Dulu pernah liat kata “Grit” di sebuah iklan turnamen tennis luar negeri di TV berbayar.. Gw pikir, akhirnya ada juga yang berani pakai kata itu untuk sebuah iklan meski kata itu nggak terlalu populer.. Adalah alumni Harvard: Angela Duckworth yang berjasa mengangkat istilah Grit ini..
Awalnya Angela kepo akan pencapaian teman2 kuliahnya setelah pada lulus.. Beberapa sukses besar, sementara banyak juga yang nggak berubah.. Padahal menurutnya mereka rata2 punya motivasi, kecerdasan, & pendidikan yang sama..
Pengamatan Angela membuahkan hasil.. Ternyata teman2nya yang sukses besar adalah mereka yang nggak suka gonta ganti scope pekerjaan, alias punya satu tujuan hidup dan tetap setia pada tujuan tersebut.. Mereka yang kalah sukses, bukannya kalah cerdas, tapi suka gonta-ganti kerjaan, berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain, atau istilah gaulnya bajing loncat.. Sehingga mereka nggak pernah benar2 menekuni sebuah “set” keahlian dalam satu bidang..
Lantas Angela dan rekan2nya mengembangkan konsep Grit.. Menurutnya, Grit bukanlah sekedar bekerja keras dan ketekunan, tapi penetapan tujuan hidup jangka panjang, dan kesanggupan melakukan apapun sampai tujuan itu tercapai.. Termasuk “keikhlasan” untuk menerima ketidaknyamanan, letih luar biasa, penolakan, bahkan sedikitnya progress yang tampak setelah bertahun2..
Angela berhasil merumuskan sebuah tes Grit, yah semacam tes IQ gitu deh..
Di tahun 2007, tes Grit sederhana dilakukan pada 175 peserta kompetisi mengeja nasional di Amerika.. Hasilnya memuaskan, hasil tes gritnya lebih mampu memprediksi siapa saja yang akan berhasil masuk ke babak final dibandingkan tes IQ..
Studinya juga sempat dilakukan di akademi militer paling terkenal dan sangat “keras/ketat” di Amerika yg bernama West Point.. Umumnya sekitar 5% dari calon tentara akan dikeluarkan atau mengundurkan diri di semester pertama.. West Point memerlukan “alat seleksi” yang lebih sip untuk memilih calon tentara, kemudian Angela masuk menawarkan tes Grit ini di tahun 2008.. Setelah berkali2 dicoba, hasilnya cukup oke, para calon tentara yang mampu bertahan adalah mereka yang nilai test Gritnya cukup tinggi..
Puncaknya, Angela menerima MacArthur Fellowship, or “Genius Grant” di tahun 2013.. Sebuah penghargaan bagi warga Amerika yang mampu menunjukkan: “Extraordinary originality and dedication in their creative pursuits and a marked capacity for self-direction”..
Gw jadi teringat kalimat dari kreator game Pokemon Go yang baru2 ini cukup fenomenal itu: “It takes 20 years to make an overnight success..”.. Ya, si John Hanke itu.. Orang yang udah lama tergila2 pada teknologi geospasial & GPS.. Hmm.. 20 tahun, satu tujuan, satu passion, satu “set” kemampuan, satu peta jangka panjang, satu fokus dan motivasi.. Hanke, the Grit is yours..!!
Bermaaf-maafan memang bisa dilakukan kapan saja.. Sebagaimana puasa, yang salah satu esensinya adalah “menahan”, sebenarnya juga bisa dilakukan kapan saja.. Kita menahan tidak mengambil hak orang lain, menahan tidak tergoda orang lain selain pasangan resmi, menahan tidak berbuat sesuatu yang merugikan orang lain, atau bahkan menahan keinginan membeli game baru yang sangat diinginkan.. Hyaha..
Namanya darah muda, selalu enak untuk nyerempet “melanggar” peraturan dikit2.. Dulu pas gw kuliah juga gw inget banget, suka “nyaris2” telat masuk ke kelas.. Mentang2 batas waktu boleh masuk kelas 30 menit setelah mata kuliah dimulai, jadi masuk kelas pun terkadang suka ditelat2in, yang penting nggak sampe 30 menit.. Tapi itu kelakuan gw pas kuliah yang pertama, yang “salah” jalur, di jurusan akuntansi.. hehe..
Tahu Bernard Loiseau ??.. Dia ini seorang chef terbaik di zamannya.. Punya beberapa restoran terbaik di Paris, menerbitkan beberapa buku masak, dan memproduksi merk makanan beku sendiri.. Restoran2 miliknya dirating tinggi oleh banyak buku & majalah.. Buku panduan restoran terkemuka di Eropa yang “pelit nilai” Guide Michelin pun, memberikan 3 bintang pada salah satu restorannya.. 3 bintang dari Guide Michelin adalah barang langka.. Namun di puncak masa jayanya (tahun 2003), si Bernard malah bunuh diri..
Gw lebih mudah terkagum2 sama ustadz yang nggak hanya paham ilmu agama saja, tapi juga nguasain ilmu pengetahuan umum yang lain.. Entah itu fisika nuklir (Agus Mustofa), filsafat atau sastra (Buya Hamka), seni, budaya, psikologi, atau ilmu2 pengetahuan lainnya.. Buat gw orang2 seperti inilah yang sudah membaca ayat2 Alloh dalam 2 wujud.. Pertama, wujud ayat yg tertulis di Qur’an, dan kedua, ayat2 Alloh yang “berwujud” di alam semesta.. Di mata gw, mereka itulah yang sebenar2nya ulama..