percaya begitu saja pada informasi bersifat ‘katanya’, pengen termotivasi tapi malah baca2 quote galau mendayu2, dan kalo ada yang nggak beres sering menyalahkan faktor luar diri ketimbang di dalam diri..

Ya ini sesuai dengan makna kamus dari naif: nggak berpikir, nggak masuk akal, dan nggak mempertanyakan mana yang benar dan mana yang salah..

Tapi kasus beredarnya rekaman dewan yang katanya terhormat yang belakangan ini lagi rame malah bikin makna kamus ini jadi terbalik.. Dia pikir publik begitu naif, percaya saja kalo “nggak ada apa2” di rekaman itu, meski niat beli private jet, dan maen golf bareng sudah jelas2 terlontar dari mulut.. Naif kan nggak berpikir ya, masak sih kita nggak mikir yang macem2 kalo ada pejabat ngomong begitu.. Emang kita naif ya ??.. Haha..

Dan anehnya, si pelaku malah berkesan & bilang innocent, alias “saya tidak bersalah”… Padahal makna kamusnya innocent itu: nggak menyebabkan luka fisik atau moral.. Aneh, nggak sadar kalo moralnya udah terluka.. Terus menyebabkan luka fisik ??.. Itu tinggal soal waktu.. Kalo diterusin tuh project mengenyangkan perut diri, sudah bisa dipastikan akan banyak rakyat yang kelaparan / menderita secara fisik nantinya..

Harusnya, si pelaku yang naif, dan rakyat yang innocent kan ??..
Yaah, di negeri ini, rasanya yang berduit memang lebih bisa pegang kuasa dan kendali.. Mungkin aja, suatu saat nanti mereka akan bayar yang bikin kamus supaya arti kata dari innocent dan naive dibalik aja.. (^_^)..

cambuk ketidak nyamanan..

0212Lanjutan dari postingan sebelumnya yang ini: “di tengah karena menengah”… Dimana hasil studi dari Mihaly yang menyatakan bahwa, orang2 dari “kelas menengah” secara statistik lebih sedikit yang mencapai kesuksesan besar / prestasi kelas dunia.. Disebabkan karena motivasi yang “menengah” juga.. Jadi perlu trik2 tertentu untuk membuat motivasi kelas menengah menjadi tetap tinggi.. Ini cuman sotoy2nya gw aja sih yang gw himpun dari beberapa buku bacaan gw..

Pertama, Gunakan teori OMA (One Minute Awareness).. OMA ini semacam menit dimana kita demikian tersentuh, dan menjadi berani membuat komitmen2 diri yang nggak tanggung2 tingginya.. Siapapun bisa menemukan, atau “menjadikan” peristiwa biasa disekitarnya menjadi OMA..

Contoh: Melihat orang meminta2, keluarga / orang kurang mampu, buat sebagian orang mungkin biasa.. Tapi bagi sebagian yang lain, bisa jadi sebuah motivasi yang memicu diri untuk berperan dalam mengubah kehidupan mereka.. Dan kalo mau mengubah mereka, diri ini mesti sukses dulu toh ??.. Dengan membawa “hati” yang bersih dalam melihat keseharian sekitar, OMA bisa diciptakan, dan motivasi seseorang bisa terjaga untuk tetap tinggi.. Masih banyak sebetulnya contoh dari OMA, poin dari caranya sih: melihat dengan hati dan sudut pandang yang bisa bikin diri ini termotivasi..

Kedua, yang lumayan ampuh: Undang rasa tidak aman atau keterdesakan.. Bisa dengan cara menciptakan irreversible commitment.. Jadi komitmen yang dilakukan di depan, dan nggak bisa ditarik kembali.. Dulu pas SMA, gw pernah coba.. Bersama empat orang teman, ngadain komitmen di depan: siapa yang nilai ulangannya paling jelek diantara kami berlima, dia harus traktir makan di kantin satu kali..

Rasa nggak aman langsung tercipta.. Bagaimanapun, nggak ada diantara kami berlima yang mau jadi bokek setelah setiap nilai ulangan keluar.. Haha.. Akhirnya belajarnya jadi tambah serius.. Dulu sih, cuman jalan beberapa kali, karena kami berlima menyadari, bahwa cara ini sangat berpotensi menguras duit orang tua kami juga.. Hyahaaa..

Untuk yang sudah bekerja, irreversible commitment bisa dilakukan dengan cara begini: bilang ke teman yang paling nggak kita suka: “Gw punya target ‘X’ di bulan depan.. Kalo nggak nyampe tuh target, gw bakal traktir lu makan siang dimana pun elu mau..”.. Doeenngg.. Pasti rasa nggak aman langsung mencekam di depan.. Ya, nggak mesti temen yang gak disuka aja sih, temen biasa juga bisa.. Cuma kalo ada “bumbu” persaingan, biasanya bisa lebih “kena”.. Motivasi langsung melesat.. Hehe..

Ketiga, ini yang paling ekstrim dan beresiko tinggi.. Ciptakan rasa tidak aman artifisial yang langsung berdampak sekarang / saat ini juga.. Masukkan diri langsung ke dalam kondisi “point of no return”.. Jadi udah bukan komitmen lagi, namun menciptakan langsung kondisi tidak aman sekarang juga.. Karena, kalo masih bersifat “di kemudian hari”, motivasi “sekarang”nya agak sulit nongol.. Contohnya para perokok.. Banyak dari mereka yang sebenarnya takut kalo “nanti” kena kanker paru, cuman karena masih “nanti”, ya nanti juga berhentinya..

Pernah gw baca, secara sains, manusia memang memiliki pertahanan psikologis untuk mengabaikan rasa takut yang terjadi di kemudian hari supaya bisa berfungsi normal.. Kalo nggak begini, mungkin jumlah koruptor nggak akan banyak, karena nggak ada yang bisa mengabaikan rasa takut dari siksa neraka.. Tapi ya karena nerakanya masih nanti, jadi ya korup dulu dah, urusan neraka gimana nanti.. hehe..

Banyak contoh konkrit dari langkah “point of no return” ini.. Misal yang gw liat sendiri, ada orang yang begitu dapet duit lebih dikit, langsung jajal buat DP rumah atau mobil, atau yang lain.. Jadi langsung dah dia masuk ke “lingkaran cicilan” yang mengerikan.. Hehe.. Dengan begitu, motivasinya jadi berpangkat enam belas.. Hyaha.. Tapi beneran loh, dia bilang sendiri: “Dengan gitu saya jadi lebih tercambuk & semangat..”.. Dan Alhamdulillahnya, sejauh ini gw liat nggak ada masalah, cicilannya terbayar.. Motivasi tinggi dapet, rumah dapet, dan gw denger sih sekarang lagi ambil cicilan mobil.. Gokil yee..

Penulis dan motivator Jamil Azzaini adalah salah satu orang yang mendidikkan cara ini pada anaknya.. Saat anaknya SMA, ia bikin pernyataan ke anaknya kalo beliau hanya mau membiayai pendidikan si anak sampe kuliah semester 2, setelah itu ya mesti bisa biayain sendiri.. Bener aja, langsung dimasukkan ke  kondisi “terdesak” seperti itu, saat SMA si anak bisa dapet penghasilan sendiri yang jumlahnya beberapa juta per bulan.. Tidak besar, tapi cukup hebat untuk ukuran anak SMA.. Terlebih bila dibandingkan mereka yang seumurannya, yang masih sangat bergantung pada orang tua..

Contoh tokoh besar yang melakukan ini ya Thariq bin Ziyad.. Setelah sampai di pantai wilayah musuh, ia membakar kapal2 pasukannya sendiri.. Laut di belakang, musuh di depan, pulang nggak akan terbayang, yang ada hanya menang.. Lantas, sejarah baru pun terukir..

Kondisi terdesak alias rasa tidak aman yang nyata bisa membuat seseorang jadi tambah mikir.. Otaknya terus2an “muter”.. Segala cara jadi mau dicoba.. Ibarat “monster hunter”, memangsa atau dimangsa.. Atensinya terus menerus jadi seperti seorang survivor, lebih jeli melihat peluang yang berseliweran, dan memanfaatkan segala yang dipunya, baik itu yang di dalam, maupun yang diluar..

“Kemapanan bisa jadi penghambat dari perkembangan kualitas pribadi,” begitu kata Om Mario Teguh.. Gw setuju sama pernyataan: orang yang sukses, pastilah orang yang kreatif.. Dan ini sejalan dengan yang dibilang para pendiri twitter: “Creativity comes from constrain..”

di tengah karena menengah..

Untitled-2Nggak sedikit anak2 dari keluarga kekurangan justru kehidupan ekonominya melejit secara menakjubkan di saat dewasa.. Anak2 orang berada, rasa2nya lebih mudah kalo pengen jadi berhasil di masa dewasanya, karena beragam “fitur” yang tersedia sebagai anak orang kaya.. Terus, anak2 orang yang ekonominya biasa2 saja / menengah, sepertinya malah punya kecenderungan untuk jadi biasa juga di masa dewasa.. Bener nggak sih pernyataan kayak gini ??

Mihaly, seorang pakar kreativitas pernah melakukan sebuah riset tentang “situasional” sosial ekonomi ini.. Ia mengaitkan fenomena pada paragraf di atas dengan faktor keterdesakan.. Keterdesakan di sini lebih kepada situasi / “keadaan” seseorang dalam kehidupannya, atau bisa dibilang sebagai rasa nggak aman yang dialami oleh seseorang..

Sayang di buku yg gw baca ini, nggak disebutkan secara detail riset dari si Mihaly.. Namun secara garis besar, ia meneliti sejumlah orang dari sejumlah keluarga tertentu, dan diamati siapa2 saja yang mampu mencapai tingkat kesuksesan tertentu /  prestasi kelas dunia..

Mihaly menemukan dari keseluruhan subjek penelitiannya, mereka yang mencapai sukses / berprestasi kelas dunia, 34% merupakan anak orang kaya.. Bapaknya banyak yang bekerja sebagai guru besar, pengacara, dokter, ilmuwan, konduktor orkestra, atau pebisnis kaya raya.. Sementara, 30% lainnya malah berasal dari keluarga miskin / kurang mampu, seperti kaum imigran, petani, atau keluarga buruh kasar..

Orang tua yang mapan secara pendidikan dan material sepertinya mampu memberikan sarana dan prasarana bagi anak2nya untuk mencapai kesuksesan.. Dan di saat yang sama, mampu juga memberikan rasa tidak aman pada si anak, dengan besarnya harapan yang ditanamkan sejak kecil.. Jadi mungkin ini ibarat ancaman secara halus kali ya dari si ortu: “Udah gw kasi segala macam buat dukung lo, kalo masih kagak sukses juga, kelar hidup lo !!”.. Hyaha..

Nah, kalo yang orang dari sosial ekonomi miskin, terus jadi sukses, ya mungkin mikirnya: “Mau gimana lagi ?? Wong udah mentok di bawah, ya harus naik lah.. mosok mau jadi lebih miskin lagi ??..”.. Jadi bagi kelompok ini, situasi “melarat” terbukti mampu memberikan rasa nggak aman yang nyata pada kehidupan masa kini dan masa depan mereka.. Akibatnya, bisa memecut motivasi tinggi mereka untuk harus terus maju hingga berhasil..

Nah, yang jadi pertanyaan, gimana kalo sosial ekonominya sedang2 aja ??.. Dibilang kaya nggaaak, dibilang miskin juga nggak.. Bahasa kerennya middle class lah, alias kelas menengah.. Ternyata kelompok ini juga masuk dalam subjek penelitian Mihaly.. Dan ternyata hanya 10% dari kelas menengah yang berhasil menjadi sukses / berprestasi kelas dunia..

Banyak yang beranggapan, situasi keluarga menengah ternyata mampu memberikan rasa aman yang cukup bagi si anak, sehingga anak2 mereka seringkali kekurangan motivasi untuk mencapai hasil yang lebih.. Perhatikan saja, kita2 yang “menengah” ini lah yang seringkali ngapdet status kalo lagi ada masalah atau terpuruk, lantas parahnya, nggak diikuti dengan tindakan kongkrit..

Kerja pun bisa “asal jadi” saja, yang penting kelar terus terima gaji, sering juga tidak ada idealisme / misi pribadi yang dimasukkan di dalam pekerjaan.. Bagi kaum menengah: keterdesakan hidup nggak terlalu memuncak, jadi bekerja dengan “patokan standard” pun masih bisa selamet.. Aman bro.. Hehe..

Aman memang nyaman.. Namun tanpa disadari, hal ini bisa jadi bumerang bagi diri.. Karena kasarnya, ya ujung2nya cenderung membuat diri ini terus menerus nyaman di “tengah”, alias jadi orang biasa.. Toh, tanpa belajar lagi dan upaya yang ekstra keras, masih bisa “hidup” kok.. Bisa ditebak, ujung2nya prestasi besar jadi sulit tercipta..

Terus buat kita yang di kelas tengah ini, supaya tetep bisa berprestasi besar dan berpotensi sukses gimana dong ?? Ada tips & trik nggak ??.. Hmm.. Ntar deh yaa, akan dibahas di postingan selanjutnya.. Udah panjang neh.. Hyaha..

argumen benci cemen..

Untitled-1Semenjak populernya medsos, memang rasa2nya jadi banyak “hakim” jadi2an.. Men-judge sana sini, menilai atas dasar pertimbangan dan sudut pandangnya sendiri.. Ujung2nya jadi debat kusir nggak berujung.. Kalopun berujung, nggak jarang jadi berujung retaknya hubungan.. Dulu, dosen pembimbing tesis gw pernah berujar: kalo ada orang bicara tanpa data dan referensi, pada akhirnya selalu akan jadi debat kusir..

Menurut Littlejohn (2008) dalam “Theories of Human Communication”, individu memang menjadi “pemain kunci” dalam kehidupan sosial.. Sejatinya, individu adalah seorang komunikator yang membawa karakteristik atau ciri kepribadiannya ke dalam cara2nya berkomunikasi.. Dan namanya hidup bermasyarakat, ya pasti ada lah ketemu yang namanya perbedaan antar individu..

Ada teori komunikasi yang cukup dekat untuk bisa menjelaskan “perbedaan berujung hujat2an” di medsos itu.. Namanya teori Argumentativeness yang dilayangkan oleh Dominic Infante dan kawan2nya.. Menurut Infante, memang individu itu punya kecenderungan untuk ingin terlibat dalam obrolan dengan topik yang kontroversial.. Tujuannya: untuk mensupport sudut pandangnya sendiri, dan menyangkal keyakinan / paham yang berbeda..

Infante dalam konsepnya juga menyatakan: kalo sebenernya, sifat argumentatif individu itu bisa meningkatkan pembelajaran, membantu seseorang melihat dari sudut pandang yang lain, meningkatkan kredibilitas, dan mengembangkan kemampuan komunikasi.. Yah bisa banyak diliat sih contohnya, orang2 yang bisa membangun argumen dengan cantik, biasanya skill komunikasinya juga oke..

Cuman yang jadi masalah, nggak semua orang bisa mengakomodir perbedaan argumen dengan baik.. Infante sendiri membagi dua “cluster” untuk teori argumentativeness ini: yakni yang positif (baik), dan yang negatif: agresif secara verbal / memuat permusuhan..

Dan individu2 dengan argumentativeness negatif adalah selalu mereka yang nggak bisa membuat solusi untuk menyikapi perbedaaan.. Akhirnya jadi bersifat agresif / menyerang, menghujat, dan lain sebagainya, bahkan untuk hal2 yang sebetulnya sama sekali nggak penting untuk diperdebatkan.. Bisa liat sendiri, nggak jarang perdebatan2 di medsos adalah perdebatan yang remeh dan nggak konstruktif..

Solusi dari Infante: pahamilah cara2 untuk “how to argue properly”, sehingga argumennya jadi punya sifat aksi “penyeimbang”, dan bukan malah aksi “pembencian”.. Solusi dari Infante sih sebetulnya sudah ada di Al Qur’an dari dulu.. Di Q.S An-Nahl ayat 125, yang menyuruh kita untuk menyeru manusia dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.. Ya gitu deh, kalo Qur’an nggak benar2 dipahami.. Meme2 berbau SARA dan argumen beraoma menyerang, menjelek2an serta kebencian malah banyak sekali bermunculan.. Apakah Alloh seneng dengan yang begitu ?? I don’t think so…

Sadar nggak sadar, cara2 kita berkomunikasi memang dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian kita, dan secara nggak langsung bisa juga menunjukkan siapa kita.. Pak Littlejohn salah seorang pakar komunikasi yang gw tulis di awal postingan pun menuliskan dalam bukunya: “Indeed, your identity depends just as much on what you share with others..”
 

wis udah..

Untitled-3Ngeliat status foto2 wisuda mahasiswa2 yg pernah gw ajar, rasanya gimanaa gitu.. Hehe.. Seneng ngeliat mereka pada diwisuda.. Mengingat gw ini salah satu orang yang bisa dibilang rajin ngasi mereka “masalah”.. Hyahaa.. Kembali teringat wajah2 mereka saat asistensi dan ngumpulin tugas.. Sungguh wajah2 yang penuh dengan “penderitaan”.. Hihihi..

Nggak berasa, udah 5 angkatan mahasiswa yg gw ajar udah pada lulus .. Terkadang masih muncul pertanyaan di kepala gw: “Emangnya gw pantes ya jadi dosen ?”.. Mengingat kalo di kelas saat nyampein materi, gw sering banget becanda sama mahasiswa.. Kelas jadi seakan nggak serius.. Nggak jarang gw pun bingung kenapa mahasiswa pada ketawa, padahal gw hanya menyampaikan kegelisahan gw atau ngomentarin teori yang gw sampein.. Entahlah, ada dua kemungkinan.. Kemungkinan pertama: mereka tertawa karena komentar gw yang emang suka ngaco dan lebay.. Dan kemungkinan kedua: mereka mentertawakan kegaringan guwa.. (T_T)..

Gw pikir, masih banyak orang2 hebat yang lebih layak jadi dosen mereka ketimbang gw yang “setengahan” pengusaha, dan nggak terpikir akan jadi dosen pada awalnya.. Yah, paling nggak gw udah berusaha, semoga aja yang gw sampein bisa bermanfaat buat mereka.. Berpengaruh atau nggak apa yg gw sampein dalam beberapa semester perkuliahan, gw tetep seneng bisa sedikit berperan “mengisi waktu” dalam suatu episode kehidupan mereka.. Ibarat pengelana yang saling bertemu dalam sebuah tempat singgah, kemudian saling bertukar pikiran, dan kemudian pergi melanjutkan perjalanannya.. Ntah nanti mereka “nongkrong”nya dimana, namun gw masih rutin nongkrong di tempat singgah tersebut, dan bertemu pengelana2 yang lain..

Harapan gw sih nggak muluk2, semoga mereka bisa “berpikir”.. Berpikir mendefinisikan sukses versi mereka sendiri.. Berpikir bahwa dosen mereka bukanlah orang yang perlu ditiru bulat2.. Berpikir bahwa masih banyak guru di atas bumi ini.. Berpikir bahwa “berpikir” adalah sebuah aset yang besar di dalam diri.. Percuma berguru pada banyak hal kalau nggak berpikir.. Qur’an sudah menyatakan, yang bisa mengambil pelajaran hanyalah orang2 yang berpikir..

Banyak jalan untuk mendapatkan keberhasilan.. Untuk mendapatkan sepuluh, nggak mesti 5 + 5.. Tapi bisa 4+6, 8+2, bahkan 3 + 3 + 2 + 1 +  1..   Jadi, merdekalah berpikir, merdekalah bereksplorasi.. Campur adukkan apa yang didapat dengan pikiran sendiri.. Setiap orang punya keunikan sendiri.. Dan setiap keunikan, punya jalan keberhasilannya masing2.. Idealislah sekaligus realistis.. Seringkali kita nggak bisa langsung sampai di tempat yang ingin kita tuju, tapi Tuhan ngasi persinggahan yg secara langsung maupun nggak langsung justru “mengisi bekal” kita untuk bisa sampai ke tempat yang kita tujukan itu..

Semoga sukses terus ke depannya buat para wisudawan/wati polmed angkatan ke 5, khususnya anak DG.. Terima kasih buat kebersamaan yang udah dijalani selama ini.. Sungguh sebuah kebahagiaan tersendiri buat gw bisa rutin bertemu kalian di kelas selama 3 semester penuh..