All posts filed under: me|write

tulisan guwa sendiri

pake hikmah..

Semingguan lalu diberi amanat menguji sidang Karya Tugas Akhir sejumlah mahasiswa.. Alhamdulillahnya, sidangnya nggak online.. Sidangnya di dalam ruangan yang sudah disediakan kampus.. Namun tentu saja dengan protokol kesehatan yang ketat.. Tema2 yang diambil untuk tugas akhir oleh para mahasiswa biasanya memang beragam, dari yang “remeh” sampe yang bisa dibilang “kakap”.. Yang bikin gw seneng, ternyata di masa sidang tahun ini, ada banyak yang mengambil tema2 kearifan lokal.. Ada yang tarian, ada yang tentang aksara lokal, ada yang ketahanan pangan, sampe ada yang bikin komik tentang toleransi penduduk lokal dengan etnis Tionghoa.. Bagaimanapun, buat gw pribadi, kalo ada mahasiswa yang berani mengambil tema kearifan lokal, itu adalah sebuah nilai plus.. Terlepas nanti gimana si mahasiswa cakap atau tidak saat menyajikan karyanya, niat buat ngasi “plus”udah kebayang di kepala gw.. Karena budaya Nusantara bener2 luas dan beragam, dan gw cuman bisa mengeksplor “seupil” doang melalui Su’od dengan ke-Madura-annya.. Jadi masih ada banyak sekali “kepo” di dalam diri ini mengenai kearifan lokal.. Dan menguji ataupun membimbing tugas akhir mahasiswa, merupakan kesempatan buat gw untuk nambah wawasan mengenai …

se-budaya..

Pas SMA dulu, di pinggir luar pagar sekolah ada tempat jajan.. Di situ ada Sate Madura gerobakan.. Tukangnya / yang jual orang Madura.. Bubaran sekolah, biasanya siswa2 pada beli tuh sate, termasuk gw dan temen2.. Pernah suatu ketika, ada temen lagi antri beli berdua.. Terus gw “nyelonong” deketin abangnya.. Gw ngomong ke dia pake bahasa Madura (yang notabene sebelum2nya gw nggak pernah melakukan itu..).. Yah terjemahan omongan gw sih intinya standard aja: “Bang, beli satenya seporsi, kagak pake lama ya..” Si abang menatap gw sekilas, terus terlihat mukanya jadi agak kaget bercampur bahagia.. Mungkin karena akhirnya dia menemukan anaknya yang selama ini hilang..(^0^)/.. Dan tanpa gw duga, si abang langsung beneran “bikinin” pesenan gw duluan.. Dia men-“skip” dua temen gw yang lagi antre.. Gwakakak.. Untungnya, keduanya temen gw sekelas.. Mereka pada kesel tapi ketawa juga.. Kalimat yang gw inget keluar dari mereka: “Hwwaa.. Dasar.. Mentang2 sama2 orang Madura jadi diduluin..”.. Gw dan si abang pun ikutan ketawa.. Di depan komplek gw juga ada tukang nasi goreng gerobakan, yang jual orang Madura.. Kalo si abang ini …

kata “ilmu”..

Dalam bahasa Arab, kata “ilmu” itu terdiri dari huruf ‘Ain, Lam, dan Mim.. Dan gw baru tau, ternyata dalam bahasa Arab, semua kata yang mengandung ketiga huruf tersebut, selalu merujuk kepada sesuatu yang sudah jelas atau sebuah kejelasan.. Begitu menurut Prof. Quraish Shihab.. Contoh kata yang mengandung ketiga huruf tersebut dalam bahasa Arab; kata bendera, gunung, dan bibir sumbing.. “Objek”nya bisa dilihat dengan jelas.. Kalo bahasa serapan sini, contohnya kata “Alamat”.. Alamat sejatinya harus jelas, biar semua orang selayaknya bisa tau.. Jadi menurut beliau, ilmu adalah tersingkapnya sesuatu dengan jelas sesuai hakikatnya.. Di KBBI, arti hakikat sendiri adalah (1.) Intisari, dan (2.) Kenyataan yang sebenarnya.. Dalam ilmu agama, contohnya gini: mengambil hak orang lain itu dilarang, dasar2nya jelas ada di Qur’an.. Kalo di science, ya ada risetnya, pembuktiannya jelas, dan bisa “terkait” dengan teori2 yang sudah ada sebelumnya.. Tapi gimana dengan opini ??.. Bisakah jadi ilmu ??.. Bisa aja.. Pengertian “ilmu” di atas kan hanya dari segi bahasa.. Namun biasanya, opini yang bagus adalah opini yang ada dasarnya.. Ada rujukan bukunya, ada dasar data atau …

agama passion

Passion, kata yang seringkali kita dengar dengan segala ke-absurd-annya.. Hehe.. Menurut Vallerard (2015), dalam “The Psychology of Passion”: The object that we are passionate about becomes part of us, our identity, and in so doing it will modify who we are and how we organize our life.. Beberapa filsuf jadul (seperti Plato dan Spinoza) juga bilang, kalo passion bisa jadi suatu hal yang buruk bagi seseorang, kalo dia tidak bisa mengontrolnya.. Seseorang bisa saja menjadi “bupass” = budak passion, mungkin ini selevel dengan bucin (budak cinta).. (^_^!)/ Karena dia bisa “kecanduan” passionnya.. Misal, passionate banget maen badminton, akhirnya jadi ninggalin sholat, telat makan, dan ninggalin kesehatannya sendiri, alias jadi tipes gara2 kebanyakan maen.. Studi dari Pradines (1958), dalam “Psychology Traites” menyimpulkan; passion bisa “memahat” identitas seseorang.. Seseorang yang berpassion pada basket, maen gitar, atau menulis akan melihat dirinya sendiri sebagai pemain basket, gitaris, serta penulis.. Dan ini juga bisa dilihat jelas oleh orang2 disekitarnya.. Joussain (1928), dalam “Les Passions Humanies” juga sependapat.. Ia menyatakan passion bisa mendorong perubahan dalam gaya hidup, dan “penyusunan kembali kepribadian” …

integritas

Seringkali, ada aja yang nge-share artikel di grup WA, tapi dari media online yang menurut gw nggak kredible.. Ada juga share entah artikel darimana, terus di bawahnya ada nama penulisnya (entah beneran atau nggak) dengan sebuah profesi yang dinilai “relate” sama tulisannya.. Pernah ada yang nge-share, penulisnya itu mantan wartawan media mainstreamlah, dokter lah, anggota satuan gugus tugas lah, dan lain sebagainya.. Tapi koq ujung2nya gw liat tulisannya jadi penggiringan opini, nggak berimbang, malah ada yang langsung nyalahin presiden.. Hehe.. Sudahlah masih banyak yang kurang bisa memilah antara media mainstream dan abal2, ditambah lagi mudah percaya gitu aja sebuah artikel (dari medsos mungkin) gara2 penulisnya memiliki profesi tertentu.. Nggak heran opini2 tanpa dasar jadi gampang “dimakan”.. Profesi memang bisa menunjukkan secara kasar kompetensi seseorang.. Namun hanya menjadikan profesi penulis artikel sebagai parameter sesuatu jadi bisa benar atau dipercaya sepertinya koq aneh ya.. Karena profesi dan kebaikan / kebenaran / kemuliaan seseorang adalah hal yang berbeda.. Tidak lantas profesi yang “tinggi” membuat orang tersebut selalu benar dan bisa dipercaya bulat2.. Seorang driver taxi online yang jujur …