All posts tagged: otak

skeptis sedikit

Ternyata otak kita cenderung lebih mudah untuk langsung percaya “kata2” orang lain ketimbang mempertanyakannya dulu.. Gimana nggak, karena setelah lahir, ada masa2 (bertahun2 malah) dimana seseorang mau nggak mau mesti percaya katanya orang tanpa bisa cek and ricek.. Hehe.. Ya iya lah.. Mosok abis lahir langsung bisa baca buku sains ?? Ditambah lagi secara neurologis, ada kecenderungan juga dari otak untuk hanya menerima keyakinan yang sepaham, dan menolak keyakinan yang dipegang orang lain, bahkan bisa mengklaim kalo yang berbeda keyakinan adalah sesat.. Newberg & Waldman dalam bukunya “Born to Believe” (2013), menyebutkan, dari satu sisi, otak orang dewasa itu seperti anak2: gampang percaya dengan kata2 orang lain, terutama kalo hal tersebut menarik bagi fantasi dan hasrat terpendamnya.. Di Indonesia yang indeks minat bacanya rendah, yang kayak gini berasa banget.. Banyak sekali yang bersandar pada “katanya” atau opini si A, atau si B, ketimbang memilih cek fakta  dengan baca2 sendiri, atau mencoba menelaah terlebih dahulu bukti2 yang jelas.. Maka, berita dari website abal2 pun tidak jarang dipercaya begitu saja dan di share rame2.. Yang jadi masalah …

tulis terroosss…

Belum lama ini dapet ucapan anniversary ini dari wordpress.. Bener2 nggak berasa, udah 3 tahun ngeblog di WP.. Kalo ditotal sama blog di mulitply sih kurang lebih udah 10 tahun.. Hyaha.. Aneh juga rasanya, kok bisa2nya gw “terjerumus” ke dalam rimba nulis rutin kayak gini.. Secara gw itu doyannya ngomik dan ngegambar.. Entah sejak kapan keputusan untuk terus menulis ini gw ambil.. Dan makin ke sini, makin tau manfaat dari menulis untuk kesehatan mental dan otak, makin nggak kepengen untuk berhenti ngeblog.. Yang gw suka dari ngeblog itu, gw bisa nulis apapun tanpa merasa terbebani.. Nggak ada tulisan pesanan, nggak ada klien yang harus dipuaskan, dan bahkan tanpa harus memikirkan ada pembacanya ataupun nggak.. Jadi pada intinya, ngeblog atau nulis itu emang awalnya gw niatkan untuk mengambil manfaatnya untuk diri sendiri (karena manfaatnya ternyata banyak, mulai dari jadi lebih ekspresif, dan “merekam” apa yang sudah diri ini tahu), dan tentu saja numpahin uneg2 yang ada di pikiran (yang terkadang sulit untuk “nyambung” sama orang lain).. Ternyata cukup ngaruh, kalo gw niatkan nulis untuk orang lain, …

minimalisir bias pikir..

Lanjut dari postingan sebelumnya, bias pikir / kogintif seringkali terjadi, bahkan terkadang tanpa kita sadari (bias blind spot).. Kalo di Barat sana, ada event April Mop, di saat itu orang boleh berbohong atau bahasa halusnya “menguji keluguan orang lain”.. Hehe.. April Mop di tahun 1957, British Broadcasting Corporation (BBC) menayangkan laporan tentang spageti yang dipanen dari sebuah pohon.. Banyak orang yang terjebak kemudian menelpon BCC dan ingin tahu gimana caranya melakukan itu… Moral dari kisah ini sudah jelas: jangan mempercayai begitu saja atas apa yang dibaca atau didengar.. Isi dari media itu orang2 juga, entah itu “orang kita” atau orang luar.. Dan seperti postingan gw sebelumnya, ada kecenderungan biologis dari otak untuk bias / disimpangkan supaya percaya pada majalah yang kita beli, saluran televisi yang kita tonton, dan orang yang kita sukai.. Menurut Newberg & Waldman (2013) dalam “Born to Believe”, langkah pertama untuk jadi pemikir atau orang beriman yang lebih baik adalah menyadari, bahwa setiap persepsi dan pemikiran mengandung sejumlah bias.. Soalnya, setiap keyakinan yg kita pegang adalah hasil kompromi antara yang sesungguhnya terjadi …

hati hati bisa bisa bias..

Abis baca suatu bab dalam sebuah buku, gw jadi teringat lagi komen seorang blogger di sebuah postingan gw di multiply dulu: “hidup dalam perbedaan itu sulit bro..” Sekarang gw makin paham kalo hidup dalam perbedaan itu sebuah hal yang sangat lumrah dan sangat wajar, kalo nggak mau dibilang sebuah kepastian.. Sepertinya malah nggak mungkin seseorang bisa hidup dalam sebuah “society” tanpa menghadapi perbedaan.. Perbedaan di sini maksudnya perbedaan mental, emosional dan kogintif / pemikiran.. Kalo fisik sih, udah jelas memang pada berbeda.. Hasil2 studi atau riset kajian ilmiah pun ternyata sangat bergantung pada cara seseorang menafsirkan bukti2 yang ada.. Nah, bicara soal penafsiran, maka tidak bisa lepas dari persepsi, dan bicara soal persepsi berarti bicara gimana seseorang membangun “realitas”nya sendiri, atau keyakinan seseorang atas apa yang ada disekitarnya.. Sejak 50 tahun lalu para peneliti, ilmuwan, psikolog dan sosiolog penasaran dengan proses berpikir manusia dalam membentuk keyakinan seseorang.. Ternyata faktor lingkungan jadi faktor yang cukup menentukan.. Namun faktor tersebut juga bisa jadi bumerang.. Karena banyak bias2 yang bisa ditimbulkan dari lingkungan sekitar.. Jadi, menurut Newberg & …

money & creativity..

Ada beberapa orang yang gw tau, dia jadi demikian termotivasi untuk bekarya kalau “ada duitnya”, alias kalo karyanya udah jelas akan dibayar dengan sejumlah uang.. Kalo contoh kasusnya mahasiswa, ya si mahasiswa ini hanya akan sangat bersemangat kalo ngerjain hal2 yang sifatnya “projekan” alias ada duitnya.. Kalo project tugas2 dari dosen, ya gitu deh, karena nggak ada duitnya, jadi melempem abis.. Hehe.. Iya kalee si dosen ngebayar karya tugas mahasiswanya ?!?!.. Seakan2 kreativitas mereka meningkat kalo ada imbalan uangnya.. Euh, ini mungkin kalo versi mereka sih.. Makin ke sini makin banyak pengertian kreativitas, dan makin berkembang pula.. Dari yang dikaitkan dengan ekonomi, cara kerja otak, dan ada juga yang mengaitkan dengan pengenalan diri sendiri.. Apapun pengertiannya, kreativitas selalu terhubung dengan menciptakan sesuatu yang baru.. Namun kreativitas sendiri memang tidak baku, nggak seperti ilmu pasti, malah lebih perlu intuisi dan imajinasi.. Kreativitas bisa diartikan sebagai hasil pemikiran yang tergugah dari pertanyaan, keadaan,  kemungkinan, rasa penasaran, kepo, dan motivasi dari diri seseorang.. Karena itu munculnya kreativitas bisa dibilang nggak selalu karena “uang” di awal.. Bach, Van Gogh, …