favourite, me|write, spiritual, think sotoy
Comment 1

mengkritisi rumus saya + Tuhan = cukup..

Untitled-1Nih rumus pertama kali gw denger dari Mario Teguh, dan memang mungkin ini rumus asli hasil pemikiran beliau berkat perenungannya yang dalem.. Pertama kali gw denger rumus baru yang “aneh” begitu, gw agak2 bertanya-tanya.. Ape iye nih rumus bener..?? Koq kesannya jadi mengenyampingkan hal2 yang ada di sekitar kita..?? Kesannya jadi nggak butuh orang lain, nggak butuh bantuan sekitar, dan nggak perlu hal2 yang sifatnya “eksternal” dari keduniawian kita..

Tapi seandainya ini rumus ngaco’, nggak mungkin si pak Mario bisa jadi naek ke level seperti sekarang ini.. Dan nggak mungkin beliau berani juga mempopulerkan ini rumus dalam tayangannya yang lingkupnya nasional, atau internasional kali yee (kan bisa lewat youtube.. hehe..).. Jadi gw tertarik buat mikirin lebih dalem mengenai rumus ini.. Dan pada akhirnya gw memahami bahwa ini rumus tokcer !!.. Ini formula atau rumus yang hebat buat orang2 yang ingin selalu maju dan “naik” ke tingkat yang lebih tinggi.. Kenapa ?? Karena:

  1. “Saya” itu sebenernya kompleks.. Ada banyak hal dibelakang kata “saya”.. Ada orangtua yang melahirkan & mendidik, ada lingkungan yang membesarkan, dan ada pilihan2 tindakan yang membentuk “saya” di saat sekarang ini.. Jadi, pengenalan terhadap “saya” atau diri sendiri sebetulnya menjadi hal yang penting..
  2. Dengan pake rumus ini, kalau ada apa2 yang salah sama hidup saya, itu berarti “saya” sendiri yang salah, karena yang bisa salah itu cuman manusia, Tuhan kan tidak mungkin salah.
  3. Akibatnya dengan menjalankan rumus ini, semakin sedikit faktor yang bisa disalahkan kalo kita berhadapan dengan kegagalan atau kesalahan. Nggak nyalahin temen, lingkungan, ataupun situasi apapun, tapi nyalahin si “saya” itu sendiri.. (Kesian ya si “saya”, jadi selalu disalahin, gwakakak.).
  4. Nah, jadinya ujung2nya rumus ini seakan selalu membuat kita berusaha untuk mengevaluasi apa yang salah di dalam diri sendiri, menemukan apa yang kurang di diri, dan memahami apa yang baik ataupun buruk buat diri.
  5. Rumus ini bisa juga nggak membuat kita sombong kalo berhasil.. Karena selalu meyakini ada faktor Tuhan di situ. Sekeras apapun si “saya” berusaha, nggak mungkin bisa berhasil kalau nggak diizinkan Tuhan.. Tuhan lah penguasa dan pengatur segalanya, dengan cara2 yang seringkali si “saya” sendiri tidak mengerti.
  6. Rumus ini juga bikin kita nggak gampang stress.. Karena yakin kalo Tuhan selalu mendampingi.. Jadinya nggak berharap ke yang lain kecuali hanya kepada Tuhan, dan kepada upaya dari si “saya” sendiri.
  7. Tugas si “saya” sebenernya cuman berupaya.. Upaya itu usaha dan do’a.. Usaha itu penggunaan maksimal dari akal, dan kerja keras dari badan.. Do’a yang mudah ijabah adalah do’a yang “dirasakan” atau menggunakan hati.. Dan yang berhak mengabulkan do’a itu hanya Tuhan.. Saya + Tuhan = Cukup, rumus yang menggenapkan semua potensi di dalam diri, dan kemudian menyerahkan semua hasilnya pada Tuhan.. Rumus ini memperkuat konsep “Ikhtiar itu wilayah manusia, soal hasil itu wilayah Tuhan..”

Wow.. bener2 rumus sederhana yang dahsyat.. Gw jadi inget tulisan dalam sebuah bukunya Buya Hamka, yang kurang lebih intinya begini: “Kalau kau sedang berada di dalam badai, yang bisa kau lakukan itu adalah maju, dan berharap penuh pada Tuhan. Dan kalau Tuhan berkenan menolong, itu sudah lebih dari cukup..

Advertisements

1 Comment

  1. Pingback: dare to be “there”.. | Lagi Lagi Halaman Guna Guna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s