All posts tagged: prasangka

puncak benci..

Aneh.. Dulu gw bener2 sangat apatis dan anti sama politik.. Sekarang malah gw agak2 kepo sama perkembangan politik di sini.. Dulu pun gw berpikiran sama dengan mereka2 yang berpikir: “Siapapun presidennya, siapapun DPR MPR-nya, toh kita tetep mesti cari makan sendiri2..”.. Ustad di mesjid komplek gw saat gw ngobrol sama dia dulu pun ngomongnya seperti itu.. Jadi sebodo amat dengan politik.. Saat sekarang, rasanya gw mulai “bergeser” untuk melihat politik dari sudut pandang yang lain.. Gw jadi mulai berpikir, statement “Siapapun presidennya, toh kita tetep mesti cari makan sendiri2..” itu bisa jadi keberhasilan dari rezim Orde Baru yang “membiasakan” rakyatnya jadi tau beres aja.. Semuanya cukup diwakilkan oleh mereka yang ngurus pemerintahan, dan rakyat cukup menikmati saja hasilnya.. (Sampe2 kesejahteraan rakyatnya pun diwakilkan.. hehe..) Mungkin gw salah satu korban dari doktrin OrBa yang bikin rakyat tenang, sejahtera, tapi di balik “kenyamanan” itu ada (atau banyak..??) sesuatu yang ditutupi / disembunyikan oleh para politikusnya.. Berkat pemilu kemarin, kontroversi pilkada langsung & tak langsung, gw jadi lebih sadar satu hal: ternyata suara gw / kita (rakyat) bisa …

future dari masa depan..

Gw jadi mikir abis baca quotenya Werner Erhard di sebuah buku desain.. Werner ini seorang critical thinker, seorang dosen yang sudah ngajar di sejumlah kampus, termasuk Harvard University, dan sekaligus penulis mengenai tema2 integritas, performa, dan leadership.. Di buku desain yg gw baca itu, dikutip pernyataan beliau: “Create your future from your future, not your past..” Gokil, sebuah pernyataan yang cerdas.. Pernyataan yang membuat gw mikir sekali lagi kenapa di tubuh manusia ini diberikan “alat” yang bisa menembus ruang dan waktu oleh Tuhan.. Dan alat itu bernama otak.. Mungkin karena saking sibuknya kita, atau malas merenungkannya, jadinya lupa deh kalo pikiran manusia itu bisa “lari-lari” kemana2, termasuk ke masa depan.. Berarti, bagi mereka yang berani bermimpi, sebetulanya mereka sedang mengaplikasikan quote dari si Werner ini.. Impian selalu berorientasi masa depan.. Dan masa depan tersebut di”cetak” blue print-nya di dalam otak di masa sekarang.. Jadi, buat mereka yang sudah berhasil / sukses mencapai impiannya, sejatinya telah menciptakan masa depan mereka dari masa depan mereka sendiri, yang sebelumnya sudah diciptakannya di dalam otak mereka.. Tapi ya gitu …

skill beragama..

Kalo gw pikir2 lagi sekarang ini, kayaknya dulu gw kuliah S1 itu bener2 masih culun dan sekedar ikut2an.. “Tren” abis lulus SMA itu yah kuliah, mau apalagi ??.. Buktinya, jurusan pilihan gw pun masih ikut2an.. Dan yang nggak kalah penting, saat itu gw sama sekali belum ngerti untuk apa sebenernya gw ambil jurusan itu.. Akhirnya knowledge hanya menjadi informasi dan tidak menjadi skill.. Sekarang pun mungkin banyak juga yang belum sepenuhnya paham, mengenai apa itu sebenernya knowledge, dan apa itu skill.. Menurut Julie Dirksen (2012), dalam bukunya “Designing how people to learn”, pengetahuan / knowledge bisa menjadi “sekedar” informasi bila tidak diamalkan.. Informasi selayaknya yang ada di koran2 dan majalah, yang bisa sangat mudah dilupakan dengan beragam kejadian dan waktu yang berjalan..  Seseorang yang “mengejar” knowledge hendaknya juga sadar: alasan kenapa informasi itu penting baginya, kenapa perlu tahu hal tersebut, dan yang terpenting adalah tahu juga kapan, dimana, dan gimana cara menggunakan informasi / knowledge tersebut.. Karena kalo “itu” belum diketahui & disadari, analoginya seperti seorang pendaki gunung yang tau item2 untuk mendaki gunung seperti …

mengkritisi rumus saya + Tuhan = cukup..

Nih rumus pertama kali gw denger dari Mario Teguh, dan memang mungkin ini rumus asli hasil pemikiran beliau berkat perenungannya yang dalem.. Pertama kali gw denger rumus baru yang “aneh” begitu, gw agak2 bertanya-tanya.. Ape iye nih rumus bener..?? Koq kesannya jadi mengenyampingkan hal2 yang ada di sekitar kita..?? Kesannya jadi nggak butuh orang lain, nggak butuh bantuan sekitar, dan nggak perlu hal2 yang sifatnya “eksternal” dari keduniawian kita.. Tapi seandainya ini rumus ngaco’, nggak mungkin si pak Mario bisa jadi naek ke level seperti sekarang ini.. Dan nggak mungkin beliau berani juga mempopulerkan ini rumus dalam tayangannya yang lingkupnya nasional, atau internasional kali yee (kan bisa lewat youtube.. hehe..).. Jadi gw tertarik buat mikirin lebih dalem mengenai rumus ini.. Dan pada akhirnya gw memahami bahwa ini rumus tokcer !!.. Ini formula atau rumus yang hebat buat orang2 yang ingin selalu maju dan “naik” ke tingkat yang lebih tinggi.. Kenapa ?? Karena: “Saya” itu sebenernya kompleks.. Ada banyak hal dibelakang kata “saya”.. Ada orangtua yang melahirkan & mendidik, ada lingkungan yang membesarkan, dan ada pilihan2 …

pemain jangkar..

Kata buya Hamka: “apa yang keluar dari hati akan masuk ke hati”.. Hati itu tempat bersemayamnya rasa.. Rasa itu, sepintar apapun seseorang menjelaskannya kepada orang lain, pasti bakalan susah membuat pendengarnya merasakan persis rasa yang sama.. Coba aja jelaskan rasa siomay kepada orang lain, pasti susah membuat orang lain ‘merasakan’ siomay yang sama seperti yang kita maksudkan.. Tapi paling tidak, gambaran atau esensi besarnya tetep bisa tersampaikan… Misal, siomaynya enak, gurih.. atau semangkanya manis, jeruknya asem, dan lain sebagainya.. Itu juga sebabnya, kalo orang nonton film sedih bisa ikutan nangis bombay, karena esensi kejadian rasa sedihnya tersampaikan, ditambah kejadiannya bisa ditampilkan secara visual atau dikonstruksi melalui daya imajinasi manusia seperti melalui novel, drama radio, dan lain sejenisnya.. Biasanya, kalo buat gw pribadi sih… Orang yang sudah mengalami perasaan tertentu, atau tahu ‘rasa’nya melakukan sesuatu, kemudian bercerita, ceritanya akan lebih “masuk” ke hati para pendengarnya.. Mustahil seseorang membuat orang lain paham akan rasa semangka kalo dia sendiri belum pernah makan semangka.. Itulah kenapa gw lebih suka cerita orang2 sukses yang from nothing to something, kalo perlu …