Ngeliat orang2 dengan kemampuan artistik dan kreativitas tingkat tinggi, gw seringkali terkagum-kagum.. Kok bisa2nya mereka sampai berpikiran & punya skill ngebikin karya2 yang demikian luar biasa.. Kreativitas memang unik sekaligus absurd.. Sampai sekarang sangat sulit menemukan tes yang bisa menyimpulkan secara presisi derajat kreativitas seseorang..
Saking “ajaib”nya kreativitas, di zaman dulu, kreativitas malah seringkali dihubungkan dengan sesuatu yang bersifat kodrati, atau bahkan mistikal.. Plato percaya bahwa orang2 kreatif sebenarnya adalah orang2 terpilih.. Mereka yang kreatif adalah orang2 yang dipilih dewa dewi dari gunung Olimpus sebagai penyampai pesan mereka..
Guru plato sendiri: Socrates, juga meyakini kalo ilmu pengetahuan yang didapatnya, sebagian besar didapat dari arwah yang memasuki dirinya.. Padahal kan yah, kalo kita liat acara dunia lain, nggak ada tuh orang yang kesurupan terus jadi kreatif, yang ada malah jadi seperti hewan tertentu.. Hehe.. Ada yang beranggapan karena faktor “gaib” itulah, dalam bahasa Latin kata “inspirasi” itu artinya “meniup ke dalam”.. Jadi, ya cuman para dewa dewi yang bisa “meniupkan” kreativitas ke dalam diri manusia..
Para ilmuwan masih terus penasaran mengenai awal mula terciptanya kreativitas.. Masih banyak persilangan pendapat yang terjadi diantara mereka mengenai kapan, dimana, dan bagaimana manusia modern seperti kita ini mulai menunjukkan kreativitas dan mampu berpikir secara simbolis seperti gambar2 yang ada di gua2 dulu..
Pfeiffer (1982) dalam “The creative explosion”, dan Klein & Edgar (2002) dalam “The Dawn of Human Culture” punya pendapat yang sama.. Menurut mereka, kreativitas kemungkinan terjadi akibat mutasi genetik yang terjadi sekitar 20.000 – 50.000 tahun yang lalu.. Masa2 itu adalah masa dimana lukisan2 di gua2 di Eropa dan di tempat2 lain tercipta..
Henderson (2003) dalam “Genetic Changes”- London Times punya pendapat berbeda.. Kreativitas muncul karena semakin kompleksnya kehidupan sosial masyarakat.. Ia melihat peninggalan karya2 seni bersejarah banyak yang sifatnya untuk dipakai.. Dan apa yang dipakai bisa menunjukkan “status” sosial masyarakat.. Jadi Henderson menyebut ada faktor kompetisi atas terciptanya objek2 artistik di masa itu, yang sekaligus bisa menjadi “pembeda” antara kelompok2 di dalam masyarakat yang besar..
Di era tahun 1950an, kreativitas agak dikesampingkan oleh para ilmuwan.. Mereka lebih berfokus pada kognitif tingkat tinggi seperti hitung2an, sebab akibat, dan sejenisnya ketimbang kepo kepada proses penciptaan artistik yang menggunakan imajinasi dan unsur2 abstrak lainnya..
Nah, yang gw liat DI SINI, kok ya kondisinya sepertinya hal2 yang artistik dan seni (dalam hal ini grafis) sepertinya kok tetap menjadi sampingan.. Bisa dilihat dari penghargaan yang kurang terhadap hal ini.. Coba tanya saja desainer grafis atau ilustrator, gimana sulitnya mereka memasang harga jual yang oke.. Tapi kalo unsur seninya joged2an dan nyanyi2an malah bisa mahal harganya.. Hehe..
Sepertinya memang masih banyak yang harus dibenahi pada industri kreatif dalam sektor seni grafis di negeri ini.. Padahal di zaman dahulu mereka yang kreatif seni dianggap special one.. Tapi sepertinya sekarang di sini malah jadi no one.. Bahkan celetukan klien “gitu doang kan gampang”.. “10 menitan juga jadi..”, cukup sering terdengar.. Lowongan yg dibuka pun nggak jarang pasang spec mesti serba bisa, mulai dari photoshop, web, sampe 3D..
Kasus maskot ASEAN GAMES 2018 – Drawa juga mungkin gara2 kreativitas dan prosesnya (terutama di bidang grafis) masih tetap dianggap kecerdasan sampingan di negeri ini.. Karena sampingan, ya nggak perlu kompetensi khusus, akhirnya bisa dikerjakan oleh siapapun meski nggak kompeten.. Dan hasil kerja dari orang yang bukan ahlinya ?? Udah tau sendiri kan.. (^_^)/
Makin aneh2 aja ya sekarang ini soal haram mengharamkan.. Pas Pemilu kemaren ada yang bilang milih salah seorang capres itu haram.. Ada yang bilang hormat kepada bendera merah putih haram.. Bikin peringatan Maulid Nabi haram juga.. Padahal kalo dampaknya positif, gaung kisah & nilai2 kebaikan Rosul makin “viral”, kan tambah bagus ya ??
Di kalangan psikolog, beredar sebuah cerita unik: di tahun 1920, seorang mahasiswa pasca sarjana sekolah psikologi Rusia, Bluma Zeigarnik sedang bertamasya ke kota Wina dan ngopi2 bareng guru pembimbingnya di sebuah cafe.. Sebagai orang “jebolan” psikologi, mereka malah lebih tertarik dengan orang2 di sekitar mereka ketimbang kopi yang mereka pesan sendiri.. huhu..
Alhamdulillah.. Salah satu tulisan gw masuk Blog Award 2015 – Top 10 Artikel 2015 versi
Beliau merupakan praktisi komunikasi dan pemerhati tata kelola perusahaan dan manajemen.. Bahkan beliau juga seorang kontributor dari blog
Belakangan ini gw lagi agak2 kecanduan satu game casual: Thunder Raid.. Menurut gw sih, ini game gokil yang bisa bikin gw terus2an main.. Karena update-annya cukup rajin dan makin gila !!.. Banyak banget fitur2 yang dulunya nggak terpikir oleh gw jadi ada di game ini..
n nggak lama langsung full.. Untuk mendukung fitur legion mode ini, diadakan juga chat room, jadi para member dari satu legion bisa komunikasi bareng..
& Jacko (2008) – “Human-Computer Interaction Handbook”, dinyatakan: frekuensi dan variasi dari interaksi antar pemain memang dapat membuat sebuah permainan jadi semakin dapat dinikmati..