Latest Posts

great GRIT..

021Dulu pernah liat kata Grit” di sebuah iklan turnamen tennis luar negeri di TV berbayar.. Gw pikir, akhirnya ada juga yang berani pakai kata itu untuk sebuah iklan meski kata itu nggak terlalu populer.. Adalah alumni Harvard: Angela Duckworth yang berjasa mengangkat istilah Grit ini..

Awalnya Angela kepo akan pencapaian teman2 kuliahnya setelah pada lulus.. Beberapa sukses besar, sementara banyak juga yang nggak berubah.. Padahal menurutnya mereka rata2 punya motivasi, kecerdasan, & pendidikan yang sama..

Pengamatan Angela membuahkan hasil.. Ternyata teman2nya yang sukses besar adalah mereka yang nggak suka gonta ganti scope pekerjaan, alias punya satu tujuan hidup dan tetap setia pada tujuan tersebut.. Mereka yang kalah sukses, bukannya kalah cerdas, tapi suka gonta-ganti kerjaan, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, atau istilah gaulnya bajing loncat.. Sehingga mereka nggak pernah benar2 menekuni sebuah “set” keahlian dalam satu bidang..

Lantas Angela dan rekan2nya mengembangkan konsep Grit.. Menurutnya, Grit bukanlah sekedar bekerja keras dan ketekunan, tapi penetapan tujuan hidup jangka panjang, dan kesanggupan melakukan apapun sampai tujuan itu tercapai.. Termasuk “keikhlasan” untuk menerima ketidaknyamanan, letih luar biasa, penolakan, bahkan sedikitnya progress yang tampak setelah bertahun2..

Angela berhasil merumuskan sebuah tes Grit, yah semacam tes IQ gitu deh..
Di tahun 2007, tes Grit sederhana dilakukan pada 175 peserta kompetisi mengeja nasional di Amerika.. Hasilnya memuaskan, hasil tes gritnya lebih mampu memprediksi siapa saja yang akan berhasil masuk ke babak final dibandingkan tes IQ..

Studinya juga sempat dilakukan di akademi militer paling terkenal dan sangat “keras/ketat” di Amerika yg bernama West Point.. Umumnya sekitar 5% dari calon tentara akan dikeluarkan atau mengundurkan diri di semester pertama.. West Point memerlukan “alat seleksi” yang lebih sip untuk memilih calon tentara, kemudian Angela masuk menawarkan tes Grit ini di tahun 2008.. Setelah berkali2 dicoba, hasilnya cukup oke, para calon tentara yang mampu bertahan adalah mereka yang nilai test Gritnya cukup tinggi..

Puncaknya, Angela menerima MacArthur Fellowship, or “Genius Grant” di tahun 2013.. Sebuah penghargaan bagi warga Amerika yang mampu menunjukkan: “Extraordinary originality and dedication in their creative pursuits and a marked capacity for self-direction”..

Gw jadi teringat kalimat dari kreator game Pokemon Go yang baru2 ini cukup fenomenal itu: “It takes 20 years to make an overnight success..”.. Ya, si John Hanke itu.. Orang yang udah lama tergila2 pada teknologi geospasial & GPS.. Hmm.. 20 tahun, satu tujuan, satu passion, satu “set” kemampuan, satu peta jangka panjang, satu fokus dan motivasi.. Hanke, the Grit is yours..!!

(Me:) & (Di:) maafkan..

MapBermaaf-maafan memang bisa dilakukan kapan saja.. Sebagaimana puasa, yang salah satu esensinya adalah “menahan”, sebenarnya juga bisa dilakukan kapan saja.. Kita menahan tidak mengambil hak orang lain, menahan tidak tergoda orang lain selain pasangan resmi, menahan tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, atau bahkan menahan keinginan membeli game baru yang sangat diinginkan.. Hyaha..

1 Syawal menjadi hari yang seakan spesial untuk maaf2an, setelah melalui bulan yang sifatnya spiritual, plus lagi setelah menang “menahan” setan di dalam diri masing2.. Seakan kesalahan siapa pun bisa dihapuskan di saat istimewa tersebut.. Euh, meski nggak semua sih.. hehe.. Ada yang bener2 “melepas” kembali setan2nya dengan menyebar berita hoax nan bohong bin fitnah.. Tapi apapun yang mereka lakukan, mungkin memang sebaiknya kita ini memaafkan juga..

Menurut psikolog Michael McCullough & Giacomo Bono dari Univ. Miami, memaafkan adalah bentuk bersyukur dan tanggapan positif terhadap kesulitan.. Yaa, bukankah kalo kita dikecewakan, disakiti, atau di “enggak enak-i” itu sebuah bentuk kesulitan ??.. Lantas, bukankah semua yang sampai di depan atau terjadi pada kita ini sebenarnya sudah melalui “approval” Tuhan ??.. Berhasil memaafkan berarti mampu mensyukuri apapun yang terjadi pada diri ini, dan tetap berprasangka positif pada Tuhan..

Dalam buku “Why good Thing Happen to Good People”, karya Stephen Post & Jill Neimark (2011) disebutkan; memaafkan itu bisa meredakan depresi, bahkan bisa mengubah depresi klinis menjadi tidak mengalami depresi.. Memaafkan juga meningkatkan suasana hati dan mengurangi kemarahan, serta mengurangi stress.. Dalam buku itu juga dimuat studi dari Neal Krause di tahun 2003 yang buat gw sangat2 menarik.. Hasil risetnya menunjukkan bahwa MEMAAFKAN orang lain lebih meningkatkan kesehatan daripada dimaafkan..

Kenapat buat gw sangat menarik ??.. Karena di dalam Al Qur’an nggak ditemukan perintah untuk meminta maaf pada orang lain, tapi kalo MEMAAFKAN justru sangat dianjurkan.. Ayatnya cukup2 jelas untuk bisa ditarik kesimpulan bahwa menjadi seorang pemaaf adalah sebuah bentuk keutamaan & perintah dari Alloh (Qs: 42:40, 42:43, 4:149, 2:263, 7:199).. Ini bisa menjadi dasar bagi seseorang untuk memaafkan kesalahan orang lain, baik itu diminta ataupun tidak..

So, Mau jadi lebih sehat ?? Ya jadilah pemaaf.. Mosok maafin yang katanya “salah pilih” presiden dari dulu nggak bisa2 sih ??.. (^_^)/

diri jadi patokan ??

Untitled-1Namanya darah muda, selalu enak untuk nyerempet “melanggar” peraturan dikit2.. Dulu pas gw kuliah juga gw inget banget, suka “nyaris2” telat masuk ke kelas.. Mentang2 batas waktu boleh masuk kelas 30 menit setelah mata kuliah dimulai, jadi masuk kelas pun terkadang suka ditelat2in, yang penting nggak sampe 30 menit.. Tapi itu kelakuan gw pas kuliah yang pertama, yang “salah” jalur, di jurusan akuntansi.. hehe..

Sekarang setelah nyambi jadi dosen, gw ngerasain sendiri di posisi dosen.. Gimana itu rasanya kelas dimasuki mahasiswa2 yang telat.. Yah memang berasa lumayan terganggu, terlebih kalo telatnya parah, bahkan udah “injury time”.. Hahaha..

Menegur seseorang itu nggak selalu “berhasil” kalo pake omongan.. Apalagi kalo omongan itu belum  dilakukan sendiri.. Untuk urusan telat2an, kalo gwnya sendiri on-time, bakal lebih mudah buat gw untuk “nyindir”, atau ngasi tau mereka.. So untuk urusan ini, diri sendiri bisa dijadikan tolak ukurnya.. Bila sudah bisa bikin diri ini “beres”, enak dah tuh nyentil yang lain..

Tapi ternyata berbeda dengan urusan keimanan atau keyakinan..  Buat gw pribadi, diri sendiri nggak bisa dijadikan tolak ukur atau patokan untuk menilai keimanan orang lain.. So, meski sudah sholat lima waktu dan sebagainya pun, gw tetep nggak berani menilai level keimanan orang lain, apalagi mengomentari keyakinan orang lain.. Karena parameter apa yang bisa dipakai untuk menilai sebuah keimanan / keyakinan seseorang ??.. Wong yang naek haji dan sekelas menteri agama bisa korup juga kok.. Kasus guru ngaji mencabuli muridnya pun udah pernah kita dengar..

Penampilan apalagi.. Darimana penampilan bisa jadi tolak ukur keimanan seseorang..?? Kalo misalnya kita liat ada orang yang pake sarung bersayap ala2 malaikat, bawa2 tasbih segede bola basket, dan kopiah berbentuk kubah masjid, lantas kita bisa tau gitu tingkat keimanannya ??.. Sedekah, belajar,  puasa, atau tahajjud pun bisa dilakukan dengan diam2.. Mana bisa gw tau orang lain sudah melakukan itu semua atau nggak ??..

Newberg & Waldman (2013) dalam bukunya Born to Believe – Gen iman dalam otak menyatakan, mencari sebuah keyakinan di dalam otak meski menggunakan teknologi pencitraan otak paling canggih sekalipun, sama seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami..

Menurut mereka, saat mendefinisikan keimanan / keyakinan, akan muncul konsep2 lain seperti: keingintahuan, cara berpikir, dan kesadaran (consciousness) yang sangat “personal” dan sama susahnya untuk dijelaskan.. Keimanan meski nyata dampaknya, namun tetap sulit dimengerti cara kerjanya pada tataran biologis & psikologis..

Yah apapun kata para ahli otak itu, buat gw keyakinan religius dan spiritual itu jelas punya pengaruh nyata dalam perkembangan sejarah manusia.. Dan lagi, hanya Tuhan yang bisa tahu pasti perjalanan & tingkat keimanan seseorang.. Jadi, lebih baik menggunakan keimanan yang sifatnya “personal” ini untuk membangun dan mendamaikan, bukan untuk kebencian..

bintang yang jatuh..

Untitled-2Tahu Bernard Loiseau ??.. Dia ini seorang chef terbaik di zamannya.. Punya beberapa restoran terbaik di Paris, menerbitkan beberapa buku masak, dan memproduksi merk makanan beku sendiri.. Restoran2 miliknya dirating tinggi oleh banyak buku & majalah.. Buku panduan restoran terkemuka di Eropa yang “pelit nilai” Guide Michelin pun, memberikan 3 bintang pada salah satu restorannya.. 3 bintang dari Guide Michelin adalah barang langka.. Namun di puncak masa jayanya (tahun 2003), si Bernard malah bunuh diri..

Aneh ya ??.. Sebelum lanjut cerita Chef yang aneh itu, simak dulu cerita si profesor berikut ini.. Namanya Carol Dweck.. Dia ini seorang profesor psikologi dari Stanford University yang penasaran mengenai mindset.. Berdasarkan beberapa studinya, ia menyatakan bahwa ada dua tipe mindset: yakni fixed mindset, dan growth mindset..

Dalam suatu studinya ia membuat pertanyaan2 pada mahasiswa2 yang baru masuk kuliah bahasa Inggris di Hong Kong.. Ia melalui pihak fakultas menawarkan kursus tambahan peningkatan kemampuan untuk mahasiswa2 baru yang dinilai kurang fasih berbahasa inggris.. Sebelumnya “calon2” yang akan ikutan kelas tersebut diberikan sejumlah pertanyaan..

Dengan menjawab setuju atau tidak, dari sekian banyak pernyataan, ada 2 pernyataan “pancingan” dari Dweck, yang kira2 begini: “Anda memiliki kecerdasan yang sudah ditentukan, dan Anda tidak bisa mengubahnya..” Dan yang kedua: “Anda selalu bisa mengubah kecerdasan Anda dengan dramatis..”  Hasil yang ditemukan Dweck: yang banyak menerima tawaran kursus tambahan, jumlahnya lebih banyak dari mereka yang setuju dengan pernyataan kedua..

Menurut Dweck, mereka yang setuju dengan pernyataan pertama memiliki fixed mindset.. Mereka melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang sudah fixed, tetap, dan nggak bisa diubah2 lagi.. Pada kasus contoh di atas, mengambil kursus tambahan sama saja dengan merendahkan kecerdasan mereka sendiri.. Sedangkan mereka yang setuju pernyataan kedua, adalah pemilik growth mindset, yakni orang2 yang percaya bahwa kecerdasan bisa ditingkatkan..

Dalam studi di kampus lain pada jurusan kimia, Dweck juga menemukan hal2 berikut: Mahasiswa dengan fixed mindset tetap menunjukkan minat hanya kalo nilai mereka bagus, langsung bete kalo dapet nilai jelek, dan langsung merasa nggak berbakat di bidang itu.. Mereka lebih fokus pada hasil akhir, termotivasi oleh hal2 ekstrinsik, seperti pengakuan dalam bentuk nilai & rangking..

Sebaliknya, pemilik growth mindset mampu menjaga minat mereka meski dapet nilai jelek.. Tantangan atau kesulitan justru bisa memacu mereka untuk lebih bersemangat.. Mereka lebih termotivasi secara intrinsik.. Bukan hasil akhir yang mereka cari, namun lebih berfokus pada proses kerja keras.. Bahkan mereka mampu untuk belajar demi belajar itu sendiri, dan bukan untuk nilai..

Nah, terus apa hubungannya sama si Chef Bernard itu ??.. Kenapa dia bunuh diri ??.. Begini ceritanya.. Sebelum edisi terbaru Guide Michelin terbit, dia mendengar rumor kalo bintangnya akan dikurangi.. Dia akan dirating 2 bintang, nggak 3 bintang lagi.. Belum lama juga, ada buku panduan lain GaultMillau yang sudah mengurangi rating bintangnya pada restoran si Bernard, dari 19 bintang, jadi 17 bintang..

Bisa dibaca, Bernard adalah pemilik fixed mindset.. Dia telah mendefinisikan dirinya sebagai bintang2 tersebut.. Dan ketika bintang2 tersebut berjatuhan, nilai dirinya pun ikut “jatuh”.. Cuman denger rumor “bintang”nya berkurang aja dia udah berpikir gagal total, dan nggak layak untuk eksis lagi..

Padahal itu cuman rumor loh.. Setelah buku panduan “Guide Michelin” tahun 2003 terbit, restoran si Bernard ternyata tetap mendapat 3 bintang..!! Hehe.. Bernard mengakhiri hidupnya sia2 karena fixed mindset-nya..

baca jadi “sakti”..

Untitled-1Gw lebih mudah terkagum2 sama ustadz yang nggak hanya paham ilmu agama saja, tapi juga nguasain ilmu pengetahuan umum yang lain.. Entah itu fisika nuklir (Agus Mustofa), filsafat atau sastra (Buya Hamka), seni, budaya, psikologi, atau ilmu2 pengetahuan lainnya.. Buat gw orang2 seperti inilah yang sudah membaca ayat2 Alloh dalam 2 wujud.. Pertama, wujud ayat yg tertulis di Qur’an, dan kedua, ayat2 Alloh yang “berwujud” di alam semesta.. Di mata gw, mereka itulah yang sebenar2nya ulama..

Kalo gw perhatikan, mereka2 ini bisa lebih bijak, lebih mendamaikan, lebih praktis, lebih merdeka berpikir, dan nggak neko2.. Mungkin karena mereka dengan akal pikir maksimalnya sudah berhasil menarik banyak “benang merah” antara ayat2 Alloh dari kedua wujud di atas.. Mereka nggak mudah tersinggung kalo dikomentari atau dilabeli apapun.. Terkesan mendalami kedua wujud ayat2 Alloh itu jauh lebih menarik ketimbang meladeni tanggapan2 yang nggak penting.. Karena mau setuju atau nggak sama pemikiran mereka, ya terserah masing2 aja..

Ada satu ulama yang gw tau sendiri rumahnya, pernah masuk ke dalam sana, meski saat itu beliau sudah almarhum.. Sejumlah buku pernah ditulisnya.. Orang2 yang tahu akan dirinya, banyak yang menyebut beliau adalah seorang ulama besar.. Meski gw pikir, akan banyak sekali juga orang yang nggak tau nama beliau, terlebih diluar Pulau Madura.. Seorang ulama yang mendalami sains.. Di tahun 70an, beliau sudah menyajikan konsep2 canggih seperti: “ether”, dimensi lain, law of attraction, dan nyerempet ke fisika quantum.. Dimana di pertengahan tahun 2000an, topik2 tersebut jadi “naek daun”..

Seorang ulama bijak dan arif.. Alih2 mengharamkan musik, beliau malah lihai memainkan piano dan biola.. Alih2 memberi “label” itu ilmu orang kafir, beliau malah banyak menggunakan referensi buku2 berbahasa asing, seperti Belanda, Perancis, & Inggris.. Anak2 beliau pun bertanya2, kenapa beliau bisa jadi sedemikian “sakti” ??.. Tapi belum ada yang bisa menjawab secara konkrit..

Ada satu “clue” sih buat gw yang cukup jelas kenapa beliau bisa jadi “sakti” seperti itu.. Di rumahnya, beliau punya perpustakaan sendiri.. Kalo gw nggak salah inget, ukurannya pun cukup besar, mungkin sekitar 7 x 8 meter gitu deh.. Rak2 berjejer rapi penuh dengan buku dengan beragam bahasa.. Ratusan buku gw yakin ada di situ, atau mungkin ribuan.. Dengan beragam genre & beberapa bahasa..

Ngeliat fakta ini, gw berkesimpulan: sangat kecil kemungkinan beliau bisa sampai pada level “super over alpha omega ultimate hyper unlimited” begitu (hehe), tanpa banyak2 membaca buku.. Ya, ternyata wahyu pertama “IQRA” itu bener2 bisa membuat orang menjadi sakti.. hehe..

Kalo hanya SEKEDAR TAHU kata Iqra’ tanpa “proses” menjalankannya, bisa jadi tanpa dampak.. Data dari Perpusnas bilang, orang kita nih hanya “menghabiskan” NOL sampai satu buku dalam setahun.. Bandingkan dengan orang Jepang yang membaca 10-15 buku setahun..

Jumlah kita memang banyak… tapiii kalo sedikit membaca buku ?? Hmm.. seperti buih di lautan ya.. Rame, tapi tidak “berisi”..