All posts tagged: qur’an

surga buat siapa..

Agama dipolitisasi, surga jadi “barang jualan”, kok ya makin jadi ngelantur ke sono ke mari ya.. Tiap orang bisa saja “ngecap” soal surga dan neraka.. Malah bisa seluas imajinasi dari orang itu sendiri.. Namun, tanpa dasar pemahaman yang benar, outputnya bisa jadi aneh.. Bahkan surga diperuntukkan bagi siapa, pun bisa juga dipolitisasi.. Kalo menurut hukum TERTINGGI dalam Islam (Qur’an), jelas banget disebutkan bahwa surga itu diperuntukkan bagi orang yang bertaqwa (QS 3:133).. Ciri2nya jelas disebutkan: menafkahkan harta, menahan amarah, memaafkan kesalahan, berbuat baik, dan memohon ampun.. CATEETT: nggak ada nyinyir, nyebar berita hoax, dan “makan” hoax”.. Gw pikir, perilaku2 taqwa diatas merupakan sebuah “kebaikan universal”.. Siapapun yang memiliki perilaku tersebut, dia akan bisa diterima dimanapun, dan di zaman apapun.. Bandingkan dengan perilaku radikal yang.., yaah udah kita liat sendiri, ada yang baru dateng langsung diusir, atau malah ada yang di lain benua, “dagangannya” tutup akibat status SARAnya.. Soal kaum nabi2 dan agama2 sejak dulu, semua pemeluknya akan menganggap ajarannya yang paling benar.. Nah, setelah cari2 tau, ternyata taqwa nggak cuma milik kaum Nabi Muhammad aja …

100% paham diri ??

Minggu kemarin ada yang komentar di blog gw, kalau ada seorang Hindu yang mengatakan nggak mungkin ada manusia yang mampu memahami dirinya sendiri, karena itu hak mutlak Tuhan, dan bisanya cuma paham sedikit..
 Apakah iya begitu ??.. Entah kenapa ujug2 jawabannya dateng.. Gw ngerujuk ke Nouman Ali Khan, Founder dan CEO Bayyinah Institute.. Di wikipedia, beliau: “has been named one of the 500 most influential Muslims in the world by the Royal Islamic Strategic Studies Centre of Jordan..” Menurutnya, “topik” penemuan jati diri itu ada di QS.17:84: “Tiap2 orang berbuat menurut keadaannya masing2”.. Ada di kata syakilaah (keadaannya), akar katanya ‘syakl’, dan artinya bisa “form”, bentuk, atau cetakan.. Dari perspektif psikologi bisa diartikan kecenderungan kuat di dalam diri.. Syakilaah bisa sampai ke tatanan personalitas seseorang.. Humoris, serius, suka sains, seni dan sebagainya.. Nggak ada orang punya syakilaah yang sama persis.. Meski terlahir kembar identik pun mereka akan punya syakilaah yang berbeda.. Para ilmuwan sudah mengetahui pembentukan personality keseluruhan itu dari proses nature dan nurture.. Mereka pun mampu mengkategorikan personalitas individu seperti metode STIFIN dan sejenisnya.. …

interaksi diri + Qur’an..

Gw ngerasa kita nih seakan lebih sering berinteraksi dengan ‘orang’ dalam belajar agama, dan kurang berani berinteraksi dengan Qur’an langsung secara individu.. Lebih percaya kata2 habib (??), ustad atau penceramah daripada mencoba membaca sendiri.. Padahal wahyu pertama itu kan “BACA” ya, bukan “DENGAR”.. Fritz Perls, seorang Doktoral medicine, kemudian menjadi psikiatris asal Jerman, menulis buku “Gestalt Therapy Verbatim” (1969).. Ia menyatakan “Truth can only be tolerated if you discover it yourself..”.. Semua yang kita ketahui sebenarnya bukan kebenaran objektif, karena lensa persepsi seseorang lah yang membentuk mana benar dan mana salah.. Masalahnya, lensa persepsi kita dibentuk oleh subjektivitas banyak orang.. Jadi menurut Fritz, kebenaran sejati hanya bisa dibangun oleh diri sendiri.. Interaksi dengan Qur’an nggak mesti melalui penafsiran yg terkesan berat, tapi juga bisa melalui cara sederhana seperti Tadabbur = mengambil manfaat (ada di postingan kemaren).. Kalo gw baca2 lagi, memang sepertinya di dalam Qur’an nggak ada pernyataan langsung  / menggunakan kata2 tafsir / menafsirkan untuk berinteraksi dengan Qur’an.. Yang ada justru kata Tadabbur (QS. 4:82 dan QS. 47:24).. Anggaplah gw seorang tukang sayur atau …

renungi – resapi – jalani..

“Memadukan antara ilmu akademis & agama..”.. Kalimat dari blogger pemberi award kemaren itu menimbulkan pertanyaan baru buat gw.. Sebetulnya yang gw lakukan itu namanya apa sih ??.. Menafsir Qur’an ?? Kok rasa2nya bukan ya ?? Karena kalo jatohnya ke istilah tafsir, kesannya jadi berat banget.. Menafsirkan itu kalo liat “requirement” yang dipahami secara umum emang berat: mesti paham bahasa arab, sejarah sastra arab, asbabun nuzul, dan unsur2 lain dimana setiap kalimat harus diteliti.. Ibnu Katsir, Qurais Shihab, dan Buya Hamka, merupakan manusia2 luar biasa yang mencapai level tersebut.. Lah guwa ?? Yang gw lakukan jauh lebih sederhana, hanya menarik benang merah antara sains dan Qur’an.. Lah itu istilahnya apa ??.. Jawaban memuaskan gw temukan dalam bukunya Cak Nun (2016) “Hidup itu harus pintar ngegas & ngerem”.. Ada istilah Tadabbur.. Menurut beliau, arti sederhana dari Tadabbur adalah MENCARI MANFAAT dari Qur’an.. Tujuan tadabbur itu untuk mendapatkan manfaat dari Qur’an.. Ukuran tafsir adalah benar atau tidak secara rasional, secara ilmiah.. Bahkan secara akademis dan teknis.. Sedangkan kalo tadabbur, ukurannya sederhana, yaitu cari manfaatnya saja.. Anjurannya pun ada …

rinci mengamati..

Menjadi pertanyaan baru buat gw, kenapa ya buku favorit gw bukan Al-Qur’an ??.. Padahal dari dulu gw suka banget baca buku..  Tapi, kenapa juga di waktu yang sudah berselang lama itu gw nggak sering nyoba baca terjemahan Qur’an secara rinci “by myself”.. Dalam arti bener2 baca dan merenunginya sendiri ayat2Nya, jadi bukan hanya tahu apa2 yang dari guru2 gw dulu ajarkan.. Setelah udah beberapa waktu mencoba baca sendiri, memang ini kitab yang penuh dengan bahan perenungan dan pemikiran.. Seseorang bisa saja terinspirasi mengenai apapun, tergantung dari niat di hatinya.. Mungkin ini yang menyebabkan alasan / dalil2 dari banyak argumen, bisa didasari dari isi kitab ini.. Termasuk bunuh2an pun bisa.. Pendek kata, tiap orang bisa saja menarik benang merah isi kitab ini ke hal2 yang dia inginkan.. Contoh yang udah gw lakukan itu di postingan yang ini: “Kreativitas & Al Qur’an..”.. Karena perlu “mikir” lebih jauh inilah mungkin yang menyebabkan, kitab ini sulit jadi buku favorit gw.. Yang gw rasain, banyak kalimat yang terkesan mengambang, bisa multitafsir, dan bahkan bisa saja jadi terkesan membingungkan.. Sepertinya jadi …