Pernah denger Dunning Kruger Effect ??.. David Dunning & Justin Kruger adalah pelaku eksperimen psikologi di tahun 1999 yang meyimpulkan bahwa mereka yang kurang kompeten / skill bisa mengalami ilusi superioritas.. Merasa kompeten padahal nggak, ngerasa jago padahal biasa, atau ngerasa berilmu tinggi padahal huhu hihi..
Kalo mengacu pada teori Dunning Kruger Effect ini, nggak heran ya banyak orang yang sotoy ampun2an di medsos, sampe2 ada yang dengan yakinnya nulis status nggak papa korupsi asal muslim.. Kan korupsinya nanti buat bikin pesantren, sedekah banyak dan sejenisnya.. Kan segala sesuatu tergantung niatnya, jadi kalo korupsi untuk niat kebaikan ya nggak papa.. OMG, ini logika sableng.. Jelas2 korupsi itu ngambil hak orang lain alias mencuri, kok ya masih dipakein niat baik.. Yang ada malah tangannya yang mesti dipotong..
Banyak orang (mungkin termasuk gw.. hehe..), nggak kompeten “ngomong” sesuatu, tapi dia tetep “ngomong”, dan akhirnya jadi “aneh”.. Kenapa ?? Ya karena dia ngerasa dirinya cukup jago dan kompeten banget untuk ngomong seperti itu, padahal belum tentu.. Di sini teori Dunning Kruger Effect bisa berlaku.. Menurut mereka, orang2 yang kurang skill / kompeten itu akan (1) Gagal untuk mengetahui kekurangan kompetensi / ilmunya sendiri, (2) Gagal mengetahui sejauh mana ketidakmampuan mereka, dan (3) Gagal untuk mengetahui kelebihan / tingginya kompetensi orang lain..
Jadi melayani debat orang2 macam begini sangatlah menguras energi dan buang2 waktu.. Hehe.. Udah pasti dia akan merasa paling benar.. Plus lagi, nggak bisa memandang kelebihan kompetensi orang lain.. Ini kalo buat gw bisa jadi pertanda dari sulitnya ilmu baru untuk bisa masuk ke dalam diri orang tersebut..
Dunning-Kruger dari hasil studinya juga menghasilkan kesimpulan: orang2 yang berkompetensi / berskill tinggi, justru malah “under estimate” terhadap kemampuan dirinya sendiri.. Menjadi “nyambung” kalo orang2 yang benar2 pintar nggak terlalu banyak bicara.. Sesuai kata Imam Ali: “Ketika akal meningkat, kata2 menyingkat”.. Mereka seakan menjadi takut salah dan lebih berhati2 untuk menyimpulkan, mengklaim atau memvonis sesuatu..
Termasuk di sini gw liat, orang2 yang menurut gw “pintar”, nggak seenaknya ngomentari politik, memvonis orang lain kafir, sesat, bid’ah, atau menyebar2 meme ca’ur atau berita2 fitnah / hoax yang najong2 itu.. Mereka seakan malah lebih senang menyelidiki dirinya sendiri, apakah sudah bener2 beriman atau belum.. Plus mereka cukup paham, kalo mencemooh & bersikap nggak adil pada umat lain itu, kalo nyebar fitnah itu, jelas sekali dinyatakan dilarang di dalam Qur’an..
Pendek kata, meningkatkan ilmu dan kompetensi itu menjadi sesuatu yang vital.. Karena di Qur’an pun ditulis, orang yang beriman PLUS BERILMU, derajatnya akan ditinggikan.. Kenapa yang nyebar fitnah dan kebencian itu pada nggak takut sama larangan Alloh ya ??.. Ah, iya, Alloh udah ngasi “bocorannya”: yang bisa takut sama Alloh itu cuman orang yang berilmu (QS 35:28)..
“Banyak2 berdo’a deh.. hehe..”.. Seinget gw, gw pernah beberapa kali ngasi saran gini ke temen2, atau ke mahasiswa.. Karena dari pengalaman, gw sendiri mengakui kalo berdo’a itu ada pengaruhnya pada kehidupan.. Pendek kata, berdo’a adalah baik.. Pertanyaannya, mesti seberapa banyakkah kita berdo’a ??.. Gw jadi kepo sendiri, di Qur’an, ada nggak ya anjuran untuk berdo’a sebanyak2nya ??..
Paradoks.. Satu kata yang ajaib.. Sesuatu bisa disebut paradoks itu kalo sebuah kalimat, pernyataan atau pertanyaan, dan bahkan situasi dimana di dalamnya mengandung kesalahan namun juga sekaligus mengandung kebenaran..
Mungkin kita kurang kenal dengan nama Herbet Simon & William Chase.. Mereka adalah peneliti yang hasil eksperimennya menyimpulkan bahwa: nggak ada pecatur yang mampu meraih gelar grandmaster dengan latihan intensif kurang dari 10 tahun.. Beberapa peneliti juga membahas hal ini dan membawa aturan ini ke bidang / domain ilmu yang lain.. Seperti tenis, renang, lari jarak jauh, penulis, ilmuwan, dan diagnosis medis.. Ternyata aturan 10 tahun ini pun terbukti di situ..