Meski gw orang yang terlambat menemukan passion diri, namun gw sangat bersyukur pada akhirnya bisa menemukan passion.. Dan lebih bersyukur lagi, berkat penemuan passion tersebut, gw ngerasa berada “on the right track”.. Sebagian besar pekerjaan dan kegiatan yang gw kerjain rutin sekarang ini, memang berasa selalu ada passionnya di situ..
Kalo boleh dibilang karier, ya karier gw sebagai pengusaha & pengajar sekarang ini, rasa2nya cukup selaras dengan visi misi hidup pribadi yang gw mau.. Beruntunglah mereka yang berkarier di organisasi / perusahaan yang bisa selaras dengan passion mereka.. Tempat dimana passion individu2 bisa tersalurkan.. Karena kata “karier” sendiri sebetulnya berasal dari bahasa Latin “carriere” yang artinya carrier atau kendaraan.. Alhamdulillah banget kan kalo “kendaraan” yang seseorang kendarai atau tumpangi saat ini bisa satu tujuan dengan tujuan hidup orang tersebut..
Setuju banget sama Rene Suhardono & Team Impact Factory (2015) dalam bukunya “Passion 2 Performance”.. Tuhan pasti punya maksud dalam penciptaan setiap individu, dan passion adalah jejak2 dari tujuan individu tersebut diciptakan.. So, kalo kepingin tau “misi dunia” seseorang yang diberikan Tuhan padanya, bisa ditelusuri dari passionnya..
Mereka yang ber-passion umumnya akan merasa sangat antusias melakukan sesuatu, baik itu dalam berkata2 maupun bertindak, dan ini biasanya cukup gampang dilihat secara kasat mata.. Pekerjaan mereka jadi nggak hanya sekedar terselesaikan, atau bahkan asal2an.. Karena buat mereka, apa yang mereka kerjakan adalah panggilan hidupnya, sebuah misi penting yang harus mereka selesaikan dengan standar yang tinggi..
Dan gw juga baru tau, ternyata kata “Antusiasme” itu berasal dari bahasa Yunani “Entheos” yang kurang lebih artinya “God within us”.. Bisa dimaknakan, mereka yang antusias dalam melakukan pekerjaannya, sadar atau nggak, semangatnya itu didampingi oleh Tuhan.. Sadar atau nggak, sebenernya mereka sedang menjalani misi duniawi pribadi yang memang diberikan Tuhan khusus untuk dirinya..
Pernah ngeliat koruptor yang terang2an berpassion atau sangat antusiasme dalam menjalankan aksi korupsinya ??.. Hyahaha.. Bisa lucu kali yaa.. Karena ini sama aja dengan mengundang KPK untuk segera hadir di hadapannya.. Passion kan dari Tuhan, mana mungkin Tuhan menanamkan passion pada seseorang untuk melakukan hal2 yang buruk ??.. Nggak mungkin Tuhan memberikan misi khusus pada hambaNya untuk menjadi seorang koruptor..
Passion memang letaknya di hati, namun sangat jelas seseorang menjadi koruptor bukan karena passion diri, tapi karena nafsu pribadi yang tanpa kendali.. Passion tinggi dan nafsu rendah adanya sama2 di hati, namun sangat jelas sekali mana yang dari Tuhan, dan mana yang dari setan.. Berpassion = berantusiasme, dan antusiasme bermakna God within us.. Saat merasa Tuhan hadir, mana bisa muncul niat negatif atau buruk ??..
Aha, berarti, para koruptor itu bisa dibilang adalah orang yang sangat tidak antusias dengan pekerjaannya, karena sama sekali tidak menyadari kehadiran Tuhan di dalam pekerjaannya.. Euh, gw juga nggak tau deh mereka yang suka bikin2 fitnah dan hoax2 najong itu ngerjainnya sangat antusias atau nggak.. hehe.. Karena yg udah gw rasain sendiri, passion itu bergairah, bukan penuh amarah..
Dalam buku Zen Mind – Beginners Mind (1995), Shunryu Suzuki menuliskan sebuah metafora tentang mereka yang bisa belajar dengan cepat, dan belajar dengan lambat.. Metafora yang diambil adalah 4 ekor kuda, dengan tingkatan: kuda terbaik, kuda yang bagus, kuda kurang bagus, dan kuda yang jelek..
Kalo inget2 masa sekolah dulu, sampe sekarang gw masih ngerasa jadi produk gagal dari sebuah sistem pendidikan.. Yah, mungkin segelintir orang juga ada yang merasa begitu.. Gw setuju sama yang bilang: pendidikan yang berhasil itu pendidikan yang bisa bikin muridnya cepat berpikir mandiri.. Sedangkan gw ngerasa gw orang yang telat berpikir mandiri.. Gw berharap gw bisa berada di “level berpikir” yang sekarang ini di umur 20an.. Terlalu cepat kah ??.. Kayaknya nggak tuh, di negeri yg sistem pendidikannya oke sepertinya ada banyak..
Bulan April, 5 tahun yang lalu, itu adalah saat dimana gw menikahi seorang perempuan.. Mencoba berani untuk “naik level”.. Kalo bahasa agamanya mah: melengkapkan iman.. Hehe.. Menikahnya juga bukan di gedung mewah, tapi di kampung istri yang deket sawah.. Yah dimanapun seseorang melakukan akad nikah, bukanlah masalah.. Justru yang penting adalah setelah akad nikah, siap nggak menghadapi masalah yang dulunya belum jadi masalah, supaya nggak salah langkah..
Menjadi pertanyaan baru buat gw, kenapa ya buku favorit gw bukan Al-Qur’an ??.. Padahal dari dulu gw suka banget baca buku.. Tapi, kenapa juga di waktu yang sudah berselang lama itu gw nggak sering nyoba baca terjemahan Qur’an secara rinci “by myself”.. Dalam arti bener2 baca dan merenunginya sendiri ayat2Nya, jadi bukan hanya tahu apa2 yang dari guru2 gw dulu ajarkan..