Latest Posts

terkurung sendiri..

Untitled-1Masa lalu sudah terjadi, masa depan masih misteri.. Namun sepertinya masih ada saja yang terbelenggu oleh masa lalu.. Dari baca2, gw tau dulu Islam pernah jaya, sampai2 untuk update ilmu pengetahuan, seseorang mesti belajar bahasa arab dulu supaya bisa tetap update.. Tapi ya itu dulu..

Di saat sekarang ini, sepertinya ada juga yang berpikir bahwa masa jaya akan selalu bersama mereka.. Jadi seringkali ber-euforia membanggakan yang dulu2, tanpa melihat kenyataan yang sekarang.. Seakan2 sukses atau jaya adalah “heritages” atau warisan yang tinggal didapat begitu saja tanpa harus melakukan kreasi ulang & bersikap inovatif..

Tau cerita seekor kutu kucing yang mempertanyakan “Kucing tuh seperti apa sih ??..” Padahal si kutu selama ini hidup di situ.. Akhirnya si kutu memberanikan diri melompat “keluar” dari si kucing.. Walhasil, ia kemudian bisa melihat jelas bentuk dari si kucing.. Dan ternyata, si kucing pun sedang sekarat.. Kalau saja si kutu nggak memberanikan diri “mengambil jarak” untuk melihat tempat dirinya berpijak, tentu saja ia akan ikut mati bersama si kucing..

Mereka yang kurang paham “kekininannya”, dan selalu berbangga2 dengan masa lalunya, perilakunya bakal gampang usang serta ketinggalan zaman.. Mereka cenderung menatap hari esok dengan kacamata kemarin.. Akhirnya menjadi terperangkap di dalam kisah sukses di masa lalu.. Dan ujung2nya bisa jadi uninspired, dan uninspiring.. Ya gimana, wong banyak kemajuan ”di luar” yang ditentang atau disangkal, eh malah memajukan “jargon2” masa lalu..

Rhenald Kasali, Ph.D, dalam bukunya “Mutasi DNA Powerhouse” (2008), menyebut mereka dengan istilah Orthodoxies.. Beliau menuliskan, para orthodoxies hanya akan berevolusi menjadi juragan mitos dan warisan.. Resources mereka lebih dialokasikan pada “What we do” ketimbang “How we should recode what we do”.. Pembaharuan mereka hanya renovasi kecil2an, dan tidak mengarungi dunia baru di luar mereka.. Akhirnya jadi jago kandang.. Dan parahnya, seringkali yang mereka perjuangkan hanya kepentingan2 pribadi atau kelompok mereka saja..

Kalo ngebaca satu paragraf dari Rhenald Khasali di atas, keliatan banget pentingnya “mengambil jarak”, kemudian melihat “dunia dalam & luar” secara lebih teliti dan objektif.. Kalau nggak begitu, dan hanya bercermin pada masa lalu, bagaimana kita tau sudah sejauh apa kita ketinggalan ??..

Gw jadi teringat sebuah kalimat dari filsuf asal negeri Cina yang bernama Zhuang Zhou.. Zhou pernah berkata: “Jika seseorang selalu menciptakan pengetahuan dari pandangannya, ia akan terperangkap oleh ‘lingkaran pengetahuan’ buatannya sendiri..”

Jadi nggak perlu heran, kalo ada orang yang hanya bisa “membangun sendiri” pengetahuannya tentang Yahudi.. Akhirnya Pokemon pun jadi Yahudi.. (^_^!)

diri merdeka persepsi Hamka..

Untitled-2Persepsi bisa jadi salah satu resep sukses seseorang.. Melihat suatu hal secara optimis atau pesimis, kalau disadari mendalam, juga merupakan dua buah lensa / persepsi yang bisa dipilih.. Kalo liat banyak orang sukses, umumnya mereka punya lensa2 unik yang dia kumpulkan dari banyak sumber & pengalaman, sekaligus mampu menggunakannya di momen2 yang tepat..

Pakar kreativitas Edward de Bono dan psikolog Harvard, David perkins melihat persepsi sebagai bagian terpenting dalam berpikir.. Studi Perkins menyimpulkan, 90% kesalahan berpikir terjadi karena kesalahan persepsi.. Tidak peduli sebagus apapun logika seseorang, kalau persepsinya salah, maka; opini, kesimpulan, atau solusi akhirnya juga akan salah..

Nggak jarang kan kita melihat logika2 aneh yg bersumber dari persepsi yg aneh juga dari para haters.. Mulai dari berita yang dipelintir, teroris jadi syuhada, ulama hebat difitnah, korupsi nggak papa kalo niatnya baik, do’a dicampur kritik, dan lain sebagainya.. Di mata mereka yang menggunakan lensa / persepsi normal, sebagus apapun logika yg disusun untuk membangun kesimpulan model begitu, tetep aja jadi aneh, dan nggak jarang malah jadi bahan tertawaan.. hehe..

Haters melihat dengan lensa kebencian.. Dan sepertinya mereka kurang mampu “mengumpulkan” serta menggunakan lensa2 yang lain.. Rasa benci itu adanya di hati.. Rasa2 di dalam hati itu lah hendaknya yang diwaspadai.. Karena di dalam Qur’an sudah disebutkan, kalau hati itu bisa terkena penyakit.. Dan sebaliknya, perintah penggunaan akal pikiran bertaburan.. Bukannya nggak boleh pakai hati.. Sebagai pertimbangan, sangat boleh menggunakan hati, namun saat pukul gong final, akal yang sebaiknya dikedepankan..

Apa arti merdeka bagi diri ini kalau masih terpenjara emosi negatif di dalam hati ??.. Apakah seseorang bisa disebut merdeka saat memasungkan akal pikirannya begitu saja pada orang lain atau organisasi ??.. Bisakah diri ini merdeka kalau pikirannya terjajah oleh pikiran2 orang lain, yang bahkan masih merujuk pada pemikiran dari abad2 yang telah lalu tanpa berani mengkritisinya sama sekali ??

Simak dua paragraf terakhir ini yang gw kutip langsung dari bukunya Buya Hamka:

“Kita sama sekali tidak merdeka, kalau masih terikat oleh kebiasaan, apalagi oleh khurafat yang turun temurun atau pendapat yang telah terbiasa, atau oleh sentimen orang banyak yang tidak berujung pangkal.. Semuanya itu tidak boleh mempengaruhi kita.. Semuanya harus ditimbang dengan akal, dibandingkan, dan kalau perlu dibantah !!”

“Ingatlah !! Kekayaanmu yang sebenarnya ialah kemerdakaan & kebebasanmu.. Tidak ada yang dapat membelinya walaupun dengan emas sebesar gunung..!!”

lensa persepsi..

Untitled-1.pngSeseorang selalu memandang dunia ini dengan persepsi.. Di banyak referensi disebutkan, persepsi seseorang bersifat subjektif.. Analogi paling sederhananya dari teori ini: persepsi ibarat jenis lensa kamera DSLR.. Tau jenis lensa kamera kan ??.. Ada yang fish eye, macro, tele, wide, dsb..

Penggunaan lensa yang berbeda untuk sebuah objek yang sama, akan menghasilkan gambar yang berbeda.. Misal objeknya adalah kucing.. Coba ambil foto si kucing dengan lensa fish eye, si kucing akan keliatan kembung membulet.. Kalau pakai tele, bisa jadi hasil foto si kucing cuman kupingnya doang karena efek zoomnya.. Padahal objeknya tetep sama: kucing.. Intinya, penggunaan jenis lensa bisa “mengambil” hasil akhir yang berbeda, meskipun objeknya sama..

Dengan teori ini, sangat logis kenapa haters selalu mengambil kesimpulan yang berbeda dibandingkan “lovers”.. Taroklah objeknya misalnya Jokowi.. Apapun yang dilakukannya akan disimpulkan sebagai kesalahan dengan lensa (baca: persepsi) kebenciannya.. Sedangkan “lovers”, atau “netralers”, umumnya akan mengambil kesimpulan yang berbeda, bahkan bisa bertolak belakang dengan haters.. Karena mereka melihatnya dengan lensa cinta atau netral..

Persepsi ini bisa terbentuk dari pelajaran seseorang bertahun2.. Gw setuju dengan Arifin, MBA (2012) dalam bukunya “Ketika Archimedes Berteriak Eureka !!”, yang menyatakan: mayoritas dari kita sebenarnya terkondisi memakai lensa “pihak” lain saat berpikir.. Pihak lain itu bisa jadi agama, pemerintah, orangtua, teman, ataupun guru..

Karena dari kecil kita sudah dipasangkan lensa2 oleh mereka, kita seakan menganggap lensa mereka adalah lensa yang terbaik.. Contoh, persepsi orang tua dulu, kalo anaknya jadi pegawai perusahaan itu udah paling oke.. Padahal si anak, berkat pembelajarannya, mampu melihat dengan “lensa” lain, yakni berwirausaha yang oke.. Nggak jarang urusan beda persepsi begini jadi konflik saat anak muda mau mulai berwirausaha..

Cara mengubah persepsi yang paling mendasar adalah: SADARI KALAU LENSA ITU ADA, dan sebenarnya BISA DIGONTA-GANTI.. Untuk ini ya seseorang harus terus belajar dan berani berpikir sendiri.. Selama taqlid buta, seseorang nggak akan bisa memodifikasi atau mencopot lensanya sendiri.

Menjadi aneh buat gw kalo ada orang yang “menyerahkan” begitu saja pikiran dan persepsinya pada orang lain, atau pada sebuah organisasi.. Karena apa ??.. Buya Hamka di bukunya “Falsafah Hidup” menyatakan:

“Supaya tercapai keselamatan hidup di dunia fana, hendaklah kita mementingkan pikiran kita sendiri.. Yang amat berbahaya bagi hidup ialah pikiran yang tidak tegak sendiri, yang hanya berlindung atau terpengaruh oleh pikiran orang lain.. Ibarat rumput bernaung di bawah pohon besar, hidup segan mati tak mau, karena nggak berani berusaha mendapatkan cahaya langsung dari matahari.”

mikir jadi ada..

Untitled-1Suka aneh sama mereka yang share tanpa berpikir.. Yang mereka lakukan itu hanya menambah “keberadaan” si penulis hoax.. Yah, kalo secara tersirat, si tukang “share” fitnah atau hoax ini bisa dibilang “nggak ada”.. Toh kalo pun ada, nggak jarang kan langsung kita “unfriend”, terus jadi nggak ada deh.. Hehe..

Teringat kalimat “Corgito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada, begitu kata Descartes, filsuf ternama dari Perancis.. Descartes, sebagaimana filsuf lainnya, ingin mencari kebenaran.. Menurutnya, meragukan semua hal (termasuk meragukan diri sendiri) bisa menjadi cara untuk menemukan kebenaran, dan bisa membersihkan dirinya dari prasangka2 yang menuntunnya ke jalan yang salah..

Descartes juga beranggapan, bisa saja berpikir tidak membawanya menuju kebenaran, tapi malah ke kesalahan.. Mungkin saja ada kekuatan besar lain di luar dirinya yang mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.. Tapi meskipun begitu, ia TETAPLAH BERPIKIR, inilah satu2nya yang sudah jelas.. Maka kalau dilepas dari aspek kesalahan atau kebenaran, BERPIKIR sendiri adalah sebuah bentuk keberadaan diri, lantas singkatnya, sampailah ia pada kesimpulan “Corgito ergo sum”..

Jadi nyambung sama paragraf awal postingan.. Kalo para tukang share nggak mikir dulu, langsung share, dimana letak “keberadaan” mereka ??.. Dan kayaknya, emang nggak ada nama tukang share berita hoax atau fitnah yang gw inget.. Tapi kalo sumber aslinya sih tau, yang banyak ya dari si Jon Jon itu.. hehe.. Bisa diliat, mana yang lebih terasa ”ada”, si Jon dengan buah pikirnya itu, atau tukang sharenya yang nggak punya pikiran sendiri ??..

Jadi, berpikir mengenai alasan atas apa2 yang dilakukan menjadi penting, supaya keberadaan seseorang menjadi semakin jelas.. Mungkin itu juga yang membuat kita disebut “Human Beings”.. Karena manusia itu sendirilah yang menentukan akan “being what” dengan pikirannya.. Punya impian atau ide bagus, mampu punya gambaran dirinya melakukan perbuatan A akan jadi apa, perbuatan B akan jadi apa ??.. Itu semua bisa terjadi bila si orangnya berpikir sendiri, bukan doktrin dari orang lain, apalagi organisasi tertentu..

Kalo hanya “doing” tanpa memikirkan “being” atau dampaknya, apa bedanya dengan robot yang nggak mampu berpikir sendiri ??.. Euh, robot mampu sih berpikir, tapi ya tentu saja sebatas apa yang sudah diinstall oleh pembuatnya.. Melakukan apapun / “berjalan” ke manapun tanpa memikirkan, hanya akan sampai pada tujuan dari si pemberi “doing”, dan bukan esensi dari tujuan diri sejati ini diciptakan..

Nggak heran ya di dalam Al-Qur’an bertaburan ayat yang memerintahkan untuk BERPIKIR.. Ya, karena “We are all human beings.. Not human doings..”

Go DaiGo !!

Untitled-1Pernah denger nama Daigo Umehara ??.. Kalo bukan penggemar game Street Fighter (SF), hampir bisa dipastikan nggak akan kenal nama ini.. Yang doyan main SF pun belum tentu tau nama ini kalau nggak memperhatikan perkembangan turnamen SF di kancah internasional..

Media Jepang sering menyebut Daigo sebagai “2D Kakutō Gēmu no Kami”, atau Dewa game fighting 2D.. Ini orang emang jago banget maen game fighting 2 dimensi, terutama game Street Fighter.. Karir sebagai gamer profesionalnya berawal di umur 10 tahun (sekarang usianya 35), saat mesin game Arcade lebih berjaya ketimbang console..

Usia 13 tahun, dia mulai rajin ikut2 lomba & turnamen.. Dan di usia 17 tahun (1998) Daigo ikutan turnamen nasional Street Fighter yg diselenggarakan oleh CAPCOM selaku publisher dari game tersebut.. Kemenangan membawanya pergi ke Amerika untuk melawan jawara nasional dari sana.. Dari 3 pertandingan, Daigo menang dengan score 2-1 setelah awalnya kalah dulu..

Sejak saat itu popularitasnya pun melambung di dunia persilatan Street Fighter.. Sampai tahun 2010, Daigo mampu memenangkan 15 turnamen Street Fighter nasional dan internasional.. Atas prestasi tersebut, namanya berhasil tercantum dalam Guinness World Records sebagai “The Most Successful Player in Major Tournaments of Street Fighter”.. Sampai sekarang pun ia masih aktif ikut turnamen, melawan pemain2 muda baru, namun tetep namanya cukup sering bertengger di 5 besar..

Kisah sukses Daigo bukan tanpa pasang surut.. Kegagalan, kekecewaan juga pernah ia alami.. Pernah suatu ketika, target kemenangannya gagal ia raih, ia pun terpuruk dan jadi males pergi ke arcade center untuk maen lagi.. Malah sempet juga beralih ke maen Mahjong dalam kurun waktu tertentu..

Yang gw salut dari kisahnya si Daigo ini, dia berani menempuh jalur yang ekstrim untuk sukses sebagai gamer profesional.. Coba bayangin gimana kalo kita jadi orang tua si Daigo.. Daigo itu maen game (baca: latihan) per harinya bisa sampe 8 jam !!.. Bahkan pernah juga untuk persiapan sebuah turnamen, ia berlatih hingga 16 jam per hari !!.. Kalo gw jadi ortu Daigo tanpa pengetahuan tentang game, gw pasti akan bilang: “Maen game mulu lu Tong !! Belajar lu biar pinter dan banyak duit !!”..

Resep sukses dari Daigo adalah terus menantang dirinya sendiri.. Sampe2 dia sempet berpikir: bukan hanya sekedar menang, tapi bagaimana caranya supaya menang dengan indah !!.. Hadeehh.. Menang aja udah susah, ini pake indah lagi.. Gokill.. Dan yang terakhir adalah hal yang sering kita dengar: PASSION.. Passionlah yang bikin si Daigo mampu melewati segala macam kesusahan dan jadi punya GRIT yang tinggi / mampu konsisten dalam jangka waktu yang panjang..

Ketekunan memang luar biasa ya.. Kalo tekun, permainan pun bisa jadi hal yang serius.. Kalo di sini nih, seringnya kebalik, hal2 yang sifatnya serius (kayak pekerjaan) malah dianggap permainan.. Haha.. Istiqomah / konsisten dalam jangka panjang pun bukan hal yang mudah.. Silakan dicoba sendiri..

Tapi gw heran, kok bisa ya para haters itu tetep konsisten dalam jangka waktu lama untuk nyebar hoax & kebencian ??.. Apa iya passionnya emang si situ ??.. (^_^!)/