me|write, spiritual, think sotoy
Leave a Comment

sumur mata air..

Untitled-12Kemaren di fesbuk, ada yang mengibaratkan Qur’an itu seperti open source.. Setelah dikritik via komen, eh ternyata dia salah pengertian, sebenarnya maksud dia itu bukan open source, tapi open access, bisa diakses oleh siapa saja.. Gyaha..

Terlepas maksud si orang sebenernya apa, namun mengibaratkan Qur’an sebagai open source, gw nggak setuju.. Gw bukan orang IT sih, tapi berhubung pernah terlibat project game aplikasi, ya dikit2 doang tau lah.. Setau gw istilah open source itu, seseorang bisa memodifikasi, mengutak-atik, mengubah bagian tertentu, dan bahkan bisa merevisi kode dari sumber..

Kan berabe kalo si “source” atau Qur’an bisa dimodifikasi atau diutak-atik..

Gw lebih suka sama ulama yang mengibaratkan Qur’an itu bagai sebuah sumur berisi sumber mata air yang terus mengalir tanpa henti.. Siapapun bisa mengambil airnya.. Namun, untuk mengambilnya diperlukan upaya, nggak tinggal ngambil gitu aja..

Seseorang perlu menimba dengan hati2 untuk menaikkan airnya dari dalam sumur sampai ke atas.. Maknanya, untuk mendapatkan “sesuatu” dari firman Tuhan memang perlu usaha.. Hidayah yang didapat dari Qur’an bukan datang begitu saja, tetapi mesti diupayakan..

Bukankah disebutkan kalo yang bisa mengambil pelajaran hanyalah orang yang menggunakan akalnya / mau berpikir..?? (QS.39:9)..

Itu baru “metode” pengambilan airnya.. Belum kemudian lanjut ke masalah “pengolahan” air yang sudah diambil.. Akan dibuat untuk apa ??.. Bikin sirup ??.. Bikin kolang-kaling ??.. Bikin es kepal Milo ??.. Bikin sayur asem ?? Atau bikin kopi bersianida ??..

Untuk bikin apapun dari air sumur, umumnya pasti “menggunakan” sesuatu.. Bisa gula, sirup, bubuk kopi, dsb.. Masing2 apa yang akan dibikin memerlukan sebuah resep.. Maknanya, untuk bisa “membuat” atau “menelurkan” sesuatu dari firman Tuhan diperlukan ilmu / pengetahuan..

Semakin banyak “resep” (baca: ilmu) yang dimiliki seseorang, maka akan semakin banyak makanan/minuman yang bisa dibuat oleh orang tersebut dari air sumur yang sudah diambil..

Meskipun sudah ada dan tahu resepnya, untuk membuat makanan atau minuman yang enak juga nggak mudah loh.. Gw pernah nyoba masak ngikutin buku resep, pas tuh makanan dicicipin bini’ gw, dia bilang: “Pesen KFC ajaaa..!!”.. Gwakakak.. Ternyata membuat sesuatu yang “oke” itu memang perlu skill, pikiran, dan perasaan yang bagus juga..

Mungkin inilah kenapa seseorang dituntut untuk terus belajar, nambah knowledge (ber-iqro’), dan sehari minimal 5 kali minta untuk ditunjuki jalan yang lurus, supaya nggak salah bikin sesuatu dari air sumur itu..

Cak Nun bilang; agama sebaiknya tempatnya di dapur, bukan di ruang tamu..
Terserah deh tuh air sumur mau diapain di dapur, yang jelas, yang kemudian bisa menilai, mencicipi, dan merasakan rasa/dampaknya adalah si tamu / orang lain..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s