Latest Posts

ternyate kite emang jodoh ye…

Sebelumnya gak terpikir oleh gue kalo gue bakalan ikut organisasi lagi… yang berbau islam pulak… jadwalnya tiap hari minggu pagi lageh dimana waktu paling enak-enaknya buat tidur dan bangun siang… start mulai awal januari sampe sekarang, tiap minggu pagi gak tau kenapa rasanya enteng aja gituh jalan ke kelompok studi kajian Islam itu… padahal tempatnya jauh di kebayoran… hehehe… yang ngikut ratusan orang, dan dibagi jadi beberapa kelas isi 30-40 orang perkelas yang berbeda untuk masing-masing dua sesi… cuman yah gue perhatiin makin kesini pesertanya makin dikit… bukti nyata kalo yang namanya istiqomah itu nggak gampang… gue juga nggak tau knapa bisa bertahan.. udah pasti atas pertolongan Allah…

gue jadi teringet sama apa yang gue lakukan dulu waktu hari pertama mobil baru gue yang gue beli dengan susah payah itu dateng dan masuk ke garasi rumah… malam harinya di saat semua orang rumah dah pada tidur, gue masuk ke tuh mobil, bawa Al Qur’an, terus gue Yasinin tuh mobil..!!! abis itu gue berdo’a semoga nih mobil jadi berkah dunia akherat, dan bisa membawa gue untuk lebih giat nyari ilmu dan hikmah, plus bikin lebih deket sama yang nyiptain gue… mungkin aja gara-gara do’a ini gue jadi ngikut tuh kajian dan masih bertahan sampe sekarang, secara sesi pertama adalah belajar Qur’an, dan sesi kedua kajian ilmu islam…

nah di tempat itulah gue ketemu temen cowok yang enak diajak diskusi… kalo diskusi ama dia tuh enaknya nggak ngotot dan mau menerima pendapat yang lebih benar dari yang dia pegang sekarang… dari dua sesi yang diadakan, sesi pertama gue sekelas sama dia, terus sesi keduanya kita beda kelas… seminggu sekali ketemu plus sering makan siang bareng bikin kite makin akrab… dua minggu yang lalu gue nanya pendapatnya dia tentang konsep jodoh.. dia jawab begeneh: “jodoh tuh gak cuman istri gie.. bisa juga temen, bisa kerjaan, atau bisa jabatan… terus gak ada yang kebetulan dalam setiap perjumpaan… lu bakal ketemu siapa, terus lanjut ketemu siapa lagi, itu semua udah diatur sesuai sama tingkatan iman lu… sampai tiba ntar saatnya lu ketemu jodoh itu yang berupa temen atau lain sebagainya..”

minggu berikutnya, karena peserta makin sedikit, beberapa kelas untuk sesi kedua akan digabung jadi satu untuk jadwal seterusnya… and you know what, ternyata kelas gue di sesi kedua digabung sama kelas nih orang… hehehe.. terus karena seleksi alam udah berjalan (maksutnya udah keliatan mana yang berusaha untuk istiqomah dan mana yang nggak..), kepengurusan kelas pun dibentuk… akan ada pemilihan ketua kelas, wakil ketua, sekretaris dan bendahara… tujuh orang kandidat direkomendasikan oleh peserta kelas dipandu oleh dua orang mentor… dasar apes..!! gue udah nolak kayak gimana tetep aja direkomendasiin… akhirnya tujuh orang termasuk gue dan temen diskusi gue itu maju ke depan kelas untuk “ba bi bu” sedikit… di depan kelas, gue beralesan dengan jam kerja kejam gue sebagai deadliner plus nguli lagi, rasanya berat banget kalo megang amanat jadi ketua… akhir kata dari kampanye gue yah gue menghimbau agar peserta kelas menyoblos temen diskusi gue yang berdiri di sebelah gue… wakakakak….

Voting pun berlanjut, kertas kosong kecil dibagikan kepada seluruh peserta untuk dituliskan satu orang nama dari tujuh kandidat…

dan setelah proses penghitungan suara, hasil akhir pun keluar sebagai berikut :

temen diskusi gue jadi ketua… dan gue jadi wakil ketua… !!!!

TERNYATE KITE EMANG JODOH YEE !!!

Blackberry, Facebook dan Hancurnya Peradaban Membaca

Description:
lagi iseng jalan-jalan di MP orang, eh nemu tulisan ini… berhubung masih terkait dengan blog gue yang judulnya “gak punya facebook = gak gaul ??”… gue rasa nggak ada salahnya gua tarok di sini… terlepas dari penilaian dan opini masing-masing tentang fesbuk…

Ingredients:
copy paste sajah…

Directions:
Taken from strategimanajemen.net
Written by Yodhia Antariksa

Hari-hari ini masyarakat kelas menengah di tanah air – terutama di kota-kota besar – tengah menggandrungi dua digital medium yang amat populer : Blackberry dan Facebook. Dua medium ini tampaknya kian merasuk menjadi life style baru bagi para generasi digital kota metropolitan. Barangkali ia juga sekaligus menjadi simbol kemutakhiran masa kini.

Namun bagi para pecandu buku seperti saya, kehadiran gadget semacam Blackberry dan media semacam Facebook selalu merupakan sebuah distraction. Kehadiran medium digital semacam itu selalu “memaksa” kita untuk always on dan always connected, dan diam-diam itu artinya merampas waktu berharga kita untuk melakukan “permerenungan”, melakukan kontemplasi, melakukan proses membaca buku yang membutuhkan kedalaman dan keheningan.

Kehadiran gadget keren semacam Blackberry dan sejenisnya pada akhirnya mungkin tergelincir hanya menjadi sekedar simbol status. Ia menjadi penanda penting yang mencoba menjelaskan status sosial kita. Tak lebih tak kurang. Di negara yang peradaban pengetahuannya lebih maju, pendanda status sosial itu adalah buku. You ARE what you READ. Buku dan tradisi membaca yang kuat selalu menjadi elemen penting bagi hadirnya sebuah peradaban yang digdaya. Disini, kredibilitas orang dilihat dari seberapa luas pengetahuan mereka, sebapa banyak buku yang telah direngkuh, dan seberapa mendalam wawasan berpikir mereka.

Di tanah air yang terjadi adalah parodi : kredibilitas kita acap ditentukan oleh seberapa canggih gadget yang kita miliki, dan seberapa keren merek smartphone yang kita tenteng. Bagi saya ini adalah sebuah parodi yang penuh petaka. Sebab anak muda yang selalu menenteng Blackberry-nya kemana-mana sebagai simbol status, namun hampir tak pernah mau membaca buku, bagi saya sama primitifnya dengan orang udik di pedalaman nun jauh disana. Secara fisik mereka mungkin lebih keren (iya sih, pake Blackberry kan keren!), namun tanpa disertai dengan budaya membaca membaca yang kuat, level pengetahuan dan wawasan mereka mungkin sama dangkalnya dengan penjual kambing di pinggir jalananan…..

Facebook juga sama. Oke, mungkin disini kita bisa menjalin silaturahmi dengan teman-teman lama kita (atau mungkin juga dengan bekas pacar semasa kita sekolah SMA dulu). Tapi selebihnya, yang ada di Facebook adalah kedangkalan. Yang ada melulu celotehan-celotehan pendek nan dangkal dan bising. Disana kita jarang menemukan kedalaman yang bisa mendorong kita untuk melakukan proses berpikir secara kontemplatif (karena itu bagi Anda yang belum memiliki akun di FB, silakan untuk tidak mendaftarnya; kecuali jika Anda hanya ingin wasting your time).

Pada akhirnya, Facebook mungkin sama sekali tak berbeda dengan kerumunan di pasar Gunungkidul atau terminal bis Pulogadung : sebuah tempat dimana orang saling ngobrol ngalor ngidul tanpa jelas juntrungannya. Medianya saja kelihatannya keren (wah hari gini, di jaman digital begini, elo belum jadi member facebook, begitu kata seorang teman), namun esensi Facebook sebenarnya tak lebih beda dengan terminal bis Pulogadung : bising, penuh celoteh dangkal, dan disana kita kita tak menemukan keheningan yang mengajak kita berpikir secara mendalam.

Begitulah, kehadiran dua media digital ini – Blackberry dan Facebook – mungkin diam-diam telah merampas waktu berharga kita untuk membaca buku dengan penuh ketekunan. Tanpa terasa kita mungkin telah menjadi addicted dengan kedua medium itu. Kita rela menghabiskan berjam-jam waktu kita untuk ber-blackberry atau ber-facebook-ria. Kita mencurahkan begitu banyak waktu untuk mengulik gadget Blackberry kesayangan kita, atau juga berceloteh dengan friends kita di belantara Facebook. Dan diam-diam, kita kian lupa dengan buku-buku bermutu yang teronggok tak berdaya…..

Kebesaran sebuah bangsa selalu ditopang oleh peradaban membaca yang kuat dan tekun. Ikhtiar kita untuk membangun tradisi membaca yang kokoh seperti pecah berkeping-keping dihempas oleh kehadiran “blackberry and facebook culture” yang penuh kedangkalan. Kedua medium ini telah merenggut waktu dan gairah dari jutaan kaum muda di tanah air untuk tekun membaca deretan buku bermutu.

Dan dengan itu, Blackberry dan Facebook sejatinya telah melakukan apa yang saya sebut sebagai “digital colonization” : diam-diam mereka telah menjajah pikiran kita, dan secara perlahan mereka telah membunuh gairah masyarakat tanah air untuk membangun tradisi membaca yang tangguh dan penuh ketekunan.

actualized…

setelah beberapa pekan digantiin wakilnya.. akhirnya Dra. Niniek L. Karim M.Ps ngajar juga di kelas gw sabtu kemaren… gyehehehe… kapan lagi bisa diajarin sama artis senior… mata kuliahnya psikologi entertainment pula… cuman yah itu, gara-gara beliau sibuk syuting dan ngajar juga di UI jugak, jadinya sering juga dah nggak hadir dan digantiin wakil dari tim psikologinya… (seorang dosen gw di kelas pernah bilang “ini mah UI pindah ke interstudi”).. hahaha… secara emang 90% dosen gue juga ngajar di UI… selain dosennya yang owkeh untuk mata kuliah Entertainment psychology ini, bukunya juga bikin gue geleng2 kepala… harganya 2.3 juta !!! beliau bilang mungkin karena ini terhitung ilmu baru… tappiii…. untunglah ada versi potocopyan… yeeeyy !!!

dari cara ngajarnya, bisa keliatan nih orang emang PINTER.. !! nggak salah dah jadi dosen merangkap artis… secara ilmu psikologinya dalem jugak… karena kite di kelas gak ada yang berasal dari kesarjanaan psikologi, direview lah sekilas soal psikologi dasar.. termasuk teorinya si maslow… yang gue suka tuh saat membahas teori maslow yang letaknya di segitiga paling atas.. yaitu aktualisasi diri…

beliau bilang orang yang udah bisa sampe ke taraf itu alias “actualized” merupakan orang yang bener-bener beruntung… materi dan penghargaan bisa jadi nggak anggep… orang yang “actualized” telah menemukan panggilan diri sejatinya.. dia melakukan apa yang dia kerjakan dengan bahagia, karena cinta dengan apa yang dia kerjakan.. bukan karena alesan materi dan penghargaan.. dan hasil kerjanya memberikan pengaruh pada sekitarnya…

gua nanya ajah “apa aktualisasi diri itu ada benang merahnya sama bakat bu ??”… dan jawabannya adalah IYA… talent is a GIFT.. sebuah berlian di dalam diri yang bisa diasah untuk makin berkilau.. bahagialah orang yang sudah menemukan bakatnya… menemukan bakat memang butuh sebuah perenungan, usaha keras dan proses panjang… dan pada kenyataannya emang banyak orang sekarang ini nggak tau bakatnya apa… padahal setiap orang pasti punya bakat… dan beliau juga menghimbau jangan pernah sekali-kali mengatakan kalo “SAYA NGGAK PUNYA BAKAT..”

apalah arti sebuah nama…

“nama lu aneh banget seh gie… bole tau dunk sedikit sejarahnya..” Gitu bunyi email yang gue terima dari salah seorang mitra kerja gue yang udah lebih dari 3 taon kerja bareng…

ya sud.. akhirnya gue jelasin aje sedikit… mungkin juga sebagian temen di MP udah pada tau… tapi kesimpulan akhirnya kayaknya seh bener kalo nama itu bisa jadi sebuah do’a.. full name gue emang panjang kayak kereta.. Ogie Urvil Rizki Atthariq.. maklum dah.. yang ngasi nama keroyokan.. dari mulei ortu sampe mbah-mbah gue turut berpartisipasi…

“Ogie” itu ternyata sebuah inisial… dulu bokap kerja di minyak dan sempet tinggal di Aceh.. dan gue juga ternyata makhluk yang membohongi sejarah dengan menipu pencatatan akte kelahiran.. gue lahir di Aceh, tapi tercatat di akte lahir di Sumenep… nah.. setiap pengeboran yang dilakukan bokap di sono selalu menghasilkan 3 bahan = oil, gas dan air (dalam bahasa aceh, air = ie)… jadilah nama depan gue inisial dari 3 hasil pengeboran minyak… Oil, Gas dan IE….. dasar… iseng bener yak bokap gua… untung hasil dari ngebor minyak.. coba kalo hasil dari goyang ngebor inul… mungkin nama gue udah nggak karuan…

terus “Urvil”… nama yang menurut gue sering memberi gua masalah dalam pemanggilan.. di SMP / SMA ada yang mempelesetkan menjadi unyil, atau upil… sampe sekarang pun temen gue ada yang manggil gue upil… gyyaarrgghh… dasar iseng banget dah tuh temen gua satu.. tapi kalo dari artinya, ternyata itu diambil dari bahasa arab “urf” yang artinya baik atau kebaikan…

“Rizki” mah standar.. artinya rejeki.. “Atthariq” itu copy paste dari salah satu surat di Al-Qur’an yang artinya “yang keluar di waktu malam..” contohnya yah maling, garong, kuntilanak, genderuwo, pocong, sundel bolong.. paling bagus yah tukang nasi goreng sama hansip…

dua.. eer.. mungkin tiga nama belakang ini yang sampai saat ini berasa buat gua.. urvil rizki atthariq.. rejeki (yang Insya Allah) baek yang keluar di malam hari… sepertinya, ini yang menyebabkan gua jadi sering banget begadang ngerjain kerjaan…. nguber2 deadline yang lebih kejam daripada ibu tiri dan ibu kota…. seringnya emang rejeki gua malem teruuss… akhirnya jam biologis berubah… jadi kalong udah biasa.. kalo badan gua gedenya lumayan, mungkin gua udah mencalonkan diri untuk membantu batman…

mungkin ya ada benernya ituh kalo nama itu merupakan sebuah do’a….
yes ?? or no ??
maybe yes ?? or maybe no ??
yes markoyes ?? atau no markono ??
sip markosip ?? atau top surotop ??

ngaco’ dah…….

“nonton film merupakan sesuatu yang terhormat..”

gyehehe… gue sempet senyum geli ngedengernya.. tapi berhubung yang ngomong dosen gue yang jebolan S2 dan S3 nya di perancis sono, kuliahnya film pula… jadilah kalimat itu gue anggap serius… awalnya gue pikir, asli becanda neh dosen… kwartal kedua ini gue pikir kuliah gue bakalan lebih seru, karena udah masuk penjurusan konsentrasi, dan gue ambil entertainment.. mata kuliahnya pun udah lebih spesifik… teori film, psychology entertainment & entertainment studies..

menelaah psikologi seseorang saat kena entertainment ternyata asik juga.. perkuliahan jadi sebuah diskusi menarik… yang teori film lebih seru lagi.. kuliahnya NONTON PELM !!… serius..!! sabtu kemaren nonton bareng Silence of The Lamb dari awal sampe abis di kelas… dan abis itu dikupas abis gimana teori filmnya, sampe psychoanalysisnya gimana dalam film menurut teori Sigmund Freud… mulei dah mabok.. “menonton film tuh kayak membaca sebuah buku.. ada banyak sekali simbol disitu..” gitu kata dosen gue lageh…

beneran mabok… sampe ditanya, berapa kali kucing nongol di sepanjang film ?? terus kenapa ada kupu-kupu, kucing dan anjing di dalem tuh film ?? apa maknanya… bener-bener dah.. rasa-rasanya gue mempelajari sesuatu yang gak penting untuk dipikirin, atau sesuatu yang mungkin orang lain bakal bilang “pikirin amat seh begitu doang ??”… hehehe.. dari awal kuliah dapet teori dan perspektif komunikasi gue udah mikir begene seh… ternyata masi tetap berlanjut di kwartal dua ini..

yang sangat gue syukuri, Allah sudah ngasi kesempatan dan menuntun gue ke jalan yang menurut gue cocok buat gue… walaupun semua itu emang berasal dari keputusan yang gue buat secara sadar, tapi gue yakin ada andil Allah di situ.. Ada andil Allah disetiap keputusan yang kita buat… baik itu keputusan yang bener, ataupun keputusan yang salah selama masih dalam jalur al-qur’an dan sunnah… keputusan dulu S1 gue ngambil akunting bisa jadi sebuah keputusan gue yang dulunya salah menurut gue… tapi ternyata kalo gue nggak lewat jalan itu, mungkin gue gak akan ketemu kokabi dan menulis blog kuliah ini…

sepertinya nggak salah kalo gue terus nyoba berusaha menyerahkan sepenuhnya hidup ini pada Allah… punya tujuan, berdo’a, terus pasrah, lalu do the best apa yang sampai di depan gue… tanpa harus khawatir akan apa yang akan terjadi di masa depan nanti… Allah yang atur jalannya… bukankah minimal 17 kali dalam sehari kita meminta “tunjukilah kami jalan yang lurus..”… jadii… optimis saja… mau sepahit dan segetir apapun, atau mau sesukses dan semulia apapun nantinya… anggap aja itu udah jalannya… yang jelas, Allah maha Adil… jadi kalo mau sukses… ada yang bilang, miliki ciri-ciri orang sukses, maka kita akan sukses… buktikan pada Allah bahwa kita memang cocok bersanding dengan kata SUKSES !!!!

yeeeyyy…. sukses semuaanyaaaaa !!! jangan lupa rajin-rajinlah nonton pelm… biar ntar gue kagak jadi orang aneh sendirian…. gyahahaha…