Belom lama gw kedatangan seorang om yang udah 20 tahun tinggal dan bekerja di seattle… anak-anaknya sekolah dan udah bekerja di sana… malahan anakanya yang bungsu, seorang cowok diterima bekerja di nintendo… uuuhhh.. ngiri amat guwa… bukan cuman itu, yang bikin ngiri lagi, semua pendidikan yang dia dapet dari mulei sekolah sampai jebol kuliah semuanya GRATIS !!!…. kalo gw mikir nih negara kok ya rasanya miris banget…
Menyempatkan mampir ke kantor gw, gw ngobrol dan memperlihatkan beberapa hasil karya kantor gw untuk diminta pendapatnya.. terus dia tanya soal harga, dan gw menyebutkan sejumlah angka.. dan dia tercengang abis.. “HAAA ?? cuma segitu…?!? yang bener aja kamu… ini kalo di sana bisa ratusan juta lebih… untuk perusahaan kelas kakap model begini mestinya kamu harus masukin harga kayak di sana dong…”…. gw yah jawab, “yaaahh itu sih aku pengen banget om… tapi yah disini gak bisa… masukin mahal dikit, udah ditandingin sama percetakan yang ngaku-ngaku bisa bikin desain bagus, padahal seh yang ngerjain operator komputer, bukan desainer.. jelas aja harganya jomplang abis.. terus yang harganya murah deh yang dapet..”
Om gw bales lage..”pokoknya kamu mesti berani gie… ini kalo dibandingin dengan harga di luar negeri, kecil banget nilainya..”… gw timpalin lageh..”disini sulit ooomm.. itu sih aku pengen banget ngehargain desain itu mahal… cuman yah itu, banyak orang sini gak ngerti kalo desain itu mahal.. yang ditender pun harga, bukan hasil karya.. jelas aja percetakan gebleg itu yang menang… wong spesifikasi itemnya sama, tapi harganya bisa beda… Naah.. disini banyak klien gak sadar, wong mie instant aja yang isinya sama-sama mie harganya bisa beda.. apalagi kalo HARGA ISI KEPALA…”
Singkat kata obrolan gw saat itu, om gw gak rela desain kita dihargain dengan murah.. yah gw sih setuju banget dengan pendapatnya, memang seharusnya begitu, apalagi gw bisnis jasa desain.. cuman kondisi pasar yang rusak dan cara kebanyakan orang Indonesia mengsargai seni itu yang bikin kita kepentok..
Seni, budaya, gimana lu bisa menghargainya secara matematis.. desain ituh jasa, sama dengan pengacara.. darimana itungan si pengacara A bisa 200 juta ?? dan bisa diterima, terus kenapa kita desainer disini kok ya gak bisa ngehargain desain dengan harga segitu ??.. Yahh, mungkin cuplikan beberapa paragraf yang gw caplok dari tulisan Andre Vltchek, Worldpress.org contributing editor bisa memberikan gambaran..
Siapapun yang bernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – Masya Allah! (pent.) – (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif).
Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.
SEBALIKNYA, Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi
dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.
Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Petronas Tower, salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkes tr a lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.
Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Hanoi juga memugar Gedung Opera yang secara reguler mempertunjukkan
pagelaran musik Asia dan Barat.
Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya,
dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia.
Yaahh… kurang lebih gitu deh kondisi seni dan budaya di indonesia ini.. Yang agak bikin sedih juga, kenapa cuman musik pop yang banyak laku dan berharga mahal… kenapa desain tidak ??.. kadang gw mikir, seorang penyanyi atau grup musik pop bisa dibayar puluhan juta untuk membawakan beberapa buah lagu yang notabene hanya berdurasi beberapa menit saja.. sensasinya pun mungkin hanya bisa bertahan dua tiga hari… tapi untuk sebuah desain (taroklah sebuah buku) yang notabene lagi membawa aura, mewakilkan citra, mempertaruhkan brand image sebuah perusahaan, dan sensasinya pun bisa bertahan sampai bertahun-tahun dan dapat dinikmati oleh lebih banyak orang dihargai lebih rendah daripada penyanyi.. Seharusnya ini ndak boleh terjadi… dari berbagai sumber yang gw baca, korea dan thailand maju berkat suburnya industri kreatif… merk samsung dulunya adalah merk abal-abal.. namun berkat pembaharuan brand dan desainnya, samsung mampu menunjukkan betapa penting dan unggulnya itu desain dan kemudian dikenal luas di dunia internasional..
Disamping keluhan gw itu semua, gw tetep optimis… era otak akan tiba.. pada penelitian terakhir, IQ hanya 5% menentukan kesuksesan seseorang.. dan nantinya orang akan lebih mengerti akan “MAKNA” daripada hanya sekedar “UANG”.. orang akan lebih banyak mencari tahu untuk apa, atau makna dia hidup ketimbang jadi “robot” yang menghasilkan uang… Di Barat sana, peminat dan kebutuhan Master of art saat ini lebih banyak ketimbang MBA…. yes.. era konseptual akan tiba.. Di Indonesia pun gw tetep optimis.. pemerintah sudah mulai berani mendukung melalui departemen perdagangan.. gw sempet liat sendiri slide konsepnya di klien gw yang memang berada di bawah naungan Dept perdagangan… Setelah era agraris, disusul era industri, kemudian era informasi, selanjutnya nanti era kreatif yang akan muncul… Terbukti makin banyak event desain dan terbitnya majalah-majalah yang bertemakan art dan desain.. 5 tahun lalu belum ada loh…
Di Indonesia pun ada juga kok yang mampu menjual desain dengan harga mahal.. harganya berlipat-lipat dari harga gw… 1 halaman saja bisa bernilai 10 juta !! Seperti Le Bo Ye, After hours, Design Lab, Makki makki, dll… seharusnya sih para klien yang tidak mengerti harga desain yang sesunggunya tuh bisa tanya langsung aja tanya ke perusahaan desain ini…. baru deh tau kalo harga desain gw cukup murah… bukannya ngebandingin sama percetakan gebleg yang berani terima di depan, mati di belakang.. hehehe…
(buset dah.. panjang juga yak… udah ahh…)