me|write, think sotoy
Comments 6

hati hati bisa bisa bias..

001221Abis baca suatu bab dalam sebuah buku, gw jadi teringat lagi komen seorang blogger di sebuah postingan gw di multiply dulu: “hidup dalam perbedaan itu sulit bro..”

Sekarang gw makin paham kalo hidup dalam perbedaan itu sebuah hal yang sangat lumrah dan sangat wajar, kalo nggak mau dibilang sebuah kepastian.. Sepertinya malah nggak mungkin seseorang bisa hidup dalam sebuah “society” tanpa menghadapi perbedaan.. Perbedaan di sini maksudnya perbedaan mental, emosional dan kogintif / pemikiran.. Kalo fisik sih, udah jelas memang pada berbeda..

Hasil2 studi atau riset kajian ilmiah pun ternyata sangat bergantung pada cara seseorang menafsirkan bukti2 yang ada.. Nah, bicara soal penafsiran, maka tidak bisa lepas dari persepsi, dan bicara soal persepsi berarti bicara gimana seseorang membangun “realitas”nya sendiri, atau keyakinan seseorang atas apa yang ada disekitarnya..

Sejak 50 tahun lalu para peneliti, ilmuwan, psikolog dan sosiolog penasaran dengan proses berpikir manusia dalam membentuk keyakinan seseorang.. Ternyata faktor lingkungan jadi faktor yang cukup menentukan.. Namun faktor tersebut juga bisa jadi bumerang.. Karena banyak bias2 yang bisa ditimbulkan dari lingkungan sekitar.. Jadi, menurut Newberg & Waldman (2013) dalam bukunya “Born to Believe – Gen Iman dalam Otak”..; Supaya bisa jadi pemikir yang lebih baik, peneliti yang lebih baik, dan beriman lebih baik, seseorang perlu paham adanya bias2 ini..

Ini gw cuman ambil beberpa aja sih, karena ada banyak.. Gw cuman mengaitkan dengan kondisi sini yang seringkali berantem kalo berbeda, sering melabelkan macem2 kalo berbeda, dan kesannya yang berbeda adalah salah & malah dicela, jadi semuanya mesti “harus sama kayak guwe..”, kemudian ujung2nya bisa membenci mereka yang berbeda.. (^_^!).. Berikut sejumlah bias, atau cara2 otak yang bisa menyimpangkan realitas..:

  1. Bias keluarga.. Otak manusia cenderung otomatis percaya pada anggota keluarga karena bersandar pada mereka bertahun2.. Jadi informasi dari mereka cenderung mudah diterima tanpa periksa ulang faktanya..
  2. Bias otoritas.. Manusia cenderung percaya pada mereka yang punya kekuasaan dan status.. Jadi, seseorang bisa lebih percaya pada ketua partai, motivator, guru, ustad atau gelar semacamnya, tanpa terlebih dahulu memeriksa sumber informasinya.. (Tuuhh kaan.. Mangkanya taqlid buta bisa berbahaya..)
  3. Bias pengesahan.. Manusia cenderung menekankan informasi yang mendukung keyakinannya sendiri, dan secara nggak sadar menolak informasi yang berlawanan dengan keyakinannya.. Ada yang bilang keyakinan melekat erat di sistem syaraf, jadi meski udah dikasi bukti2 yang bertentangan, tetep aja sulit untuk mengubah koneksi / sirkuit yang udah ada di otak seseorang..
  4. Bias melayani diri sendiri.. Otak manusia cenderung bertahan dengan kepercayaan yang menguntungkan kepentingan dan tujuannya sendiri..
  5. Bias luar & dalam kelompok.. Secara tidak sadar otak manusia bisa memberi perlakuan istimewa pada yang sekelompok, dan meremehkan kepercayaan orang2 yang diluar kelompoknya..
  6. Bias perkiraan.. Manusia sering menganggap kalo orang lain punya keyakinan dan nilai moral yang sama, serta melihat dunia dengan cara yang sama.. Central Intelligence Agency menyebut bias ini sebagai “pola pikir: orang lain juga berpikiran seperti kita..”, dan menganggap salah satu bias yang paling berbahaya yang bisa dimiliki seseorang.. Karena ya sudah jelas, manusia punya budaya berbeda, tipe kepribadian berbeda, dan bisa dipastikan punya pikiran yang berbeda..
  7. Bias kekekalan.. Sekali seseorang mempercayai sesuatu, maka akan selalu bersikeras kalo keyakinan itu benar, meski dihadapkan pada bukti yang sebaliknya.. Dan semakin lama ia bertahan pada keyakinan itu, semakin terpatri hal tersebut dalam sirkuit saraf..
  8. Bias publikasi.. Karena kita sadar di dalam perusahaan penerbit media itu ada profesi2 tertentu yang diisi oleh orang2 yang kompeten, kita jadi cenderung mudah untuk menyimpulkan apa yang dipublikasikan adalah benar.. (Hehehe.. sepertinya bias model ini nih banyak banget contohnya di sini..)
  9. Bias titik buta.. Para peneliti mengidentifikasi adanya bias blind spot.. Yakni ketidak tahuan seseorang akan bias2 yang dimiliki oleh dirinya sendiri.. Termasuk seberapa sering seseorang terjebak oleh bias2 ini.. Bias titik buta sering dimanfaatin oleh para pengiklan untuk membentuk persepsi seseorang supaya mau ngebeli produknya..

Yah kurang lebih gitu deh.. Kesimpulannya sih, sebaiknya kita ini hati2 saat merasa paling benar.. Karena kebenaran itu bisa bersifat penafsiran yang dipengaruhi oleh persepsi masing2 orang.. Bisa dibilang seobjektif-2nya seseorang, akan bisa tetap ada sisi subjektifnya..

Dan satu lagi, kalo dikaitkan dengan komen blogger di awal postingan, buat apa juga malah “memperuncing” hal yang sudah wajar, yakni perbedaan..?? Lebih baik berfokus pada hal2 yang lebih mendamaikan dan layak dibangun bersama untuk kepentingan yang lebih luas..

Lantas, ada trik2nya nggak supaya kita bisa “meminimalisir” jebakan dari bias2 ini ??.. Jawabannya, ada sih.. Tapi ntar deh di postingan berikutnya.. Udah panjang banget niiihh.. Hehe..

Advertisements

6 Comments

  1. Pingback: minimalisir bias pikir.. | halaman guna guna

  2. Anonymous says

    Cakep nih artikelnya. Thanks yaaa… udah dapat ilmu, didoain banyak rejeki pulak wehehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s