me|write, spiritual
Comments 3

dimensi diri..

Rasa2nya kalo masih punya akal sehat (dan hati yang bersih), nggak akan bisa menerima yang namanya tindakan kekerasan.. Terlebih hanya karena berbeda pilihan, opini ataupun pandangan.. Apalagi kemarin itu korbannya umurnya jauh lebih tua.. Nasehat ‘Hormati orang yang lebih tua’ menjadi entah kemana.. Kalo bahasa anak sekarang: ‘Nggak ada akhlak..’

Ibrahim Amini (2002), dalam bukunya “Risalah Tasawuf” menyatakan: Akhlak harus ditempatkan sebagai pilar Islam.. Kita tidak boleh menempatkannya pada derajat kedua hukum agama, dan tidak boleh menganggapnya hanya sebagai hiasan orang2 yang beragama..

Beliau juga berpendapat bahwa manusia memiliki ‘peringkat dimensi wujud’.. Wujud paling rendah adalah ‘tanah’ (tidak dapat merasa dan memahami).. Ini saat manusia masih berwujud sel embrio.. Lalu naik wujudnya menjadi ‘tumbuhan’, saat menjadi janin yang terus bertumbuh (dan tidak bisa berpindah2 tempat sendiri)..

Kemudian setelah lahir menjadi seperti ‘hewan’, bisa berpindah2 tempat, bisa makan, tidur, punya nafsu amarah dan syahwat.. Pada tahap akhir, manusia baru menjadi ‘manusia’ saat ia menggunakan akal dan pikirannya..

Jadi menurut Amini, manusia mempunyai diri yang bermacam2: tanah (diri jasmani), diri tumbuhan, diri kebinatangan, dan diri kemanusiaan.. Dan nilai diri yang paling berharga adalah diri kemanusiaannya..

Ngeliat tindakan kekerasan model kemaren itu, gw jadi semakin yakin dengan pernyataan “Islam adalah agama akal.. Tidak ada agama bagi orang yang berakal..”.. Tanpa akal, apa artinya ritual2 ?? Hanya jadi gerakan visual kasat mata tanpa renungan makna dan dampak..

Buat apa melantunkan ayat2 suci, kalo hanya disamakan dengan menyanyikan lagu untuk senandung diri ??.. Dan kadang2 dipameri.. Setelah ‘dibunyikan’, tidak juga menjernihkan akal dan hati.. Ya gimana, wong akal dimatikan, anjuran Tafakkur dijadikan kabur..

Kata akal berasal dari bahasa arab: aqala, ya’qilu, aqlan.. Yang maknanya menghalangi dan tali.. Sebagaimana tali ‘pengikat’ yang menghalangi hewan untuk lari, ya begitulah fungsi akal untuk mengikat dimensi diri kebinatangan manusia..

Saat ikatannya lepas, lepas lah kebuasan-nya, wujudnya ya bisa jadi kayak tindakan pelaku kekerasan itu.. Dan kalo beragama kan yaa, harusnya ada kepikiran dosa juga.. Tapi kemaren itu kayak: “Ha ?? Dosa ??.. Appa’aan tuhh ??”..

Saat diri kebinatangan dominan, ya ibarat kucing, mana ngerti dosa ??.. Tapi sepertinya kucing masih lebih bagus.. Karena saat kucing melakukan hal yang sifatnya ‘kekerasan’, itu tanda dari ketiadaan akalnya.. Lagian seumur2, gw belum pernah liat ada sejumlah kucing kompakan ‘menganiaya’ satu kucing yang lain..

Manusia tanpa akal lebih mengerikan daripada kucing sebagaimana adanya..

Ibnu Sina pernah berkata: ”Aku paling takut pada sapi, sebab ia punya tanduk, namun tak punya akal..”

3 Comments

  1. Tulisan yang kece mba.

    Saya sangat setuju dengan tulisan mba. Meskipun saya gak suka pikiran² beliau, saya juga sangat membenci cara-cara brutal orang². Sebuah cara yang harusnya sdh kita tinggalkan sebagai warisan jaman kuno. Sejengkel²nya kita sm siapapun, jgn main hantam aja.

    Like

    • Iya, kekerasan dan kebrutalan itu warisan primitif.. Makasih mas broh.. Tapi saya mas mas loh, bukan mbak mbak.. Hehehe.. Nggak papa koq mas.. Sudah beberapa kali kejadian.. (^_^)/

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s