Latest Posts

browser serrr..

Temen2 sekalian, web browser-nya pada pake apa yah ?? Explorer ? FireFox ? Michael Housman pernah melakukan studi ‘iseng’ tentang hal ini.. Kenapa iseng ?? Karena pada awalnya studi dia itu untuk mencari jawaban: kenapa sebagian pegawai Customer Servis bisa bertahan lebih lama ketimbang sebagian lainnya ?

Housman dan timnya mengumpulkan data dari sekitar 30 ribu pegawai dari beberapa jenis perusahaan: pebankan, maskapai penerbangan, dan perusahaan telpon seluler..

Saat nyari2 petunjuk, Housman baru ‘ngeh’ ternyata timnya juga ngumpulin data mengenai web browser yang digunakan para pegawai CS.. Ide isengnya keluar.. Dia kepo: ada hubungannya nggak ya, antara pilihan penggunaan browser tersebut dengan keputusan berhenti kerja ??.. Dia sendiri pun nggak berharap akan menemukan sebuah korelasi di situ..

Dengan dasar keponya itu, akhirnya ia tetep menganalisa data2 tersebut.. Hasilnya ia jadi kaget sendiri.. Pegawai yang menggunakan Firefox atau Chrome ternyata bisa bertahan 15% lebih lama dalam pekerjaannya daripada mereka yang menggunakan Explorer atau Safari.. Dia berpikir: “Ah, paling juga kebetulan..”..

Tapi ya masih kepo, lantas dia analisa data absensi kerja mereka.. Ternyata polanya mirip: Pengguna Firefox dan Chrome berkemungkinan absen kerja 19% lebih sedikit ketimbang pengguna Explorer dan Safari..

Makin kepo lah yaw.. Dia minta tim-nya ngumpulin data2 yang ada kaitannya dengan tingkat penjualan, kepuasan pelanggan, dan rata2 lamanya menerima panggilan.. Lagi2 data menunjukkan pengguna Firefox dan Chrome punya tingkat penjualan yang lebih tinggi, pelanggan yang lebih bahagia, dan durasi menerima telpon yang lebih pendek..

Nggak ngira ya ??.. Sebetulnya masalahnya bukanlah pada browser-nya, tapi pada CARA mereka MEMILIH browser.. Yang menggunakan Explorer (Windows) dan Safari (Mac), menerima begitu saja pilihan default atau yang dari sononya.. Sementara yang memilih diluar itu, umumnya adalah mereka yang mempertanyakan: “Ada pilihan yang lebih baik dari ini nggak ya ??..”

Mereka menjadi lebih punya inisiatif untuk mencari, mendownload sendiri lagi, dan kemudian mempelajarinya.. Hal2 kecil ini yang ujungnya membedakan mereka..

Ditemukan juga: Pegawai2 yang menggunakan Explorer dan Safari menerima serta menjalankan begitu saja pekerjaannya terpaku pada naskah panduan atau sekedar mengikuti SOP.. Nganggepnya yaah udah dari sononya begitu.. Akhirnya ketika rasa jenuh datang, mulai nggak seneng sama kerjaannya, mulai deh bolos2, dan akhirnya berhenti..

Sementara pegawai yang ganti browser dengan Firefox dan Chrome memandang kerjaan mereka dengan berbeda.. Mereka mencari cara2 baru untuk menyelesaikan masalah, baik itu yang berkaitan sama penjualan dan pelayanan pelanggan.. Saat sesuatu yang “nggak nyaman” mulai muncul, mereka berinisiatif memperbaiki keadaan.. Ujungnya nggak banyak alasan untuk bolos dan berhenti kerja..

Gokil ya.. Semuanya berawal dari inisiatif kecil untuk berani mempertanyakan “default”.. Karena mungkin aja ada “fault” di dalam “default”..

hocus focus..

Belakangan ini lagi terhempas ‘badai’ koreksian tugas2 mahasiswa.. Gw pikir, diri ini sudah lumayan produktif.. Apalagi di saat WFH gini, nggak ada tuh kena macet pulang pergi ngajar.. Tapi ternyata kalo di-track bener2, gw nggak se-produktif yang gw kira..

Sadar begitu banyak distraksi dari dua bocil, notifikasi2 ‘tipe-halu’ (terlihat penting padahal semu).. Belum lagi distraksi dari dalam diri yang pengennya liat fesbuk bentar aja, eh malah jadi lama.. Milih2 lagu biar kerja tambah semangat, eh malah kelamaan milih2nya.. Hihi.. Gw jadi ngerasa perlu adanya ‘support’ lain yang bisa bantu untuk mempertahankan fokus..

Dan gw nemu aplikasi yang imut dan keren.. Namanya ‘Focus Plant’, available untuk iOS/Android.. Menurut gw, ini bentuk gamification yang cakep.. Bener2 sesuai dengan kaidah2 gamification di buku referensi..

Aplikasi tersebut, sederhananya seperti ‘focus-timer’ dengan game rules yang lucu: waktu fokus kita akan dikonversi menjadi ‘water’.. Dan ‘water’ itu nantinya bisa digunakan untuk menyiram dan menumbuhkan beragam tanaman yang imut dan lucu2.. Plus lagi tersedia beragam ‘land’.. Land-nya ada yang ijo subur, padang pasir, salju, dsb.. Masing2 land punya tanaman2 khas masing2..

Dalam buku ‘Gamify’ yang ditulis oleh Brian Burke (2014), ada beberapa poin kunci dari gamification.. Dan itu benar2 diimplementasikan di aplikasi ini: (1.) Game Mechanic.. Adanya elemen seperti point yang layak digunakan game pada umumnya.. Kalo di game ini ‘water’ point.. Dan ada point ‘sunshine’ juga, ini semacam koin untuk beli2 sesuatu (avatar baru, lagu baru, dsb..)

(2.) Experience design.. Adanya ‘play space’, atau ruang untuk melakukan sesuatu.. Kita bisa tanem / nyiram tanaman di ‘land’, dan bisa interaksi sama kucing, kodok, dan bekicot yang kadang2 suka lewat..

(3.) Digitally engage.. Lebih ‘engage’ ke perangkat digital ketimbang orang.. (4.) Motivate people.. Aplikasi ini bisa memotivasi kita untuk fokus lebih banyak.. Karena ada banyak tanaman2 imut dan ‘land’ yang masih belum terbuka.. Dan untuk ngebukanya, perlu lebih banyak ‘water’ dan ‘sunshine’, yang tentu saja itu semua bisa lebih banyak didapet dari lebih banyak fokus..

Dan (5.) Membantu orang Achieve their goals.. Bener juga sih nih.. Bisa jadi tau seberapa produktif kita dalam sehari, seminggu, dst.. Bahkan kita juga bisa jadi tau masing2 porsi waktu kita dihabiskan ke kerjaan yang mana..

Overall, ini aplikasi yang gw rekomendasikan untuk mereka yang produktivitasnya pengen lebih ‘kebaca’, atau kepengen punya time-tracker yang fun / ter-gamifikasi.. Kalo masalah fokus atau nggaknya sih, ya tergantung ke si orangnya masing2.. (^_^)/

“Time is a created thing.. To say ‘I don’t have time’, is like saying: ’I don’t want to..” – Lao Tzu..

Radin..

Anak pertama gw (cewek), gw kasi nama Radinka.. Asalnya dari bahasa Slovenia yang artinya ‘senang’ atau ‘gembira’.. Kepikirnya yaa karena lucu aja gitu, dan nggak pasaran.. Dipanggilnya juga jadi bisa dua macem: Radin atau Dinka, kadang sering juga gw panggil Dinkoy biar lebih asoy di bentuk mulut..

Di tahun 2019, gw baca sebuah buku, ternyata kata Radin ini dalam perspektif seorang Sufi juga bermakna ‘pelayan’.. Dasarnya diambil dari kalimat di Qur’an: Radhiyatan Mardhiyah.. Ridho dan di-ridhoi..

Kata Ridho ada juga yang mengartikannya dengan ‘senang’.. Sama kayak arti Radin di atas.. Tapi dalam perspektif sufi ini, senang-nya itu dalam rangka menerima segala keputusan Tuhan.. Untuk bisa dapet ridho Tuhan itu, ternyata manusianya yang harus ridho dulu, baru Tuhan meridhoi.. Mangkanya kalimatnya: Radhiyatan Mardhiyah.. Ridho dulu, baru diridhoi..

Mereka yang nggak ridho, mudah terkena jebakan Batman.. Misal; lagi dikasi sempit rejeki malah culas, dikasi kurang pemahaman malah ‘makan’ hoax, dsb.. Umumnya kalo seseorang merasa ridho, menerima keadaannya, yang bisa terjadi kemudian adalah kontemplasi diri, dan selanjutnya fokus pada pencarian solusi positif, dan bukan solusi licik..

Timbal baliknya ridho ada dua jenis: vertikal (Tuhan) dan horizontal (makhluk).. Mangkanya kita sering juga dengar kalimat ridho orangtua, atau ridho suami, dsb.. Dan keduanya nyambung pada konsep ‘pelayanan’..

Itulah kenapa gw lebih setuju konsep hubungan Tuhan dengan manusia itu bentuknya pengabdian atau penghambaan, dan bukan sesembahan.. Sesembahan rasanya lebih pas untuk benda/dewa.. Kalo cek arti kata berhala di KBBI, artinya: patung/dewa, yang disembah..

Kallimat yang sering kita dengar pun: menyembah berhala, dan bukan mengabdi berhala.. Mengabdi lebih pas bergandeng dengan hal yang dinamis dan punya sifat2 kehidupan..

Kalo seseorang adalah pengabdi, salah satu hal yang bisa dilakukan supaya ‘tuan-nya’ senang adalah melayani.. Ada sufi juga yang menyatakan bahwa Tuhan dan utusan2-Nya sudah mencontohkan ‘pelayanan’ ini..

Misal, kita sedang makan, tinggal masukin ke mulut dan nguyah aja secara sadar kaan ?.. Nah pas udah ditelan, Tuhan sedang melayani kita dengan ‘otomatisasi’ kerja lambung, usus dan kawan2nya.. Menanam juga gitu, cukup usaha tarok biji, siram, pupukin, dsb, Tuhan yang kemudian melayani kita dengan menumbuhkannnya..

Para Nabi juga, melayani manusia dengan berkorban memberi teladan, dan upaya luar biasa dalam menyebarkan nilai2 kebaikan.. Maka saran si Sufi: jangan malu menjadi Radin atau ‘pelayan’..

Wow juga nih ya.. Melayani = memudahkan atau membantu = berkontribusi atau bermanfaat.. Nyambung sama hadist: “Sebaik2 manusia”..

Konsep Radin atau ‘pelayanan vertikal & horizontal’ ini lebih dekat kepada perwujudan Rahmat bagi seluruh alam semesta.. Beda banget sama yang teriak2 kafir, bunuh, persekusi, dan yaaah udah tau sendirilah..(^_^)

misteri tulus..

Kemaren sempet rame kasus youtuber ‘pembagi duit’, yang melakukan ‘blunder’.. Hehe.. Sampe diberitakan di media online segala, dikabarkan subscriber-nya turun ratusan ribu..

Gw nggak terlalu peduli sih, karena jadi subscriber-nya pun kagak.. Mungkin subscriber-nya banyak yang berubah pikiran.. Mereka jadi berpikir: nih orang bagi2 duit nggak tulus, tapi demi konten, demi adsense, atau sejenisnya..

Ya begitulah.. Untuk menilai ketulusan dari makhluk yang bernama manusia ini memang sangat sulit.. Jangankan menilai orang lain, menilai ketulusan diri sendiri secara objektif pun cukup susah.. Contoh, gw sebagai pengajar.. Apakah iya gw beneran tulus mengajar / bagi ilmu supaya peserta didik jadi pada pinter ??..

Apa iya nggak ada faktor2 lain di sana ??.. Kan bisa aja karena duit, pengen banyak temen / relasi, pengen dikenal, atau kepengen2 yang lain.. Diri sendiri ini aja sulit ‘dibaca’, apalagi orang lain ??..

Ada sebuah argumen filsafat, kalo nggak salah sih dari filsafat Hindu yang bisa ‘relate’ sama hal ini.. Disebutkan: kalo mau belajar ketulusan, belajar lah dari makhluk yang ada di sekitarmu, yang BUKAN manusia..

Seekor kucing mencuri lauk ikan atau ayam kita itu karena ia benar2 tulus sedang lapar.. Ia benar2 sangat lapar, terkadan bahkan untuk makan anaknya yang kelaparan juga.. Saking tulus cintanya pada anaknya itu, mangkanya ia mencuri lauk..

Nggak ada kucing kenyang terus iseng ngambil es krim Magnum kita yang ada di kulkas.. (^o^!).. Biasanya ya kucing kenyang itu goler2an aja, nggak neko2, nggak iseng umbar2 janji politik.. Mungkin juga ya dia mencuri itu karena kitanya juga yang pelit nggak ngasi dia makan..

Tumbuhan pun juga begitu.. Di rumah ada pohon rambutan, kalo berbuah kadang beberapa buahnya dimakan kalong, kulitnya ada setengah isinya kosong.. Pohonnya ‘nggak marah’, kitanya yang melihat itu sebagai ‘gangguan’.. Bisa jadi itu bentuk ketulusan si pohon rambutan sebagai wakil Tuhan untuk memberi makan para kalong2 lapar..

Pohon yang secara alami merusak tembok pagar pun juga begitu.. Itu adalah bentuk ketulusan-nya untuk tumbuh sebagai makhluk Tuhan yang ber-‘kambium’.. Sebuah jaringan yang tumbuh “melebar” dan sekaligus sebagai lalu lintas zat ‘makanan’ pada pohon..

Nyamuk apalagi, dia selalu tulus berusaha ngisep darah kita meski taruhannya adalah nyawa !!

Salah satu ciri utama dari ketulusan adalah tanpa pamrih.. Dan satu2nya makhluk yang bisa punya pamrih atau bisa bersikap tidak tulus itu ya manusia..

Udah liat sendiri kan, betapa kita kecewa dari hasil2 ketidak tulusan manusia ??.. Udang dibalik bakwan bisa keliatan, udang dibalik batu siapa yang tau ??..

Tulus rela dipanggil gajah di dalam lagunya.. Coba pas ketemu, lu panggil dia: “Gajah !!”, gw jamin kagak nengok.. Gwakakak..

novelty bonus..

Saat ngeliat iklan hape baru, sepatu, atau item2 baru lain di timeline facebook atau marketplace, selalu timbul rasa: “wuih !!”.. Terus menganggap item yang sudah lama kita miliki seakan2 level ‘attractive’ atau ‘pleasure’-nya menurun..

Jangankan item baru.. Kalo maen game online yang setiap bulannya pasti ada update-tan baru aja (entah item, level, karakter baru, dll), update-annya selalu kepengen cepet didapat.. Seakan2 kita nih gampang banget ‘terjebak’ dengan apapun yang sifatnya kebaruan / Novelty..

Ada sebuah casual game ber-genre pesawat di iPad, yang sampe hari ini masih tetep gw maenin.. Namun memang sama developernya rajin diupdate terus.. Dan tanpa terasa, ternyata game tersebut udah gw maenin selama 6 tahun lebih.. (^_^!)..

Kenapa ya bisa begitu ??.. Ternyata ini bisa ada kaitannya dengan dopamin di otak..

Dopamin dikenal populer sebagai hormon kesenangan / kebahagiaan.. Beberapa jenis narkoba seperti kokain, heroin dan sabu2 memicu otak untuk melepaskan dopamin dalam jumlah banyak.. Bisa ditebak lah akibatnya, nge-fly, halu, dan penuh perasaan bahagia..

Emrah Duzel, neuroscientist dari Institute of Cognitive Neuroscience menyatakan: fungsi populer dopamin yang diyakini sebagai ‘pleasure neurotransmitter’ sejauh ini masih kurang pas..

Berdasarkan studinya, Duzel menyatakan bahwa dopamin bukan hanya terkait dengan ‘pleasure’.. Peran dari dopamin yang sebenarnya adalah menentukan kapan seseorang merasa harus ‘mendekati’ sesuatu, untuk kemudian dipelajarinya lebih jauh..

Dopamin lah yang memberi sinyal pada ‘sistem motorik’ seseorang untuk “do something’, dan memicu proses belajar.. Pendek kata, versi si Duzel, dopamin bukanlah ‘pleasure neurotransmitter’, namun ‘motivation neurotransmitter’..

Duzel mengajak Nico Bunzeck, seorang peneliti dari Inggris untuk mengetahui gimana kaitannya antara kebaruan / novelty dengan level dopamin di otak.. Mereka menggunakan mesin fMRI untuk mengukur respon ‘pusat motivasi’ yang berada di otak tengah..

Hasilnya: semakin pusat motivasi di otak seseorang teraktivasi, level dopaminnya semakin tinggi, dan semakin termotivasi orang tersebut untuk ber-eksplorasi serta belajar.. Mereka menyimpulkan: Novelty mengaktivasi pusat motivasi di otak.. Novelty ‘melepaskan’ dopamin dan mendorong seseorang untuk memusatkan perhatian serta mencari lebih jauh mengenai apa2 yang ada di depannya..

Sejumlah ilmuwan menyebutnya sebagai “Novelty Bonus”.. Sebuah alasan mengapa kita selalu mengejar dan menikmati hal2 baru walaupun ‘kecil’.. Terlepas dari ada potensi imbalannya atau tidak, otak kita tetap bereaksi terhadap hal2 atau objek2 yang baru..

Smart people tau Podcast Deddy Cobuzier dong ya..?? Mungkin bisa nyambung sama teori ini.. Om Deddy selalu mengundang orang2 dari beragam ‘kepakaran’, baik yang pro maupun kontra.. Itu bisa terhitung ‘novelty’ buat setiap videonya..

Saat otak kita nangkepnya: “Wuih !! Siapa lagi neh ?!?”.. Saat itulah dopamin kita ngasi sinyal buat nonton lagi podcastnya Om Deddy.. (^o^)/