Postingan gw yang kemarin (masa depan (bentuk) diri..) itu soal pentingnya masa depan untuk membentuk sikap diri di masa sekarang.. Namun bukan berarti masa lalu nggak penting dan sekedar jadi masa lalu.. Cuman, gw beranggapan, kalo untuk soal membentuk sikap diri di masa sekarang, punya tujuan atau impian bisa sangat sangat berpengaruh..
Masa lalu jelas juga bisa sih membentuk diri kita yang sekarang.. Misal, saat sekolah / kuliah dulu, itu sangat bisa membentuk diri kita di saat sekarang.. Hanya saja kurangnya, kalau di masa lalunya seseorang itu hanya melakukan hal2 yang umum / biasa, maka besar kemungkinan di masa sekarangnya, orang tersebut akan jadi orang biasa.. Dan yang cukup vital adalah: nggak semua orang bisa mengambil pelajaran dari masa lalu.. Karena nggak bisa ngambil pelajaran, maka nggak jarang ada juga yang bisa jatuh ke lubang yang sama dua kali..
Pernyataan: “Pengalaman adalah guru yang terbaik” bisa nyangkut di sini.. Guru HANYA bisa diambil pelajarannya kalo kita memperhatikan dia, fokus ke dia, dan benar2 mencoba memahami apa maksud dia.. Sebaik apapun guru, kalo “requirement” tadi nggak dilakukan, akan sulit untuk bisa dapet pelajaran darinya.. Nggak jarang kan kita denger orang ngomong begini: “Nggak belajar dari pengalaman sih luu..”.. Hehe.. Qur’an sih udah ngasi cluenya; hanya orang yang mau berfikir yang bisa mengambil pelajaran..
Pengalaman atau masa lalu kayaknya bisa terasa banget membentuk diri, KALAU seseorang itu banyak melakukan tindakan2 yang nggak umum, yang sifatnya trial & erorrs, beresiko, dan breakthorugh.. Umumnya, banyak sekali orang2 yang dapet “sesuatu” dan mentalnya menjadi kaya / berubah gara2 pengalaman pahit, kegagalan, keterpurukan atau luka yang dalam.. Dan akhirnya secara “telak” membentuk dirinya.. Yang jadi masalah, kalo gw perhatiin, yang berani melakukan tindakan2 sejenis itu biasanya orang2 yang punya impian.. Akh, lagi2 masa depan yang menang..
So, masa lalu dan masa depan, masing2 punya peran penting… Masa lalu bisa menjadi bekal untuk penetapan strategi / apa yang hendak dilakukan di masa depan.. Pasti ada “titik2” tertentu atau hal2 penting di masa lalu yang bisa menjadi “bahan mentah” untuk membangun masa depan.. Seperti untuk yang mau kuliah lagi, mau nentuin jurusan apa, atau mau berbisnis di masa depan nanti maunya bisnis apa, atau yang mau nikah yang punya banyak mantan bisa saja menyusun “pola2” ideal pasangan yang nanti ingin dinikahinya seperti apa.. Hyaha..
Jadi inget sebuah kalimat dari Steve Jobs: “Kau tak bisa menghubungkan titik-titik dengan melihat ke depan.. Kau hanya bisa melakukannya dengan menengok ke belakang..”
Pernah dengar psikolog bernama Alfred Adler ??.. Mungkin belum pernah ya.. hehe.. Karena namanya sepertinya memang kalah populer dengan Sigmund Freud.. Adler adalah psikolog dan fisikawan yang teorinya bertentangan dengan Freud.. Adler pernah menjadi siswa dari Freud.. Usianya terpaut 14 tahun lebih muda.. Sempat pula menjadi rekan kerja Freud yang mengusung beragam teori Psychoanalytic yang membahas banyak hal, termasuk hipnotis, alam bawah sadar, dan analisa mimpi..
Pernah baca kalimat ini di sebuah buku: “The experts can make mistake.. So, don’t believe them too much..!!”.. Pendek kata: jangan terlalu percaya begitu saja pada para ahli.. Nggak percaya ?? Coba simak kesalahan2 yang dibuat mereka yang katanya ahli itu:
Ternyata otak kita cenderung lebih mudah untuk langsung percaya “kata2” orang lain ketimbang mempertanyakannya dulu.. Gimana nggak, karena setelah lahir, ada masa2 (bertahun2 malah) dimana seseorang mau nggak mau mesti percaya katanya orang tanpa bisa cek and ricek.. Hehe.. Ya iya lah.. Mosok abis lahir langsung bisa baca buku sains ?? Ditambah lagi secara neurologis, ada kecenderungan juga dari otak untuk hanya menerima keyakinan yang sepaham, dan menolak keyakinan yang dipegang orang lain, bahkan bisa mengklaim kalo yang berbeda keyakinan adalah sesat..