Latest Posts

“ditarik” rasa mampu..

00233Aaakkk.. banyak banget tugasnyaaa.. Mungkin kurang lebih begitu isi kepala mahasiswa gw pas gw lagi ngasi tugas borongan.. Yah, bagaimanapun, desain grafis itu seni terapan.. Sebuah skill problem solver yang beroutput visual.. Dan yang namanya skill, jelas perlu latihan yang buanyak..

Keuntungan dari tugas banyak yang bisa jelas terlihat itu ya umumnya kemampuan yang meningkat.. Bisa keliatan deh tuh dulu desainnya pas awal kuliah gimana, terus sekarang jadi gimana.. Rumus jadi seorang ahli (kaidah 10.000 jamnya) jadi lebih cepat terkejar.. Namun tetep mesti ada niat dan kesungguhan dalam pengerjaan tugasnya.. Karena ada juga yang gw liat, karena asal jadi ngerjain tugasnya, ngaret dari deadline, pada akhirnya skillnya jadi nggak meningkat secara signifikan..

Sebetulnya tugas banyak juga latihan terhadap mental.. Untuk menguji, bisa melepas dari rantai opini “nggak mampu” atau tidak.. Seringkali kita2 nih udah ngerasa nggak mampu duluan kalo dikasi project yang sebelumnya nggak sebanyak, atau “sebesar” yang pernah kita kerjakan sebelumnya.. Padahal itu bisa jadi hanya prasangka buruk dari diri, yang timbul dari minimalnya kesungguhan, atau ya maksimalnya kemalasan.. Padahal perasaan mampu atau nggak di depan, bisa mempengaruhi kemampuan kita yang sesungguhnya.. Perhatikanlah orang2 yang berhasil, seringkali adalah mereka yang merasa bisa atau mampu di awal.. Dan kemudian, rasa mampu inilah yang memicu mereka untuk mengambil tindakan awal..

Gribble J.R. (2000) dalam riset disertasi Ph.D nya menemukan, 8 dari 10 orang merasa citra diri mereka memberikan pengaruh yang nggak kecil pada kinerja mereka.. Pendek kata, bagi sebagian besar orang, langkah pertama untuk meningkatkan kinerja tidak ada kaitannya dengan pekerjaan itu sendiri, tetapi justru terkait dengan meningkatkan perasaan “mampu” pada diri mereka sendiri..

Seringkali yang berat itu di awal, atau pada langkah pertama.. Pas udah dilakonin, ternyata ke depannya nggak sesulit yang kita kira.. Jadi prasangka buruk pada awal tindakan, selayaknya dihajar dengan membesarkan rasa mampu diri..

tunda menunda..

0033Dari pengalaman ngajar gw sejauh ini, memang nggak sedikit mahasiswa yang sering nunda2 ngerjain tugas.. Terus menunda sampai saat2 terakhir, dan jelas aja hasilnya pasti nggak maksimal atau malah lewat dari deadline.. Kalo dalam istilah ilmu psikologi, pola kerja menunda seperti ini disebut procrastination.. Dan para pelakunya bisa disebut dengan procrastinator..

Ada yang bilang kalo procrastinator ini adalah mereka yang lemah dalam pengelolaan waktu, atau ada juga yang menganggap mereka itu pemalas.. Namun profesor psikologi Joseph Ferrari, Ph.D dari DePaul University – Chicago, yang melakukan penelitian2 terhadap hal ini di abad 20 menyimpulkan hal lain.. Ia menyatakan bahwa procrastination ini disebabkan oleh gangguan kejiwaan dan kepribadian.. Prof. Ferrari menyimpulkan, kalo penunda kronis biasanya meragukan kemampuan dirinya sendiri dan sangat khawatir akan penilaian orang lain.. Jadi mereka mikirnya: “kalo gw nggak nyelesain kerjaan gw, orang nggak mungkin bisa nilai kemampuan gw..”..

Dan menunda kerjaan itu membuat mereka gampang menemukan dalih atau alasan, kalo hasil kerja mereka nggak optimal.. Jadi misalnya gw komentarin tugas mahasiswa penunda: “Nggak banget nih desainnya..”.. Mereka bakal gampang berdalih: “Iya nih mas, abis buru2 sih ngerjainnya..” Secara nggak sadar, para penunda telah menciptakan sendiri situasi yang akan bisa dia salahkan kalo hasil kerjanya nggak maksimal.. Dengan begitu, kalo ada sesuatu yang salah, mereka berharap orang lain akan menyalahkan situasinya, bukan kemampuan mereka.. Ada penelitian juga yang membuktikan, mahasiswa yang biasa menunda tugasnya, biasanya mendapatkan peringkat yang paling rendah di kelasnya..

Sekali2 nunda2 kerjaan sih wajar2 aja dah.. Tapi kalo udah jadi kebiasaan dan kebangetan, urusannya malah jadi panjang.. Panjang dan “meluas” malah.. Karena ada penelitian juga yang menemukan bahwa sebagian besar para procrastinator merasa hidupnya tidak bahagia.. Penyebab utamanya, karena mereka seringkali mengalami kegagalan dalam banyak hal yang mereka kerjakan.. Dan mereka justru merasa nggak punya banyak waktu untuk ngelakuin hal lain selain pekerjaannya.. Plus, mereka juga sering merasa selalu dikejar2 dan dihantui oleh pekerjaan yang belum terselesaikan..

Kalo gw pikir, nggak sedikit orang yang menganggap dirinya bukan penunda, dan menilai diri sebagai orang yang produktif.. Ternyata eh ternyata.. produktif sih emang, namun untuk hal2 yang nggak penting.. (^_^!)..

bermain musik sumbang..

002Kalau memperhatikan kasus Rohingnya, gw jadi inget lagi analogi agama dari KH Ahmad Dahlah: “Hakikat agama itu seperti musik, di tangan orang yang pandai memainkannya, dia akan indah, cerah dan mendamaikan.. Namun di tangan orang yang nggak pandai memainkannya, dia akan jadi sumbang, kacau, meresahkan dan tidak menentramkan, bahkan bisa jadi bahan tertawaan..” Di agama apapun, pernyataan dari beliau ini bisa berlaku..

Meskipun Buddha bukan agama langitan (samawi), tetap saja yang gw pahami sih, ajarannya tetaplah ajaran yang sangat berorientasi pada kebaikan.. Agama mana yang tidak ??.. Gw baca biografinya Siddharta Gautama, euh, meskipun yang dalam bentuk komik tebal 8 jilid itu sih.. Dan di situ banyak sekali pemikiran2 hebat yang disampaikan oleh Siddharta..

Dan pemikiran2 beliau tidak didapat begitu saja dengan mudah.. Begitu banyak lika liku kehidupan, termasuk penderitaan yang sudah dilewati sekian lama sehingga beliau sampai pada tingkat “tercerahkan”, dan kemudian mampu memberikan pencerahan pada sekian banyak orang lainnya hingga sekarang..

Bagi sebagian orang, agama bisa menjadi alat politis atau alat lain, yang kadang memang sengaja ditunjukkan dengan beragam atribut untuk mencapai maksud / kepentingan tertentu.. Dan bagi sebagian yang lain, agama adalah skill, yang nggak begitu terlihat pada wujud atribut, tapi lebih kepada perilaku dan sikap (fisik, mental & pikiran) mereka dalam menghargai beragam ciptaan Tuhan-Nya..

Untuk sebagian yang kedua, ritual agamanya juga jelas terlihat dari luar.. Namun yang tidak kalah sering terlihat, adalah “hasil” dari cara dia beragama.. Dan sebagaimana “output” dari manusia pada umumnya, akan terlihat banyak kesamaan dengan mereka yang beragama lain atau atheis sekalipun.. Seperti: prestasinya, cara dia menghargai orang lain, cara dia berfikir, cara dia berselisih paham, problem solving, sampai caranya berupaya untuk mencapai keberhasilan..

Untuk yang menjadikan agama sebagai alat, ritual agama hanyalah ritual untuk “pengakuan” atau pencitraan.. Bukan untuk pembentuk karakter yang kemudian terimplementasikan pada cara hidup.. Sudah lihat kan, pengurus partai agama tapi korup.. Padahal mereka itu sholat, tapi dimanakah letak “agamanya” ??.. Dimanakah hasil sholatnya ??.. Ibarat memainkan musik tanpa menjiwai dan paham makna musiknya.. Menjadi sangat mudah untuk terdengar tidak enak..

Gw orang awam banget, jadi nggak berhak berkomentar banyak soal kasus Rohingnya.. Buddha pernah berujar: “You yourself, as much as anybody in the entire universe, deserve your love and affection..”.. Mosok sih seseorang yang benar2 paham kalimat ini akan jadi seorang pembunuh ??.. Kalo agama ibarat musik, maka kasus ini bisa jadi salah satu contoh permainan musik yang sumbang.. Mungkin salah baca not baloknya, atau terlalu ekstrim berimprovisasi..

gampang – stagnan, susah – tumbuh..

022

Belakangan ini di kampus tempat gw ngajar, lagi banyak mahasiswa semester akhir yang pusing soal Tugas Akhir.. Bagi mereka, bisa jadi ini hal baru yang mereka lakukan.. Sebelum2nya, bikin karya ya bikin2 aja.. Nggak perlu pake tulisan pengantar karya, dan kliennya pun seringan fiktif, alias si dosen sendiri yang berlagak jadi klien.. (^_^!)..

Bisa ditebak, melakukan hal yang berbeda, dan bisa jadi ditambah tingkat kesulitan yang sedikit “naik” (seperti kliennya mesti beneran), jelas membuat mereka perlu berfikir ekstra.. Karena kita manusia biasa, sedikit2 keluhan pun mulai keluar menanggapi kenyataan di lapangan.. Karena terkadang, eh bahkan mungkin seringkali, kenyataan yang kita harapkan tidak sesuai dengan kenyataan yang benar2 terjadi di depan kita..

Yah, paling nggak para mahasiswa itu dapet dua hal: pertama, hal yang baru, kedua, hal yang lebih sulit.. Dan mungkin saja mereka belum memahami kalo kedua hal tersebut lah yang bisa membuat mereka “tumbuh”.. Melakukan hal yang sama terus menerus, apalagi hal yang gampang2, justru akan membuat kita terjebak dalam kebosanan & kondisi stagnan.. Melakukan hal2 yang baru tapi gampang, memang nggak membosankan sih, tapi ya cuman dapet seneng doang, tapi diri ini jadi nggak berkembang..

Yang menjadikan diri ini bisa terus tumbuh berkembang salah satu caranya adalah dengan melakukan hal2 yang baru dengan tingkat kesusahan yang lebih tinggi.. Yah kayak kasus mahasiswa gw yang sekarang lagi bikin tugas akhir gitu deh.. Jadi, ada baiknya jangan selalu menginginkan hal yang mudah.. Yang mudah biasanya siapapun bisa melakukannya, atau bisa dibilang jadi hal yang biasa atau rata2.. Padahal yang membuat diri ini bisa menjadi lebih menarik, adalah kalau kita bisa jadi berbeda atau diatas rata2..

Kalo kata William F. Halsey: “Pada hakikatnya tidak ada orang besar, kecuali orang yang mampu mengatasi tantangan besar, yang membuatnya berbeda dengan orang lain yang biasa-biasa saja..”