Latest Posts

jejak komik jadoel..

Untitled-3Belum lama ini beres2 tempat nyimpen barang2 lama.. Ealaah, nemuin komik bikinan sendiri waktu SMA (kalo nggak salah pas kelas 2).. Hyaha.. Liat sendiri deh gambarnya.. Bener2 ancur lebur, keliatan jelas masih kurang skill, kurang elmu, juga kurang referensi.. Komik dengan kualitas minimal.. Tapi gw inget sekarang, masih ada yang maksimal.. Apa tuh ??.. Pe De.. Hyaha.. Jadi muncul paradox: ini karya dengan PeDe maksimal, namun kualitas minimal..

COM

Yah ini gw yang sekarang bisa ngomong begini.. Kalo dulu, mana bisa ??.. Wong cuman hobby semata.. Tapi seinget gw, buku komik jadi2an yang gw  bikin ini sempet beredar juga diantara temen2 sekelas.. Di waktu istirahat, atau pas bosen perhatiin guru, buku gw ini dibaca di bawah meja mereka.. Haha.. Maklum lah, belum ada gadget, telpon masih telpon rumah, terus fesbuk, pinterest, instagram apalagi, masih belum terlintas juga kale di kepala penemunya.. Lantas di era itu, hiburan apalagi yang bisa dinikmati saat rasa bosan melanda di jam pelajaran tengah berlangsung ??.. Haha..

Bagaimanapun, menjadi seorang komikus total, sudah pernah terlintas dalam pikiran gw sejak dulu.. Namun idealisme seringkali terbentur keras dengan kenyataan.. Sampai saat ini, di negeri ini, gw masih sulit menemukan orang yang profesinya ngomik total sejak lulus kuliah, terus jualan komik di sini entah lewat penerbit major ataupun indie, lantas jadi miliader.. Saat Karpet Biru udah jalan pun, menjelang tahun 2000an, kami para anggotanya pun meragukan bisa “beli beras” totally dari komik..

Menjadi wirausaha di bidang desain grafis merupakan pilihan yang mudah saat itu, karena faktanya, banyak perusaahan grafis ataupun sejenisnya yang benar2 “berjalan” dan bisa menjadi besar di era itu.. Beda dengan industri komik lokal, gw sulit sekali menemukan “role model”nya.. Mau nggak mau, impian jadi komikus total pun harus dikubur.. Bersikap idealis memang bagus, namun berpikir realistis nggak kalah penting..

Buat gw, mencoba menjadi desainer grafis yang juga komikus sama sekali bukan pilihan yang buruk.. Justru dua hal ini bisa jadi “penawar” kebosanan, dengan menambah satu rutinitas positif lagi ke dalam hidup gw.. Karena gw udah ngerasain sendiri, mengerjakan satu hal terus menerus, secinta apapun kita sama hal tersebut, rasa bosan pasti akan tetap bisa melanda.. Plus lagi, toh impian menjadi komikus yg terkubur masih bisa digali lagi.. Bisa jadi ia hanya mati suri.. Menunggu saat yang tepat untuk dibangkitkan kembali..

Kemarin ngobrol sama beberapa mahasiswa yang bikin UKM komik inkking, ngeliat “kegalauan” mereka membuat gw teringat lagi sejumlah episode hidup gw di masa lalu.. Lantas mereka ngasi gw sebuah komik terbitan UKM mereka yang terbaru.. Kayak yang di photo ini neh.. hehe.. Buat gw sih cukup “WAW” tampilannya kalo dibandingkan terbitan kokabi 12 edisi terdahulu..

Untitled-2
Untuk anak2 inkking dengan terbitan terbarunya.. Ketahuilah, selain rasa senang, gw tetap punya rasa iri sama kalian.. Dengan kondisi teknologi sekarang ini, dengan teman2 sehobby plus kesamaan hal yang digemari, dengan senior2 yang punya kompetensi, dengan banyaknya tempat untuk bertanya di sana sini, di awal berkarya kalian bisa tampil dengan “wujud fisik” sebagus ini.. Dulu guwa cuman potokopi.. Hyaha..

Ada yang beranggapan, memiliki multidisiplin ilmu di era sekarang ini justru lebih oke.. Punya kebisaan yang banyak, berarti banyak hal yang bisa dilakukan, maka makin banyak peluang yang bisa diambil atau diciptakan.. Maka bersiaplah untuk banyak hal.. Termasuk hal2 yang tidak terduga..

Bisa desain, bisa ngomik, bisa nulis, atau bisa apapun, jelas lebih menguntungkan untuk menghadapi masa depan.. Siapa yang bisa menjamin komik marketnya nanti nggak akan serame desain ??.. Siapa yang bisa menjamin komoditas produk visual apa yang nantinya akan laris manis di masa depan ??..

So, persiapkan saja banyak skill sejak dini, pertajam semuanya semaksimal mungkin.. Mana tau di antara itu semua di masa depan nanti bisa menjadi “layak jual” atau bernilai secara ekonomi.. Karena kita hanya menjadi siap untuk hal2 yang kita siapkan.. Makin banyak “amunisi” yang dipersiapkan, semakin banyak yang bisa ditembakkan di masa depan.. Syukuri (baca: maksimalkan) apa yang sudah ada di depan, jadikan kesabaran sebagai bekal perjalanan..

MANUSIA INDONESIA – Sarlito Wirawan Sarwono

01Dapet share dari temen.. Bagus nih, wajib di taro di blog buat renungan.. hehe.. Dah gitu ngangkat teori Locus of Control yang pernah gw posting di sini..

MANUSIA INDONESIA
Sarlito Wirawan Sarwono*

Beberapa waktu yang lalu, ketika melintasi jalan Kapten Tendean, Jakarta, yang sedang direnovasi, saya terkejut ketika melihat salah satu backhoe (alat berat penggali tanah) bermerek “Samsung” (Korea), karena selama ini yang saya ketahui Samsung adalah produser HP, smart phone, gadget dan barang-barang elektronik, yang sudah jauh menggusur posisi Sonny dan Nokia (Jepang), tetapi bukan produsen alat-alat berat.

Tetapi bukan itu saja, di Indonesia para Korea ini sudah mulai menggusur Jepang di bidang kuliner (Resto Korea versus Resto Jepang), budaya pop (K-pop, Gangnam style, Boys band, Sinetron Korea dll), dan otomotif (“H” dari Hyundai versus “H” dari Honda). Padahal Korea pernah “dijajah” Jepang (1876-1945) dan orang Korea punya dendam kesumat kepada orang Jepang. Tetapi dendam itu tidak dibalaskan dengan perang lagi atau agresi politik, melainkan dengan kerja keras yang menghasilkan prestasi di bidang teknologi, ekonomi dan budaya. Dalam waktu 70 tahun kita sama-sama melihat hasilnya.

Indonesia juga pernah dijajah Jepang, tidak lama, hanya 3½ tahun, tetapi rakyat sangat menderita selama masa penjajahan yang singkat itu. Anehnya, walaupun akhirnya Jepang kalah Perang Dunia II dan Jepang diwajibkan membayar pampasan perang kepada Indonesia, setelah 70 tahun Indonesia tidak berhasil mengimbangi Jepang hampir di segala bidang. Malah di tahun 1974 terjadi peristiwa Malari (15 Januari), saat mahasiswa dan massa membakari mobil-mobil bermerk Jepang.

Orang Indonesia bukannya bekerja lebih giat untuk menyaingi Jepang, tetapi menyalahkan dan menyerang si pesaing. Dalam psikologi mentalitas seperti ini disebut “ekstra-punitif” (menghakimi pihak lain) yang bersumber pada “pusat kendali eksternal” (external locus of control).

Menurut teori Pusat Kendali (locus of control: J.B. Rotter, 1954), ada dua macam tipe manusia, yaitu yang Pusat Kendalinya Internal dan Eksternal. Orang dengan Pusat Kendali Internal (PKI) percaya bahwa dirinya sendirilah yang menentukan apa yang akan terjadi dengan dirinya, bahkan lingkungan di sekitarnya pun bisa dia kendalikan sesuai dengan kebutuhannya.

Sedangkan orang dengan Pusat Kendali Eksternal (PKE) jika terjadi sesuatu, cenderung menyalahkan pihak lain, bukannya mengoreksi diri sendiri. Sebagian besar orang Indonesia, menurut hemat saya, tergolong PKE. Bukan hanya dalam kasus Malari, tetapi hampir pada setiap peristiwa sehari-hari. Kalau dalam Pilkada ada calon Bupati/Walikota yang dinyatakan gugur karena tidak memenuhi persyaratan maka kantor KPU-nya dibakar.

Kalau kebanjiran menyalahkan pemerintah, kalau kekeringan minta bantuan pemerintah. Si pemerintah juga lebih senang menyalahkan alam yang tidak bersahabat. Bahkan ketika perekonomian nasional mengalami perlambatan seperti sekarang ini, para menteri di pemerintah pusat lebih senang menyalahkan faktor-faktor luar negeri (menggiatnya perekonomian dan kenaikan suku bunga di AS dll), ketimbang merekayasa perekonomian dalam negeri untuk mendongkrak laju perekonomian nasional. Pengendara motor yang melawan arus, ketika ditangkap polisi, akan membantah, “Loh, tiap hari saya liwat sini. Ada polisi, tetapi tidak pernah diapa-apakan. Kok sekarang saya mau ditilang?”

Salah satu dampak dari sifat bangsa Indonesia yang KPE ini adalah mencari jalan pintas. Tidak punya ijasah, ya beli ijasah Aspal saja. Mau menang Pilkada, beli suara. Mau main di pengadilan beli hakimnya. Kalau tidak bisa dibeli, liwat kekerasan. Termasuk Tuhan pun dijadikan faktor yang dijadikan sarana untuk mencapai sesuatu. Ingin lulus Ujian Nasional, sholat Istigozah rame-rame.

Demo anti kenaikan harga BBM, teriak “Allahu Akbar”. Tetapi karena Tuhan tidak bisa dibeli, maka yang menikmati (yang terima duit) adalah para pemain di balik agama, termasuk para da’i komersial (yang sering masuk TV dan honor tausyiahnya 10 kali lipat dari ceramah profesor), Biro perjalanan haji dan Umroh, dan para pemain politik yang menggunakan agama sebagai kendaraannya.

Akhir-akhir ini bahkan makin kuat kecenderungan untuk lebih menuhankan agama ketimbang menuhankan Tuhan (Allah) itu sendiri. Agama sudah dianggap jauh lebih penting dari pada negara, pemerintah, bendera dan lagu kebangsaan, kewarganegaraan, dsb. Kalau Kartosuwiryo yang memproklamasikan NII (Negara Islam Indonesia) di tahun 1949 (isterinya tidak berjilbab), masih mencita-citakan sebuah negara yang bernama Indonesia, JI (Jamaah Islamiah) dan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) tidak lagi mempersoalkan wilayah, dia maunya seluruh dunia adalah daulah Islamiah, yang dipimpin oleh seorang Amir atau Khalifah saja.

Berita mutakhir, ISIS telah mengeksekusi 19 perempuan yang menolak bersetubuh dengan para pejuangnya, atas nama agama, atas nama daullah Islamiah. Padahal Allah sendiri tidak pernah mengatakan begitu. Bukankah ini menuhankan agama lebih dari pada menuhankan Allah itu sendiri? Apa namanya kalau bukan musyrik?

Dampak yang serius dari mentalitas PKE adalah orang jadi malas kerja. Orang PKE yang tidak berorientasi agama memilih hidup hedonis, mumpung muda hura-hura, tua foya-foya, mati masuk alam baka (surga atau neraka? Emang gue pikirin?). Mereka terlibat Narkoba, seks berisiko, kenakalan dan kriminal untuk memenuhi kebutuhuan hedonisnya.

Sementara PKE yang orientasinya agama lebih rajin berdoa (rukun Islam tidak pernah terlambat, termasauk berumuroh berkali-kali), tetapi tetap enggan bekerja serius. Bahkan mereka pikir tidak apa-apa sedikit bermaksiat juga, karena mereka pasti sudah diberi pahala dan ampun oleh Allah yang Maha Pengampun, karena ibadah mereka sudah berpuasa yang pahalanya lebih dari seribu bulan dan sudah sholat Arbain di Medinah, yang pahalanya entah berapa juta kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain.

Itulah sebabnya Indonesia tidak pernah lepas dari korupsi dan maksiat, walaupun mayoritas penduduknya adalah muslim terbanyak di dunia. Itulah sebabnya Indonesia tidak pernah lepas dari STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan).

Padahal Indonesia sedang dalam era Bonus Demografi (2010-2045), yaitu saat penduduk usia produktif (15-64 tahun) berjumlah dua kali lipat dari penduduk non-produktif. Para pakar menamakannya peluang emas untuk menggenjot kemajuan di segala bidang, guna menyejahterakan dan memakmurkan bangsa, khususnya karena negara-negara lain sudah meliwati masa ini bertahun-tahun yang lalu (negara-negara maju seperti Kanada dan AS sudah mengimport imigran untuk mengisi kekurangan tenaga kerja mereka) dan Indonesia sendiri akan kehilangan peluang itu juga pasca 2045.

Peluang emas inilah yang ingin direbut oleh Presiden Jokowi dengan seruannya “Kerja, kerja, kerja!!!”. Maka kabinetnya pun dinamakan Kabinet Kerja. Tetapi kalau bangsa Indonesia lebih suka berhura-hura atau hanya berdoa saja, jangan-jangan seliwat tahun 2045 (100 tahun setelah kemerdekaan), Indonesia bukannya menandingi Korea atau Tiongkok (Cina) melainkan makin terpuruk. Audhubillah min dzalik.

Koran TEMPO 15 Agustus 2015

 

minimalisir bias pikir..

01Lanjut dari postingan sebelumnya, bias pikir / kogintif seringkali terjadi, bahkan terkadang tanpa kita sadari (bias blind spot).. Kalo di Barat sana, ada event April Mop, di saat itu orang boleh berbohong atau bahasa halusnya “menguji keluguan orang lain”.. Hehe.. April Mop di tahun 1957, British Broadcasting Corporation (BBC) menayangkan laporan tentang spageti yang dipanen dari sebuah pohon.. Banyak orang yang terjebak kemudian menelpon BCC dan ingin tahu gimana caranya melakukan itu…

Moral dari kisah ini sudah jelas: jangan mempercayai begitu saja atas apa yang dibaca atau didengar.. Isi dari media itu orang2 juga, entah itu “orang kita” atau orang luar.. Dan seperti postingan gw sebelumnya, ada kecenderungan biologis dari otak untuk bias / disimpangkan supaya percaya pada majalah yang kita beli, saluran televisi yang kita tonton, dan orang yang kita sukai..

Menurut Newberg & Waldman (2013) dalam “Born to Believe”, langkah pertama untuk jadi pemikir atau orang beriman yang lebih baik adalah menyadari, bahwa setiap persepsi dan pemikiran mengandung sejumlah bias.. Soalnya, setiap keyakinan yg kita pegang adalah hasil kompromi antara yang sesungguhnya terjadi di dunia-nyata, dan dunia yang seperti kita inginkan..

Central Intelligence Agency (CIA) juga menyadari kalo ini sulit untuk dimengerti.. Sampe2 pernah menerbitkan buku panduan untuk kalangan mereka sendiri.. Di buku itu dinyatakan kalo persepsi itu nggak pasif, tapi sebuah proses aktif.. Persepsi lebih bersifat membangun ketimbang “merekam” realitas.. Jadi orang membangun persepsinya sendiri berdasarkan masukan dari indra.. Nah masukan ini diproses secara rumit oleh mental, mana yang diterima, gimana ngaturnya, kesiapan memahaminya, sampe makna2nya.. huhu.. *pusing sendiri gw..*

Pendek kata, gimana seseorang setelah menerima informasi akan sangat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, pendidikan, nilai budaya, tuntunan kedudukan, norma, dsb.. Itulah kenapa orang bisa membuat kesimpulan yang berbeda2 tentang realitas atau pemaknaan yang berbeda atas informasi yang sampe kepadanya..

Lantas supaya tidak terlalu bias / menyimpang, ada sejumlah strategi yang dikembangkan oleh CIA yang diajarkan pada para analis intellijennya, sekaligus supaya mereka bisa berpikir lebih bijak dan terbuka.. Berikut 8 strategi tersebut:

  1. Kuasai cara2 mengembangkan sudut pandang berbeda.
  2. Jangan beranggapan bahwa orang lain akan berpikir atau bertindak sama seperti kita.
  3. Pikirkan sebaliknya.. Daripada mikirin kemungkinan apa yang terjadi, langsung tempatkan diri di masa depan, dan dari situ cobalah untuk menjelaskan penyebab2 potensial kenapa kita ada di situ..
  4. Bayangkan kalo keyakinan yang kita anut saat ini adalah salah.. Lantas buat skenario yang membuatnya menjadi benar.. Ini bisa membantu seseorang untuk melihat keterbatasan keyakinan yang dipegang seseorang..
  5. Cobalah menjalani kepercayaan orang lain dengan betul2 memerankannya.. Hal ini bisa membuat kita berhenti melilhat dunia hanya dari sisi keyakinan kita.. (*NOTE: poin 4 & 5 ini hal yang sulit, apalagi untuk keyakinan yg sifatnya religius..)
  6. Mainkan “pengacara setan” (devil’’s advocate) dengan melihat dari sudut pandang kaum minoritas.. Hal ini bisa ngebantu kita kalo kita punya anggapan yang berbeda, ternyata bisa melihat dunia terlihat berbeda..
  7. Lakukan brain storming / curah pendapat.. Banyak ide bisa membawa kita ke pemikiran yang lebih berkualitas.. Karena gagasan yang awal2 muncul di pikiran kita hampir selalu mencerminkan keyakinan lama.. Gagasan baru bisa ngebantu kita untuk terbebas dari kendala emosional dan norma sosial..
  8. Berinteraksilah dengan orang2 dari berbagai latar belakang dan keyakinan..

So, sudut pandang akan menentukan apa yang kita liat, menentukan apa yang kita simpulkan dan akhirnya menentukan tindakan kita.. Kalo seseorang melihat dari perspektif yang sempit, keputusannya juga sempit.. Contohnya ya “cocoklogi”, apapun dikaitkan dengan wahyudi, hehe.. Sebaiknya emang kita ni mesti belajar ngeliat dari beragam sudut pandang.. Karena keputusan yang berasal dari satu perspektif hanya menguntungkan satu perspektif, dan keputusan yang berdasarkan pada banyak perspektif, berpotensi menguntungkan banyak pihak..

hati hati bisa bisa bias..

001221Abis baca suatu bab dalam sebuah buku, gw jadi teringat lagi komen seorang blogger di sebuah postingan gw di multiply dulu: “hidup dalam perbedaan itu sulit bro..”

Sekarang gw makin paham kalo hidup dalam perbedaan itu sebuah hal yang sangat lumrah dan sangat wajar, kalo nggak mau dibilang sebuah kepastian.. Sepertinya malah nggak mungkin seseorang bisa hidup dalam sebuah “society” tanpa menghadapi perbedaan.. Perbedaan di sini maksudnya perbedaan mental, emosional dan kogintif / pemikiran.. Kalo fisik sih, udah jelas memang pada berbeda..

Hasil2 studi atau riset kajian ilmiah pun ternyata sangat bergantung pada cara seseorang menafsirkan bukti2 yang ada.. Nah, bicara soal penafsiran, maka tidak bisa lepas dari persepsi, dan bicara soal persepsi berarti bicara gimana seseorang membangun “realitas”nya sendiri, atau keyakinan seseorang atas apa yang ada disekitarnya..

Sejak 50 tahun lalu para peneliti, ilmuwan, psikolog dan sosiolog penasaran dengan proses berpikir manusia dalam membentuk keyakinan seseorang.. Ternyata faktor lingkungan jadi faktor yang cukup menentukan.. Namun faktor tersebut juga bisa jadi bumerang.. Karena banyak bias2 yang bisa ditimbulkan dari lingkungan sekitar.. Jadi, menurut Newberg & Waldman (2013) dalam bukunya “Born to Believe – Gen Iman dalam Otak”..; Supaya bisa jadi pemikir yang lebih baik, peneliti yang lebih baik, dan beriman lebih baik, seseorang perlu paham adanya bias2 ini..

Ini gw cuman ambil beberpa aja sih, karena ada banyak.. Gw cuman mengaitkan dengan kondisi sini yang seringkali berantem kalo berbeda, sering melabelkan macem2 kalo berbeda, dan kesannya yang berbeda adalah salah & malah dicela, jadi semuanya mesti “harus sama kayak guwe..”, kemudian ujung2nya bisa membenci mereka yang berbeda.. (^_^!).. Berikut sejumlah bias, atau cara2 otak yang bisa menyimpangkan realitas..:

  1. Bias keluarga.. Otak manusia cenderung otomatis percaya pada anggota keluarga karena bersandar pada mereka bertahun2.. Jadi informasi dari mereka cenderung mudah diterima tanpa periksa ulang faktanya..
  2. Bias otoritas.. Manusia cenderung percaya pada mereka yang punya kekuasaan dan status.. Jadi, seseorang bisa lebih percaya pada ketua partai, motivator, guru, ustad atau gelar semacamnya, tanpa terlebih dahulu memeriksa sumber informasinya.. (Tuuhh kaan.. Mangkanya taqlid buta bisa berbahaya..)
  3. Bias pengesahan.. Manusia cenderung menekankan informasi yang mendukung keyakinannya sendiri, dan secara nggak sadar menolak informasi yang berlawanan dengan keyakinannya.. Ada yang bilang keyakinan melekat erat di sistem syaraf, jadi meski udah dikasi bukti2 yang bertentangan, tetep aja sulit untuk mengubah koneksi / sirkuit yang udah ada di otak seseorang..
  4. Bias melayani diri sendiri.. Otak manusia cenderung bertahan dengan kepercayaan yang menguntungkan kepentingan dan tujuannya sendiri..
  5. Bias luar & dalam kelompok.. Secara tidak sadar otak manusia bisa memberi perlakuan istimewa pada yang sekelompok, dan meremehkan kepercayaan orang2 yang diluar kelompoknya..
  6. Bias perkiraan.. Manusia sering menganggap kalo orang lain punya keyakinan dan nilai moral yang sama, serta melihat dunia dengan cara yang sama.. Central Intelligence Agency menyebut bias ini sebagai “pola pikir: orang lain juga berpikiran seperti kita..”, dan menganggap salah satu bias yang paling berbahaya yang bisa dimiliki seseorang.. Karena ya sudah jelas, manusia punya budaya berbeda, tipe kepribadian berbeda, dan bisa dipastikan punya pikiran yang berbeda..
  7. Bias kekekalan.. Sekali seseorang mempercayai sesuatu, maka akan selalu bersikeras kalo keyakinan itu benar, meski dihadapkan pada bukti yang sebaliknya.. Dan semakin lama ia bertahan pada keyakinan itu, semakin terpatri hal tersebut dalam sirkuit saraf..
  8. Bias publikasi.. Karena kita sadar di dalam perusahaan penerbit media itu ada profesi2 tertentu yang diisi oleh orang2 yang kompeten, kita jadi cenderung mudah untuk menyimpulkan apa yang dipublikasikan adalah benar.. (Hehehe.. sepertinya bias model ini nih banyak banget contohnya di sini..)
  9. Bias titik buta.. Para peneliti mengidentifikasi adanya bias blind spot.. Yakni ketidak tahuan seseorang akan bias2 yang dimiliki oleh dirinya sendiri.. Termasuk seberapa sering seseorang terjebak oleh bias2 ini.. Bias titik buta sering dimanfaatin oleh para pengiklan untuk membentuk persepsi seseorang supaya mau ngebeli produknya..

Yah kurang lebih gitu deh.. Kesimpulannya sih, sebaiknya kita ini hati2 saat merasa paling benar.. Karena kebenaran itu bisa bersifat penafsiran yang dipengaruhi oleh persepsi masing2 orang.. Bisa dibilang seobjektif-2nya seseorang, akan bisa tetap ada sisi subjektifnya..

Dan satu lagi, kalo dikaitkan dengan komen blogger di awal postingan, buat apa juga malah “memperuncing” hal yang sudah wajar, yakni perbedaan..?? Lebih baik berfokus pada hal2 yang lebih mendamaikan dan layak dibangun bersama untuk kepentingan yang lebih luas..

Lantas, ada trik2nya nggak supaya kita bisa “meminimalisir” jebakan dari bias2 ini ??.. Jawabannya, ada sih.. Tapi ntar deh di postingan berikutnya.. Udah panjang banget niiihh.. Hehe..

lentera si buta..

0003322Suatu ketika, Di sebuah daerah hutan pegunungan, seseorang yang buta main ke rumah sahabatnya dari pagi hingga malam.. Saat malam harinya pas dia mau pulang, sahabatnya memberi lentera sederhana untuk dibawanya pada perjalanan pulang.. Si buta pun tertawa: “Hyahaha.. buat apa bawa ini ??, wong saya ini orang buta kok.. Jalan pulang juga saya udah hafal..”.. Si sahabatnya pun menjawab: “Di luar kan udah gelap, ini biar orang lain nggak nabrak kamu..”

Lantas si buta pun berjalan pulang.. Nggak lama jalan, bener aja, ada orang yang nabrak dia.. Si buta pun marah, namun si penabrak tetep cuek aja, langsung jalan ninggalin si buta.. Si buta kemudian melanjutkan perjalanannya.. Di tengah perjalanan, lagi2 ada orang yang nabrak dia.. Lalu dia pun marah lagi ke orang yang nabrak: ”Heh..!! Sampeyan buta ya ?!? Saya udah pegang lentera gini masih ditabrak juga !!..”

Si penabrak menjawab: “Mas.. Lentera sampeyan itu mati.. Mana bisa saya liat sampeyan ?!?..”.. Namun, setelah memperhatikan lebih lanjut, si penabrak pun sadar kalo yang ditabraknya orang buta.. Lantas dia pun meminta maaf, kemudian membantu si buta untuk kembali menyalakan lenteranya.. Saat mau meninggalkan si buta, ia sempat berfikir: “Coba guwa bawa lentera ya, pasti bisa bantu gw sendiri dan orang2 lain untuk bisa ngeliat jalan di sekitarnya..

Si buta lantas lanjut berjalan.. Nggak lama kemudian (mungkin emang lagi apes kali yee.. hehe..), lagi2 ada yang nabrak si do’i.. Tapi karena “kejadian” sebelumnya, sekarang si buta nggak langsung marah.. “Maaf ?? Apakah lentera saya mati ??..” Malah itu kalimat yang terlontar dari mulutnya.. Ehh, dilalah, yang nabrak juga malah ngomong: “Loh ??.. Saya juga mau tanya itu ke sampeyan..”.. Ternyata eh ternyata, yang nabrak juga orang buta.. Sadar mengenai hal itu, keduanya pun tertawa.. Lantas mereka kemudian saling bahu membahu untuk menemukan lentera mereka yang terjatuh di kegelapan malam..

Tapi ya gitu, deh.. Bisa membayangkan kondisinya ??.. Dua orang buta mencari lentera dalam kondisi gelap gulita hutan pegunungan ??.. Hyaha.. sulit pastinya..

Gw suka cerita ini karena ada beberapa hikmah yang bisa diambil:
1. Orang buta yang tertawa dan menolak diberi lentera ibarat orang kebanyakan.. Merasa dirinya tidak perlu ilmu, meski sebetulnya banyak tersebar di sekitarnya.. Yah, diberi aja nolak, apalagi nyari ya ??.. Hehe.. Banyak kan yang malas belajar lagi ??.. Padahal “guru”nya pun udah banyak tersedia..

2. Penabrak pertama ibarat orang yang nggak peduli sama ilmu yang dimilikinya, juga nggak peduli kalo ilmunya sebetulnya bisa bermanfaat buat orang lain.. Dia nggak peduli, yang penting ia selamat sendiri, terserah orang lain mau berilmu atau nggak bukan urusan dia..

3. Penabrak ketiga yah udah tau sendiri lah yaa.. Peduli ke orang, mencoba memperbaiki “apa yang salah”.. Memikirkan ilmu untuk diri dan orang lain.. Sadar kalo ilmu itu bisa jadi penyelamat / penerang “jalan”.. Makin banyak & luas ilmu, malah makin diri ini yang “dijagain” oleh ilmu.. Nggak juga mencaci atau melabeli orang yang masih belum berilmu.. Nggak seenaknya menyalah2kan, malah berlaku lembut membantu si buta menerangi dirinya sendiri..

4. Kejadian dua orang buta mencari lentera di malam hari itu seperti hal konyol.. Mana bisa ketemu lenteranya ??.. Itu simbol untuk bisa dapet ilmu perlu adanya seorang yang udah tahu duluan atau guru.. Baik guru yang bersifat fisik / hadir langsung, ataupun non-fisik / virtual seperti visual video, atau tulisan / buku..

Kepada siapa seseorang berguru terkadang bisa menjadi masalah tersendiri.. Menganggap si guru paling benar pun bisa jadi masalah.. Karena bisa saja si guru merasa nggak perlu belajar lagi.. Dan sepertinya lebih baik untuk memilih guru yang bermental murid..  Yang jelas, belajar bisa dari siapa saja dan taqlid buta memang mesti dihindarkan....

Ngutip kata Cak Nun: “Ilmu tidak selalu diperoleh dari guru sekolah / dosen, ustadz, kyai, ulama atau ahli agama. Kebenaran bisa datang dari siapa saja. Seorang bajingan bisa saja membuka mata hatimu pada sebuah hidayah. Seorang ulama bisa saja membuatmu ‘kerdil’ dengan ilmu pengetahuan dan keyakinan yang kamu dekap erat. Yang membuatmu jadi menutup diri pada ilmu dan pengetahuan yang ada di luar sana. Yang kamu anggap bertentangan dengan keyakinanmu.”