Latest Posts
su’od #10..
perilaku laku..
Sempat mengobrol sama seorang dosen senior sangat.. Beliau sempat ngomong tentang attitude beberapa mahasiswanya yang seringkali “kelewatan”.. Entah itu lewat deadline, lewat kelas doang (kagak masuk), dan nasehat2 pengajar juga cuman lewat kupingnya doang.. hehehe..
Sang dosen juga udah ngasi petuah ke mahasiswa2 itu: “Meski punya skill tinggi, tapi kalo attitudenya nggak bener, tetep akan susah diambil kerja oleh perusahaan..”
Bener sih.. Selama ini kalo gw pikir2 lagi, semua mahasiswa yg gw ambil magang ataupun untuk bekerja, faktor attitude jadi hal yang cukup menentukan.. Seorang dosen lain yang juga praktisi pernah ngomong ke guwa begini: “Kalo punya bawahan yang attitudenya jelek, ampuuuun deh mas rasanya..”.. Ya gitu deh, malah jadi nambah masalah..
Nggak usah bawahan, kalo kita punya temen satu tim atau satu kelompok bikin tugas yang attitudenya jelek aja, pasti berasa deh tuh “jleb”nya.. Siapa coba yang bisa tahan ngadepin orang yang selalu melihat dari perspektifnya sendiri dan bertindak semaunya sendiri ??.. Kalo model mahasiswa yg sering gw liat yang attitudenya kurang itu umumnya ya nggak mau diikat oleh peraturan.. Jadwal masuk jam berapeee, masuk jam berapee ??.. Malah kadang masuknya pas injury time..
Mereka2 itu kayaknya nggak mau mencoba berpikir, kalo itu sudah jadi kebiasaan, akan semakin susah ngubahnya.. Ya gitu deh.. di Qur’an juga udah disebutkan: hanya orang2 yang mau berpikir yang bisa mengambil pelajaran.. Yang nggak mau mikir, sebanyak apapun pelajaran di sekeliling mereka, atau bahkan si pelajaran yg menghampiri mereka, nggak akan bisa diambil..
Attitude, kebiasaan, karakter menunjukkan kualitas moral atau mental yang menunjukkan identitas seseorang.. Attitude yg nantinya akan jadi karakter bukanlah semata produk sekolah atau universitas.. Namun merupakan produk akumulasi dari keluarga, sekolah, dan lingkungan dimana tempat ia tinggal, serta kebiasaan diri yang didisiplinkan yang dibangun sendiri oleh orang itu..
Membangun attitude berbeda dengan membangun skill.. Bisa hitungan bulanan untuk membangun sebuah kemampuan, namun butuh hitungan tahunan untuk membangun sikap yang anggun.. Bruce Lee pernah bilang: “It’s easy to teach one to be skillfull, but it si difficult to teach him his own attitude..”
Pembelajaran Hakiki
Oleh Asep Sapa’at (Praktisi Pendidikan, Direktur Sekolah Guru Indonesia)
“Mengapa di Indonesia tidak seperti ini, Mama?” curahan hati seorang anak Indonesia di awal proses adaptasi ketika mengenyam pendidikan di Perancis. Ekspresi kekagetan yang teramat hebat.
Lantas, hal berbeda apa yang terjadi di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia dan Prancis? Saya tertarik mengungkap kisah perjuangan sahabat sekaligus guru kehidupan saya, Bu Wulan Sari dan suaminya, mendampingi kedua putranya bergelut dengan praktik pendidikan dan persekolahan di Prancis.
‘Tahu banyak tapi sedikit’, itulah ciri pendidikan Indonesia. Simak yang tersurat di kurikulum. Materi pelajaran sangat bejibun. Meski jumlah mata pelajaran dikurangi, jam pelajaran malah terus bertambah. Repotnya, materi pelajaran kerap tak relevan dengan kehidupan si pembelajar.
Wajar jika anak tahu kapan dan siapa pelaku perang Padri, tapi mereka tak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Anak tak bisa internalisasi nilai sejarah, pun pelajari sejarah masa silam untuk bekal hidup di masa depan.
‘Ketika saya pindah ke Prancis, semuanya menjadi berbeda. Anak-anak saya harus downgrade setahun. Saya pikir hal ini mudah dilewati karena anak saya sudah belajar banyak materi pelajaran di Indonesia. Tapi apa gerangan yang terjadi? Anak-anak saya disini tak diajarkan banyak mata pelajaran. Namun mereka diajarkan suatu materi secara detail dan mendalam. Anak kami shock awalnya. Saya dan suami bekerja keras mendampingi di masa awal adaptasi di sekolah. Setelah itu, semua berjalan normal’, ungkap Bu Sari.
Siswa di Prancis dikondisikan agar jadi orang yang ‘tahu sedikit tapi banyak’. Beda bukan dengan siswa di Indonesia?
Di Indonesia, semua hal dipelajari, tapi tak pernah tuntas sampai akarnya. Lucunya, misal, anak SD di Indonesia harus belajar soal seluk-beluk lembaga-lembaga negara semacam MPR, DPR, lengkap dengan berbagai aturan perundang-undangan, layaknya mau hadapi tes calon lurah atau camat saja. Coba tanya, untuk apa mereka pelajari itu semua?
Banyak materi pelajaran, tapi miskin pengalaman belajar, itulah bencana terbesar bagi anak-anak kita. Sudah materi pelajarannya banyak, metodologi pengajarannya cenderung monoton dan satu arah. Wah kasihan anak-anak sekolah kita. Mereka miskin pengalaman belajar. Tak ada atau bahkan minim sekali proses mengkonstruksi pengetahuan lewat aktivitas belajar aktif yang menyenangkan dan bermakna.
“Di sini tak ada Pekerjaan Rumah (PR). Yang menarik, anak saya kelas 3 SMP tiap hari harus mempersembahkan eksplorasi ide tentang sesuatu dalam bentuk riset, presentasi, dan refleksi”, cerita Bu Sari penuh semangat.
Lantas apa yang terjadi dengan adiknya yang duduk di kelas 5 SD? Dengan lugas, Bu Sari kembali bertutur, “Suatu ketika saya terkaget-kaget. Anak saya sangat senang dan sudah bersiap diri menyajikan presentasi soal Steve Jobs dan Apple, suatu kajian yang amat diminatinya. Semua disajikan secara runtut, memenuhi konsep 5W+1H.
Anak belajar secara kontekstual, dibiasakan berpikir sistematis, dilatih jadi pemecah masalah dan pemikir kritis-kreatif”. Dahsyat. Prancis oh Prancis.
Di sekolah Prancis, materi pelajaran dikemas secara sederhana dan mendalam. Anak-anak dilatih berpikir analisis. Di Indonesia, anak-anak dituntut berpikir tingkat rendah, menghapal. Yang penting hapal banyak materi pelajaran dulu. Soal bermanfaat atau tidak untuk kehidupan anak, siapa yang peduli?
Tiada hari tanpa membaca dan menulis. Apapun materi pelajarannya, pastinya tiap hari ada pembudayaan baca tulis bagi siswa. Secara berkala, para siswa di Prancis diwajibkan membaca satu buku. Selesai membaca buku, para siswa dibiasakan untuk menyajikan hasil resume buku dalam bentuk presentasi dan story telling.
Nah, inilah praktik jitu membangun budaya literasi di sekolah. Bagaimana jika waktu liburan datang? “Di summer holiday, sekolah mewajibkan anak-anak membedah dua buku, satu buku English dan satu buku French”, jelas Bu Sari. Top markotop deh.
Apa pesan tersirat dari Prancis untuk Indonesia? Hakikat belajar adalah proses mengalami, bukan sekadar melihat dan mendengar saja. Confucius pernah berujar, ‘Jika saya dengar, saya lupa. Jika saya lihat, saya ingat. Jika saya lakukan, saya paham’. Pembelajaran hakiki berdasarkan performa dan kenyataan (Campbell, 2000). Libatkan anak dalam pembelajaran, cara bijak membantu anak menjadi pribadi yang merdeka dan sadar potensi diri. Anak tak hanya sekadar tahu dan paham. Tapi bisa mengambil manfaat untuk kehidupan mereka kelak di dunia nyata.
Menuntaskan materi kurikulum itu penting. Tapi yang jauh lebih penting membekali keterampilan hidup (berpikir, menyelesaikan masalah, bicara di depan umum, bekerja sama, dsb) bagi si anak. Kurikulum dan materi pelajaran itu hanyalah alat saja, proses pengalaman belajar siswa tetaplah yang utama. Karena satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman, itu titah bijak Einstein. Maka, berilah siswa pengalaman belajar hebat yang takkan mereka lupakan sepanjang hidup mereka.
Source: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/13/07/31/mqsi46-pembelajaran-hakiki
tulis terroosss…
Belum lama ini dapet ucapan anniversary ini dari wordpress.. Bener2 nggak berasa, udah 3 tahun ngeblog di WP.. Kalo ditotal sama blog di mulitply sih kurang lebih udah 10 tahun.. Hyaha.. Aneh juga rasanya, kok bisa2nya gw “terjerumus” ke dalam rimba nulis rutin kayak gini.. Secara gw itu doyannya ngomik dan ngegambar..
Entah sejak kapan keputusan untuk terus menulis ini gw ambil.. Dan makin ke sini, makin tau manfaat dari menulis untuk kesehatan mental dan otak, makin nggak kepengen untuk berhenti ngeblog.. Yang gw suka dari ngeblog itu, gw bisa nulis apapun tanpa merasa terbebani.. Nggak ada tulisan pesanan, nggak ada klien yang harus dipuaskan, dan bahkan tanpa harus memikirkan ada pembacanya ataupun nggak..
Jadi pada intinya, ngeblog atau nulis itu emang awalnya gw niatkan untuk mengambil manfaatnya untuk diri sendiri (karena manfaatnya ternyata banyak, mulai dari jadi lebih ekspresif, dan “merekam” apa yang sudah diri ini tahu), dan tentu saja numpahin uneg2 yang ada di pikiran (yang terkadang sulit untuk “nyambung” sama orang lain)..
Ternyata cukup ngaruh, kalo gw niatkan nulis untuk orang lain, rasanya ada beban tersendiri untuk memuaskan mereka yang baca.. Ujung2nya, tulisannya mesti ini lah, mesti begitu lah, atau bahkan mesti bagus.. Ini cukup “mengganggu” gw yang menganggap kegiatan menulis adalah sebuah bentuk ekspresi diri.. Mengeluarkan apa yang dipikir dan apa yang dirasa oleh diri..
Dan kalo pun pada akhirnya ada yang baca, ini ibaratnya jadi sekali tepok, dua lalat kena.. Udahlah bermanfaat buat gw secara mental, eh (hopefully) bisa jadi bermanfaat juga bagi orang lain.. Cukup membahagiakan buat gw bisa menelurkan yang model begini dari suatu hal yang kecil, seperti memposting sesuatu..
Plus lagi, nulis itu cenderung mengaktifkan otak kiri, dan ngegambar lebih cenderung mengaktifkan otak kanan.. Ini bisa jadi penyeimbang yang bagus buat gw yang kesehariannya banyakan “berinteraksi” dengan visual.. Yah semoga aja, aktivitas ngeblog ini bisa terus berlanjut seterusnya..
Pernah baca ungkapan: “Sometimes only paper will listen to you..”.. Tapi ini ungkapan lama, kalo sekarang, kata paper itu kayaknya mesti diganti dengan monitor.. (^_^!)…