All posts tagged: otak

Kemerdekaan Berfikir dalam Islam – Buya Hamka.

Beberapa paragraf dari Buku Buya Hamka “Lembaga Hidup” (1962 – cetakan keenam) rasa2nya harus gw abadikan di blog gw deh.. hehe.. Soalnya kelihatan cocok untuk kondisi sekarang.. Agak panjang memang, tapi akan ketahuan, seorang ulama tulen dengan level tinggi memang beda.. Buah pikirnya bisa melesat jauh ke masa depan.. Kutipan langsung ini ada di bab “Qur’an Untuk Zaman Modern”, sub bab Kemerdekaan Berfikir: “Bila cahaya Islam memancar, yang lebih dahulu kena sorotnya ialah AKAL.. Sorot dari alam ghaib yaitu wahyu Tuhan, agama yang dibawa oleh Nabi, dan sorot yang tersedia pada diri manusia, ialah akal.. Maka BERGABUNGLAH kedua cahaya itu jadi satu, datang dan hinggap cahaya petunjuk Ilahi itu ke atas akal, sehingga berdempetlah cahaya ke atas cahaya, yang oleh Al Qur’an dikatakan “Cahaya di atas cahaya” (QS. 24:35)..” “Adapula yang menyuruh orang putus asa memikirkan hikmat agama.. Disuruhnya orang MEMBERHENTIKAN perjalanan akal.. Lebih daripada itu, mereka hendak MENGUASAI pula perjalanan pembagian dosa dan pahala.. Mereka DAKWAKAN bahwa MEREKALAH wakil Allah di dunia.. I’tikad kepercayaan terhadap Tuhan dan segala yang didapat panca indera ini, tidak …

otakku pemalas..

Pernah ngalamin kayak begini ??.. Lagi asyik2 kerja atau “on-fire”, tauk2 keganggu notif dari messenger, fesbuk, atau email promo situs belanja online.. Lantas jadi “terjebak”, konsentrasi jadi berubah, dan akhirnya justru malah jadi asyik menindak lanjuti notif2 tersebut.. Daann, tauk2 udah jam pulang kantor.. hehe.. Kalo dari sebuah referensi, dikatakan bahwa manusia adalah makhluk reaktif.. Dia akan mudah bereaksi terhadap apapun yang mengusiknya.. Serajin atau semales apapun seseorang, sebenarnya organ yang ada di kepalanya, alias otaknya, tetaplah males.. Yes, otak memang diciptakan kayak begitu supaya bisa menghemat energinya seefisien mungkin.. Otak manusia memang canggih, punya kemampuan super hebat, meski dengan energi kurang dari 13 watt..!! Nah, yang jadi masalah, sebuah studi juga menyimpulkan kalo otak manusia itu lebih suka bereaksi terhadap hal2 yang mudah.. Pakar kreativitas Mihaly Csikszentmihalyi menyatakan kalo kita sejatinya lebih kuat bereaksi / tertarik kuat banget pada hal2 yang gampang, nyaman, dan udah jadi kebiasaan.. Dan untuk bisa melawan / melampaui kondisi tersebut bukanlah hal yang mudah.. Kenapa kok cuma “bereaksi” bisa jadi masalah ??.. Karena kalo dipikirin lebih dalam, tindakan dengan …

kurcaci imajinasi..

Buku “Whole Brain Power” dari Makoto Shichida masih tetap bikin gw penasaran soal kedahsyatan otak manusia.. Beliau menekankan pada kekuatan otak dan pentingnya kekuatan cinta yang ditanamkan sejak usia dini.. Kekuatan cinta ini bisa saling menggetarkan.. Beliau menuliskan: “Pada kesadaran terdalam, jiwa2 manusia semuanya saling terhubung..”.. Diceritakannya, pernah ada kejadian seorang anak perempuan usia 3 tahun tanpa sengaja memotong jari manisnya sendiri.. Entah sibuk atau lupa, si ibu hanya memplester luka potong tersebut selama 3 hari, hingga sel2nya menjadi mati & jarinya menghitam.. Akhirnya si ibu membawa si anak ke rumah sakit.. Lima rumah sakit sudah ia datangi, vonisnya tetep sama, bahwa jari si anak harus diamputasi.. Namun si ibu teringat metode Shichida dengan penyembuhan imajinasi otak kanan, lantas tertarik untuk mencobanya.. Ia membawanya ke Shichida Children Academy, dan langsung diberi tindakan.. Penanganannya cukup unik, anak2 yang tergabung di akademi diminta berimajinasi / membayangkan diri mereka menjadi kurcaci, masuk ke dalam jari si gadis kecil, kemudian “membereskan” sel2 matinya, darah kembali mengalir, dan kembali ke sedia kala.. Hasilnya mulai tampak, dan pihak rumah sakit memutuskan …

mikir jadi ada..

Suka aneh sama mereka yang share tanpa berpikir.. Yang mereka lakukan itu hanya menambah “keberadaan” si penulis hoax.. Yah, kalo secara tersirat, si tukang “share” fitnah atau hoax ini bisa dibilang “nggak ada”.. Toh kalo pun ada, nggak jarang kan langsung kita “unfriend”, terus jadi nggak ada deh.. Hehe.. Teringat kalimat “Corgito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada, begitu kata Descartes, filsuf ternama dari Perancis.. Descartes, sebagaimana filsuf lainnya, ingin mencari kebenaran.. Menurutnya, meragukan semua hal (termasuk meragukan diri sendiri) bisa menjadi cara untuk menemukan kebenaran, dan bisa membersihkan dirinya dari prasangka2 yang menuntunnya ke jalan yang salah.. Descartes juga beranggapan, bisa saja berpikir tidak membawanya menuju kebenaran, tapi malah ke kesalahan.. Mungkin saja ada kekuatan besar lain di luar dirinya yang mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.. Tapi meskipun begitu, ia TETAPLAH BERPIKIR, inilah satu2nya yang sudah jelas.. Maka kalau dilepas dari aspek kesalahan atau kebenaran, BERPIKIR sendiri adalah sebuah bentuk keberadaan diri, lantas singkatnya, sampailah ia pada kesimpulan “Corgito ergo sum”.. Jadi nyambung sama paragraf awal postingan.. Kalo para tukang share nggak …

diri jadi patokan ??

Namanya darah muda, selalu enak untuk nyerempet “melanggar” peraturan dikit2.. Dulu pas gw kuliah juga gw inget banget, suka “nyaris2” telat masuk ke kelas.. Mentang2 batas waktu boleh masuk kelas 30 menit setelah mata kuliah dimulai, jadi masuk kelas pun terkadang suka ditelat2in, yang penting nggak sampe 30 menit.. Tapi itu kelakuan gw pas kuliah yang pertama, yang “salah” jalur, di jurusan akuntansi.. hehe.. Sekarang setelah nyambi jadi dosen, gw ngerasain sendiri di posisi dosen.. Gimana itu rasanya kelas dimasuki mahasiswa2 yang telat.. Yah memang berasa lumayan terganggu, terlebih kalo telatnya parah, bahkan udah “injury time”.. Hahaha.. Menegur seseorang itu nggak selalu “berhasil” kalo pake omongan.. Apalagi kalo omongan itu belum  dilakukan sendiri.. Untuk urusan telat2an, kalo gwnya sendiri on-time, bakal lebih mudah buat gw untuk “nyindir”, atau ngasi tau mereka.. So untuk urusan ini, diri sendiri bisa dijadikan tolak ukurnya.. Bila sudah bisa bikin diri ini “beres”, enak dah tuh nyentil yang lain.. Tapi ternyata berbeda dengan urusan keimanan atau keyakinan..  Buat gw pribadi, diri sendiri nggak bisa dijadikan tolak ukur atau patokan untuk …