Latest Posts

biasa bisa ke hebat..

00Masih nyambung sama postingan kemaren, yg bilang kalo bakat itu mesin kecerdasan dominan otak yang dibawa sejak lahir.. Dari baca2, ada juga yang beranggapan kalo bakat adalah passion itu sendiri.. Hmm, yang ini oke juga nih.. Karena mengerjakan sesuatu tanpa passion, nggak akan bisa mencapai tingkat master / ahli.. Lantas, kalo orang lain melihat kita tanpa keahlian tertentu, maka kita dibilang “nggak berbakat”..

Di dalam tes sidik jari yang belum lama anak gw ikuti itu ada istilah “preferensi” atau kenyamanan.. Masing2 mesin kecerdasan otak ada preferensinya, atau ada bidangnya sendiri dimana dia akan merasa nyaman.. Meski nyaman nggak terkait langsung dengan passion, buat gw ini bisa saling berhubungan.. Karena kalo dari pengamatan dan pengalaman, seseorang bisa mudah menjadi “passionate” di bidang yang mereka merasa nyaman di situ..

Apapun definisi seseorang tentang bakat, berlatih keras meningkatkan kemampuan (deliberate practice) adalah langkah selanjutnya.. Malcolm Gladwell (2010) menyatakan: “Dalam hasil2 penelitian psikologi belakangan ini, peran bakat terhadap pengembangan karier justru semakin kecil, dan peran dari latihan menjadi semakin besar.. Jauh sebelum Gladwell, ada juga seorang ilmuwan yang kepo mengenai bakat.. Ia penasaran bakat itu bawaan atau latihan..

Alfred Binet (1896), psikolog Perancis yg dikenal sebagai penemu uji IQ mengadakan percobaan sederhana.. Ada 2 anak yang dianggap anak “jenius alami” atau punya bakat khusus di bidang matematika, mereka berdua mampu melakukan perkalian hingga 3 digit bahkan 4 digit di luar kepala !!!  Binet “mempertandingkan” mereka dengan beberapa kasir dept. store kota Paris adu jago matematika.. Di tahun itu mesin kasir & komputer belum ada loh.. Jadi para kasir tersebut harus ngitung manual tiap hari..

Kasir2 tersebut telah bekerja selama 14 tahun, tanpa adanya tanda2 bakat matematika di masa kecil.. Binet memberikan soal yang sama pada mereka semua.. Hasilnya, para kasir mampu mengalahkan 2 anak yang dianggap punya bakat alam tersebut.. Pendek kata, latihan 14 tahun bisa membuat anak biasa, menjadi jenius dewasa.. Lagi2 latihan / kerja keras jadi kuncinya..

Terkadang atau mungkin sering, kita menjadikan “nggak bakat” menjadi “excuse” kita.. Menjadikannya alasan atau tameng untuk nggak berlatih keras.. Padahal nggak mungkin seseorang menjadi berbakat hanya dengan berlatih ratusan jam.. Kalo googling pun, sekarang ini nggak sedikit yang beranggapan kalo bakat dari lahir adalah mitos.. Bakat (yg dipahami sebagai keahlian), adalah pencapaian, bukan pembawaan dari buaian..

Gw meyakini, mereka yang jago nyanyi, atau gambar, atau olah raga di usia belasan, sadar atau tanpa sadar, pasti sudah melakukan “deliberate practice” sejak usia belia.. Mereka yang udah jago gambar di masa kuliah, tebakan gw sih, pas SD, SMP, dan SMA, buku tulis dan buku pelajaran mereka nggak ada yang “bersih”.. Pasti penuh dengan coret2an iseng ataupun serius.. Hyahaha..

“warna” dari lahir..

Untitled-1Apakah bener ada orang yang dilahirkan berbakat, dan ada yang nggak ??.. Kalo bener begitu, adilkah Tuhan ??.. Kalo gw pikir memang ada hal2 yang diturunkan dari orang tua kita, tapi sepertinya bukan bakat.. Tapi hal lain yang sifatnya bukan faktor penting untuk menggapai kesuksesan.. Seperti wajah (hmm, ini penentu kesuksesan nggak ya ??.. hihi.. Ah, tukul pun bisa sukses tuh..), atau karakter “kesukuan” ortu (gw orang madura, karakter turunan itu emang gw rasain ada di diri gw..), dan lain sejenisnya.. hehe..

“Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing…” (QS 17:84).. Buya Hamka menjelaskan, kata “syaakilah” di ayat tersebut bisa diartikan bakat atau bawa’an.. Tiap2 orang “bawa’annya” berbeda2, dan anjuran untuk bekerja menurut “bawaan” menjadi hal yang amat patut dipertimbangkan.. Tapi apa sebetulnya “bawaan” yang dimaksud di itu ??

Sotoy2nya gw sih ya, kalo itu adalah “bakat” jadinya kok malah berasa “sempit”.. Jadi buat gw “bawa’an” disitu adalah mesin kecerdasan dominan pada otak seseorang.. Belum lama ini, karena diajak tetangga, anak gw usia 3 tahun gw ikutin tes sidik jari untuk melihat mesin kecerdasan dominannya yang mana.. Menurut yang punya metode, sidik jari manusia terbentuk pada saat janin berusia 13 minggu.. Dan saat itu juga Neo Cortex / bagian otak janin juga terbentuk.. Jadi, bagian otak dan sidik jari seseorang terbentuk di saat yang bersamaan secara simultan di dalam rahim ibunya..

Maka pola sidik jari seseorang bisa merupakan “gambaran” dari otaknya.. Metode pembagian otak yg digunakan ngetes anak gw sama seperti yg gw udah tau.. Ada 4 bagian otak manusia: Kiri bawah, Kiri atas, Kanan atas, dan Kanan bawah.. Umumnya ada satu yang dominan atau yang kuat.. Tapi ada juga yg menyatakan ada sejumlah orang yang keempatnya bisa sama kuat.. Nah, sidik jari bisa menunjukkan bagian otak mana yang dominan dari seseorang..

Menurut perisetnya, sidik jari adalah inheritance atau diturunkan.. Namun di buku lain yang trainingnya juga pernah gw ikutin, bagian otak mana yang dominan adalah murni sebuah “Given” dari Tuhan.. Jadi orang tua nggak akan bisa merencanakan atau “ngincer” anaknya nanti akan jadi orang dengan kecerdasan utama yang mana.. Nggak masalah juga sih, karena sejatinya, yang manapun yang dominan, semuanya punya potensi kesuksesan yang sama besar..

Nah ini lah yang buat gw “bawaan” seperti yang ditafsirkan Buya Hamka pada ayat di atas.. Bukan bakat spesifik tidak berbelah, tapi mesin kecerdasan otak yang dominan sebagai bahan mentah untuk diolah.. Dengan begini, tentu saja pengembangan bakat atau profesinya menjadi lebih luas.. Bisa googling sendiri masing2 mesin kecerdasan “jalur emasnya” ada dimana..

Ini juga yang bikin gw setuju dengan mereka yang bilang: “Anak bukanlah kertas kosong”, karena sejatinya mereka sudah ada warna dasar bawa’annya masing2.. Gw pikir, peran ortu adalah mempercepat mengetahui “warna dasar” si anak.. Lantas membiarkan mereka mencampur2 warna dasarnya sendiri, dan memberi wawasan baru kalo “di luar” mereka ada warna2 lain..

Bukan mustahil nantinya warna dari luar bisa turut “mencampuri” warna dasar mereka, sehingga membuat mereka semakin kaya warna tanpa harus kehilangan warna dasar mereka sendiri..

ter / mem bakati..

Untitled-2“Gw nggak bakat dagang neh, nggak ada keluarga gw yang pedagang..”.. “Gw nggak bakat jadi desainer grafis, desain gw jelek..”.. Nggak jarang kita denger pernyataan2 model begitu.. Belakangan ini makin banyak studi / riset yang membahas tentang bakat (euh, di luar negeri sih).. Di sini tau sendiri kondisi “perisetan” kita kayak gimana.. Huhu..

Pertanyaan para ilmuwan kurang lebih hampir sama: bakat itu turunan atau bentukan, nature or nurture, genetik atau “diketik”..??.. Setiap dari kita seringkali mengaitkan prestasi seseorang dengan bakatnya tanpa mempertanyakannya lebih dalam.. Salah satu studi / kisah misteri bakat yang gw suka itu dari Earl Woods, ayah dari pegolf mumpuni Tiger Woods.. Earl sangat meyakini sumber dari keunggulan tingkat dunia adalah latihan sejak usia dini..

Yang bikin gw tambah kagum, dia mencoba “mengimplementasikan” keyakinannya itu pada anaknya sendiri, Tiger Woods.. Beruntung Earl cukup mapan, sehingga kebutuhan perlengkapan untuk “merajut” program latihan Tiger nggak jadi masalah berarti.. Nggak tanggung2, Earl mempersiapkan Tiger menjadi kelas dunia dari saat Tiger masih pake popok..!!

Dikisahkan, sebelum bisa jalan dan bicara, Tiger setiap hari didudukkan di kursinya untuk melihat ayahnya berlatih golf.. Bayangin, tiap hari di usia yang belum bisa disebut bocah, si Tiger udah dicekokin visual tentang gerakan teknis golf..!! Usia 1 tahun, Tiger mendapat hadiah stick golf pertamanya.. Usia 1.5 tahun, Earl sudah membawa Tiger ke lapangan golf dan memulai latihan..

Usia 2 tahun 8 bulan, Woods udah dikenalkan dengan beberapa jenis pukulan & permainan golf.. Usia 4 tahun, si ayah menyewa pelatih profesional untuknya.. Dan di usia 13 tahun, Tiger memenangkan turnamen golf pertamanya.. Dan tau sendiri puncak dunia golf yang pernah dicapai Tiger saat dewasa seperti apa..

Mungkin nggak sedikit orang yang meyakini seorang Tiger Woods lahir dengan bakat ngegolf, tapi kenyataannya, bokapnya sendiri nggak percaya sama hal tersebut.. Kalo si Earl & Tiger ditanya oleh media apa rahasia keberhasilannya, mereka selalu memberikan jawaban yang sama: KERJA KERAS..

Hampir sama dengan Venus dan Serena Williams di dunia Tennis.. Richard adalah ayah yang “menawarkan” atau “mengetikkan” proposal masa depan pada putri2nya.. Venus memulai latihan tennis di umur 4 tahun, 6 bulan satu hari, dan Serena di usia 3 tahun.. Diceritakan juga, Richard bisa melemparkan 500 lebih bola tennis dari samping lapangan pada putri2nya dalam satu sesi latihan (dan dalam satu hari bisa bersesi-sesi).. Bukan bakat bawaan yang menjadikan mereka tercatat namanya dalam sejarah dunia tennis, tapi lagi2 karena kerja keras sejak dini..

Kisah di atas kalo buat gw seakan orang tua jadi punya peran penting banget dalam penentuan “bakat” seseorang, dan bukan dalam hal yang sifatnya genetik.. Kalo baca kisah mereka sih, mereka memang menyenangi apa yang mereka latihkan.. Tapi gw nggak tau ini gara2 dikenalin sejak dini terus passionnya jadi di situ, atau terpaksa jadi suka, atau gimana..??.. Ah iya, passion.. Dimana peran passion ?? Ada kaitannya nggak sama bakat ??.. Lah ini yang buat gw belum terjawab secara memuaskan..

Tapi yang gw pahami, sebetulnya seseorang bisa saja menjadi berbakat pada suatu bidang tertentu asal dia mau tekun di situ.. Istilah yg gw suka dari Mario Teguh itu “membakatkan diri”.. Orang yang ngerasa dirinya nggak berbakat, bisa jadi bukan karena mereka benar2 nggak berbakat, tapi karena malas atau kurang bekerja keras..

Tapi gw masih meyakini tetep ada yang bersifat “given” dalam diri masing2 orang, yang kemudian bisa jadi ‘petunjuk’ seorang individu untuk menemukan jalur emasnya.. Karena di Al-Qur’an ada loh ayat yang bisa dimaknakan ke hal ini.. Ayat yang mana ?? Hehe.. Nanti deh pas postingan selanjutnya.. Udah panjang neh..

Terlepas dari bakat itu ada peran genetik atau tidak, dari kisah di atas, kerja keras menjadi modal yang sangat penting.. Dan mau kerja keras atau nggak, itu adalah PILIHAN.. Kalo di barat sono sih, ada nih pernyataan kayak gini: “Hard work beats talent if talent doesn’t work..”

setan manis..

Untitled-1Dulu seorang pengusaha yang gw anggap mapan pernah ngasi nasehat ke gw secara langsung kurang lebih begini: “Kamu mau jadi pengusaha ??.. Nanti kalo rugi, ketipu, dijadikan batu lompatan, ditusuk dari belakang, dan sejenisnya jangan nyerah ya.. Itu semua proses, bahkan vitamin, yang bisa bikin kamu (pengusaha) makin mateng..”

Entah itu pesan berapa belas tahun yang lalu.. Sekian belas tahun juga Alhamdulillah gw “bertemu” dengan semua kejadian yang beliau sebutkan itu.. Buat gw, beberapa kali kena kejadian kayak gitu adalah wajar, karena masih belajar.. Tapi kalo sering dan terus2an kena, itu tandanya nggak belajar..

Kalo gw inget2 lagi beberapa kejadian gw ketipu dan sejenisnya diatas, selalu dilakukan oleh orang2 yang santun, berpakaian rapi, murah senyum, dan berbicara ramah.. Yang lebih parah dan lebih bikin gw bingung, ada juga yang dilakukan oleh mereka yang berjenggot panjang, celana ngatung, jidat item, dan sholatnya pun keliatannya rajin.. Ada juga yang berada dibawah sebuah “lembaga” yang namanya ada kata “masjidnya”.. Tapi, nyatanya mereka semua itu maling..

Ada yang orangnya santun banget, dulu sering maen ke kantor gw, dan sempet ngerjain project bareng, sholat bareng, eeh.. ngutang ke gw sampe sekarang belon bayar.. Tapi barang gw bertahun2 lalu udah dibawa dia.. Haha.. Gw temuin dia di Facebook, gw add friend dan send message, hyaha. nggak ditanggepin, dan malah direject untuk temenan.. Gw bilang ke temen deketnya dulu, sama juga, temennya setali tiga uang, kagak nanggepin.. Bukti kalo orang2 yang getaran hatinya buruk itu betah berdekatan dan berkelompok.. Saling bantu malah.. hehe..

Pernah ada juga yang orangnya dipanggil dengan sebutan ustad oleh banyak orang, gw ada transaksi dikit dengan beliau, dia janji mau menyelesaikan dalam waktu sebulan, eh udah bertahun2 nggak juga ada penyelesaian.. Gw tanya temen2nya juga gak tau tuh “ustad” kemana.. Hilang ditelan bumi kata mereka..

Dari situ gw belajar, menilai orang nggak bisa dari agamanya aja, terlebih dari hal2 yang sifatnya attributif, & tutur katanya doang.. Karena beberapa rekanan gw pun ada yang berbeda ras dan agama, dan justru mereka2 itu yang malah bisa gw “pegang”.. Terbukti juga di level “atas”, pejabat yang katanya santun, ganteng, baek dan berkoar keras soal korup, eh malah dirinya sendiri diciduk KPK.. Hahaa.. Sumpeh ini lucu banget..

Dulu banget gw pernah berpikir naif: mereka yang menjaga sholatnya otomatis menjaga amanatnya, mereka yang tampil kearab2an meniru Rasul itu otomatis meniru akhlaknya, dan mereka yang berbicara baik manis otomatis bisa dipegang kejujurannya.. Padahal pada kenyataannya, sangat2 belum tentu… Tapi itu masa lalu, dan udah lama banget gw meninggalkan “mindset” kayak gitu.. Karena Alloh udah beberapa kali “menjebloskan” gw ke dalam kasusnya langsung..

Teringat kembali kata2 seseorang yang gw kagumi: “Saat ini sudah tidak ada lagi setan bodoh yang menentang Tuhan & Al-Quran.. Yang banyak sekarang adalah setan menyerupai Nabi & bemulut Al-Quran..” -Emha Ainun Najib –

ijtihad & perubahan..

Untitled-2“Saya lihat bagaimana ulama-ulama hanya diikat oleh kitab-kitab Fiqih kolot, yang memandang buku-buku yang dikarang 700 tahun yang telah lalu itu, sebagai undang-undang suci yang tidak boleh dibantah-bantah..– Buya Hamka (Lembaga Hidup)

Bener2 deh, kalimat2 dari Buya Hamka seringkali bikin gw berdecak kagum.. Ntah karena jauh pandangannya, ketegasannya, atau keberaniannya dalam menyatakan apa yang dirasa dan dipikirnya benar oleh beliau.. Seorang ulama yang tegas namun ‘lentur’.. Dari buku2nya jelas sekali beliau adalah ulama agen “perubahan” dan sangat menghargai kemerdekaan berpikir.. Benar2 ulama besar yang kontekstual..

Dari buku2 beliau lah gw jadi paham, kalo seseorang nggak boleh taqlid buta begitu saja, pada atasan, pemimpin, bahkan pada gurunya sendiri.. Logika gw sih sederhana.. Kalo si murid taqlid abis sama si guru, akan menjadi lebih sulit untuk melampaui si guru.. Kalo misal si guru ilmunya 10, kalo taqlid saja, mentok2 si murid paling bisa sampai di angka 10 juga.. Padahal lebih baik kalo si murid bisa sampe 11 atau 15.. Bisa diprediksi, kalo taqlid aja, yang bisa terjadi adalah stagnansi dari “pelebaran” dan peningkatan ilmu / skill..

“Salah satu sebab terbesar dari kemunduran pikiran dalam Islam, sehingga membeku & statis ialah setelah timbul pendapat di abad ketujuh Hijriyah bahwa pintu ijtihad telah tertutup, dan kita lebih baik taqlid saja.. Padahal perkembangan menunjukkan banyak soal2 baru yang timbul dalam masyarakat yang tidak dapat dipecahkan kalau hanya bertaqlid saja.. Begitu tulis beliau juga dalam bukunya “Falsafah Hidup”..

Taqlid saja jelas sangat menghambat ijtihad dalam memunculkan ilmu2 yang baru.. Dan menurut Buya Hamka, segala perkara ijtihad yang dilakukan oleh seorang pemikir ataupun penulis masih berdasar pada zhanni (belum yakin).. Eh, seringkali malah orang awam merasa lebih yakin dari si penulis..

Gw sendiri juga gitu.. Nggak bisa gw meyakini apa yang gw tulis di blog gw sejauh ini adalah 100% benar.. Yah namanya juga manusia biasa.. Buya Hamka juga menuliskan: “Tidak berdosa kalau salah hasil ijtihad itu, karena dia berijtihad mencari kebenaran, sedangkan kesalahan terjadi tanpa sengaja.. Orang lain pun bebas membanding2kan, dan mau sependapat atau tidak..”

Untuk jadi nggak stagnan dan mengalami kemajuan, tidak bisa tidak, ijtihad merupakan salah satu modalnya.. Hasil dari ijtihad salah satunya adalah perubahan.. Tentu saja dalam artian ke arah yang lebih baik.. Sudah banyak buktinya, ide2 atau ilmu2 baru hasil ijtihad akal pikiran dapat menyebabkan kemajuan dan perubahan besar, sekaligus dapat menggilas pemikiran atau konsep2 lama.. Kasus Gojek dan Uber yang kemaren diprotes itu adalah salah duanya..

Yang jelas, berubah adalah keniscayaan.. Tanpa berpikir sungguh2 sesuai makna ijtihad, pemicu perubahan nggak akan ada.. Dan yang nggak berubah akan punah.. Coba perhatikan alam sekitar, dan juga di dalam diri.. Nggak ada yang diam, semua bergerak / berubah.. Matahari, bulan, di dalam diri: darah, sel2, bahkan atom sendiri pun sejatinya bukan benda yang diam..

“Tidak ada yang tetap.. Yang tetap adalah perubahan itu sendiri..” – Buya Hamka..