All posts filed under: think sotoy

penyidik hati..

Ada seseorang terpilih menjadi pejabat, dia berniat bahwa bekerjanya adalah untuk ibadah.. Lantas pas masa kerjanya, ketauan melakukan tipu2 “uang setan”.. Dia terbukti melakukan hal yang merugikan negara.. Kemanakah perginya niat bekerja sebagai ibadah itu ??.. Siapa yang bisa tau niat seseorang ??.. Niat bisa dengan mudah ditutupi dengan sikap & pakaian yang santun, senyum mengembang, ataupun kata2 semanis madu.. Dari perspektif tasawuf, mengkonversi sebuah niat apapun menjadi sebuah ibadah merupakan hal yang sulit.. Pernah seorang sufi ngomong gini pada murid2nya: “Jika kau melakukan ibadah dengan motivasi agar dilihat manusia, itu namanya Syirik.. Sebaliknya, jika kau meninggalkan sebuah ibadah juga karena manusia, maka itulah yang disebut Riya..” Bingung kan dengernya ??.. Para murid sufi tersebut pun kebingunan dengan pernyataan gurunya.. Lantas Sufi itu lanjut menjelaskan: “Kalau Jum’atan pergi ke Mesjidnya di awal waktu, supaya bisa berada di saf depan dengan motivasi agar nampak alim dan mendapat pahala sebesar onta, itu namanya syirik.. Sebaliknya, kalau sengaja mengakhirkan datang ke Masjid untuk salat Jumat agar berada di saf belakang dan supaya tidak tampak alim di mata manusia …

disiplinin-diri

Kemaren2 sempet ngomong gini di depan kelas semester 5: “Karya tugas2 lu gw akui banyak yang bagus, tapi kalo soal disipllin diri, angkatan lu termasuk yang payah..” Gimana nggak payah, masuk jam 8, jam 8.30 kelas belum juga penuh.. Apalagi pas ada deadline tugas, makin ngaret dah.. Bahkan ada sejumlah mahasiswa yang “lari dari kenyataan”, alias nggak masuk kelas gara2 tugasnya belum-kelar.. Gwakakak.. Mungkin karena sebagian dari mereka “sadar” kalo mereka emang beneran parah, ada mahasiswa di kelas bilang gini: “Mas, kasi materi tentang disiplin dong mas..”.. Gw memang suka nyelipin materi2 attitude selain materi tentang mata kuliah desain yang diajar.. Karena gw pikir, kalo beneran kepengen jadi desainer grafis yang oke, mereka harus punya attitude yang baik sebagai “perangkat” pendukungnya.. Karena seringkali desainer grafis di dalam pekerjaannya itu menjual karya desain “satu set” dengan attitude desainernya.. Kalo untuk disiplin diri, Menurut G.R Terry (1993), dalam “Prinsip2 Manajemen”, disiplin merupakan suatu kemampuan yang muncul karena adanya kesadaran individu itu sendiri, ataupun karena adanya perintah atau tuntutan dari luar.. Wilhelm Hoffman di tahun 2013 pernah melakukan …

mantiq asyik..

Pernah dengar istilah ilmu mantiq..?? Setelah baca2 lagi, ternyata ilmu ini prinsip dasarnya diletakkan Aristoteles.. Beberapa abad kemudian dikembangkan lagi oleh filsuf muslim seperti Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Kindi, Al-Ghazali, Ibnu Rushd, dan ulama2 lain.. Sederhananya, ilmu mantiq merupakan “alat pengatur” nalar yang kalau dipatuhi akan mampu menjaga kita dari kesalahan berpikir.. Ilmu ini juga mendorong kita untuk berpikir secara sistematis dan mendalam.. Salah satu fungsi dari ilmu mantiq adalah “membawa” kita dari apa2 yang sudah kita ketahui menuju pengetahuan yang belum kita ketahui.. Konsep menjadikan apa2 yang sudah kita ketahui sebagai “modal” awal untuk meng-analisa informasi ini mantep juga loh.. Karena kebanyakan dari kita sepertinya memang malas berpikir.. Malas membandingkan berita2, dan bahkan juga malas meng-crosscek kembali informasi baru dengan apa2 yang sudah kita ketahui.. Contoh: dulu sempet rame status Dilan dibandingkan dengan Al-Fatih.. Coba cek yang kita ketahui tentang keduanya.. Jelas2 si Dilan adalah tokoh fiktif, sedangkan Al-Fatih “orang beneran” yang sudah tercatat sejarah sebagai penakluk Konstatinopel.. Ini Ibarat membandingkan imajinasi dengan kenyataan, seperti membandingkan tempe dengan makanan alien.. Hehe.. Perbandingan yang kocak lah, …

tsundoku..

Sabtu kemaren ke Indonesia International Book Fair di JCC.. Ada tempat namanya Zona Kalap.. Gimana nggak bikin kalap, disitu buku2nya di-diskon bisa sampe 90%..!! Ngeliat ramenya tuh zona, plus antrean kasir yang dipenuhi manusia2 yang menenteng keranjang2 penuh buku, darah gue pun mendidih.. Pengen ikutan berjibaku dan “berdarah2” di sana.. Gyahaha.. Udah lama gw beranggapan, kalo beli buku itu merupakan sebuah investasi.. Jadi, entah itu dompet lagi lapang, ataupun lagi sempit, selalu ada “ruang” di dompet untuk beli buku.. Budget cicilan, belanja bulanan, bayar SPP dan listrik, selalu minggir dan memberi jalan bagi duit yang akan lewat untuk beli2 buku.. Hehe.. Namun, membeli buku dan bersedia menyempatkan waktu untuk membacanya adalah dua persoalan yang berbeda.. Gw termasuk orang yang punya masalah, atau “gap” antara jumlah buku yang dibeli, dengan jumlah waktu membacanya.. Pendek kata, gw ngerasa, “antrian” buku yang mesti gw baca jadi terus bertambah panjang.. Untuk hal ini, di dalam bahasa jepang ada isitlah “Tsundoku”.. Menurut Prof. Andrew Gerstle dari University of London, kata “doku” bisa digunakan sebagai kata kerja yang artinya “membaca”.. Dan …

lampu musik..

Kemaren sempat rame seorang walikota mengusulkan mengatasi kemacetan dengan memasang musik di lampu merah.. Diharapkan pengendara bermotor akan terhibur dan stressnya berkurang.. Hmm.. Ini gimanaaa ya ??.. Tapi sebelum berkomen ria lebih jauh, coba kita liat dulu faktanya.. Apakah benar musik bisa menurunkan stress ??.. Kalo terhibur kan sudah cukup jelas.. Nggak ada konser dangdut hingga K-pop yang sepi pengunjung meski tiketnya bisa setara dengan harga martabak untuk makan pagi siang malem, sampe sebulan.. Oke, cukup martabaknya.. Ternyata musik memang bisa loh menurunkan stress.. Levitin dan Mona Lisa, PhD, telah melakukan sejumlah studi tentang ini, dan dimuat dalam “Trends in Cognitive Sciences”, di bulan April, 2013.. Mereka menemukan, selain mengurangi stress, mendengarkan musik juga bisa lebih efektif daripada obat2an yg diberikan dokter untuk mengurangi kecemasan pasien sebelum di-operasi.. Levitin (2007) dalam bukunya: “This is Your Brain on Music” menuliskan: Musik dapat menurunkan tingkat pengeluaran hormon kortisol yang menjadi penyebab stress, bahkan bisa meningkatkan efektivitas sistem kekebalan tubuh.. Masih menurut Levitin, musik dengan tempo lambat cenderung menenangkan.. Dan musik dengan tempo cepat, atau yang “kacau” dan …