Latest Posts

bisa ini bisa itu bisa repot..

Untitled-3Hwwahh.. Minggu kemaren udah nggak ngeblog, mosok minggu ini miss juga sih.. Ancur dah komitmen diri gw HARUS posting minimal seminggu sekali kalo minggu ini miss juga.. Konsisten emang nggak mudah, perlu terus dilatih dan dibiasakan.. Semoga saja bisa jadi habit beneran..

Ya apa mo dikata.. Dua minggu ini ada kerjaan yg gw mesti turun tangan sendiri… Walhasil, banyak porsi waktu yang mesti gw kerahkan ke ini projekan.. Kalo mengacu ke postingan gw yang udah lama ini (“lari, pelan, jalan”), bisa dibilang juga gw lagi ngejalanin kondisi sprint, dimana dalam kondisi tersebut, seseorang lagi full throtle untuk mengejar target jangka pendek.. Bener2 sampe ngos-ngosan…

Alhamdulillahnya gw bisa suka sama yang gw kerjain.. Jadi berasa bukan 9 to 5 works, tapi jadi every moment awake job yang bisa dinikmati selama mata gw melek.. Hehe.. Tapi ya sesuka-sukanya orang sama kerjaannya, kalo udah kebanyakan dan tanpa isitirahat, cukup sulit lah untuk membuat sebentuk keluhan nggak keluar.. Pasti ada yang begitunya, namun sedikit..

Suatu saat nanti, gw pengen banget porsi nulis gw lebih banyak dari sekarang.. Entah sejak kapan gw juga jadi bisa sangat menikmati nulis sesuatu, selain ngegambar, ngedesain, dan maen game tentunya.. Hyaha.. Dulu temen gw pernah komen gini ke gw: “Enak lu ya gie, banyak bisanya..”.. Banyak bisanya ?!? Emang gw ular kobra ?!?.. Die nggak tau aje, setiap hal yg gw bisa itu perlu proses panjang dengan cucuran keringat, darah, dan air mata.. (*Yg ini asli lebay..*)..

Banyaknya hal yang bisa dikerjakan oleh seseorang bukan berarti “sesuatu banget”.. Justru malah mengundang masalah tersendiri, yakni masalah menentukan prioritas.. Dan ini nggak mudah, terlebih kalo orangnya sendiri tipikal “Jack of All Trades”, dan hampir sama bagusnya dalam mengerjakan beragam hal.. Penentuan prioritas menjadi sangat penting.. Berujung pada penentuan mana yang paling seseorang itu inginkan..

Karena yang dapat menghebatkan seseorang itu bukanlah memiliki kebisaan dan keinginan / impian yang banyak.. Namun, yang seringkali menghebatkan seseorang adalah jika orang itu punya kebisaan banyak yang bisa mendukung satu kebisaan / skill utama.. Dan tentu saja, satu impian besar yang ia kejar dengan sungguh2..

memahat diri..

Untitled-1Pernah suatu ketika, seseorang bertanya pada Michaelangelo, kok bisa sih bikin patung kayu mahakarya yang bagus sekali, gimana caranya ??.. Sang maestro pun menjawab: “Patung itu sudah ada di dalamnya koq, saya hanya membantu membuang bagian2 yang tidak perlu dari bongkahan kayu yang digunakan..”

*Doeng..!!*.. Mantep banget nih jawaban dari si maestro.. Maknanya bisa dalem pulak.. Bisa dikaitkan dengan ilmu untuk mencapai keberhasilan.. Manusia pada awalnya ibarat sebuah bongkahan kayu yang belum jadi.. Yang entah kapan nantinya, bisa akan tetap menjadi sebuah bongkahan kayu, atau akan menjadi sebuah karya ukiran / patung / bentuk lain yang lebih bernilai harganya.. Loh, koq enak aja main ngomong manusia itu semua sama kayak bongkahan kayu ??..

Ada beberapa pernyataan orang2 besar yang gw tau memang menganggap pada hakikatnya, semua manusia itu sama.. Seperti Confucius misalnya, ia pernah menyatakan, semua manusia itu sama, yang membedakan antar mereka adalah kebiasaannya.. Paul G. Stolt sebagai salah satu penggagas ide Adversity Quotient (AQ) juga beranggapan pada dasarnya semua manusia sama, karena kita semua kurang lebihnya menghadapi masalah2 yang sama, dan yang membedakan adalah cara2 kita dalam merespon masalah tersebut..

Dalam Islam juga mungkin bisa dibilang seperti itu, karena kalo kita melakukan ibadah haji / umroh, semuanya pake kain ihram yang sama, ibadah yang dilakukan pun sama.. Nggak peduli setinggi apapun jabatan atau dari mana si orang itu.. Atas dasar “kesamaan” ini,  kita kan dianjurkan untuk nggak merasa lebih tinggi dari manusia lain, malah mesti saling tolong, saling tidak menghujat, saling akur, bahkan saling mengenal perbedaan..

Dari paragraf di atas, bisa dimaknakan, semua manusia pada dasarnya sama.. Nah terkait dengan pernyataan si Michaelangelo, semua manusia bisa dikatakan pada mulanya adalah sebuah bongkahan kayu yang sama.. Mereka yang bisa naik kelas menjadi bernilai tinggi atau berhasil, adalah manusia yang bisa “memahat” dirinya sendiri dengan membuang bagian2 yang nggak perlu (atau bisa merugikan).. Kalo hidup ini adalah perjalanan untuk terus “naik”, sangatlah wajar bila mengurangi beban menjadi salah satu keharusan yang mesti dipenuhi..

Pernyataan Michaelangelo tersebut juga bisa ditafsirkan: sebetulnya sebuah mahakarya sudah, dan selalu ada di dalam setiap diri kita masing2.. Karena Tuhan kan Maha Adil, mosok sih Tuhan hanya memberikan “speciality” pada sejumlah orang saja ??.. Keberhasilan adalah hak semua orang.. Dan untuk menjadi berhasil, sebagaimana sudah banyak contohnya, seseorang perlu untuk “memahat” bagian2 yang nggak perlu itu, seperti: membuang keyakinan2 yang absurd, ketakutan2 yang tak beralasan, rasa takut salah, mindset yang ambigu, rasa malas, ketidak disiplinan, dan hal2 negatif lain yang ada di dalam diri..

Memahat diri sendiri memang tidak mudah dan seringkali menyakitkan.. John Lennon dari Grup legendaris The Beatles sendiri pernah ngomong: “Genius is Pain..”  

muda tapi tua, tua tapi muda..

Untitled-1Om Mario Teguh pernah ngomong begini: “Sekarang ini banyak orang muda tapi kayak orang tua..” Postingan kali ini ya deket banget deh sama omongan beliau yang ini..

Suatu ketika, beberapa pengajar yang sudah “berambut putih” sedang berkumpul di depan sebuah kelas.. Usut punya usut, ternyata mereka sedang saling berkeluh kesah akan kedisiplinan para mahasiswanya yang seringkali masuk kelas tidak tepat waktu.. Saat mereka datang di jam masuk yang seharusnya, seringkali kehadiran kelas hanya diisi oleh meja dan kursi saja.. Yah, bonus deh: papan tulis berikut penghapusnya, dan infocus yang tergantung di langit2.. Hehe..

Cerita yang lain: Sudah beberapa kali gw “gonta-ganti” grup maen badminton, selalu saja gw bertemu orang2 yang juga sudah “berambut putih”.. Tapi kalo maen tanding lawan mereka, sama sekali nggak bisa diremehkan.. Bukan hanya teknik bermainnya, tapi semangat dan kesungguhan mereka untuk berolahraga dan pantang menyerahnya cukup terpancar keluar dari diri mereka.. Sampai2 bisa membuat yang muda2 kelabakan dan heran sendiri.. Semangatnya pun benar2 seperti anak muda..

Kalo liat dua cerita di atas, mana sih yang sebenernya anak muda ??.. Mana sih yang sebenarnya orang tua ??.. Yang berambut putiih justru bisa bangun pagi dini hari, berangkat & mengajar “tepat waktu” dengan semangat, sementara yang berambut hitam justru tidak bisa bangun pagi dan malas2an berangkat beraktivitas ??.. Jadi, siapa sebenarnya yang orang tua ??

Dari selama ini maen badminton pun gw juga ngerasa gitu, yang berambut putih seringkali staminanya tinggi, semangatnya tinggi (persis semagat orang muda), dan bahkan nggak jarang mampu mengalahkan yang berambut hitam.. Jadi, siapa sebenarnya yang orang muda ??.. Kalo kami “badmintoners” yang muda ini berkomentar tentang mereka2 yang berambut putih itu, selalu nadanya sama: “Yaah, mereka udah sering banget maen sih, jadinya udah biasa..”

Kalo boleh gw tarik kesimpulan, berarti salah satu kunci supaya bisa jadi orang “berambut putih” seperti mereka adalah kebiasaan.. Cuman, karena kita2 yang muda ini sering meremehkan kata “biasa”, akhirnya ya kata kebiasaan juga jadi hanya sekedar kata2 yang “biasa”.. Kita jadi sering lupa kalo kebiasaan itu dibangun dengan waktu yang lama, bukan timbul begitu saja.. Dibalik sebuah kebiasaan ada sesuatu yang berulang2 dan dijalani bertahun2.. Baik itu kebiasaan baik ataupun buruk, prosesnya selalu seperti itu..

Kembali tergambar di kepala gw beberapa orang tua yang gw tau umurnya sudah diatas 55 tahun, namun tetap sangat passionate menjalani hari2nya, sangat bersemangat beraktivitas seperti orang muda..

Gw coba ingat2 banyak orang lagi, gw coba inget2 diri gw sendiri di masa lalu, terus gw coba analisa.. Kayaknya sih, memang sebaiknya kita harus mencoba “notice” atau menyadari, dan mewaspadai kebiasaan2 buruk yang sudah “jadi”.. Bahkan sebisa mungkin mencegah “jadinya” sebuah kebiasaan buruk sejak muda.. Karena sepertinya lebih mudah untuk membangun kebiasaan2 baru, ketimbang membongkar kebiasaan2 buruk yang sudah jadi, lantas membangunnya kembali dari nol..

Ajarin susah

Untitled-2ini tulisannya adhitya mulya (seorang penulis).. Tulisannya bikin gw mikir lagi tentang teori kreativitas yang bilang: “kemapanan adalah musuh dari kreativitas..”.. Plus, bikin gw mikir juga cara mendidik anak gw nantinya.. Gw dapetnya dari grup whatsapp sih.. Semoga bisa bermanfaat..

SYARAT HIDUP
October 12th, 2015

Generasi Sebelumnya:
Ada seorang operations manager dari sebuah client kantor gue – yang cool banget. Kita undang dia makan siang dan nasinya keras. Kita sebagai vendor yang baik, meminta maaf. Dia bilang,

“Gak papa. Justru saya suka nasi keras. Gak suka tuh saya, beras sushi.”

“Kok sukanya nasi yang keras Pak?” I cannot help but to ask.

“Iya, orang tua saya ngajarin jangan pernah buang makanan. Nasi kemarin juga kita makan.”

This may be simple. But this, blew my mind.

—————————————————————————————————————

Dan setelah gue menjadi orang tua, di sini lah gue lihat banyak orang tua mulai mengambil langkaH yang tidak disadari, berdampak.

“Saya waktu kecil, miskin. Saya pastikan anak-anak saya mendapatkan yang terbaik, termahal.”

“Waktu kecil, saya makan aja susah. Saya pastikan mereka itu sekarang makan enak.”

“Waktu kecil, saya belajar ditemani lilin dan 2 buku. Sekarang anak saya, saya sekolahkan ke Inggris.”

We experienced the worst and therefore we tend to give the best.
The question is, is the best…is what our children need? Really?

Orang sukses itu menjadi sukses karena (1) dididik dengan benar, terlepas dari dari apakah dia kaya atau miskin (2) dididik oleh kesulitan yang dia hadapi.

Kita akui ada anak orang kaya yang tetap jempolan attitudenya dan perjuangannya. Tapi kita lihat kebanyakan orang sukses juga dulunya sulit. Kesulitan (dalam beberapa kasus, kemiskinan) itu yang menjadi drive orang-orang untuk menjadi sukses. Ini adalah resep yang nyata. Kesulitan yang orang-orang sukses ini hadapi adalah ladang ujian di mana mereka menempa diri mereka menjadi orang sukses.

Pertanyaannya, jika kita ingin mencetak anak-anak yang bermental baja, kenapa kita justru memberikan semua kemudahan? Kenapa justru kita hilangkan semua kesulitan itu?

Karena dengan menghilangkan kesulitan-kesulitan itu, justru kita menciptakan generasi yang syarat hidupnya banyak.

Generasi Berikutnya:

Apa yang terjadi dengan dari hasil thinking frame ‘dulu saya susah, saya tidak ingin anak saya susah’? Ini yang terjadi:

Anak dari teman ibu gue terbiasa makan beras impor thailand. Di 98, kita terkena krisis dan orang tuanya tidak lagi mampu beli beras impor. Yang terjadi adalah, anaknya gak bisa makan.

Ada anak dari teman yang terbiasa makan es krim haagen dasz, ketika pertama kali makan es krim lokal, dia muntah.

Ada cucu yang ngamuk di rumah neneknya karena di rumah nenek, gak ada air panas.

Gue tidak mencibir mereka. Apa adanya seorang manusia itu terjadi dari nature dan nurture. Semua ini, adalah nurture.

Bahkan di kantor pun sama. Di kantor kebetulan gue jadi mentor seseorang (saat ini). Dalam sebuah kesempatan, dia pernah berkata “Duh, gak nyaman di posisi ini.”

Di lain kesempatan, “Sayang ya, si X resign, padahal dia membuat saya nyaman di kantor sini.”

Pada kali kedua gue mendengar temen gue ngomong ini, gue mulai masuk “Kamu sadar gak, kamu udah 2 kali menggarisbawahi bahwa kenyamanan dalam kerja itu, penting bagi kamu.”

“…”

“Emang sih idealnya nyaman. Tapi sayangnya, this is life. We don’t get to pick ideal situations. Sometimes we need to settle with what we have and deal with it.

Tentang kenyamanan, coba jadikan itu sebagai sesuatu yang ‘nice to have’ dan bukan ‘must have’.”

What to Do?

Gue menyukai cara Sultan Jogja mendidik anak-anaknya. Gue pernah dengar bahwa di saat batita, anak sultan dikirim untuk hiidup di desa. Makan susah, main tanah, mandi di sumur. Intinya, meski dia anak sultan, dia tidak tahu bahwa dia anak sultan dan dia merasakan standar hidup yang rendah – dan merasa cukup dengan itu. Setelah agak besar, dia kembali ke istana. Dampaknya, semua Sultan, bersikap merakyat. Dia makan steak, tapi dia tahu bahwa steak yang dia makan adalah sebuah kemewahan. Bukan sebuah syarat hidup minimum.

Gue pun memiliki syarat-syarat hidup. Semenjak menjadi seorang bapak, gue berubah total dan gue kikis hilang itu semua. Karena gue tidak ingin anak-anak gue memiliki syarat hidup yang banyak. Dan satu-satunya cara memastikan itu terjadi adalah bahwa gue pun tidak boleh memiliki syarat hidup banyak.

Gue mengajak mereka naik kopaja atau transjakarta setiap hari ke sekolah, sebelum mereka merasakan bahwa naik angkutan umum itu, rendah.

Gue membiarkan mereka tidur di lantai. Siapa tahu suatu saat nanti mereka harus terus-terusan.

Gue mematikan AC saat mereka tidur – siapa tahu mereka suatu saat cannot afford air conditioning.

Gue tidak menginstall air panas karena gue ingin anak-anak gue baik-baik saja jika suatu saat nanti mereka tiap hari harus mandi air dingin.

Gue melarang mereka main tablet karena gue ingin mereka tidak tergantung dengan kemewahan itu.

Gue melarang mereka menilai teman dari merk mobil mereka karena merk mobil itu gak pernah penting, dan gak akan penting.

Kita pergi ke mall memakai kopaja. And we have fun ketawa-ketawa, seperti jutaan orang lain.

Gue tidak membuang nasi kemarin yang memang masih bagus. Instead gue makan sama anak-anak gue. Siapa tahu suatu saat, that is all they can afford. Agak keras. And we like it.

We teach them to pursue happiness so that they learn the value and purposes of things. Not the price of things.

Nasi kemarin yang masih perfectly safe to eat, masih punya value. Kopaja dan mercy memiliki purpose yang sama, yaitu mengantar kita ke sebuah tempat.

AC atau gak AC memberikan balue yang sama. A good night sleep.

Kenapa semua ini penting? Kita harus ingat bahwa generasi bapak kita adalah generasi yang bersaing dengan 3 milyar orang. Mereka bisa mengumpulkan kekayaan dan membeli kemudahan untuk generasi kita. Kita harus bersaing dengan 7 milyar orang. Anak kita nanti mungkin harus bersaing dengan 12 milyar orang di generasi mereka.

One needs to be a fucking tough person to be able to compete with 12 billion people. Dan percaya lah, memiliki syarat hidup yang banyak, tidak akan membantu anak-anak kita bersaing dengan 12 milyar orang itu.

Itu aja sih.

– adhitya mulya –