Latest Posts

menanam proses..

0022Gw seringkali ngerasa heran dengan banyak klien di sini.. Semenjak jadi freelancer sampe punya perusahaan kayak sekarang, nggak sedikit klien yang minta desain dengan kecepataan sim salabim.. Wuushh, tring2, jadi..!!

Sepertinya kok sulit untuk paham itu yang namanya PROSES.. Yang lebih aneh, terkadang desain minta jadi cepet, tapi briefnya nggak jelas, malah materi belum mateng pun diminta mulai didesain.. Hyaha..

Bisa ditebak, desainnya jadi, materi berubah, desainnya otomatis mesti berubah juga.. Udah gitu, hehehe, mintanya cepet, lebih cepat dari kecepatan cahaya.. Kata proses seakan diabaikan.. Dan seringkali mereka2 itu ngomongnya enak sekali: “Kan cuman ngerubah gitu doang..”.. AAAWWWW..!! Tolong ubah aku jadi Ultraman saja..!!

Karena sering ketemu orang2 model gitu, gw jadi agak2 sedikit berkesimpulan kok ya banyak yang nggak paham soal proses di negeri ini.. Maunya cepet langsung jadi.. Pengen berubah, namun tanpa memperhatikan proses.. Awal presiden baru terpilih dulu pun sempet rame kan meme yang ngomong: berubah jadi sarjana aja perlu 4 tahun, mosok pengen ngerubah negara dalam waktu kurang dari satu semester ??..

Kalo versi Wikipedia, Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain, mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau sumber daya lainnya, yang menghasilkan suatu hasil..

Setau gw sih, banyak anjuran di Islam yang harusnya output / hasilnya bagus.. Tapi jadi nggak maksimal banget kalo hanya sebatas tau hasil, kemudian gagal “menarik mundur” hal2 tersebut menjadi bentuk “proses” atau cara..  Contoh: Sholat itu “hasil”nya bisa mencegah perbuatan buruk, tapi gagal menariknya ke dalam proses, akibatnya tetep korup, tetep nyebar hoax & fitnah..

Alloh menciptakan bersuku2 / berbangsa2 supaya “hasil”nya saling mengenal, belajar dan toleransi.. Sebaiknya tetap bersikap adil meski berbeda.. Namun karena gagal menariknya ke bentuk proses, akibatnya isu rasis pun tetep rame sampe sekarang.. Banyak ayat yang menganjurkan berpikir dan berilmu pengetahuan, tapi kemaren di fesbuk gw liat ada yang bilang dengan serius, kalo letak & jarak surga udah ketahuan berkat teknologi google maps..!! Alamaakk..!! Yah paling nggak, ada kemajuan lah, google mapnya nggak dibilang ilmunya orang kafir.. (^_^)/

“Demi masa”.. Sampai segitunya waktu dinyatakan dalam Qur’an, tapi ya kalo gagal menariknya ke dalam bentuk proses / cara, yaa gitu deh.. Telat / nggak on time atau nggak tepat deadline jadi biasa.. Teringat sebuah status facebook, banyak dari kita ini cuman pinter & rame ngomongin agama, tapi pada outputnya, pada prakteknya, waw jauh.. Ibarat orang yang rame ngomongin & ngurusin pupuk, tapi nggak pernah menanam..

So, sepertinya perlu lebih banyak orang lagi yang bisa “mentransformasikan” anjuran2 Qur’an menjadi “bibit proses” yang lebih sederhana untuk bisa dipraktekkan.. Menanam bibit itu proses untuk mendapatkan hasil kan ??.. Kalo nggak pernah menanam, kapan metik buahnya ??..

bosan & manipulator..

Untitled-2Masih sedikit nyambung sama postingan kemaren tentang kebosanan.. Ternyata salah satu penyebab kebosanan itu bisa juga perhatian yang termanipulasi / manipulation of attention.. Maksudnya, kita bisa mendadak menjadi merasa bosan melakukan sesuatu karena perhatian kita “termanipulasi” oleh aktivitas yang lain..

Contohnya, seseorang sedang membaca buku di kos2an.. Taroklah sudah 15 menit ia asyik baca buku.. Lantas ia mendengar suara game Street Fighter V di kamar sebelah yang sedang dimainkan oleh temennya.. Kondisi kayak gini ternyata bisa membuat orang tersebut mendadak jadi bosan membaca buku.. Ia menjadi “termanipulasi” untuk berpikir bosan baca buku, atau bisa juga berpikir maen game bisa jadi lebih asyik ketimbang baca buku di saat itu..

Studi jenis ini pernah dilakukan oleh Damrad & Laird (1989), dalam “The experience of boredom: The role of the self-perception of attention..” Namun bukan tanpa kritisi, karena sulit untuk mengukur tingkat / derajat perhatian, maupun kebosanan seseorang.. Seringkali kita bingung tingkat bosan kita ini akut apa nggak, masih bisa dibawa ke pemicu tindakan positif atau nggak ??.. Demikian juga untuk parameter tingkat perhatian, masalahnya sama, gimana ngukurnya ??..

Ternyata eh ternyata, rasa bosan juga bisa memotivatsi seseorang menjadi manipulator psikologis.. Menurut Braiker (2004) dalam “What Pulling Your String ?”, Psychological manipulation adalah sebuah bentuk pengaruh sosial yang tipikalnya mengubah perilaku ataupun persepsi orang lain melalui cara2 yang menipu, curang, ataupun kasar.. Menurut Baker, mereka yang merasa bosan atau lelah dengan sekitarnya, lebih melihat sebuah perlakuan curang model tipu2 ataupun kasar sebagai permainan, dan bukan tindakan yang bisa merugikan orang lain..

MUNGKIN, mereka yang nyebar fitnah atau hoax & meme2 najong itu bisa nyambung dengan teori ini ya.. Bisa jadi mereka bosan dan lelah dengan “kekalahan” atau rasa inferior, nggak tau mesti harus gimana lagi, lantas cara2 ala manipulator pun digunakan.. Mencoba mempengaruhi yang lain dengan cara2 yang curang.. Tapi yang namanya curang biasanya selalu ada yang aneh.. Dan keanehan akan cukup mudah ditemukan kalo seseorang mau berpikir.. Kalo udah males mikir, hoax atau meme seaneh apapun bisa diterima bulat2.. Ibarat tahu bulat yang ditelan bulat2 hangat2.. Hyaha..

Menurut Simon (1996), dalam “In Sheep’s Clothing: Understanding & Dealing with Manipulate People”, salah satu teknik yang sering digunakan oleh seorang manipulator adalah ”Projecting The Blame”.. Manipulator seringkali melimpahkan kesalahan pada orang lain, dan membuat seakan yang salah adalah si korban.. Memproyeksikan kebohongan sebagai kebenaran juga merupakan metode umum yang mereka gunakan sebagai “kendali” dari manipulasi.. Manipulator sangat senang mengklaim kalo korbannya adalah orang yang gila atau kasar (apalagi kalo ada buktinya), dan suka sekali salah menuduh korban2nya dengan statement: “memang layak dilakukan seperti itu..”

Ngeliat kondisi sekarang, sepertinya kok banyak ya yang kondisi psikologisnya seperti manipulator.. Ada ilmu bagus2, tapi di “reject”, hanya karena mereka menganggap itu ilmunya orang yang mereka sebut kafir.. Seakan ilmu dari mereka yang beda keyakinan “memang layak” untuk direject.. Rame kasus perkosaan, yang disalahin malah si korbannya.. Ada penyelewengan, yang disalahin si “oknum”..  Oknum ini siapa ??.. Kambing hitam ??.. Tahu bulet ??.. Hehe.. Siapapun itu, yang jelas ini semua adalah contoh nyata dari teknik “Projecting The Blame” para manipulator.. Waspadalah waspadalah.. Hyahaa..

memperhatikan bosan..

Untitled-1Udah 8 tahun lebih gw ngeblog, tapi nggak tau kenapa, nggak ada rasa bosan untuk ngeblog yang muncul.. Kalo dalam seminggu nggak ada postingan sama sekali, itu bukan berarti gw bosan.. Tapi lebih ke rasa males gw yang lagi menang, atau kesibukan kerjaan maksimal yang bikin otak gw jadi “gosong”.. hehe..

Lantas gw pun jadi kepo, emang bosan secara science tuh gimana sih ??.. Kalo dari sudut pandang otak, Scheneider dkk (2007)  dalam “A Qualitative Examination of Risk Among Elite Risk Adventure Racers” – Journal of Sport Behavior, menyatakan: orang yang sedang bosen itu punya zat dopamine dalam jumlah rendah di dalam otak..

Dopamine ini zat yang bertanggung jawab untuk memberi rasa joy & excitement, yang bisa didapat dari mengerjakan suatu hal yang baru.. Jadi, salah satu cara menghilangkan rasa bosan, ya temukanlah “kebaruan”, baik itu dalam hal baru, maupun cara2 baru dalam melakukan pekerjaan sehari2.. Supaya kadar dopamine di dalam otak jadi naik..

Gosline (2008), dalam artikelnya “Bored ??” – Scientific American menemukan, ternyata orang yang frontal cortex di otaknya mengalami gangguan, lebih beresiko mengalami rasa bosan yang tinggi.. Bagian otak ini pula yang mengendalikan persepsi seseorang tentang waktu.. Itulah kenapa, saat kita sedang dilanda rasa bosan, waktu bakal terasa lebih lambat dan lama..

Wijnand van Tilburg, dari University of Limerick, memaparkan hasil studinya dalam “The British Psychological Society 2011 Annual Conference”: Seseorang bisa mudah terjebak dalam rasa bosan kalau merasa setiap tindak tanduknya nggak berarti / meaningless.. Agak jadi semacam depresi gitu.. Tapi ini bisa juga jadi berdampak positif, kalo orang tersebut bisa me”re-established” kembali makna dari kehidupannya, atau membuat perbedaan2 baru yang dapat memicu munculnya kreativitas..

John Eastwood (2012) dari York University (Ontario, Canada) beserta rekan2nya mencoba melihat rasa bosan dari sudut pandang mental.. Hasil studinya dipublish dalam sebuah jurnal milik Association for Psychological Science.. Ia menyatakan, seseorang bisa merasa bosan karena kesulitan dalam memusatkan perhatian.. Dimana perhatian tersebut dibutuhkan agar sesuatu yang dilakukannya menjadi bisa memuaskan dirinya / menyenangkan..

Waw, yang dari John Eastwood ini gw suka.. Karena mudah diliat dan udah sering mengalami sendiri.. Mahasiswa yang gagal memusatkan perhatian ke dosen, seasyik apapun si dosen, biasanya akan cepet bosen dan jadi sering nguap “hoaaahhmm..”, terus lemes.. Atau kalo lagi sholat berjama’ah, terus gagal memusatkan perhatian ke makna bacaan sholat si imam, gagal “memperhatikan” diri dari dalam & luar, nggak lama abis takbir awal, biasanya langsung “hoaaahhmm..”.. Hyahaha..

Terus solusinya gimana ??.. Dari artikel2 yang gw baca, banyak yang menyodorkan teori “Flow” dari pakar kreativitas Mihály Csíkszentmihályi.. Gimana itu teori Flow ??.. Ah udah pernah gw tulis di postingan ini: “Going with the FLOW”, dan ini: “Diri dan pedang adalah satu..”

terjajah oleh “atau”..

Untitled-2Jangan pernah berpikir kalo sudah menemukan jati diri atau passion diri, terus boleh senang dan santai begitu aja, terlebih sering menggunakan jurus andalah Son Goku, jurus “Berleha-leha”.. Hyaha.. Passion yang ada di dalam diri itu seperti bibit yang siap untuk ditanam, dirawat dan ditumbuhkan.. Dan sebagaimana tanaman, sangat perlu waktu untuk menumbuhkannya..

Pernah gw baca di sebuah buku, passion memang nggak akan bisa berubah ataupun hilang dari dalam diri seseorang.. Tapi sangat mungkin bisa memudar, apalagi kalo nggak pernah dikenali, nggak pernah digali, dan nggak pernah dicoba untuk dipahami.. Bibit passion itu dari Tuhan, dan Dia sudah berjanji, kalo disyukuri pasti akan dilipat gandakan.. Passion adalah hadiah unik tersembunyi yang sudah pasti berbeda2 pada setiap orang..

Belum lama ini pernah liat ada meme2 yang membandingkan prestasi anak bangsa ini yang mendunia.. Mengklaim kalo prestasi yang satu lebih baik dari yang lain, buat gw itu sangat lucu.. Kenapa juga mesti dibandingkan ?? Buat gw itu ibarat membandingkan dua bibit passion yang berbeda.. Lah mereka kan berprestasi di bidang yang berbeda.. Jadi seperti membandingkan melon dengan semangka.. Buat apa coba ??..

Mereka yang berpassion bibit melon, menanam, merawat, dan mengolahnya hingga besar, nggak mungkin kemudian berbuah semangka.. Jadi buat apa dibanding2kan secara aneh gitu ya ??.. Hehe.. Terus kenapa mesti melihat dari sudut pandang “atau” ??.. Seringkali ini juga kurang sip buat gw.. Yang udah banyak sekali beredar yang contohnya gini: “Pilih mana, dunia atau akherat ??.. Kesannya kalo milih satunya maka yang lain akan ketinggalan, lantas harus milih salah satu.. Padahal dunia dan akherat itu satu, pernah gw tulis di postingan ini: “Agama, akal, ilmu & fitnah”.. Buktinya amalan apa di dunia ini yang nggak berdampak ke akherat ??..

Di dunia bisnis ada istilah: “The tryranny of the OR”.. Melihat sesuatu dengan kacamata “atau”, akibatnya sulit untuk melihat hal2 yang paradoks, susah menggenggam dua hal kontradiktif di waktu yang sama.. Selalu berpikir A atau B, dan nggak bisa keduanya.. Akhirnya jadi kaku dan nggak fleksibel..

Versusnya adalah “The genius of the AND”.. Melihat dengan ikhlas adanya paradoks, bisa menerima konsep2 kontroversial ekstrim, di dalam banyak dimensi dan pada waktu yang sama.. Banyak buku kreativitas menyatakan berpikir paradoks adalah salah satu kunci untuk menjadi kreatif..Bisa “mempertemukan” dua hal yang nggak pernah ketemu adalah inti dari teori kreativitas.. Leonardo Da Vinci pun menyatakan hal yang sama..

Kenapa juga mesti dijajah oleh kata “atau” ??.. Kenapa mesti semangka “atau” melon ?? Kan bisa juga pilih semangka dan melon sekaligus di waktu yang sama.. Tinggal tambah air, susu, dan sedikit sirup serta es batu, keduanya menjadi “berfungsi” maksimal.. Kalo gw lebih suka membayangkan jadi petani melon dan semangka, ketimbang mempermasalahkan mana yang lebih baik antara melon dan semangka ??.. Petani menghasilkan buah, sementara yang kedua menghasilkan masalah.. Euh, yang nggak penting pulak lagi.. (*_*!)..

Seneng dengan kalimat dari F. Scott Fitzgerald – seorang yang disebut2 sebagai penulis terbaik di Amerika pada abad 20: “The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposed ideas in the mind at the same time, and still retain the ability to function.”