All posts tagged: akal

awasiotak..

“Dan pada dirimu sendiri, apakah kamu tidak memperhatikan ?” (QS.51:21).. Buat gw, salah satu yang menarik perhatian pada diri ini adalah otak.. Karena cara bekerjanya, masih sangat penuh misteri.. Ada sebuah kisah nyata.. Pernah ada pria yang bekerja di perusahaan pengemasan daging.. Jadi orang ini pekerjaannya memasukkan daging yang sudah dikemas ke dalam gerbong2 kereta api.. Setelah penuh, maka pintu gerbong akan ditutup rapat supaya dagingnya awet, dan kemudian langsung berjalan dikirim ke kota lain.. Suatu hari, ia menjalankan pekerjaannya seperti biasa.. Namun apes, entah gimana, saat mengisi gerbong terakhir, pintu gerbongnya tiba2 tertutup.. Ia menggedor2 pintu minta tolong, tapi nggak ada yang mendengar.. Lantas kereta pun berjalan.. Ia sudah berpengalaman 20tahun di situ.. Jadi dia tahu persis jumlah oksigen yang tersedia di dalam gerbong itu, dan berapa lama waktu yang tersisa untuknya sebelum kemudian akan mati kehabisan oksigen.. Dia juga tahu persis gejala2 yang akan terjadi pada tubuhnya saat kekurangan oksigen.. Dengan bermodal senter gantungan kunci yang kecil, dan buku jurnal di saku celananya, ia menulis pesan untuk keluarganya.. Keesokan harinya, kereta sampai di …

sumur mata air..

Kemaren di fesbuk, ada yang mengibaratkan Qur’an itu seperti open source.. Setelah dikritik via komen, eh ternyata dia salah pengertian, sebenarnya maksud dia itu bukan open source, tapi open access, bisa diakses oleh siapa saja.. Gyaha.. Terlepas maksud si orang sebenernya apa, namun mengibaratkan Qur’an sebagai open source, gw nggak setuju.. Gw bukan orang IT sih, tapi berhubung pernah terlibat project game aplikasi, ya dikit2 doang tau lah.. Setau gw istilah open source itu, seseorang bisa memodifikasi, mengutak-atik, mengubah bagian tertentu, dan bahkan bisa merevisi kode dari sumber.. Kan berabe kalo si “source” atau Qur’an bisa dimodifikasi atau diutak-atik.. Gw lebih suka sama ulama yang mengibaratkan Qur’an itu bagai sebuah sumur berisi sumber mata air yang terus mengalir tanpa henti.. Siapapun bisa mengambil airnya.. Namun, untuk mengambilnya diperlukan upaya, nggak tinggal ngambil gitu aja.. Seseorang perlu menimba dengan hati2 untuk menaikkan airnya dari dalam sumur sampai ke atas.. Maknanya, untuk mendapatkan “sesuatu” dari firman Tuhan memang perlu usaha.. Hidayah yang didapat dari Qur’an bukan datang begitu saja, tetapi mesti diupayakan.. Bukankah disebutkan kalo yang bisa …

teroris radikal..

Sempat ada pejabat yang bilang, kalo radikal itu penyebabnya adalah kesenjangan sosial.. Gw sih nggak setuju.. Tuhan ngasi rejeki dengan Adil, siapa berupaya banyak, dia yang dapat banyak.. Seseorang nggak akan mendapatkan selain apa2 yang telah dia usahakan [QS.53:39].. “Menuduh” kesenjangan sosial sebagai penyebab radikal, ibarat orang yang gagal memanajemeni rasa iri di dalam dirinya, lantas seenaknya menyalahkan sesuatu di luar dirinya.. Wong dirinya sendiri yang memang kurang, kenapa jadi berang ke banyak orang ??.. Banyak kok di sekitar gw orang2 yang hidupnya kurang beruntung, namun jauh dari ke-radikal-an, yang notabene bisa menjadi bibit dari terorisme.. Apa para teroris itu punya kelainan mental ?? Paul Gill, PhD, dan Emily Corner, dalam “There and Back Again: The Study of Mental Disorder and Terrorist Involvement,” selama 10 tahun lebih meneliti hubungan antara kelainan mental dan keterlibatan teroris.. Kesimpulannnya, secara mental mereka “baik2 saja”, nggak ada yang aneh, dan cenderung sama dengan orang2 normal.. Jadi, nggak ada satu kelainan mental tertentu yang dianggap bisa menjadi cikal bakal seseorang menjadi teroris.. Untuk radikalisme, gw lebih suka “menyalahkan” gagalnya akal …

akalnya penipu..

Ada buku judulnya: “The Honest Truth About Dishonesty: How We Lie to Everyone–Especially Ourselves..”.. Ditulis oleh Dr. Dan Ariely (2013), dan jadi New York Times Bestseller.. Dr. Ariely melalui studinya menyatakan bahwa menipu adalah hal yang tidak rasional, dan tidak ada hubungannya dengan berpikir untung rugi, berpikir kemungkinan ketangkep, serta berpikir tentang besarnya hukuman.. Menurutnya; berbohong bukanlah pertarungan internal antara pro dan kontra.. Namun itu adalah perjuangan internal tentang bagaimana kita melihat diri kita sendiri.. Gw suka dengan pernyataan Dr. Ariely ini.. Menipu orang lain itu bisa bersifat nggak logis, mungkin gara2 hawa nafsunya naek ke otak, kemudian menelan kewarasan atau logika orang itu bulat2.. Contohnya yang lagi rame: Gembong umroh travel penipu yang nominalnya sampe triliunan itu.. Mosok mikir gini aja susah sih: “Nyolong atau nipu itu nggak baik dan bikin dosa..”.. Padahal kan dari SD udah diajarin.. Naek dikit deh mikirnya: “Ini duit konsumen yang mau gw berangkatin umroh, ada ribuan orang, kalo mereka pada nggak berangkat, cepet atau lambat gw pasti ketahuan pake duit mereka untuk kepentingan2 lain..”.. MOSOK MIKIR SESEDERHANA gitu …

cerdas beragama..

Dari dulu gw suka bingung soal spiritual intelligence.. Bener2 bisa diukur kah ??.. Sejauh ini, definisi2 yang gw baca selalu masih “lebar”, kurang spesifik, dan hampir selalu dari sudut pandang agama yang gw anut.. Apa ada korelasinya, kecerdasan yang sifatnya “general” atau umum, dengan agama yang kita anut ?? Apakah iya, mereka yang ikut rohis, ikut partai agama, berjenggot, bersorban, para ustad atau guru2 agama, bisa dipastikan memiliki spiritual intelligence yang tinggi ??.. Sepertinya sih nggak juga ya, karena pemahaman tentang keilmuan keagamaan berbeda dengan spiritual intelligence.. Belakangan ini baca2 hal itu lagi, akhirnya nemu definisi spiritual intelligence yang buat gw cukup “ringan” dan bisa sangat aplikatif.. Menurut Emmons (2000), dalam “Is Spirituality an Intelligence? Motivation, Cognition, and The Psychology of Ultimate Concern”, spiritual intelligence adalah penggunaan informasi2 spiritual untuk memfasilitasi masalah sehari2 dan pencapaian tujuan.. Sungguh pengertian yang nggak berkesan “ngambang” dan berbeda dari apa yang sejauh ini gw baca.. Yang umumnya selalu mengarah kepada keimanan, pencarian, dan pengenalan Tuhan.. Menurut Emmons juga, mereka yang ber-kecerdasaan spiritual, mempunyai kemampuan untuk melampaui hal2 yang bersifat fisik …