All posts tagged: knowledge

ketawain..

Anak laki gw usianya 3 tahun, kadang dia suka iseng maenin piano gw.. Nadanya asal, temponya asal, bahkan sampe dia nyanyi2 pun syairnya asal.. Jujur aja, permainan dia sama sekali nggak bisa dibilang indah, tapi kadang2 lucu juga, dan yang pasti seringan sumbangnya dan nggak enak didengar.. (@_@!) Kadang sampe gw teriak: “Boruto !! Hentikaaaan !! Ayah tidak kuat lagi mendengarnyaa !!”.. (Yaah, ini lebay gara2 kebanyakan baca komik sih..) Hehe.. Penyebabnya sederhana saja, ya karena knowledge dan skill si anak masih sangat kurang.. Pengetahuan dia akan piano hanya sesuatu yang bisa “bunyi”, lantas di bunyikan saja tanpa berpikir, tanpa “alasan” atau ilmu yang cukup.. Pas nadanya lucu, seringkali gw ketawain.. Saat kayak gitu, kadang gw jadi teringat lagi sebuah pernyataan seorang ulama besar Nusantara.. Beliau menyatakan kalo agama juga bisa jadi bahan tertawaan.. Belum lama ini, banyak bermunculan kan kasus2 ustadz yang bikin banyak orang “tertawa”.. ?? Katanya ustad (jago agama), tapi pernyataan2nya malah lucu2, akibatnya ya jadi bahan tertawaan deh.. Sepertinya jadi makin banyak dari kita yang mentertawakan agama karena orang2 seperti ini.. …

teganya 13x..

Di setiap tahun ajaran, selalu ada kelas yang bisa bikin gw bersemangat berangkat ngajar ke kampus.. Sesuai sama hukum “energi vibrasi”, dominasi getaran pelajar2 yang bersemangat, akan “menggetarkan” isi hati dosennya hingga jadi ikut bersemangat.. Entah lah kalo getar2 cinta.. Hyahaa.. Foto di postingan ini termasuk salah satu kelas yang kena “sial” (^0^!), karena harus bertemu gw selama 4 semester berturut2.. Kelas “apes” yang diajar gw selama itu memang jarang.. Kenapa apes ??.. Karena memang gw tega suka ngasi banyak tugas.. Dan gw tergolong kejam soal attitude mahasiswa.. Sering telat masuk kelas, deadline lewat, absensi bolong2, harap memperkuat mental aja di akhir semester.. Hyehehe.. Tapi sejauh ini gw nggak pernah marahin mahasiswa.. Buat gw, galak itu nggak perlu, yang perlu itu tegas.. TegaS itu kepanjangannya = “Tega Sekarang”.. Yes, mending gw tega2in aja sekarang daripada ntar mereka “klemar-klemer” pas masuk ke industri kreatif yang sesungguhnya.. 10 tahun lebih bergelut di industri kreatif, gw cukup paham kalo industri ini bukan untuk “lelaki kardus”, euh, tapi ada ceweknya juga ya, haha.. Ya udah deh; industri ini bukan …

pengetahuan supir..

Dulu pas kuliah, gw ngerasa lebih suka diajar sama dosen yang juga sekaligus praktisi.. Entah kenapa, cara mereka membawakan materi berasa ringkas dan tepat sasaran.. Jelas2 terlihat bukan seperti hafalan belaka, tapi pemahaman dari pengalaman berkala.. Orang yang bicaranya sederhana, tepat sararan, langsung menjawab inti pertanyaaan, umumnya adalah orang yang benar2 paham.. Sepertinya mereka2 ini udah melihat dan mengalami sendiri adanya “gap” antara teori dan kondis lapangan, atau bahkan menjalani sendiri “pertarungan” sebenarnya, dan bukan pertandingan “seremonial”.. Seseorang bisa menjadi tahu, atau bahkan “hafal” teori apapun, namun yang jauh lebih hebat adalah mereka yang bisa menemukan teori untuk diketahui dan dihafal.. Karena yang menciptakan-lah yang sejatinya bisa paham secara mendalam.. Pernah dengar istilah Chauffer Knowledge ??.. Atau terjemahan bebasnya: “pengetahuan supir” ??.. Dan versus-nya; Planck Knowledge ??.. Dua istilah ini muncul dari kisah Max Planck (ahli fisika Jerman penggagas teori fisika quantum), yang setelah berhasil mendapatkan Nobel Fisika, ia sering “keliling” untuk menjadi narasumber soal teorinya itu.. Ia “touring” ke banyak tempat di Jerman bersama supir pribadinya.. Si supir sering nonton “ceramah”nya si Planck, sampe2 …

Donut Knowledge..

Pada suatu hari, di sebuah bandara, Bruce melihat seorang gadis kecil membawa botol susu, tapi dengan bentuk donat.. Jadi tengahnya botol itu “bolong”.. Si gadis kecil terlihat senang bisa memegang botol susunya sendiri.. Bruce tertegun, dan berpikir, yang menciptakan produk botol susu dengan bentuk donat ini pasti hebat sekali.. Kalo botol susu standar, anak batita akan sulit untuk memegangnya, karena pada umumnya bentuknya memang “gendut”.. Menghilangkan bagian “tengahnya”, menjadi persis seperti donat,  adalah solusi yang hebat.. Bruce Nussbaum adalah seorang “Professor of innovation and design” di Parsons School of design.. Ia menulis sebuah buku “Creative Intelligence” (2013).. Menurutnya, desainer botol susu tersebut paham betul hal yang mendasar dari ilmu pengetahuan: “Terkadang apa yang nggak ada, bisa lebih penting ketimbang hal tersebut ada..” Hal tersebut merupakan sebuah kebijakan, dan dalam bukunya ia mengistilahkannya sebagai “Donut Knowledge”.. Sebuah kemampuan untuk memaknai apa yang nggak ada atau nggak kelihatan.. Untuk sebagian orang, ketiadaan bagian tengah donat pun jadi bisa punya makna.. Euh.. Kayaknya tiap diri manusia juga punya bagian yang nggak terlihat, namun sangat esensial.. Yaitu “hati” yang …