All posts filed under: think sotoy

future dari masa depan..

Gw jadi mikir abis baca quotenya Werner Erhard di sebuah buku desain.. Werner ini seorang critical thinker, seorang dosen yang sudah ngajar di sejumlah kampus, termasuk Harvard University, dan sekaligus penulis mengenai tema2 integritas, performa, dan leadership.. Di buku desain yg gw baca itu, dikutip pernyataan beliau: “Create your future from your future, not your past..” Gokil, sebuah pernyataan yang cerdas.. Pernyataan yang membuat gw mikir sekali lagi kenapa di tubuh manusia ini diberikan “alat” yang bisa menembus ruang dan waktu oleh Tuhan.. Dan alat itu bernama otak.. Mungkin karena saking sibuknya kita, atau malas merenungkannya, jadinya lupa deh kalo pikiran manusia itu bisa “lari-lari” kemana2, termasuk ke masa depan.. Berarti, bagi mereka yang berani bermimpi, sebetulanya mereka sedang mengaplikasikan quote dari si Werner ini.. Impian selalu berorientasi masa depan.. Dan masa depan tersebut di”cetak” blue print-nya di dalam otak di masa sekarang.. Jadi, buat mereka yang sudah berhasil / sukses mencapai impiannya, sejatinya telah menciptakan masa depan mereka dari masa depan mereka sendiri, yang sebelumnya sudah diciptakannya di dalam otak mereka.. Tapi ya gitu …

keluar maksimal dari minimal..

Abis baca2 artikel2 mereka yang sukses dengan modal ijazah SD, bener2 gila ya mereka itu.. Hebat sekali.. Perlu digaris bawahi, mereka bukannya gak mau nerusin sekolah ke SMP, SMA dan seterusnya, mereka sebenernya mau, hanya saja kondisi finansial saat itu yang nggak memungkinkan.. Bahkan ada juga yang udah hanya tamatan SD, sempet nggak naik2 kelas juga beberapa kali, dan diremehkan oleh orang sekitarnya karenanya, tapi tetep ujung2nya ni orang bisa jadi pengusaha sukses.. Ada yang lulus SD, langsung mesti jualan bakso, ada yang langsung jualan pete, ada yang jualan kue bantu2 orang tuanya, terus naik “level”, lanjut jadi salesman sabun, jadi pelayan toko, dan lain sebagainya.. Dan pada akhirnya,  kerja keras, kejujuran, pembelajaran, dan tekad kuat membuat mereka berhasil keluar dari keterbatasan.. Pengusaha2 sukses yang bermodal ijazah SD itu diantaranya: Andrie Wongso, Basrizal Koto, Eka Tjipta Widajaja, dan masih banyak lagi sih sebenernya, yang bisnisnya nggak sebesar mereka, tapi bisa dibilang “makmur” bingits.. hehe.. Sementara anak2 / pemuda2 dengan keterbatasan kesejahteraan ada yang berhasil merubah hidupnya, anak2 / pemuda2 yang kelebihan kesejahteraan malah ada banyak …

“lingkaran ajaib..”

Lagi seneng maen game Thunder Raid di gadget.. Nggak sengaja sih, gara2 ngeliat dua orang temen di fesbuk saling adu tinggi2an score, terus genrenya juga pesawat, jadi akhirnya gw memutuskan untuk ikutan maen itu game.. Buat gw, ini juga bisa jadi pelampiasan atas kandasnya impian gw menjadi “pilot pesawat tempur super duper mega canggih ultima” yang gak kesampean saat gw kecil.. Hehe.. poinnya sih bukan itu yang pengen gw tulis disini.. Gw cuman kepo aja secara ilmiah, kenapa sebuah game itu bisa betah dimaenin untuk sebagian orang, dan tidak untuk sebagian orang lainnya.. Oke, soal selera genre, itu udah jelas bisa ngejawab.. Kalo dari sudut pandang gaming sendiri gimana ??.. Sebetulnya, para desainer game saat merancang gamenya sudah memikirkan dalam2, gimana caranya si pemain itu bisa betah berlama2 dengan game yang dimaenkannya itu, dan terus2an mau maenin berulang2.. Dalam teori game itu ada yang namanya istilah “the magic circle”.. Istilah ini pertama kali dinyatakan oleh Johan Huizinga (1872–1945), itu loh, beliau ini orang yang terkenal pernah bilang kalo manusia itu makhluk bermain / Homo Ludens.. …

skill beragama..

Kalo gw pikir2 lagi sekarang ini, kayaknya dulu gw kuliah S1 itu bener2 masih culun dan sekedar ikut2an.. “Tren” abis lulus SMA itu yah kuliah, mau apalagi ??.. Buktinya, jurusan pilihan gw pun masih ikut2an.. Dan yang nggak kalah penting, saat itu gw sama sekali belum ngerti untuk apa sebenernya gw ambil jurusan itu.. Akhirnya knowledge hanya menjadi informasi dan tidak menjadi skill.. Sekarang pun mungkin banyak juga yang belum sepenuhnya paham, mengenai apa itu sebenernya knowledge, dan apa itu skill.. Menurut Julie Dirksen (2012), dalam bukunya “Designing how people to learn”, pengetahuan / knowledge bisa menjadi “sekedar” informasi bila tidak diamalkan.. Informasi selayaknya yang ada di koran2 dan majalah, yang bisa sangat mudah dilupakan dengan beragam kejadian dan waktu yang berjalan..  Seseorang yang “mengejar” knowledge hendaknya juga sadar: alasan kenapa informasi itu penting baginya, kenapa perlu tahu hal tersebut, dan yang terpenting adalah tahu juga kapan, dimana, dan gimana cara menggunakan informasi / knowledge tersebut.. Karena kalo “itu” belum diketahui & disadari, analoginya seperti seorang pendaki gunung yang tau item2 untuk mendaki gunung seperti …

ulama dan atau ahli ilmu..

Berkat pemilu ini gw jadi bisa sedikit menyimpulkan, banyak orang sini yang menafikan sains, atau ilmu pengetahuan.. Lebih percaya kepada perkataan para ulama atau pimpinan agama / kelompoknya ketimbang percaya pada penelitian ilmiah, lebih memilih condong pada opini ketimbang fakta.. Setau gw sih ilmu statistik itu nggak gampang dan sembarangan.. Penelitian kuantitatif itu objektif, karena memang “mengolah” angka /  data yang aktual ada di lapangan.. Tapi di jaman sekarang pun gw masih pernah baca & “ngadepin” sendiri koq bantahan kolot terhadap penelitian2 sains: “Itu ilmunya orang kafir..!!”.. Jadi jangan percaya sama yang begituan.. Hadeehh..(T_T!).. Kalo gw pribadi nggak mungkin meremehkan hal2 yang begitu.. Karena apa ?? Karena pas gw nguli S2, gw udah ngerasain sendiri mata kuliah metode penelitian selama satu semester.. Dan itu udah cukup bikin gw pusing.. Kalo diizinkan, gw akan angkat topi, angkat jempol, angkat cangkir, meja, komputer dan semua barang yang ada di kelas untuk menunjukkan betapa salutnya gw sama pakar penelitian ilmiah.. Hehehe.. Pengertian ulama di Indonesia sini memang sudah bergeser / terdistorsi.. Kata “ulama” disini lebih identik dengan orang2 …