Latest Posts

dibekuin atau dilepas..

Untitled-1Suatu ketika, pada sebuah zaman, ada seorang pemburu ular yang pergi ke daerah pegunungan untuk menangkap ular dengan keahliannya.. Waktu itu salju turun deras banget.. Dan setelah lama berkeliling gunung, tanpa diduga, dia menemukan sebuah ular naga yang guede banget yang sudah nggak bergerak sama sekali..

Dia pun seneng sekali, karena tanpa susah payah bisa dapet uler naga yang gedenya nggak biasa, segede pilar2 istana..!! Akhirnya dia pun memutuskan untuk membawanya ke kota, dan memamerkan “tangkapan”nya tersebut pada penduduk kota di kaki gunung..

Masalahnya, si pemburu nggak tau kalo tuh uler sebetulnya belum mati, ia hanya tertidur akibat dinginnya tinggi pegunungan dan badai salju yang deras.. Makin dibawa turun gunung, makin kena sinar matahari dataran rendah, makin hangatlah badan ular tersebut.. Dan saat penduduk kota ramai berkerumun untuk menonton, ular naga tersebut bangun.. Meski telah diikat oleh si pemburu, namun kekuatan ular tersebut mampu memutuskan tali2 ikatan.. Si ular pun mengamuk, memakan beberapa penonton, dan akhirnya, juga memakan si pemburu ular itu sendiri..

Cerita ini gw ambil dari sebuah kisah sufi penyair.. Si sufi penyair menutup cerita tersebut dengan mengatakan bahwa: “Ular naga adalah perlambang hawa nafsu lahiriah.. Hawa Nafsu dapat dibekukan dengan dinginnya akal atau kemampuan akal membekukan hawa nafsu.. Berilah nafsu itu kekuatan dan hangatnya sinar mentari, maka ia akan terbangun.. Biarkan ia beku dalam salju dan ia takkan pernah bergerak… Namun bila kau melepaskannya dari ikatan, ia akan melahapmu bulat-bulat… Ia akan meronta liar dan menelan semua hal yang ia temui… Kecuali kau sekuat Musa dengan tongkat mukjizatnya, ikatlah selalu ular nagamu dalam lilitan keimanan…”

Gw pernah baca juga, anggapan sejumlah kaum sufi, hawa nafsu dalam dirilah yang paling berbahaya, bahkan lebih berbahaya daripada setan itu sendiri.. Karena, menurut mereka, setiap manusia memang digoda oleh setan.. Terus kalau setan yang ngegoda siapa dong ?? Setan nggak digoda oleh setan.. Tapi setan digoda oleh hawa nafsunya sendiri sehingga ia berbuat jahat yaitu menggoda manusia dari Nabi Adam hingga sekarang..

Buya Hamka juga menuliskan: “Kalau semua kehendak hawa nafsu manusia diperturutkan begitu saja oleh Tuhan, maka alamat dunia akan binasa.. Sebab hawa nafsu masing2 manusia akan berusaha lebih dari yang lain.. Maka manusia akan salaing berebut dan menghancurkan..”

Kalo gw pikir, nafsu memang selalu pengen lebih.. Sudah punya penghasilan jutaan, ingin puluhan juta, setelah itu pengen ratusan juta, terus miliaran, triliunan, dst… Sudah watak memang manusia kalo dikasi satu gunung, dia akan kepengen gunung yang kedua.. Sebetulnya nggak ada salahnya punya keinginan besar.. Namun kalo sudah terkontaminasi hawa nafsu, bisa jadi nggak bagus.. apapun caranya bakal ditembus.. Cara halal gagal, cara haram jadi meriam..

numpang nampang..

Untitled-1Alhamdulillah, Signdesign comm masuk ke salah satu perusahaan yang disebut di buku ini.. Nama gw pun, meski peran figuran, ada juga neh di buku ini.. hehe.. Emang dari awal dulu pas kontes wirausaha muda bank mandiri, si pewawancara yang menyeleksi nominasi wirausaha muda sejabodetabek udah bilang: “Ini nanti gak papa nih ?? Si Royas yang bisa keangkat namanya kalo ntar ada endors macem2..?? Kalian kan sekarang ownernya berempat”..

Hehe.. Buat kita sisanya, gak masalah untuk majuin Untitled-2Royas (salah satu owner signdesign), karena pertimbangannya tuh anak yang paling muda diantara kita.. Masih punya banyak waktu untuk eskplor sana-sini, dan masih punya tenaga muda juga kalo sewaktu-waktu mesti dikarantina untuk program binaan wirausaha mandiri..

Nggak disangka gak diduga, ternyata yang nulis buku ini juga mengambil sebagian materi yang diulas dari buku “Wirausaha Mandiri part 2” dimana signdesign juga ada di dalemnya.. Jadi sedikit sejarah dari berdirinya signdesign juga dipaparkan disitu.. Auri si CEO Flux desain pun juga merupakan wirausaha muda binaan mandiri..

Untitled-3Terus terang aja, masih banyak impian yang pengen gw wujudkan.. Masih banyak ilmu yang mau gw pelajari dan terapkan.. Dan berhasil atau tidak, pasti akan gw share, mana itu cara2 atau teori yang worthed untuk dilakukan, dan mana yang sebaiknya perlu tambahan pertimbangan untuk dijalankan..  Gw gak berani ngomong “tidak” atau “jangan” dijalankan..  Karena berdasarkan postingan gw kemaren yang ogah taqlid buta, teori atau cara2 tertentu sifatnya bisa kayak baju.. Buat gw bisa nggak cocok, tapi buat orang lain bisa aja malah cocok dan “jalan”…

Gw pikir, euuhhh… kalo dishare di blog ada rasa2 kurang puas juga sih.. Mungkin ada baiknya juga ya kalo gw coba2 jadi penulis buku.. (^_^!)/

Ma’apin aja Bro..’

Untitled-1Ada yang bilang kita-kita ini hidup di negeri orang2 baik.. Buktinya kita selalu maafin kesalahan pemimpin kita.. Seburuk apapun track recordnya.. Meski buat gw terus terang aja, sulit memaafkan mereka yang korup dan bikin rakyat jadi banyak yang sengsara begini… Ada yang bilang juga kalo Ilmu leadership yang sesungguhnya sebenarnya ada di dalam “dunia hitam”.. Dimana anak buah bisa tega nge”dor” pemimpinnya sendiri kalo si pemimpin nggak bisa berbuat adil sama yang dipimpin..

Yah, nggak perlu mikir yang jauh2.. Paling nggak hari lebaran udah menjelang.. Paling nggak juga, maafkan orang2 sekitar, atau kalo perlu kita yang meminta maaf.. Secara riset, dua2nya ternyata sama2 menyehatkan..

Untuk kerugian atau luka yang dalam, memaafkan memang bisa jadi permasalahan tersendiri.. Ibarat kita punya kamar, terus kemasukan kambing.. Si kambing udah diusir keluar, tapi baunya masih tertinggal.. Perlu usaha lebih untuk bisa mengusir si “bau”.. Ada yang berpendapat kalo waktu adalah obat yang paling manjur.. Tapi kalo selalu ngandelin waktu, bakal muncul deh pertanyaan baru: “Kapan” (baunya ilang) ??” Hehehe..

Memang sebaiknya usaha memaafkan itu mesti dilakukan, apapun itu caranya.. Menurut Stephen Post, Ph.D & Jill Neimark, hingga saat ini, sudah ada 1.400 studi yang menyelidiki tentang memaafkan.. Dalam buku mereka “Why good things happen to good people”, mereka menuliskan keterkaitan antara memaafkan dengan kesehatan mental dan fisik..

Hasil2 penelitian tersebut antara lain menyimpulkan:

  1. Memaafkan orang lain lebih meningkatkan kesehatan daripada dimaafkan.
  2. Memaafkan bisa meredakan depresi. Penelitian ini melibatkan 212 orang murid dan menyimpulkan anak2 yang belajar memaafkan berubah dari mengalami depresi klinis menjadi tidak mengalami depresi..
  3. Memaafkan meningkatkan suasana hati dan mengurangi kemarahan.. Saat orang2 dalam keadaan mampu memaafkan daripada biasanya, mereka melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih tinggi, gejala2 penyakit yang lebih sedikit, dan suasana hati yang lebih baik..
  4. Memaafkan mengurangi hormon stress dan menjaga kepuasan dalam menjalin hubungan dekat..

Meski meminta maaf bisa dilakukan kapan saja.. Tapi momentum lebaran tidak ada salahnya untuk dimanfaatkan.. Jadi, wahai teman2 handai tolan dan kaum kerabat, gw mau ngucapin MOHON MAAF LAHIR & BATIN.. Nggak lupa juga ngucapin HAPPY IEDUL FITRI 1434 H..  Hehehe.. Semoga ibadah puasa kita sebulan penuh ini bisa berdampak ke bulan2 selanjutnya… Amiiiin..

ogah taqlid buta..

Untitled-1Di tiap angkatan & kelas saat ngajar, gw selalu ngomong ke mahasiswa gw, kalo jangan nurut gitu aja ama materi2 yang gw kasi.. Coba aja cek, coba baca lagi, bener nggak apa yang udah gw sampein.. Malah gw inget gw pernah ngomong gini: “Sebenernya, kalo kalian semua mau nggak setuju dengan apa yang gw sampein itu nggak masalah.. Gw diamanatkan ngajar kalian, jadi gw bertanggung jawab untuk menyampaikan materi ke kalian.. Tapi soal kalian mau setuju atau tidak sama yang gw sampein, itu mah soal laen..”

Maksud gw ngomong gitu itu, supaya mereka sadari sepenuhnya kalo dosen itu bukan dewa.. yang serba tahu semuanya dan nggak bisa salah, dan mesti kudu harus diturutin bulat2.. Ujung2nya gw pengen mereka jadi orang yang gak “taqlid buta” gitu aja atas apa yang mereka lihat, baca, dan dengar…

Kalo kata Buya Hamka: “Jangan jadi pak turut..”.. Jangan nurut manggut gitu aja tanpa pengamatan dan tafakkur yang dalam pada suatu hal.. Meskipun pasti pada awalnya kita ini orang2 muda selalu mencoba meniru2 orang besar lain, tapi jangan lupakan penyidikan, pengalaman dan tafakkur yang lebih dalam.. Hasil dari pengalaman dan tafakkur bisa berbuah keyakinan yang dalam, dan akibatnya rasa galau jadi ogah ganggu..

Jadi, nggak papa meniru (nurut dulu) pada sebanyak mungkin orang2 besar.. tapi jangan lupakan pemikiran diri sendiri.. Buya Hamka juga menuliskan: “Yang amat berbahaya bagi hidup ialah pikiran yang tidak tegak sendiri, yang hanya berlindung pada pikiran orang lain. Kekuatannya hanya ada saat ditolong orang lain, dan tidak dibiarkan hidup sendiri..”

Kadang gw nggak tahan liat banyak orang fanatik abis2an sama sesuatu, bener2 cenderung jadi taqlid buta.. Padahal ibarat baju, yang cocok buat seseorang, belum tentu cocok untuk orang lain..

Ada sebuah kisah seorang santri.. Suatu ketika, dia baca syahadat di depan santri2 yang lain, terus manjat ke pohon kelapa yang tinggi, kemudian terjun bebas jatuh membentur bumi.. Tapi dia sehat wal afiat tidak cedera apapun.. Dia pun ngaku ke gurunya kalo dia itu manusia biasa, nggak sakti.. Sunan Kudus, gurunya pun bertanya: “Gimana, kalo orang2 lain kagum padamu, lalu meniru persis apa yang kamu lakukan, kemudian mereka luka atau mati ??

Santri tersebut menjawab: “Kalo orang lain niru saya terus mati, itu karena kebodohan mereka sendiri.. Setiap manusia punya latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri2.. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta.. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyakinannya, dengan tempat ia berpijak, serta berbagai kemungkinan sunnatullah atau hukum alam permanen.. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tidak usah ikut balapan kuda..”