Latest Posts

placebo vs nocebo..

untitled-1Tau PLACEBO EFFECT ??.. Umumnya dipakai di dunia pengobatan.. Si pasien diberi obat “palsu”, seperti pil gula misalnya, lantas diberitahu si dokter, ini obat diminum supaya sembuh.. Padahal nggak ada bahan yang “nyambung” sama penyakit si pasien di obat itu.. Tapi anehnya, metode “mengelabui pikiran” si pasien ini lumayan sering berhasil..

Lisa Rankin M.D (2013), dalam “Mind Over Medicine: Scientific Proof That You Can Heal Yourself”, menyatakan 18-80% dari pengobatan ala metode “plasebo effect” sejauh ini menunjukkan keberhasilan.. Bahkan ada yang sampe bisa menurunkan tekanan darah, ngilangin kutil, dan menumbuhkan rambut..!!

Metode penyembuhan dengan “mind-body power” ini ternyata punya sisi gelap, namanya NOCEBO EFFECT.. Dimana keyakinan salah yang ditanamkan pada pikiran, justru bisa membuat seseorang menjadi sakit..

Ada percobaan dengan “double-blinded clinical”, jadi si pasien diberi obat placebo, tapi dikasi tau juga kalo ada efek sampingnya.. Anehnya, 25% dari pasien merasakan efek samping tersebut meskipun yang diberikan hanya pil gula !!.. Lucunya lagi, Nocebo efek samping ini nggak menimbulkan keluhan yang random / acak dari si pasien.. Tapi selalu efek2 samping yang udah dikasi tau dokter sebelumnya di saat memberi obat ..

Di Jepang pernah dilakukan studi mengenai hal ini.. 13 orang siswa ditutup matanya, lantas mereka diberi tahu di lengan kanannya akan dioleskan sejenis tanaman yang bisa menyebabkan gatal.. Nggak lama, beneran deh tuh para siswa langsung merasa gatal di lengannya..

Padahal itu hanya olesan “plasebo”, tanaman yang diusap ke lengan mereka mungkin aja cuman daun singkong dari rumah makan padang sebelah tempat periset pada makan siang.. Hehe.. Perubahan fisiologis siswa terjadi murni hanya karena keyakinan mereka sendiri..

Percobaan nggak berhenti sampe di situ.. Di lengan mereka yang satunya (kiri), dioleskan tanaman racun yang sebenarnya.. Namun periset memberitahu kalo yang dioleskan itu adalah tanaman biasa.. Dari 13 siswa, hanya dua yang benar2 merasa gatal dan merah.. Sisanya nggak ngerasain apa2, dan itu juga murni berkat keyakinan mereka..!!

Apa yang seseorang yakini secara mendalam ternyata bisa mempengaruhi dirinya secara fisik, secara sains hal tersebut sudah terbukti.. Pengharapan disertai keyakinan kuat membuat otak menciptakan proses kimiawi tertentu, yang persis sama seperti kalo otak meladeni hal tersebut di kejadian nyata..

Pernah baca juga di sebuah buku, kalo do’a yang sungguh2 dengan keyakinan mendalam, ternyata juga bisa menunjukkan efek yang sama dengan cara kerja plasebo, dan sering dikaitkan dengan penyembuhan secara misterius.. Hmm.. kayaknya emang kudu hati2 nih “nyimpen” sesuatu di pikiran.. Jangan sampe malah “teryakini” hal2 negatif..

100% paham diri ??

untitled-1Minggu kemarin ada yang komentar di blog gw, kalau ada seorang Hindu yang mengatakan nggak mungkin ada manusia yang mampu memahami dirinya sendiri, karena itu hak mutlak Tuhan, dan bisanya cuma paham sedikit..


Apakah iya begitu ??.. Entah kenapa ujug2 jawabannya dateng.. Gw ngerujuk ke Nouman Ali Khan, Founder dan CEO Bayyinah Institute.. Di wikipedia, beliau: “has been named one of the 500 most influential Muslims in the world by the Royal Islamic Strategic Studies Centre of Jordan..”

Menurutnya, “topik” penemuan jati diri itu ada di QS.17:84: “Tiap2 orang berbuat menurut keadaannya masing2”.. Ada di kata syakilaah (keadaannya), akar katanya ‘syakl’, dan artinya bisa “form”, bentuk, atau cetakan.. Dari perspektif psikologi bisa diartikan kecenderungan kuat di dalam diri..

Syakilaah bisa sampai ke tatanan personalitas seseorang.. Humoris, serius, suka sains, seni dan sebagainya.. Nggak ada orang punya syakilaah yang sama persis.. Meski terlahir kembar identik pun mereka akan punya syakilaah yang berbeda..

Para ilmuwan sudah mengetahui pembentukan personality keseluruhan itu dari proses nature dan nurture.. Mereka pun mampu mengkategorikan personalitas individu seperti metode STIFIN dan sejenisnya.. Tapi mereka belum bisa sampai menjawab gimana kok seseorang bisa terlahir sebagai tipe S, atau tipe T, dan lainnya.. Misal seseorang pengen banget punya anak dengan mesin kecerdasan dominan I, nggak ada satu cara pun yang bisa dilakuan untuk hal tersebut.. Ilmuwan belum bisa menjawab hal ini.. Kenapa ya ??

Ternyata Alloh ngasi jawaban di ayat “sebelahnya”, QS.17:85.. Setelah bicara syaakilah, Alloh berbicara tentang ruh, dan menyatakan kita nggak dikasi pengetahuan tentang itu kecuali sedikit..

Jadi, pernyataan seorang Hindu di awal postingan itu bener juga.. Kita nggak mungkin bisa paham seratus persen akan diri kita sendiri.. Karena apa ??.. Karena ada sesuatu yang sangat misterius di dalam diri kita, ya ruh itu.. Mana bisa kita paham 100% akan diri ini kalo masih ada sesuatu yang nggak jelas kayak gitu ??, yang bahkan bisa dibilang berasal dari alam atau dimensi lain ??

Dalam terjemahan “english”, QS.17:84, kata ‘berbuat’ diterjemahkan sebagai  kata “works”, atau bekerja.. Gw suka penafsiran Nouman soal hal ini.. Beliau menyatakan: “Seseorang nggak akan bisa mengenal diri sejatinya, sampai ia bisa menempatkan kecenderungan kuatnya (syakilaah-nya) dalam pekerjaannya sehari2.. “

Meski nggak bisa paham 100%, pemahaman akan diri sendiri merupakan hal yang vital.. Bahkan bisa jadi mendasar dan sangat powerful, sampe2 Alloh “menuliskan” topik ini di dalam Qur’an..

Sudah sering kita lihat, orang2 berhasil umumnya adalah mereka yang mampu beraktivitas dan menyelam sedalam2nya di lautan “syakilaah”nya sendiri..

knowing and creating self..

untitled-2Pas ke Gramed, ada buku yang menarik perhatian gw.. Di cover belakangnya, pentolan tim penulis menyatakan: “Life is not about finding yourself, life is about creating yourself..”.. Nice quote..

Meski ‘nice’, sifat sotoy gw ngerasa masih ada yang janggal.. Karena kalo dipikir lebih dalam lagi, “finding yourself” itu bisa jadi dasar dari segalanya.. Gimana caranya seseorang bisa meng”create” dirinya tanpa dia tahu diri sendirinya “terbuat” dari apa ??..

Logika sederhananya, setiap “bahan dasar” selalu membutuhkan cara pengolahan yang berbeda.. Logam, tanah, air, bahkan tiap sayur atau daging sekalipun memerlukan pengolahan yang berbeda untuk kemudian jadi sesuatu yang istimewa..

Bisakah kita meng’create’ sesuatu dari apa2 yang nggak diketahui ??.. Bisa aja sih, tapi nggak tau juga jadinya bakal gimana.. Hasilnya bisa jadi mengejutkan, atau menyedihkan.. Untuk “experimen” kehidupan, kayaknya mendingan membuat sesuatu dari apa2 yang udah diketahui..

Kalo udah tau diri ini adalah pisang, kan enak, tinggal nentuin nanti di masa depan diri ini mau di”create” jadi apa.. Mau jadi pisang goreng kah, kripik pisang kah, atau tendangan pisang ?? (Halah..!!).. Kalo tau diri ini logam, dapet deh gambaran bisa jadi keris, pedang, atau celurit.. Nah kalo “Lelaki Kardus” itu bisa jadi apa ya ??.. Gwakakak..

Memahami diri sendiri merupakan pondasi untuk meng’create’ kehidupan.. Hidup adalah manajemen diri, dan menentukan sikap diri ini kepada keputusan2 Tuhan.. Begitu banyak hal yang nggak bisa dikontrol di “luar” sana.. Kenapa nggak lebih menyempatkan waktu meneliti diri sendiri yang jelas2 bisa kita kendalikan ??..

Paul G. Scoltz (2000) dalam “Adversity Quotient” menyatakan, kalo peristiwa diluar diri kita ini nggak penting, yang terpenting itu RESPON DIRI akan perisitiwa dari luar.. Respon seseorang terhadap peristiwa dan masalah lah yang mempengaruhi semua efektivitas kerja dan kesuksesan seseorang..

Orang yang paham akan dirinya, biasanya responnya akan lebih efisien.. Karena udah tau dirinya gimana.. Masalah2 yang dateng pada dirinya pun dianggap “pahatan2” yang bisa membuat dirinya menjadi versi yg lebih baik..

Kalimat “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya..”, sudah sering kita dengar.. Orang yang paham dirinya sendiri, biasanya do’a2nya lebih mudah terkonversi menjadi tindakan2 yang akurat, menuju pada Tuhannya yang telah disadari secara spesifik menciptakan dirinya..

“Ngeberesin” diri bisa jadi ‘PR’ besar bagi setiap orang.. Karena ada jebakan hawa nafsu juga di dalam diri.. Pepatah Afrika bilang: “When there is no enemy within, the enemies outside can not hurt you..”

Kalo boleh sotoy, gw lebih suka kalo quote di awal postingan jadi gini: “Life is about finding yourself, and creating the best version of yourself..”

give birth to himself..

untitled-1Erich Fromm (1900-1980), seorang ilmuwan yang sangat tertarik pada sosiologi (bergelar Ph.D), dan juga suka konsep psikoanalisisnya Freud.. Sejumlah kalangan menyebutnya sebagai kontributor penting bagi humanistic psychology..

Pernyataan terkenalnya cukup lucu: “Man’s main task is to give birth to himself..”.. Entah ini lucu apa garing, hehe.. Yang jelas ini bukan dalam hal gender, namun dalam konteks pencarian jati diri.. Erich menyatakan; sebenernya manusia hidup dalam perasaan takut, cemas, dan tidak berdaya, karena hidup “sendiri” dan “terpisah” dari alam..

Menurut studinya; perasaan2 kayak gitu bisa dilawan dengan menemukan / mencari ide2 dan kemampuan diri sendiri yang otentik, “merangkul” keunikan personal diri, serta mengembangkan kemampuan untuk mencintai.. Menurutnya juga, ikut2an saja tanpa kemampuan “membangun” pikiran sendiri, justru semakin membuat kita menjadi asing bagi diri kita sendiri..

Kalo dipikir2, sepertinya keimanan seseorang juga bisa merupakan sesuatu yang bisa disebut otentik.. Karena perjalanan atau “pembangunan” keimanan setiap orang berbeda2.. Ada yang melalui jalan kehidupan biasa2 saja, ada yang melalui jalan penyakit, jalan ilmu, jalan kehilangan, pengucilan, dan masih banyak “jalan2” yang lain, sebagaimana Naruto dengan jalan ninjanya.. hehe..

Seseorang sepertinya memang mesti memberanikan diri untuk mempertanyakan keimanannya sendiri.. Buat seorang muslim, tentu saja dasar hukum tertingginya adalah Al-Qur’an.. Tapi kenapa ya banyak yang percaya gitu aja kata2 habib, ustad, dan penceramah tanpa baca lagi untuk “penyeimbang”..??  Apa kitanya terlanjur menganggap mereka sudah dekat dan kenal dengan Alloh ??..

Cak Nun pernah menyatakan: Sepintar2nya ulama, ustad, habib, atau penceramah ngomongin tentang Alloh, jangan dikira Alloh seperti yang mereka omongin.. Karena Alloh itu “Laysa kamitslihi syai’un”, nggak ada yang menyerupai Dia (QS, 42:11).. Nggak ada ukuran, ada dimana2 kapan saja, jauh sekaligus dekat.. Gimana coba akal manusia bisa menggambarkan yang begitu ??

Masih banyak pertanyaan di kepala gw soal keimanan.. Selain terus belajar dan IQRA’, gw memilih untuk “memfilter” dengan akal sendiri, karena gw sadar di akhirat yang bisa diandalkan hanya diri sendiri (QS. 70: 8-18).. Bukan guru, ustad, habib, atau orang lain.. Nggak mungkin nanti pas gw ditanya terus jawabnya: “Loh, aku kan ngikutin ustad itu, habib onoh, sama ulama ini.. Udah pasti bener dong kaatt (ceritanya malaikat) ..”.. Nggak bisa.. Hehehe..

Keimanan harus dibangun sendiri (dengan tetap berguru, belajar dan IQRA’ banyak2), supaya keimanan bukan jadi sesuatu yang ikut2an, terlebih jadi “alat” untuk menilai keimanan orang lain.. Sebagaimana kata Erich soal pencarian jati diri, keimanan yang otentik sepertinya juga perlu dilahirkan sendiri.. Karena nggak mungkin ada jalan pencarian Tuhan yang sama persis dari setiap diri manusia..

interaksi diri + Qur’an..

untitled-1Gw ngerasa kita nih seakan lebih sering berinteraksi dengan ‘orang’ dalam belajar agama, dan kurang berani berinteraksi dengan Qur’an langsung secara individu.. Lebih percaya kata2 habib (??), ustad atau penceramah daripada mencoba membaca sendiri.. Padahal wahyu pertama itu kan “BACA” ya, bukan “DENGAR”..

Fritz Perls, seorang Doktoral medicine, kemudian menjadi psikiatris asal Jerman, menulis buku “Gestalt Therapy Verbatim” (1969).. Ia menyatakan “Truth can only be tolerated if you discover it yourself..”.. Semua yang kita ketahui sebenarnya bukan kebenaran objektif, karena lensa persepsi seseorang lah yang membentuk mana benar dan mana salah.. Masalahnya, lensa persepsi kita dibentuk oleh subjektivitas banyak orang.. Jadi menurut Fritz, kebenaran sejati hanya bisa dibangun oleh diri sendiri..

Interaksi dengan Qur’an nggak mesti melalui penafsiran yg terkesan berat, tapi juga bisa melalui cara sederhana seperti Tadabbur = mengambil manfaat (ada di postingan kemaren).. Kalo gw baca2 lagi, memang sepertinya di dalam Qur’an nggak ada pernyataan langsung  / menggunakan kata2 tafsir / menafsirkan untuk berinteraksi dengan Qur’an.. Yang ada justru kata Tadabbur (QS. 4:82 dan QS. 47:24)..

Anggaplah gw seorang tukang sayur atau buruh.. Pagi buta sampe malem sibuk berjualan atau bekerja, weekend untuk anak istri, atau malah untuk lemburan.. Pengen belajar dari Qur’an, tapi waktu kurang, ustad2 pun waktunya nggak selalu available buat gw.. Apa yang mesti gw lakukan untuk bisa belajar dari Qur’an..??

Tadabburlah jawabannya.. Dengan bertanya “Apa ayat ini udah gw amalkan dan berdampak pada yang lain ?”, setiap orang tanpa kecuali bisa akrab dengan Qur’an melalui MENCARI MANFAAT darinya.. Dan tentu bisa dijadikan “penyeimbang” atas pelajaran2 “katanya” yang didapat dari ‘orang’..

Coba saja Tadabburi QS. 6:108, nggak mungkin deh menghina Tuhan agama lain.. Tadabburi bener2 QS. Al-Hujurat, nggak mungkin berprasangka buruk, intoleran, rasis, nyebar hoax, atau “nyerbu” umat lain yang lagi melakukan aktivitasnya.. Kalo ada yang menganggap nyebar fitnah itu bermanfaat, pastilah hanya untuk kepentingan politik, atau bermanfaat untuk kelompoknya saja, karena Qur’an jelas2 melarang..

Sebaik2 manusia itu yang paling BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN.. Rosulullah bilangnya “bermanfaat bagi orang lain’, bukan bermanfaat bagi yang satu umat saja, yang satu ras, yang satu partai politik, atau yang satu jama’ah..

Manfaat yang keluar dari Qur’an pastilah manfaat yang baik secara universal, dan bukan untuk kepentingan suatu kelompok / umat saja.. Karena apa ??.. Karena Qur’an diturunkan bagi SEMUA UMAT manusia (QS 45:20)..

“Untuk mengembangkan diri sejati kita, diperlukan kemampuan esensial untuk bisa menulis aturan pribadi kita sendiri, menentukan pendapat, keinginan, ketertarikan, filosofi, dan kepentingan diri sendiri..”– Fritz Perls.