me|write, spiritual
Leave a Comment

Radin..

Anak pertama gw (cewek), gw kasi nama Radinka.. Asalnya dari bahasa Slovenia yang artinya ‘senang’ atau ‘gembira’.. Kepikirnya yaa karena lucu aja gitu, dan nggak pasaran.. Dipanggilnya juga jadi bisa dua macem: Radin atau Dinka, kadang sering juga gw panggil Dinkoy biar lebih asoy di bentuk mulut..

Di tahun 2019, gw baca sebuah buku, ternyata kata Radin ini dalam perspektif seorang Sufi juga bermakna ‘pelayan’.. Dasarnya diambil dari kalimat di Qur’an: Radhiyatan Mardhiyah.. Ridho dan di-ridhoi..

Kata Ridho ada juga yang mengartikannya dengan ‘senang’.. Sama kayak arti Radin di atas.. Tapi dalam perspektif sufi ini, senang-nya itu dalam rangka menerima segala keputusan Tuhan.. Untuk bisa dapet ridho Tuhan itu, ternyata manusianya yang harus ridho dulu, baru Tuhan meridhoi.. Mangkanya kalimatnya: Radhiyatan Mardhiyah.. Ridho dulu, baru diridhoi..

Mereka yang nggak ridho, mudah terkena jebakan Batman.. Misal; lagi dikasi sempit rejeki malah culas, dikasi kurang pemahaman malah ‘makan’ hoax, dsb.. Umumnya kalo seseorang merasa ridho, menerima keadaannya, yang bisa terjadi kemudian adalah kontemplasi diri, dan selanjutnya fokus pada pencarian solusi positif, dan bukan solusi licik..

Timbal baliknya ridho ada dua jenis: vertikal (Tuhan) dan horizontal (makhluk).. Mangkanya kita sering juga dengar kalimat ridho orangtua, atau ridho suami, dsb.. Dan keduanya nyambung pada konsep ‘pelayanan’..

Itulah kenapa gw lebih setuju konsep hubungan Tuhan dengan manusia itu bentuknya pengabdian atau penghambaan, dan bukan sesembahan.. Sesembahan rasanya lebih pas untuk benda/dewa.. Kalo cek arti kata berhala di KBBI, artinya: patung/dewa, yang disembah..

Kallimat yang sering kita dengar pun: menyembah berhala, dan bukan mengabdi berhala.. Mengabdi lebih pas bergandeng dengan hal yang dinamis dan punya sifat2 kehidupan..

Kalo seseorang adalah pengabdi, salah satu hal yang bisa dilakukan supaya ‘tuan-nya’ senang adalah melayani.. Ada sufi juga yang menyatakan bahwa Tuhan dan utusan2-Nya sudah mencontohkan ‘pelayanan’ ini..

Misal, kita sedang makan, tinggal masukin ke mulut dan nguyah aja secara sadar kaan ?.. Nah pas udah ditelan, Tuhan sedang melayani kita dengan ‘otomatisasi’ kerja lambung, usus dan kawan2nya.. Menanam juga gitu, cukup usaha tarok biji, siram, pupukin, dsb, Tuhan yang kemudian melayani kita dengan menumbuhkannnya..

Para Nabi juga, melayani manusia dengan berkorban memberi teladan, dan upaya luar biasa dalam menyebarkan nilai2 kebaikan.. Maka saran si Sufi: jangan malu menjadi Radin atau ‘pelayan’..

Wow juga nih ya.. Melayani = memudahkan atau membantu = berkontribusi atau bermanfaat.. Nyambung sama hadist: “Sebaik2 manusia”..

Konsep Radin atau ‘pelayanan vertikal & horizontal’ ini lebih dekat kepada perwujudan Rahmat bagi seluruh alam semesta.. Beda banget sama yang teriak2 kafir, bunuh, persekusi, dan yaaah udah tau sendirilah..(^_^)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s